Rahasia Keluarga Marini


PRIA seperempat abad itu menjadi gila setelah ditinggal nikah oleh perempuan yang dicintainya. Bukan hanya hati yang tertusuk belati, tapi juga jiwa yang diterjang badai rindu karena perempuan itu dibawa pindah pulau oleh suaminya. Kanto benar-benar tersiksa. Ditambah bapaknya mati setelah sebulan Kanto dinyatakan gila. Semua orang ikut berpartisipasi duka. Hanya ibunya yang buta, yang bertahan bersamanya di rumah sederhana.

Para tetangganya iba terhadap Kanto dan ibunya. Mereka secara bergilir memberi makan setiap hari pada mereka. Tidak ada tulang punggung keluarga. Sudah lima tahun sejak kejadian pahit menerjang keluarga mereka. Meskipun Kepala Desa sudah membawa banyak dokter dan psikiater, tapi tetap saja Kanto tak kunjung berubah.

Beberapa masukan tetangga yang menyuruh Kanto dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa tak ada yang berhasil. Ibunya Kanto memohon dengan berderai air mata agar anak semata wayangnya tetap tinggal bersamanya. Kepala Desa menurut, karena selain tidak tega dengan Ibunya Kanto, dia berpikir Kanto tidak memberontak seperti orang gila pada umumnya. Kanto berbeda. Lelaki yang sudah menginjak usia 30-an itu hanya merenung di teras rumah dari pukul enam pagi hingga enam petang.

Tidak ada teriakan sepanjang Kanto menjadi gila. Warga pun merasa aman dengan hal itu, karena mereka tidak dirugikan dengan kegilaan Kanto. Ada yang bilang Kanto hanya menderita putus cinta, bukan gila. Tapi menurut Dokter yang terakhir memeriksa Kanto, pria itu benar-benar gila. Pikirannya tidak seperti orang waras. Cinta yang mengakar begitu dalam di hati manusia memang terkadang membutakan segalanya bahkan bisa membuat siapa pun menjadi gila. Itulah yang dikatakan sang Dokter.

“Kalau Lasmiri datang menemui Kanto, saya yakin Kanto akan kembali normal,” ucap salah satu warga yang berdiri tak jauh dari rumah Kanto.

Dua orang yang bersamanya mengangguk. “Ya, kasihan betul ibunya Kanto. Sudah buta, anak satu-satunya gila, lalu suaminya meninggal. Dosa apa yang sudah ia perbuat.”

“Sebenarnya saya tidak ingin membongkar rahasia ini. Tapi sepertinya sekarang sudah waktunya. Lagi pula suaminya sudah meninggal. Jadi tak akan tahu rahasia gila ini,” kata salah satu dari mereka yang membuat dua orang lainnya melebarkan sorot mata.

“Rahasia apa, Nani? Kok kamu tidak pernah cerita dengan tetanggamu yang sudah hampir sepuluh tahun ini?”

“Begini. Dulu, saya dan Marini, ibunya Kanto adalah teman semasa kecil. Dia dijuluki kembang Desa pada zamannya. Tapi … semuanya berubah ketika ….”

***

Marini seringkali menyisir rambut hitam panjangnya di teras rumah. Melebarkan senyuman paling cantik pada bunga-bunganya yang ia tanam bersama ibunya di halaman rumah mereka yang luas. Saat Marini menginjak usia sembilan tahun, kecantikannya sudah memancar begitu memesona. Hampir seluruh wajahnya diwariskan dari ibunya yang merupakan anak dari jajahan Belanda. Hanya alis legamnya yang didapat dari sang ayah yang merupakan keturunan asli pribumi.

“Jaga baik-baik putrimu. Jangan sampai dia salah memilih suami ketika besar nanti,” kata Kakek Marini ketika berkunjung. Saat itu Marini tengah bermain boneka dengan Nani, satu-satunya teman yang paling dekat dengannya sekaligus yang diizinkan bermain oleh ibunya.

“Tenang saja, Pa. Marini akan kunikahkan dengan lelaki yang mempunyai pangkat tinggi, atau kalau bisa dari Negara Papa saja.”

Waktu berjalan begitu cepat seperti roda yang meluncur di jalanan menurun. Marini sudah menginjak usia empat belas tahun. Kecantikannya semakin memancar di usianya yang semakin matang. Menjadi buah bibir tetangga sekitar karena tak ada yang menandingi keelokan rupanya. Semua mata yang melewati rumah Marini tak ada yang mengedip. Mereka tidak ingin rugi.

Melihat anaknya yang menjadi pusat perhatian ketika diajak berjalan keluar seperti ke pasar atau tempat lainnya, ibunya Marini semakin memperketat waktu bermain putrinya itu. Bahkan Nani yang merupakan satu-satunya teman Marini tidak lagi diizinkan main kecuali di dalam rumah mereka sendiri.

“Marini, kau belum menyukai pria di Desa ini ‘kan?” tanya Ayahnya suatu malam saat mereka tengah makan bertiga.

Marini terdiam. Menjatuhkan pandangannya pada piring yang masih tersisa setengah.

“Marini,” panggil Ayahnya lagi. Sorot matanya teralihkan pada sang istri yang juga memasang raut tanya.

“Marini, Sayang, Ayah bertanya padamu. Kenapa kamu tidak menjawabnya? Tidak ada yang kamu suka di Desa ini ‘kan?” Kali ini Ibunya menimpali.

“Tidak ada.”

“Bagus. Sekolah dulu saja sampai lulus. Setelah itu, Ayah akan kirim kamu ke Belanda untuk kuliah di sana.”

Setelah perbincangan malam itu, Marini semakin sering bermain dengan Nani di kamarnya. Menceritakan segala rahasia yang ia punya, termasuk obrolan dengan orangtuanya. Marini tidak punya teman cerita selain Nani.

“Kenapa kamu tidak berkata jujur kalau kamu menyukai Elang, teman sekolah kita?” tanya Nani sebelum mereka tidur siang bersama di kamar Marini.

“Aku takut orangtuaku tidak setuju. Kamu tahu seperti apa mereka.”

Hari-hari berikutnya, Marini merasa semakin tergila-gila dengan Elang yang memiliki kulit legam nan rupawan. Matanya yang begitu tajam menatap Marini membuatnya meleleh. Keduanya pun seringkali bertemu di waktu-waktu tertentu. Berbagai alasan dilontarkan Marini pada orangtuanya dengan bantuan Nani. Entah belajar bersama, tugas kelompok, bahkan pergi ke pohon karet hanya untuk bersenda gurau bersama Elang. Nani selalu ada di dekat keduanya untuk berjaga-jaga jika ketahuan orangtuanya Marini.

“Aku tidak pernah ke jalan setapak ini sebelumnya,” ucap Marini melihat pohon-pohon menjulang tinggi yang lebat seperti hutan.

“Itu karena kamu terus di rumah. Orangtuamu pasti tak mengizinkan kamu berpergian ke tempat-tempat seperti ini. Lagi pula, di sana itu ada air terjun yang indah. Aku yakin kamu belum pernah melihatnya.” Elang terus membujuknya.

Marini mengalihkan pandangannya pada Nani. Seperti meminta persetujuannya.

“Di sana memang ada air terjun yang indah. Tapi … terlalu berbahaya karena tidak banyak pemukiman warga di sana. Selain itu, aku tidak tahu apa di dalam ada hewan buas. Aku hanya sekali ke sana, itu pun bersama ayahku,” terang Nani.

“Sudahlah, jangan takut! Ada aku, tanganku kuat. Bila ada hewan yang mendekat, akan langsung kuhajar habis-habis.”

Marini terkesan dengan kepercayaan diri Elang. Jadi, kepalanya mengangguk. Setelah itu, Elang menggandeng tangan Marini untuk masuk ke dalam hutan. Diikuti dengan Nani di belakangnya. Mereka berjalan cepat untuk sampai ke air terjun. Semakin lama, suara derasnya air terjun semakin terdengar. Menambah kepercayaan Marini pada Elang jika di ujung sana ada air terjun.

Namun, ketika mereka hampir sampai di air terjun, mata Marini teralihkan pada gubuk tua yang berdiri kokoh tak jauh dari air terjun.

“Apa ada orang yang tinggal di sana?”

Tepat ketika Marini bertanya dan menunjuk ke arah gubuk tua, muncul seorang pria berwajah kusam dan rambut acak-acakan dari balik gubuk. Memandang Marini dengan mata cokelatnya yang berbinar. Seperti baru melihat manusia.

“Hiraukan saja. Dia Wartono, sedikit gila tapi masih hidup normal untuk bertahan hidup. Aku sudah biasa bertemu dengannya kalau ke sini. Ayo kita ke air terjun!” Elang menarik tangan Marini dengan semangat.

Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam. Sebelum Nani memperingati, “Sebaiknya kita pulang. Marini pasti sudah dicari oleh orangtuanya.”

“Ini belum petang. Aku ‘kan sudah beralasan ada tugas kelompok denganmu, jadi tak masalah.” Marini kembali mencipratkan air ke wajah Elang yang melakukan hal serupa.

“Tapi ini sudah lewat waktunya. Ayo kita pulang!” Nani bersikeras menarik tangan Marini yang akhirnya mengalah. Diikuti dengan Elang dari belakang.

Ketiganya kembali melewati gubuk tua yang ternyata penghuninya masih berdiri persisi di tempat yang pertama kali mereka lihat.

“Dia benar-benar gila. Tidak beranjak sedikit pun dari sana,” komentar Marini yang menggelengkan kepalanya.

“Bisa jadi dia memperhatikan kita bermain di air terjun. Wartono memang begitu. Dia susah ditebak.” Elang tersenyum mengejek ke arah Wartono.

Minggu berlalu. Rahasia-rahasia kecil Marini dengan Nani tak pernah terendus oleh orangtuanya. Dengan begitu, mereka semakin gencar beralasan apapun demi bisa mencapai tempat-tempat lainnya termasuk air terjun. Waktunya tidak pernah berubah, selalu satu jam.

Ketika hari Minggu, pintu rumah Nani diketuk sangat kencang. Saat itu Nani ingat terik matahari tepat berada di atas kepala. Dia membuka pintu dan memperlihatkan wajah orangtua Marini yang begitu panik.

“Nani, apa Marini ada di dalam? Dia bilang ada tugas kelompok dengan kamu.” Ibunya Marini memegang kedua bahu Nani.

Nani menggeleng cepat. “Ini hari Minggu. Kami tidak ada tugas kelompok atau apapun.”

“Kurang ajar anak itu! Berani-beraninya dia membohongi kita!” bentak Ayah Marini sambil menggebrak meja di teras rumah Nani.

Selepas itu, Nani berupaya membantu orangtua Marini untuk mencari putri satu-satunya. Selain rasa bersalah karena sering berbohong dengan mereka, Nani betul-betul cemas dengan kondisi Marini saat tak bersamanya. Dia mengarahkan orangtua Marini ke tempat-tempat biasa mereka bermain, termasuk air terjun.

Ketika baru menginjak ke arah masuk hutan lebat itu, Ayah Marini melirik Nani, “Kalian sering ke tempat ini?”

Tak ada alasan untuk berbohong, Nani mengangguk ragu. Dari wajahnya, bisa dilihat jika pria tua itu kesal bukan main. Dengan langkah cepat dia menyusuri hutan yang dipenuhi pohon rimbun. Cuaca yang sebelumnya terang karena matahari, kini berubah menjadi gelap. Seolah awan cerah tak diizinkan masuk di dalamnya.

“Ini sepatunya Marini!” teriak Ibunya Marini mengangkat sepatu milik putrinya.

Sang Ayah mengambil sepatunya dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian semakin berlari kencang menyusuri hutan hingga suara air terjun terdengar. Pria itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru, tetapi tidak menemukan satu pun manusia di sana, apalagi putrinya.

“ELANG!” teriak Nani yang berlari dari arah belakang Ayah Marini menuju batu besar di pinggir aliran sungai.

Kondisi lelaki itu begitu mengenaskan. Satu matanya bolong berdarah, wajahnya berlumuran darah yang sudah menghitam, pergelangan kaki kanannya patah entah hilang ke mana, seluruh bajunya sudah tak berwarna karena berlumur darah.

“Kamu mengenalnya?” tanya Ayah Marini.

“Dia Elang, pacar Marini.”

Orangtua itu terkejut ketika saling menatap.

“Terus di mana Marini? Tidak mungkin dia yang melakukan ini terhadapnya ‘kan?” tanya Ayah Marini kesal.

Nani terdiam sejenak selagi melihat kondisi tubuh Elang yang begitu mengenaskan. “Hanya ada satu orang yang pernah saya lihat di sini.”

“Katakan! Siapa itu?!”

“Wartono. Dia tinggal di gubuk tua itu!” Jari telunjuk Nani mengarah pada gubuk tua yang sedikit tertutup pepohonan.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Dia sudah mati!” teriak Ayah Marini yang mulai berlari ke arah gubuk tua. Diikuti oleh Ibu Marini dan Nani.

Saat mereka sampai di gubuk tua itu, Ayah Marini langsung mendobrak pintu utama yang membuatnya langsung hancur. Kemarahannya sudah di ujung tanduk. Berbagai asumsi negatif terus berkembang di kepalanya sejak menyusuri hutan itu.

Sungguh sulit dipercaya, yang dilihatnya adalah benar-benar kenyataan yang sedang menari di kepalanya. Dia melihat baju terusan yang dipakai putrinya sudah robek-robek sehingga kulit putihnya terbuka tak sesuai batasan. Tak sadarkan diri bersama lelaki yang ia pikir sudah ia bunuh bersama keluarganya sewaktu berburu di hutan.

Dengan emosi yang sudah mendidih, karena memergoki pria itu menyentuh baju putrinya, Ayah Marini meninju kuat-kuat Wartono hingga tersungkur. Dari saku celananya dia mengeluarkan pistol yang sering ia bawa ketika tengah berjaga-jaga dari musuh tak terduga. Ditariknya pelatuk pistol itu tepat di dahi Wartono. Sehingga bunyinya menguar dan membisingkan. Juga mematikan si korban.

“Biadab kau!” teriaknya setelah tubuh Wartono tergeletak dengan bersimba darah yang keluar dari kepalanya.

Kedua wanita yang berada di belakang Ayah Marini memejamkan mata dan menutup mulut dengan tangan. Tidak menyangka akan melihat aksi pembunuhan yang begitu cepat.

***

Marini siuman. Matanya mengerjap-ngerjap. Ayah, Ibu, dan Nani mengitari kasurnya. Tidak ada yang bicara sampai wanita itu yang memulainya.

“Maafkan aku karena telah membohongi kalian.”

“Kau nyaris mati dirogol oleh orang gila biadab itu, Marini!” Ayahnya sudah tak bisa menahan kemarahan pada putrinya.

“Tidak, tidak, lelaki itu justru menolongku, Ayah.”

“Menolongmu bagaimana?” Kali ini Ibunya penasaran.

Sejenak keheningan melanda beberapa saat. Sampai Marini berhasil bersuara lagi, “Aku hampir saja dirogol oleh Elang. Dia lelaki yang berusaha ….” Mata Marini menatap Nani dan terjatuh.

“Sudahlah, sudah, Nak! Jangan teruskan, yang penting kau selamat dan tidak kenapa-kenapa.” Ibu Marini memeluk putrinya sambil menangis.

“Kau tidak salah mengartikan ‘kan, Marini? Sudah jelas Ayah melihat orang gila itu sedang … Ayah tidak ingin lanjutkan. Ayah sudah membunuhnya, mengirimnya kepada orangtuanya yang sudah Ayah bunuh juga dua tahun lalu. Dia pantas mendapatkan itu.”

“Ayah membunuhnya?!” teriak Marini. “Dia menyelamatkanku dari Elang, Ayah! Dia menolongku! Dia lelaki yang baik dan tidak gila!”

“Tutup mulut sialanmu! Beraninya kau membohongi kami!” Ayahnya menampar Marini kuat-kuat hingga wajah gadis itu hampir tersungkur.

Nani merasa ini sudah melampaui batas. Dia tidak seharusnya mendengar banyak rahasia di keluarga yang menjadi dambaan para warga. Dia merasa tidak enak berada di antara mereka. Jadi, dia berusaha untuk pamit diri dan menyimpan rahasia keluarga Marini rapat-rapat. Hingga lima tahun kemudian, seorang pria dari kerabat sang Ayah Marini datang untuk melamar Marini.

Namun, penderitaan Marini tidak berhenti sampai di situ. Selain rasa bersalah yang begitu besar pada Wartono, perjalanan rumah tangga Marini juga tak seperti yang dia bayangkan selama masa sekolah. Berpikir akan hidup bahagia bersama Elang, nyatanya tidak begitu. Dia sengaja dinikahkan dengan lelaki yang tak ia cintai. Baru tahun pertama menikah, ia sudah kena pukul hingga sebelah matanya buta ketika melahirkan anak pertamanya. Marini berpikir jika kebutaannya adalah karma dari sang Ayah yang sudah membunuh Wartono. Jadi dia memaafkan suaminya yang katanya tidak sengaja membuat sebelah matanya buta.

Nani selalu menjadi tempat ceritanya hingga kedua orangtua Marini wafat karena penyakit kronis. Sampai kapan pun, dia selalu percaya jika Nani bisa menjaga seluruh rahasia keluarganya rapat-rapat.

Bagikan:

Penulis →

Putri Oktaviani

Lahir di Tangerang pada Tahun 2000. Penggemar fiksi thriller dan misteri ini senang mendengarkan radio dan cerita horor. Cerpen terbarunya “Tetangga yang Budiman” dimuat di Majalah Harmoni yang dikelola oleh Kantor Bahasa Maluku Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *