© Muhary Wahyu Nurba




Sebuah Kalimat tentang Keadilan

Kubawa kalimat ini
Ke balik selimut
Sebagai peneman rasa takut

Di sanalah kusembunyikan
Masa kecilku
Setelah paham sia-sia
Pintu ke mana saja
Tak pernah membawaku sampai
Ke keadilan

Diam-diam aku berandai
Bisa keluar bermain lagi
Tak peduli raungan sirene
Pertanda jam malam
Semua orang terpaksa
Berpura-pura tertidur

Tapi orang kecil
Tak boleh bermimpi
Hanya bisa mematuhi

Kubawa kalimat ini
ke balik selimut
Sebelum ketukan pintu
Akan merampasnya






Tersebab Radang Tenggorokan

Bisa saja aku mengenang Orde Baru, yang telah tumbang itu
saat semua rakyat dipaksa menutup mulut
dan pura-pura bahagia. Di ruang itu sebaliknya,
aku diminta membuka mulut selebar-lebarnya, dan
menjawab pertanyaan setelah divonis radang tenggorokan.

Sesungguhnya aku cukup tersentuh, pertanyaan demi pertanyaan
membuat kami seolah karib dan penuh perhatian:
Apa yang aku makan kemarin, apa aku cukup makan sayuran, apa
terlalu berlebih makan gorengan, apa aku keranjingan
minum minuman dingin

Kubayangkan seandainya Presiden yang bertanya demikian
tidak akan ada warga negara yang kelaparan
Semua orang terisi perutnya, dan bebas dari ancaman kekerdilan
Tidak akan ada yang kena diabetes pada usia muda
Sebab gula atau pemanis pada minuman kemasan
jauh lebih jahat dari teroris yang memberondongkan peluru
Beberapa nyawa mungkin tiada
Ketimbang penyakit gula yang membunuh manusia pelan-pelan

Ia memintaku jujur, lalu kukatakan
aku sudah cukup disiplin melakukan hidup sehat
kujaga pola makan, tidur dan bangun cepat
juga olahraga meski baru plank atau lari di tempat

Namun, ia menyebutku tukang bohong
Sebab radang tenggorokan pasti ada sebabnya
Aku disuruh mengaku pada hal-hal yang tak kulakukan

Lalu apa bedanya masa ini dengan Orde Baru
ketika kebenaran sedemikian baku dan dipaksakan
kalau dulu, segalanya dibungkam
kini, semua diminta berbicara dengan teks yang sudah disiapkan
Semua media besar mengaminkan
Sehingga tak ada ruang bagi perlawanan






Memilih Cara Mati

Ia ingin memilih cara mati, bukan dengan peluru
yang salah arah lalu tersesat
Membuatnya mengingat perjalanan
dan kampung halaman, janji kepada ibu
mengirimkan uang bulanan itu. Cita-cita
melihat kiblat
di depan batang hitungnya
agar ia merasa dekat
dengan Tuhan yang selama ini terasa jauh
Hingga ia harus terbang ribuan kilometer
untuk hidup, tapi khianat
orang-orang yang berada di dekat Tuhan
memandangnya sebagai budak belian
Dan ia diperlakukan lebih buruk dari pelacur

Hari itu, aku merasa melihat matanya
menyimpan masa kecil, rasa haru pada tanah
yang ia tinggalkan. Sebuah pedang
akan mengantarkannya ke surga
bersama seluruh perempuan
yang telah terenggut kehormatan.
Sendiri, mati, ketika berusaha hidup
mempertahankan secuil degup
Tanpa teman, tanpa kekasih
Tanpa Negara yang masih sibuk
membicarakan bendera, jembatan,
melupakan bau busuk
yang bercokol di depan batang hidungnya.

Ia ingin memilih cara mati, tetapi cara mati
ditentukan Tuhan, tanpa manusia sanggup memilih.






12 Malaikat

I.

Aku terhenyak, melihat seekor beruang dicetak
di selembar kaos. Sambil memegang papan, tertulis slogan.

Ragu-ragu kumaknai, selamatkan manusia
atau selamatkan kemanusiaan.

Seekor beruang itu, beruang kutub itu
mungkin menghadapi kepunahan. Setiap hari berjuang
melawan cuaca buruk, sulitnya mencari makanan
atau pemburu yang memimpikan bisa tidur
dengan selimut berbulu beruang.

Namun, seorang manusia atau sebutir kemanusiaan
yang di bawah perlindungan satu sila
sama-sama bisa punah
namun menghadapi sesama manusia.

II.

Ketika kubaca koran, aku menemukanmu bersedih
di sebuah halaman. Tak bisa kubayangkan
trauma macam apa yang kau derita. Kemarahan kusimpan baik-baik
dalam kepalan tangan
yang sedianya mampu melubangi kekeras-kepalaan.
Aku pun bertanya-tanya, bagaimana bila
dua belas orang itu dikirimkan ke kutub utara
Biar di sana mereka saling memeluk sebelum neraka

III.

Tuhan akan mengirimkan lebih dari 12 malaikat
yang kini akan membuatmu tersenyum






Mengucap Istighfar

kuucap istighfar
saat mendengar maut mengecupmu
sementara aku tergetar
tak siap
bila tiba-tiba, tanpa diduga
maut yang sama bertanya padaku
“ke mana imanmu pergi
padahal dunia hanyalah permainan?”
dalam permainan ini
akan ada suatu hari yang tak biasa
aku tidak percaya
bahwa aku percaya
orang-orang yang tampak paling beragama
sebenarnya tidak tahu apa-apa
mereka berkumpul di kekuasaan
mempertahankan atau memperebutkannya

tapi lupa
penjara
atau rompi berwarna senja
hanyalah kesakitan sementara

boro-boro memikirkan rasa peluru
moncong senjata yang tak kenal ampun itu

kuucap istighfar
pada suatu hari yang tak biasa
hari ini
ketika di luar sana
ada orang-orang mati memeluk iman
sementara di dalam sini
ada orang-orang lupa di mana
mereka membuang iman

(2019)





Bertemu di Surga

Maukah kamu bertemu denganku di surga?
Barangkali di sana, akan kita temukan hutan pinus juga
Pantai berpasir putih
Kita cari cangkang kerang yang pandai sembunyikan kecewa
Lalu bila malam tiba, kita akan dengarkan alunan musik yang lembut
Aku menjelma menjadi gadis hutan dengan kain rajut
Tak ada keinginan menjadi kaya dan luar biasa
Segala yang tak sederhana menjadi sia-sia
Cukup ketika membuka mata, kupu-kupu menyerbuku
Dan mengingatkanku pada sayap-sayapnya yang rapuh
Keindahan yang sementara, setelah sekian waktu berubah

Maukah kamu bertemu denganku di surga?
Barangkali di sana, waktu bisa diputar ulang kembali
Ke tempat bahagia demi bahagia tercipta
Semua masakan dihidangkan di atas meja
Dan celoteh anak-anak lebih dari kata cinta
Tak ada masakan yang tak lezat
Semuanya bisa kita lalui dengan nikmat
Lalu pada pagi yang dingin itu, pelukanmu
Dan secangkir kopi hangat
Buku-buku yang gagal disita Pemerintah
Kita bahas berdua
Seakan waktu tak akan pernah berakhir
Seakan selamanya memang benar adanya






Pesan Melania

Dengarkan, dengarkan kata-kata Melania
tak ada lagi rencana
membangun benteng di perbatasan Meksiko
tak ada gunanya juga
terus-menerus menciptakan risiko
besok bertemulah dengan Xi Jinping
dan bicarakan modal asing
telah menciptakan lapangan kerja
meski tampak seperti serabut akar yang menggurita
Dunia bergejolak, banyak orang merasa takut membuka mata
dan memilih menjadi seekor umang-umang
yang bersembunyi, tak peduli rumah siapa
Rumah yang sudah ada dihancurkan
dan kembali menjadi penyendiri
yang tak pernah percaya orang lain
Orang Skotlandia tak percaya pada Orang Inggris
Orang Inggris tak percaya pada orang Jerman
Orang Jerman tak percaya pada orang Perancis
Orang Perancis bekerja sama dengan Orang Italia
dan diam-diam berusaha melacurkan pemilu mereka
Dengarkan, dengarkanlah Melania
Suara seorang wanita lebih sedikit berbohong
ketika para Tuan berlomba omong-kosong







=================
Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sriwijaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here