AKU tak tahu nama aslinya, yang jelas ia memperkenalkan diri padaku dengan nama Tuan T. Ia menyebut dirinya penulis di kota ini. Dan yang selalu kuingat sejak perkenalan itu, ia sangat terobsesi untuk juara sayembara novel DKJ.

Aku bertemu Tuan T tiap Minggu pagi. Biasanya, aku sudah menemukannya duduk di pinggiran taman kota sembari menekuri kata demi kata koran harian. Tuan T memang tinggal di kota ini, persis di Ibu Kota kabupaten, sementara aku harus menempuh perjalanan lebih kurang setengah jam untuk sampai. Di taman itulah Tuan T sering menceritakan ambisi-ambisinya dalam menulis kepadaku.

“Aku pertama kali ikut sayembara itu tahun 1976, setelahnya aku mengirim naskah 8 kali.” Begitu dulu Tuan T pertama kali bercerita padaku.

Perjumpaan pertama kami memang unik. Awalnya Tuan T sempat heran lalu menatapku lekat-lekat saat aku katakan padanya bahwa aku juga mau belajar jadi penulis. Kusampaikan, beberapa cerpenku pernah tembus di media. Dia menyambut itu dengan kegirangan. Itu akan membantumu berproses untuk jadi penulis yang matang, katanya.

“Seumur hidup, aku tak pernah dengar orang kota ini ingin jadi penulis,” ujar Tuan T terkejut. Bahkan setelah itu aku justru dipeluknya, layaknya seorang ayah yang menemukan anaknya setelah pulang dari rantau.

“Di kota ini mana ada yang peduli dengan menulis, tidak rakyatnya, apalagi pemimpinnya. Aku kira setelah nanti aku mati, kota ini tak akan pernah lagi punya seorang pun penulis.” Sejak itu, Tuan T menganggap aku sebagai penerusnya. Dia senang bukan kepalang.

“Kedatanganmu benar-benar membuat kerisauanku reda. Setidaknya kota ini tidak mengalami kekosongan penulis nantinya. Kau tahu, sesial-sialnya sebuah kota adalah yang tidak ada penulis di dalamnya.”

Aku malah terbebani dengan pengharapan Tuan T. Rasanya aku belum sepenuhnya bisa menjadi penulis. Jika pun saat ini aku menulis beberapa cerpen dan sesekali muncul di koran, bukan berarti itu sebuah jaminan. Kukatakan pada Tuan T perihal itu, dia malah memakiku, dia juga sedih mendengarnya. “Kau harus terus menulis, kau juga harus memenangi DKJ suatu saat,” ujar Tuan T.

Tiap minggu dia selalu memberiku petuah dan ilmu yang didapatnya terkait kepenulisan. Kami akan duduk di bangku taman kota hingga matahari meninggi. Kadang, jika ada honorarium dari cerpen dan puisinya yang terbit di koran, dia akan membeli beberapa goreng pisang dan bakwan untuk kami santap bersama. Begitu pun, jika cerpen yang kutulis tak sengaja nongol di koran, aku akan membeli nasi bungkus untuk makan siang kami. Tapi jika tak ada tulisan kami yang lolos -ini sebetulnya lebih sering terjadi- kami cukup puas dengan membincangkan buku terbaru yang menarik minat.

“Membaca buku bagus itu akan mendorong tulisanmu makin bagus pula. Jangan hanya puas dengan bacaan yang itu-itu saja. Cari buku bagus yang belum pernah dibaca orang,” kata Tuan T.

Aku pernah bertanya mengapa Tuan T masih semangat membaca pada usianya yang telah memasuki 74 tahun. Dia malah marah mendengarkan itu. “Penulis itu kerjanya ya harus banyak baca. Jangan mimpi tulisanmu akan jadi bagus, kalau kau hanya baca sedikit,” ucapnya dengan geram.

“Kesempatanku untuk juara DKJ tidak lagi banyak, agaknya ini adalah edisi terakhir aku ikut berkompetisi. Tahun berikutnya, kuharap kau sudah siap bertarung untuk itu.”

Tuan T pun mengatur strategi buatku. Dia mengharuskanku untuk menyelesaikan sebuah novel. Aku merasa itu cukup berat, mengingat proses kreatifku sebagai seorang penulis bermula dari cerita pendek. Sungguh payah bagiku untuk terus konsisten menulis ratusan halaman layaknya novel.

Tapi Tuan T tak putus asa. Dia memberiku novel-novel koleksi pribadinya yang menurutnya bagus untuk kubaca. Tiap minggu, dia menyodorkan dua hingga tiga novel padaku, kebanyakan novel yang telah memenangkan sayembara DKJ. “Kau coba dulu baca Hubbu, ini pemenang DKJ 2006, lalu ada baiknya kau juga baca yang judul Persiden, kalau mau yang agak baru, ini ada Semusim dan Semusim Lagi.”

Tak cukup sampai di situ, Tuan T juga menyodorkan novel yang ditulis penulis luar. “Ini bacaan kelas dunia semua,” ujarnya sambil mengeluarkan buku-buku itu dari tas, “Ini buku Yu Hua, Kisah Seorang Pedagang Darah, lalu kau juga mesti baca dua bukunya Gabo yang ini.” Aku melirik judulnya, One Hundred Years of Solitude, dan satu lagi Love in the Time of Cholera.

Saat buku rekomendasinya habis, Tuan T akhirnya memberikan kesembilan naskah yang pernah dia tulis. Aku mengira Tuan T bercanda dengan itu. Menurutku sangat tidak masuk akal selama ini dia terus menulis novel, tapi tak ada satu pun dari naskah itu yang dia terbitkan jadi buku.

“Di negeri ini sudah banyak sekali novel-novel yang terbit, tidak terbitnya kesembilan naskah itu tidak akan mengurangi apa-apa.” Begitu alasan Tuan T. Aku malah tersindir karena kadang ingin cepat-cepat punya buku meski tulisanku masih kacau-balau.

“Mulai sekarang kau bawalah kesembilan naskah itu. Dari sembilan itu, delapan naskah telah aku ikutkan sayembara DKJ, satu naskah lagi rencananya aku kirim tahun ini. Mana tahu kamu bisa sedikit memberi saran usai membacanya. Dan yang paling penting, setelah membaca semuanya ada keinginanmu untuk menulis sebuah novel.”

Maka mulailah aku membaca naskah itu satu per satu. Tiap hari, kusisihkan waktu luang. Aku baca terlebih dahulu naskahnya dari yang paling lama dia tulis, naskah yang dikirim Tuan T pertama kali untuk sayembara DKJ. Aku melihat sikap pembangkangan Tuan T dalam karyanya ini. Jiwa muda yang masih menggelegak, serta ditambah kemuakan kepada pemerintah zaman itu, agaknya jadi inspirasi mengapa cerita ini lahir.

Naskah berikutnya yang kubaca masih sama. Aku melihat ada benang merah dari dua naskah awal yang ditulis Tuan T, meski dia tak pernah menyatakan bahwa karyanya ini berupa dwilogi. Semangat perlawanan kepada rezim pemerintahan jadi tajuk utama. Bahkan jujur saja aku sempat bosan dengan alur ceritanya yang itu-itu juga. Tokoh utamanya juga tampak seragam, yakni seorang pemuda yang memberontak karena melihat ketidakadilan.

Saat aku telah membaca lebih dari separuh naskah yang dikasih Tuan T, aku semakin melihat bahwa apa yang ditulisnya sebagai representasi dari diri Tuan T sendiri. Usai membaca naskah pembangkangan itu, aku diseret pada narasi pencarian jati diri seorang Tuan T. Seorang peragu yang masih meraba-raba tentang makna hidup. Makanya, tokoh dari ceritanya yang kerap muncul adalah orang yang frustrasi mencari kebenaran. Naskah itu banyak bertema kontroversial, seperti mengisahkan tentang kampung yang tidak percaya agama dan Tuhan. Maupun kisah para pelacuran.

Naskah kontroversial itu agak kontras dengan naskah Tuan T yang ditulis setelahnya. Pada naskah ketujuh sampai naskah terakhir, aku justru melihat bentuk religius yang coba ditampilkan Tuan T. Belakangan Tuan T mengakui, ia telah cukup menua saat menyelesaikan naskah itu, agaknya itu cukup memengaruhi pula tulisannya. Tidak ada lagi pembangkangan dan isu kontroversial, cuma sedikit sindiran. Justru yang tampak dari tulisan itu keinginan untuk lebih dekat dan merengkuh Tuhan.

Aku memfokuskan lebih saat membaca naskah yang kata Tuan T akan segera dikirim untuk sayembara DKJ. Aku merasa sangat dekat dengan cerita itu, sebab latar dan setting yang dihadirkan Tuan T benar-benar aku kenali. Ini persis seperti kegelisahan Tuan T saat mendapati orang-orang sekitarnya yang tidak peduli pada membaca apalagi menulis. Tak ayal lagi, inilah cerita yang paling aku suka dari sembilan naskah yang dikasih Tuan T.

Membaca paragraf pembukanya saja aku sudah suka.

Ini adalah kota paling sial, tempat yang dipenuhi banyak manusia-manusia yang mengaku mencintai seni dan kebudayaan, tapi tak pernah peduli dengan buku. Tempat orang suci yang tiap hari melangkah ke rumah-rumah ibadah dan mengaku mencintai kitab suci, tapi tak pernah peduli dengan membaca.

Butuh waktu berbulan-bulan bagiku untuk menamatkan semua naskah yang dikasih Tuan T. Aku lega luar biasa, sebab aku menganggap penyelesaian pembacaan itu sebagai hutang kepada Tuan T. Bagiku, Tuan T telah mewariskan sesuatu yang penting. Aku menyayangkan sekali mengapa Tuan T cuma menyimpan saja naskah ini sekian lama. Andai dibukukan, tentulah cukup memberi warna kesusastraan negeri ini, meski tanpa embel-embel telah memenangi DKJ.

Makanya Minggu pagi itu, aku berencana meyakinkan Tuan T agar mau membukukan naskah-naskah itu. Aku agak sedikit ngebut dan berangkat lebih pagi untuk segera bertemu Tuan T. Namun sesampai di taman kota tak kutemukan Tuan T duduk menekuri koran harian sebagaimana biasa. Apakah aku tiba terlalu kepagian? Aku menunggu. Tapi tak ada tanda-tanda Tuan T bakalan muncul. Atau mungkinkah Tuan T sakit? Bodoh sekali, selama ini aku tak pernah bertanya di mana rumah dan tempat tinggalnya, juga tak pernah mengungkit keluarga dan kenalannya. Perbincangan kami terlalu khidmat seputar sastra dan buku-buku.

Kutanyai setiap orang yang lewat dan mampir ke taman itu. “Apakah kalian melihat seorang kakek tua yang biasanya duduk di taman ini?” Tak ada yang tahu, semuanya menggeleng.

“Memangnya kakek itu siapa?” Beberapa lainnya sempat bertanya balik.

“Dia penulis di kota ini,” jawabku.

“Penulis? Memangnya ada penulis di kota ini. Aku tak pernah dengar ada orang yang bekerja sebagai penulis.” Aku malah mendapat jawaban sinis.

Minggu pagi itu aku menemukan kehampaan. Setelah panas matahari menjerang bumi, aku engkol sepeda motor untuk beringsut pulang. Sesampai di rumah, aku malah tak sabar agar waktu cepat berputar menuju Minggu lagi.

Tapi Minggu berikutnya aku juga menemukan keadaan yang lebih kurang sama. Akhirnya aku susuri tiap jalan kota dan menanyai sebanyak orang yang aku bisa. Aku katakan ciri-ciri dan bentuk tubuh Tuan T, hasilnya tetap saja aku menerima gelengan kepala. Dan jika aku memberi keterangan tambahan bahwa dia seorang penulis, jawabannya akan mirip, “Kami tak pernah mengenali seorang pun penulis di kota ini.” Berbilang pekan aku melakukan aksi pencarian, sampai aku benar-benar lelah dan menyerah. Apakah selama ini aku berinteraksi dengan makhluk tak kasatmata?

Kehilangan jejak Tuan T sempat menjadikanku malas menulis. Aku merasa dia adalah penipu. Dia yang mendorongku untuk terus menulis, yang berjanji akan membantuku untuk memenangkan DKJ seperti yang diangankannya, kini justru pergi tanpa permisi. Hingga sekian lama, aku jadi lupa dengan Tuan T. Aku menganggapnya tak pernah ada.

Tahun demi tahun berlalu, jejak Tuan T benar-benar mengabur. Aku kini telah pindah setelah menikah dengan seorang gadis dari luar kota. Aku juga tak lagi menulis, walau sesekali masih membaca. Mungkin saja Tuan T kecewa untuk itu, tapi jalan hidup siapa yang tahu.

Suatu hari, saat aku dan istri menemani anak kami untuk membeli buku bergambar di toko buku. Mataku tak sengaja berserobok dengan buku bersampul merah yang diberi keterangan tambahan di bawah judulnya “Juara 1 Sayembara DKJ 2021”. Lekas aku membaca blurb di belakangnya.

Ini adalah kota paling sial, tempat yang dipenuhi banyak manusia-manusia yang mengaku mencintai seni dan kebudayaan, tapi tak pernah peduli dengan buku. Tempat orang suci yang tiap hari melangkah ke rumah-rumah ibadah dan mengaku mencintai kitab suci, tapi tak pernah benar-benar membaca.

Itulah naskah kesembilan yang diberikan oleh Tuan T kepadaku tujuh tahun lalu, naskah paling aku sukai. Penulis tua itu benar-benar telah juara DKJ. (*)



=====================
Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska, Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah di muat di media Online dan cetak. Beberapa lainnya juga termaktub  dalam buku antologi, diantaranya: Burung Gagak dan Isyarat dari Sepotong Surat (Poiesis Publisher, 2020), Balada Orang Pesisiran (Unsa Press, 2021). Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here