“KELUARGA, seperti cabang-cabang pohon, kita tumbuh ke arah yang berbeda. Namun, akar kita tetap satu. Jika pengembaraanmu berakhir, kau sudah tahu ke mana jalanmu kembali.”

Sebelum pergi, ibu menyelipkan bulatan cahaya kuning terang sebesar piring di dalam kantung besar di perutku. Kata ibu, cahaya itu nanti yang akan menyelamatkanku ke mana pun aku pergi. Cahaya itu pula yang akan menuntun diriku bertemu pujaan hati. Aku kira waktu itu ibu membual. Namun, bertambahnya waktu aku sadar, ibu telah berkata benar.

“Jika waktu yang dijanjikan telah datang dan dunia telah memasuki masa-masa akhir, bulatan cahaya yang diwariskan leluhur kita perlahan akan meredup dengan sendirinya. Akan tiba saatnya bulatan cahaya di dalam perut kita tergantikan pijar cahaya lain yang lebih terang. Semua ada masanya. Mati yang satu, akan tumbuh yang lain. Begitu seterusnya. Karena hidup kita memang akan selalu bertumpu pada ketetapan yang digariskan Tuhan. Aku sangat berharap, kau bisa menjaga cahaya ini agar abadi.”

Dulu aku belum begitu paham dengan apa yang ibu katakan. Tetapi sekarang, setelah ibu berucap itu, aku melihat bulatan cahaya di perut ibu kian meredup. Ibu bilang aku harus segera pergi dari tempat ini. Sudah tidak aman. Meredupnya cahaya di dalam perut juga dialami oleh yang lain. Semua teman-temanku akhirnya banyak yang mati setelahnya. Setelah itu, kabar duka tersiar di mana-mana. Termasuk ibuku yang telah pergi untuk selama-lamanya.

Tetua di kampungku akhirnya menyadari apa yang membuat ratusan warga mati mendadak. Air sungai yang kami minum telah tercemar. Kemarin, aku mencium aroma aneh ketika hendak minum. Memang, tiga hari yang lalu aku melihat sumber air di kampung kami tiba-tiba berwarna kehitaman dengan kilauan perak yang mengambang, tepat di pertigaan muara bertemunya sungai dan laut. Aku tak jadi meminumnya dan lebih memilih pergi jauh ke arah hulu sungai demi mendapat air bersih. Namun, ibu dan teman-temanku ternyata telah lebih dulu meminum air di pertigaan muara sungai sebelum aku mencari tahu apa yang terjadi dengan air kami.

Sejujurnya, jika kalian sudi berkunjung ke kampungku, mungkin kalian tak akan pernah mau kembali pulang. Dibuat takjub dengan air laut dan langit berwarna biru cerah dengan dasar pasir putih berkilauan. Rumahku tepat di pinggir jajaran pohon bakau. Persis di pertigaan muara sungai yang berbatasan langsung dengan tepi laut. Lalu jika malam hari telah tiba dan kalian susuri panjangnya kampung kami, kalian akan terpana dengan ribuan kerlip bulatan cahaya dari perut kami yang memanjakan mata sepanjang kalian melangkah.

Penduduk di tempat ini seolah telah disabda Tuhan untuk lahir dengan membawa bulatan cahaya terang sebesar piring di dalam perutnya masing-masing. Cahaya titipan dari ibu-ibu kami. Dengan cahaya itu, kami bisa terus hidup dan membuat terang alam sekitar, tanpa lampu tambahan atau lampu petromaks seperti milik para nelayan dari kampung lain yang sering aku lihat jika akhir senja datang saat mereka hendak berlayar.

Kini, setelah malapetaka yang tak akan pernah kami lupakan itu, tetua kampung akhirnya menasihati kami untuk selalu berhati-hati dengan lingkungan sekitar. Benar kata ibu, semua ada masanya. Warga di kampung ini hanya tersisa beberapa saja dan bisa dihitung jari. Jika masanya telah tiba, kampung yang kami huni benar-benar akan musnah dan tinggal cerita. Tak ada lagi makhluk bumi yang diistimewakan Tuhan dengan membawa bulatan cahaya kuning terang sebesar piring di dalam perutnya ke mana pun ia pergi.

Dua hari sebelum ibu berpulang, aku bertemu seseorang. Namanya Kai. Aku tak percaya dengan cerita yang ia bawa. Ia orang asing yang tiba-tiba datang ke tempat kami dan bilang, tiga kilometer dari rumah-rumah kami, pulau reklamasi atau pulau buatan di tengah-tengah laut sedang dikerjakan. Senja itu Kai melihat bagaimana mereka merobohkan satu per satu pohon bakau kemudian menguruk tempat itu dengan batu dan tanah. Setelahnya, bangunan megah nan indah dari beton dan semen telah berbaris rapi tak jauh dari kampung kami sebulan setelahnya. Lalu nyala lampu-lampu indah berjajar di tengahnya. Kai diam-diam mengawasi mereka.

“Aku takut mereka juga akan ke sini. Melenyapkan kampung ini. Aku rasa kita harus secepatnya pergi. Bukankah teman-teman kita banyak yang telah mendahului kita. Kita tak ingin mati konyol di sini bukan?”

Pernyataan Kai ada benarnya. Awalnya aku memang ragu dengan semua ceritanya. Namun, ia berhasil meyakinkanku. Ia datang dari laut utara menuju kampung kami di tepian teluk. Sama seperti pesan ibunya, Kai ditugaskan menjaga cahaya di perutnya ke tempat yang aman. Itu berarti, aku dan Kai memang punya misi yang sama. Lebih tepatnya kita. Karena jujur saja, tidak hanya aku dan Kai. Teman-temanku pun banyak yang dititipi bulatan cahaya itu. Namun, entah ke mana kami akan pergi. Kami masih terlalu polos dan dini menghadapi kerasnya dunia luar.

“Tunggulah saat senja datang. Kita akan pergi bersama-sama mencari tempat yang aman.” Kai memberiku semangat.

Jujur saja, sepeninggal ibu dan teman-temanku, aku jadi sering melamun ketika senja mulai berakhir dan remang malam mulai menyapa. Seperti hilang semangat. Sendirian duduk di tepi pantai lalu membayangkan wajah ibu. Berharap ia bisa kembali ketika aku kesepian.

Seolah ikut menanggung kesedihan, bulatan cahaya di dalam perutku yang berwarna kuning terang tiba-tiba langsung meredup. Mendadak di dalam kepalaku teringat satu nasihat ibu. Beliau pernah bilang kesedihan selalu dekat dengan kematian. Sebagai laki-laki kebanggaan ibu, aku harus kuat, begitu pesan terakhirnya. Kai juga terus memberiku semangat.

Semalam itu akhirnya pengembaraan kami berakhir. Kami menemukan tempat yang baru. Aman, teduh, dan tentu saja sangat tepat. Kai terus saja memerhatikan pohon-pohon dan air di sekitarnya. Benar-benar masih alami. Sudah tentu, teman-temanku akan aman di sini.

“Kita jemput mereka untuk tinggal di sini sekarang.”

Aku mengangguk. Bergegas kembali.

Namun, sekembalinya kami dari pencarian tempat aman, mata kami nyalang. Marah dan sedih bercampur kepedihan. Melihat rumah kami telah dilindas puluhan buldoser yang menderu-deru. Entah dari kapan mereka datang dan mengacaukan segalanya. Melihat teman-temanku hilang entah ke mana. Hanya kami berdua yang tersisa. Kami akhirnya memutuskan kembali ke tempat yang kami temukan semalam.

Akan tetapi, seperti takdir yang telah digariskan, sekembalinya kami ke tempat baru yang telah kami temukan semalam, ternyata juga telah hancur berantakan. Dilindas buldoser-buldoser. Kami menggeleng. Bingung, marah, kecewa bercampur kesedihan. Pengembaraan kami mencari tempat aman dan nyaman memang tak pernah berakhir. Namun, entah kenapa sangat sulit menemukan kata “pulang”. Kami tak tahu lagi ke mana akan tinggal. Kami akhirnya memutuskan kembali melanjutkan pencarian tempat aman di tengah-tengah manusia yang penuh kerakusan. Hanya keyakinan di dada yang kami bawa.

Di kejauhan, ketika senja berwarna gelap merah tembaga, dua ekor kunang-kunang terus saja terbang, dalam rasa pasrah, menuju entah ….







=============
Dody Widianto
lahir di Surabaya. Pegiat literasi. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional seperti Koran Tempo, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Singgalang, Haluan, Waspada, Fajar, Rakyat Sultra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here