Memulangkan Mayang


“Aku mau pulang! Aku rindu Ibuk!”

MAYANG sesenggukan. Sebelumnya ia sudah menangis kencang. Kali ini Kukuh dan Tantia hanya bisa merangkul Mayang tanpa bicara apapun. Menyerah. Tak mampu lagi membendung keinginan Mayang untuk kembali ke zaman seharusnya dia hidup.

Perasaan terberat melepas Mayang dipikul oleh Kukuh, sedianya sejak awal ia menyadari kepulangan Mayang kelak terjadi, namun benaknya menolak bahwa momen ini benar-benar segera datang.

Kukuh teringat bagaimana semua bermula. Sebagai mahasiswa yang tengah berjuang untuk lulus, ia ke Perpustakaan Kota, tempat yang sebelumnya hampir tak terpikir untuk didatanginya kalau bukan demi tugas akhirnya.

Saat menyusuri rak perpustakaan, Kukuh tersadar ia berada di salah satu area tersepi di sana, aroma bukunya lebih lembab daripada area depan. Kukuh menjumpai buku dengan fisik yang dari punggungnya saja sudah mengkhawatirkan, sebagian besar terkelupas bahkan begitu dalam hingga lembar-lembar kertas di baliknya terlihat. Kontras dengan buku berfisik sempurna di yang menjepit di kanan-kiri. Entah mengapa ia meraih buku lusuh tersebut. Menjumpa tulisan tak dikenalinya pada bagian sampul. Sekilas seperti aksara kuno. Ibu jarinya membuka acak buku itu. Saat itulah cahaya terang muncul dari buku. Kukuh terlempar dan terjerembap. Saat pejamnya perlahan terbuka, di depannya seorang gadis dalam posisi duduk juga tengah mencoba membuka mata usai terkena silau cahaya.

Mereka saling pandang. Gadis itu keheranan melihat Kukuh, Kukuh jauh lebih heran melihat di tempat seperti ini ada perempuan berbusana kemban dan balutan jarik warna cokelat.

Suasana terasa canggung ketika gadis itu panik, tak henti-henti menolehkan kepalanya seperti kucing kebingungan melihat ruangan yang asing baginya ini. Di tengah kikuk itu Kukuh berinisiatif meraih lengan sang gadis dan membantunya berdiri. Gadis itu tak menolak tangan Kukuh. Tanpa bicara Kukuh menariknya dan berjalan cepat ke luar perpustakaan diiringi tatapan aneh pengunjung lain melihat perempuan berbusana tradisional lewat di depan mereka, padahal sedang tidak ada acara budaya di sana.

Mereka berdua duduk di kursi batu di taman perpustakaan. Kukuh membeli sebotol air mineral pada pedagang sekitar sana.

“Ini, diminum dulu,” Kukuh menyodorkannya botol minuman pada perempuan yang masih terengah itu. Gadis itu memang merasa haus, ia memandang bingung botol plastik di tangannya. Ia memang yakin isinya air. Begitu bening.

“Bagaimana cara meminumnya?”

Kukuh terkejut atas pertanyaan gadis itu. Meski ia tetap meminta botol itu dan membukakan tutupnya.

“Dari sini,” Kukuh menunjuk mulut botol yang sudah terbuka. “Minumlah.”

Ragu-ragu gadis itu menempelkan bibirnya ke bibir botol, air mengalir terlalu deras hingga membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk. Refleks Kukuh menahan botol itu.

“Pelan-pelan, coba, minum lagi.” Sodor Kukuh kembali. Kali ini perempuan itu minum lebih hati-hati. Merasa sudah tahu caranya, air itu tiba di tenggorokanya dan meluruhkan dahaganya dengan damai.

Kondisi keduanya sudah cukup tenang, Kukuh memberanikan diri bertanya usai sekelabat merancang pertanyaan yang dirasa diplomatis untuk diajukan tanpa memunculkan kepanikan baru. Kukuh mengenalkan dirinya, dan menanyakan siapa nama gadis itu dan apa yang terjadi.

Gadis itu ragu menjawab, namun lelaki di hadapannya tampak baik dan bisa dipercaya. Bibirnya membuka kecil, perlahan mengucapkan kalimatnya.

“Namaku Mayang. Aku tidak tahu yang terjadi. Seingatku, aku dikejar pengawal raja. Kudengar raja mau menjadikanku selirnya, tapi aku takut dan kabur sampai hutan. Tahu-tahu sudah di sini.”

Kali ini mulut Kukuh benar-benar terkunci.

***

Merasa tak bisa menghadapi kebingungan ini sendirian, Kukuh mendapat ide menelepon Tantia, sobat perempuannya yang sigap menuruti permintaan Kukuh untuk menyusul ke perpustakaan. Sembari menanti Tantia, Kukuh melanjutkan obrolannya dengan Mayang. Suasana sudah lebih cair, sebab keduanya sama-sama saling penasaran atas jawaban kejadian ini. Terlalu banyak keterkejutan di antara mereka. Obrolan keduanya menjumpa kesimpulan bahwa Mayang berasal dari masa lalu yang terdampar di masa kini

Mayang setengah tidak percaya karena tidak pernah membayangkan bentuk masa depan. Begitupun Kukuh, sebab siapapun bisa mengaku dari masa lalu bahkan masa depan, Kukuh sempat berpikir gadis di depannya itu bermasalah kejiwaannya. Mayang tampak masih begitu muda, mungkin seumuran dengan Kukuh. Semakin Kukuh perhatikan, Mayang terlalu manis sebagai gadis yang otaknya geser. Tapi bukannya banyak orang yang dungu tapi tertutupi oleh paras menawan? Mau itu laki-laki atau perempuan.

Sementara Kukuh melamun, Mayang yang lebih sering menunduk tiba-tiba mendongak pada Kukuh, membuat mata mereka berjumpa. Bening mata Mayang membuat jantung Kukuh mendadak lungsur seperti pepaya copot dari pohonnya.

Kukuh memilih memercayai Mayang.

Tak lama, sebuah mobil datang dan menempati parkiran perpustakaan. Tantia keluar dari dalamnya. Kukuh melambaikan tangan dan Tantia menangkap lambaian itu lantas melangkah ke tempat Kukuh berada.

Tantia mangut-mangut mendengar cerita Kukuh sembari memperhatikan perempuan berkemban dan berjarik di antara mereka itu. Mayang sendiri sibuk memindai Tantia dari kepala hingga kaki. Tantia memakai kemeja kuning dipadu celana jins. Pakaian asing bagi Mayang.

“Kamu tinggal di mana?” Lembut Tantia bertanya. Mayang menggeleng pelan, tak tahu menjawab apa. Tantia berpikir sejenak.

“Mayang, bagaimana kalau sementara kamu tinggal di rumahku? Tak perlu takut, mungkin kami bisa bantu kamu pulang,” Tantia menawarkan pada Mayang.

Mayang bimbang, sungkan, dan terlihat masih takut. Namun ia tak punya pilihan. Ia tiba-tiba turun dari tempat duduknya, berlutut di depan Kukuh dan Tantia sembari menempel rapat kedua telapak tangannya, pose namaste di atas keningnya seperti tengah menyembah.

“Aku mohon bantuan kalian. Terima kasih.”

Kukuh dan Tantia buru-buru meraih Mayang untuk bangkit dari posisinya.

***

Begitulah kemudian hari berlalu dengan hidup Mayang bersama Tantia. Mereka dan Kukuh hampir setiap hari janjian bertemu. Tantia melaporkan segala mengenai Mayang pada Kukuh. Tantia mengajarkan Mayang tentang hal dan benda-benda di masa kini, mendengar cerita Mayang tentang zamannya, mencocokkannya dengan data dan informasi pada internet dan buku. Perlahan Tantia bisa memperkirakan zaman Mayang berada. Mayang juga cepat beradaptasi. Ia cukup nyaman tinggal bersama Tantia.

Kali ini mereka berjumpa di kafe, Kukuh memandang Mayang yang mengenakan kemeja lengan panjang milik Tantia dan rok panjang, Mayang masih tak nyaman dengan celana. Terlihat tak berbeda dengan gadis muda lainnya. Kulitnya kuning bak sawo muda yang dibelah, rambut terurai panjang sedikit bergelombang namun tersisir rapi. Wajahnya manis apa adanya tanpa polesan make up.

“Setelah kutelusuri, Mayang kemungkinan berasal dari sekitar abad 15 atau 16,” terang Tantia ketika obrolan mulai serius.

“Zaman Majapahit?” Kukuh memastikan.

“Ya, masa keruntuhan. Tapi Mayang sepertinya dari kerajaan kecil di zaman itu,”

Kukuh kembali memandangi Mayang, pandangan yang dibalas Mayang berikut senyumnya. Setiap perbincangannya dengan Mayang selalu ia awali dengan menanyakan kabar. Selalu dijawab baik. Mayang sudah lebih akrab dengan mereka. Terkhusus Kukuh, Mayang masih terlihat malu-malu, senyumnya selalu muncul tiap ia tersipu memalingkan wajah ketika menyadari Kukuh memandangnya lembut. Kukuh tak menyangkali ia jatuh hati pada gadis yang di matanya begitu manis dengan keluguan dan kepolosan yang sama sekali tak dibuat-buat.

Dua bulan berlalu, gelagat berbeda mulai muncul dari Mayang. Ia sering tampak gelisah, bahkan Tantia pernah mendapati ia menangis. Mayang merindukan rumah, keluarga, dan desanya. Kukuh dan Tantia beberapa kali meredakan galau Mayang, tetapi gejolak kerinduan Mayang semakin membuncah. Tantia dan Kukuh teringat janji membantu Mayang pulang. Kukuh yang belum ikhlas mencoba mencegah keinginan Mayang.

“Kau lebih aman di sini,” bujuk Kukuh.

“Tapi keluargaku bisa saja dalam bahaya karena raja tidak menemukanku,” balas Mayang sambil tersedu.

“Bagaimana kalau kau tertangkap dan jadi selir raja?”

Mayang terdiam sejenak.

“Jika itu membuat keluargaku aman, aku… pasrah,” jawab Mayang parau.

Kukuh merasa ada cemburu menampar dadanya. Ego dan emosinya seperti dipanasi api. Hingga Mayang berujar lagi.

“Tempatku bukan di sini. Tidak seharusnya aku di sini. Aku mau pulang! Aku rindu Ibuk!”

Kukuh gemetar hebat. Hatinya patah, tapi ia tak bisa melihat Mayang gundah lebih jauh lagi. Ia mantapkan hatinya untuk memulangkan Mayang.

***

Kini mereka bertiga berada di kamar Tantia. Sebuah kertas lebar berada di lantai, digambari lingkaran dengan ukiran-ukiran di dalam lingkaran tersebut. Garis lingkaran di kertas itu sepenuhnya tertutup lilin yang bersusun-susun. Mayang duduk di tengah lingkaran itu, hawa panas menguar.

Kukuh menyerahkan buku pada Mayang. Buku lusuh yang mengawali pertemuan mereka. Tantia yang cerdas merasa cara memulangkan Mayang adalah dengan dimulai dari menguak misteri buku tersebut. Kukuh diutus ke perpustakaan, meminjam buku yang bahkan tak dikenali oleh petugas perpustakaan. Tak ada label seperti buku lain. Petugas perpustakaan sempat tidak mengizinkan Kukuh meminjamnya karena belum terdata. Kukuh memohon dan akhirnya dipinjamkan.

Di luar dugaan, Mayang bisa membaca isi buku itu.

“Jika catatan ini bisa dibaca, maka kau terhubung dengan kisah di dalamnya,” begitu salah satu kalimat yang dibacakan Mayang di halaman terdepan buku itu. Di bagian lain, tertera tentang ritual yang mungkin cara membuat Mayang kembali ke masanya.

“Buat lingkaran, kelilingi api, dekaplah catatan ini,” baca Mayang. Setelah memutar otak, Kukuh dan Tantia terbesit ide membuat lingkaran lilin ini. Tinggal membuktian keberhasilannya.

“Mayang, apakah ada rahasia lain dalam buku itu?” Tanya Kukuh.

Mayang tertegun dan wajahnya mendadak sayu. Namun, buru-buru ia ganti ekspresinya menjadi biasa.

“Tidak,” Mayang menggeleng.

Kukuh menangkap mata sendu Mayang barusan, seolah ada yang dirahasiakan darinya. Tapi mungkin hanya perasaannya saja.

“Semoga pada kehidupanku yang berikutnya, aku bertemu kalian lagi dengan ingatan yang sama,” pesan Mayang yang membuat Tantia melipat bibirnya. Matanya berkaca. Sementara Kukuh diam dengan pandangan murung. Ia belum sempat menyatakan perasaannya pada Mayang. Rasa yang buatnya lupa bahwa mereka terpisah terlampau jauh. Terhalang zaman lima abad jauhnya. Akan jauh lebih rumit jika cinta itu dipaksakan berlanjut.

“Kukuh, jika aku ditakdirkan lahir kembali di masa ini, dan kau mengenaliku, aku berharap kaulah jodohku.” Kukuh terbelalak, Mayang tersenyum dengan semu merah pipinya. Kukuh hendak memastikan apa yang ia dengar barusan, namun Mayang sudah mendekap bukunya.

“Sampai jumpa.”

 Kilatan cahaya memenuhi kamar Tantia hingga berangsur hilang dan menyisakan pemandangan lingkaran lilin yang seluruh apinya mati dan sebuah buku lusuh berbaring di sana. Lingkaran tempat Mayang duduk telah kosong. Sekosong hati dan pikiran Kukuh saat ini.

***

“Biarkan aku menyusul Mayang dan membujuknya ke sini!”

Tantia pening. Seminggu setelah perginya Mayang, kali ini ia menghadapi gelisah dari Kukuh. Rindu Kukuh terhadap Mayang membuat Tantia merasa sohibnya jadi tidak waras.

“Memangnya kau tahu caranya pulang dari masa itu ke sini?” Tantia mendebat Kukuh.

“Pasti ada jawaban di buku ini.” Kukuh menunjuk buku di tangannya. Buku yang telah menghadirkan sekaligus menghilangkan Mayang.

Kukuh membuka-buka buku itu. Kemudian tertegun dan menelan ludahnya.

“Kenapa, Kuh?” Tantia mendekat.

“Aku… aku bisa membaca tulisan di buku ini!” Kukuh gemetar.

Sekali lagi, di kamar Tantia, lingkaran lilin menyala. Kali ini Kukuh duduk di tengahnya. Berbekal petunjuk pada buku di tangan, tekadnya bulat mencari Mayang dan membawanya ke masa kini.

Tantia pasrah, hanya menitip pesan kepada Kukuh: hati-hati, jangan terlalu lama di sana, dan bawalah Mayang bersama keluarganya sekalian jika perlu. Kukuh hanya mengangguk, dadanya berdebar hebat seiring kian dekatnya buku itu untuk menempel di dadanya.

“Terima kasih, Tantia! Selamat tinggal!”

“Selamat tinggal?” cengang Tantia.

Seketika tubuh Kukuh bagai terisap begitu kencang. Menyesakkan. Kukuh tak sadarkan diri. Begitu terbangun, ia mendapati dirinya dikelilingi pepohonan.

Ini pasti hutan. Pikirnya. Kepalanya masih agak pusing, terhuyung melangkah sembarang saja hingga menemui setapak tanah yang terlihat sengaja dibuat oleh manusia sebagai jalanan.

Kukuh mendengar langkah kaki, suara decitan, dan suara aneh lain. Dari kejauhan, muncul rombongan dengan barisan manusia seperti prajurit mengiringi sebuah kereta yang ditarik sepasang kuda. Kukuh lekas bersembunyi di balik pohon, membiarkan mereka melewatinya. Kukuh terhenyak saat melihat di atas kereta dengan ukiran-ukiran warna keemasan itu ada seorang berpakaian berbeda, tampak lebih mewah daripada yang lainnya. Sementara seorang perempuan duduk di sampingnya. Mayang.

“Mayang!” Panggil Kukuh gegabah.

Rombongan tersebut serentak berhenti dan menatap tajam pada Kukuh.

“Siapa kamu!” Teriak lelaki di atas kereta.

“Mayang, ingat aku, kan?” Kukuh tak mengindahkan lelaki itu.

“Lancang, kau!” Teriak si lelaki.

Beberapa prajurit di sekeliling kereta itu mengambil ancang-ancang, menunjukkan mata tombak ke arah Kukuh, seolah bisa menghunus kapanpun. Beberapa lagi menyiagakan busur panahnya.

“Kau kenal dia?” tanya lelaki itu kepada Mayang.

Mayang diam dan tertunduk.

“Mayang! Ayo pulang bersamaku!” Teriak Kukuh seolah tak peduli bahaya. Mayang adalah tujuan utama perjalanannya ini.

Lelaki di atas kereta merasa tersinggung. Pada satu perintah, semua prajurit bergerak.

“Bodoh! Kenapa kamu ke sini!” Mayang tak bisa menahan diri. Ia berteriak sembari menangis kencang.

Kukuh berteriak sembari tertawa getir.

“Mayang! Aku sudah membaca takdirku di buku itu! Membaca yang kaurahasiakan! Karena itulah aku ke sini. Aku mencintaimu!”

***

Angin berembus masuk dari jendela kamar Tantia dan membuka lembaran buku lusuh yang masih tergeletak di lantai. Tantia yang baru saja melihat lenyapnya Kukuh, menghampiri buku itu dan matanya seketika membelalak.

Tantia gemetar ketakutan. Ia bisa membaca huruf demi hurufnya. Sesuatu tertulis di halaman yang terbuka:

“…Tak pernah ada yang pernah berani menantang raja kecuali pemuda itu. Pakaiannya aneh, tapi tekadnya kuat. Bagi raja, ia serangga busuk yang hendak merebut selirnya. Pertarungan sempat terjadi, pemuda tanpa senjata itu melawan tujuh tombak yang ditodongkan padanya. Meski perlu tiga anak panah menancap di tubuhnya untuk membuatnya ambruk berlumur darah.

Ia mematuhi takdirnya.” (***)

Bagikan:

Penulis →

Andi Wirambara

Kelahiran Ambon. Saat ini berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama, serta telah mengeluarkan 4 buku kumpulan puisi dan kumpulan cerpen.

One Response

  1. “Memulangkan Mayang” itu kayak cerita yang ringan dibaca, tapi diam-diam nyentuh perasaan.
    Ide dasarnya sederhana: tentang ketemu seseorang yang seharusnya nggak mungkin ada di dunia kita — gadis dari masa lalu yang terdampar ke zaman sekarang. Dari situ, ceritanya jalan dengan alur yang santai tapi tetap bikin penasaran.

    Karakter-karakternya juga terasa hidup.
    Kukuh itu tipikal cowok polos yang baik hati, yang tanpa banyak tanya langsung ngebantu Mayang. Tantia, sahabatnya, cukup rasional dan kadang malah lebih logis dibanding Kukuh sendiri. Sementara Mayang… dia digambarkan manis, sopan, sedikit bingung sama dunia modern, tapi tetap punya harga diri dan kekuatan batin.

    Yang bikin cerpen ini terasa spesial adalah hubungan mereka.
    Mayang dan Kukuh mulai ada rasa — tapi mereka sama-sama sadar, sekuat apa pun perasaan itu, mereka nggak berasal dari dunia yang sama. Ada kesedihan yang manis saat akhirnya Mayang harusdipulangkan, dan Kukuh, meski berat hati, ikhlas melepas.

    Gaya bahasanya ngalir banget. Nggak berat, nggak lebay, tapi tetap bisa kena di hati. Dialog-dialognya juga terasa alami, kayak ngobrol biasa aja. Dan bagian akhirnya… duh, cukup berhasil bikin dada agak sesak.
    Bukan karena dramatis banget, tapi karena kesederhanaannya itu.

    Pesan yang paling kuat dari cerita ini:
    Kadang kita bisa bertemu orang yang mengubah hidup kita, tapi bukan berarti mereka ditakdirkan untuk tetap tinggal. Dan kadang, cinta itu justru tumbuh saat kita berani melepaskan.
    Singkatnya:
    – Ceritanya menghangatkan hati, ada rasa haru yang ringan.
    – Karakternya mudah disukai, walaupun ceritanya pendek.
    – Endingnya sedikit pahit, tapi tetap manis pas buat yang suka cerita tentang pertemuan dan perpisahan.

    Kalau saya kasih nilai, mungkin sekitar 8,5/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *