Bermula ketika saya membuka buku “Metamorfosa Samsa”. Bukan di kalimat pembuka cerita atau di tengah-tengah cerita, tunggu dulu, melainkan sebelum segalanya dimulai, persis pada kata pengantar penerjemah.

“…Namun, aku harus memegangi tanganmu karena cerita yang kuberi judul Metamorfosis (Die Verwandlung) ini sedikit menakutkan.” Kafka menulis itu sebagai isi suratnya kepada Felice, kekasihnya.

Saya merampungkan kata pengantar itu dan di dalam diri saya tahu-tahu menggeliat suatu ketakutan yang tidak bisa saya jelaskan atau mengerti. Tetapi mungkin itu awal yang baik untuk memulai membaca cerita yang menakutkan perihal seseorang yang berusaha melenyapkan atau meredam ketakutannya sendiri, tetapi berakhir mati.

Surat Kafka selanjutnya:

“Menangislah, Sayangku, menangislah. Sekarang waktunya menangis. Pahlawanku baru saja meninggal. Jika kau mau menghiburnya, ia akan mati dengan tenang dan damai.”

Sekadar untuk diketahui, sebetulnya banyak orang telah mengetahui ini, Kafka menginginkan seluruh tulisannya dibakar. Ia tidak mau ada jejak kepengarangannya sedikit pun diketahui setelah kematiannya. Tetapi keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Oleh temannya, tulisan-tulisan Kafka yang berhasil dihimpun, diterbitkan. Kafka yang mati “bangkit” kembali, orang-orang di seluruh penjuru dunia menyebut-nyebut namanya, menghidmati buah pemikirannya, merayakan ceritanya yang cenderung murung dan gelisah, dan sedih. Tokoh Gregor Samsa dalam Metamorfosa Samsa adalah seorang yang terpuruk, tersuruk, suatu kemalangan betul-betul menimpanya, dan akhirnya ia mati.

Dan mungkin itu semua terjadi karena beban yang begitu berat menghimpit kepala dan dadanya. Sehingga, pada suatu pagi ketika Gregor bangun dari mimpi buruknya, ia telah berubah menjadi serangga raksasa. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa saja bisa terjadi, dan begitulah cerita yang baik, ia memberimu sesuatu yang tidak sepenuhnya kau sadari itu apa.

Bila Gregor Samsa adalah seorang yang terlibat dalam suatu bisnis yang siang-malamnya habis di jalanan, selalu dalam kepayahan, dan bagaimanapun ia bertanggung jawab atas kebutuhan keluarganya (ayah, ibu, adik perempuan), nyaris tak ada hari senggang untuknya, sementara saya bekerja sebagai salah seorang penjaga warung kelontong di sebuah gang di Jakarta sejak beberapa tahun lalu, mungkin tiga atau empat, perkiraan tahun 2018 atau 2019 saya mulai meninggalkan rumah berbekal sesuatu yang orang kampung saya sebut sebagai jimat keselamatan: doa orang tua, sebelum virus korona datang, dan saya masih bertahan di ibu kota hingga saat ini–dan pandemi mengubah segalanya. Orang-orang digiring ke dalam rumah, tidak ke jalan-jalan atau ke pusat-pusat keramaian. Bangku-bangku di taman bunga dan di halte-halte sepi, kursi-kursi di teras rumah dan di angkot kosong, meja-meja di mana saja senyap dari percakapan dan kepul asap teh atau kopi. Orang-orang beringsut ke kamar masing-masing dan sama menyerukan kesepian di mana-mana, di telepon genggam tak terkecuali. Pertemuan menjadi semata ruang virtual. Dan sekali lagi, orang-orang mencatatkan kesepian di kepala dan di bagian terdalam tubuh.

Jauh hari sebelum saya benar-benar berangkat ke Jakarta, dia (saya tak ingin menyebut nama) yang telah punya pengalaman banyak berkata:

“Seseorang yang datang ke Jakarta dengan tujuan piknik tentulah berbeda dengan yang datang untuk bekerja sebagai penjaga warung. Kau mesti menanggung segala bentuk kesepian dan keterasingan yang sangat, juga kerinduan yang kadang membuatmu lelah dan ingin menangis banyak-banyak.” Semula saya tersenyum mendengar pitutur demikian. Tetapi pada waktunya saya dibuat termenung-menung di belakang etalase sembari melihat ke luar ke jalan gang yang lengang dan kata-kata itu berputar-putar di kepala. “Baiklah, saya mulai paham yang kau maksudkan,” ucap saya sendiri.

Seseorang yang sekian tahun menjaga warung di Jakarta, bukan sekadar mendengar cerita dari mulut ke mulut, atau sekadar memperhatikan dari jauh, lewat medsos lagi, tentulah tahu bagaimana persisnya berjaga sepanjang hari atau sepanjang malam di dalam warung yang sesak. Tetapi bisa jadi apa yang saya rasakan tidak persis sama dengan selain saya sesama penjaga warung, dan memang tidak akan pernah sama kiranya. Dan siapa pun tahu, bagaimana kemurungan dan kecemasan bisa datang tiba-tiba waktu siang atau malam sementara kita hanya duduk termenung-menung di belakang etalase. Mencoba mengalihkan kesumpekan dengan menonton televisi: sepakbola atau serial tengah malam, misalnya, atau menelengkan kepala menonton stand-up comedy di youtube, atau warkop sekalian. Baiklah, masing-masing pribadi memiliki cara tersendiri mengatasi segala penat yang suka menghantam bertubi-tubi. Beruntunglah orang-orang yang bisa tahan.

Entah sejak kapan, namun saya sempat berpikir: jika suatu hari (entah malam atau siang) saya terbangun dari mimpi buruk dan mendapati diri saya telah berubah menjadi seekor serangga, apa yang akan saya lakukan? Sungguh suatu perasaan yang menyiksa. Dan tampaknya seluruhnya masih baik-baik saja, saya tidak berubah menjadi seekor serangga terkutuk yang tiada sesiapa peduli, lantas mati mengenaskan. Saya memang tidak berubah menjadi serangga meski potensi ke arah itu tetap ada. Ajaibnya, itu berkat buku cerita yang Kafka tulis, sebuah cerita yang konon mirip dirinya sendiri, secara aneh, pelan-pelan saya terselamatkan. Saya merasa beruntung menemukan novela ini di sebuah toko buku online, memesannya yang lalu diantar seorang kurir, dan membacanya lembar demi lembar meski kadang harus menahan diri untuk tidak mengutuk keadaan tiap kali pembeli datang meminta dilayani lekas-lekas–demikian berturut-turut. Untuk membesarkan hati saya berucap, “Oh, semacam godaan yang menyenangkan. Barangkali ini yang dimaksud ‘banyak baca banyak rezeki’.”

Begitulah tampaknya bagaimana saya bisa selamat dari berubah menjadi serangga. Saya merasa itu berkat Gregor Samsa atau Kafka–Samsa dan Kafka sama saja. Dari lembar-lembar kertas yang berisi cerita menakutkan itu, ia mengingatkan saya untuk waspada terhadap kemungkinan paling buruk, bahwa seseorang dapat saja berubah menjadi serangga menjijikkan di suatu pagi yang entah, bahkan ketika di malam harinya ia merasa baik-baik saja.

Kepedulian, saya menduga Gregor Samsa mati di akhir cerita sebab kepedulian yang pelan-pelan sirna dari keluarganya (ibu dan adik perempuannya yang semula peduli terhadapnya), kecuali ayahnya, ia sedari awal memusuhi serangga Samsa, begitu keras terhadapnya. Samsa yang luka, tulis teman Facebook saya di sebuah komentar waktu saya mengunggah foto novela Metamorfosa Samsa dengan sedikit kata-kata. Ya, Gregor Samsa yang luka, saya setuju, sesuatu yang sedih dan murung, begitu menakutkan.

Lain-lain hal, banyak hal lain yang patut dicatat dari novela Kafka; Metamorfosa Samsa, selain tulisan ringkas ini.

Jakarta, 2021




===================
Acik Giliraja. Lahir dan besar di Sumenep. Menyukai puisi dan cerita pendek. Saat ini tinggal di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here