TELEPON malam itu tak hanya menunda waktu tidurku, tapi juga membuat mataku sulit terpejam hingga pagi hari. Tak kusangka setelah 25 tahun dia masih mengingatku.
“Masih kusimpan surat yang kau berikan,” katanya.
Aku berpikir keras saat itu. Surat apa yang dia maksud.
“Andai waktu itu kau tak pindah sekolah, mungkin aku akan membalas suratmu, ” lanjutnya.
Aku ingat pernah mengirim sebuah surat kepada seorang teman kelas. Namun lupa siapa perempuan yang aku tuju. Rasanya, ada beberapa anak yang aku taksir saat aku bersekolah di SD Jinhae, sebuah distrik di kota Changwon.
Surat tersebut kutulis dengan sangat serius, malam hari, di atas kasur, di bawah balutan selimut supaya tidak diketahui oleh orang tuaku. Kalau tidak salah, di dalamnya kutulis penggalan puisi dari sebuah buku karya Han Yong Woon yang kutemukan di perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertawa sendiri mengingat kelakuanku di masa itu.
Dalam ingatanku, surat tersebut aku selipkan dalam sebuah buku di perpustakaan dan berharap perempuan yang kusuka mengambilnya. Tapi aku juga tidak begitu yakin. Bisa jadi rupanya aku menitipkan ke salah satu sahabatnya
“Surat itu aku terima,” katanya. “Saat itu, aku tidak tahu harus berbuat apa.”
Aku semakin bingung ketika dia mengaku hapal di luar kepala isi surat cinta picisan itu hingga garis polanya. Padahal, aku juga belum mahir menulis hangeul saat itu.
“Kau tak lupa aku siapa kan?”
Aku terdiam. Mencoba memeras otak. “Siapa, siapa, siapa.” Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Menatap jauh ke balik gedung-gedung pencakar kota Seoul. Mencoba menggapai cakrawala bukit Ansan di kegelapan. Berharap bisa merengkuh keping ingatan. Sial. Tiba-tiba aku merasa ingin mengutuk diriku sendiri karena tidak ingat sama sekali.
“Aku Ha Yoen.”
“Ahh.. Iya, Ha Yoen. Bagaimana kabarmu?”
Kami pun bercakap cukup lama melalui sambungan telepon. Ia lebih banyak bercerita, tentang pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari. Sebenarnya, percakapan dadakan ini agak canggung dan aneh, tapi aku merasakan antusiasme dan kegembiraan dari suaranya.
Percakapanku dengan Ha Yoen berakhir pukul 01.00 dengan kesepakatan bertemu malam nanti di Starfield Library. Telepon sudah kumatikan. Kedua kelopak mataku meronta minta dipejamkan. Namun pikiranku tak bisa berkompromi dan terus mencoba mengingat. Di antara anak-anak perempuan yang aku suka saat SD, yang manakah Ha Yoen. Aku benar-benar lupa.
***
Di sekolah, aku selalu duduk paling belakang. Karena itu aku bisa leluasa memperhatikan perilaku teman-temanku di kelas. Khususnya perempuan-perempuan yang menarik perhatian.
Seorang anak perempuan yang selalu duduk di baris kedua dari depan, sebelah kanan. Nyaris sepanjang sekolah dia diam bak patung. Tapi matanya seolah tak pernah lepas menatap guru. Bahkan ketika anak-anak lain mengangkat tangan atau bersuara, dia lebih banyak diam memperhatikan. Setahuku, dia sangat jarang berinteraksi dengan kawan lain. Saat istirahat, anak itu pun lebih sering sendiri di bangkunya. Yang selalu duduk di baris depan sudut kiri, dia primadona kelas. Selama pelajaran, anak laki-laki selalu mencuri pandang meliriknya. Rambut anak itu pendek. Dia lebih sering membetulkan dan memainkan penjepit rambut di kepalanya daripada memperhatikan guru.
Tepat duduk di depanku, seorang anak perempuan yang parasnya lebih menyerupai anak SMP daripada SD. Dia tinggi, anggun, dengan kulit agak kecoklatan. Dia juga primadona kelas. Namun setahuku siswa laki-laki tak berani mendekatinya.
Ada lagi anak perempuan yang selalu duduk di baris belakang juga. Terpaut dua bangku di samping kananku. Mata kami sering bertemu setiap kali aku meliriknya. Anak perempuan yang manis dan pemalu.
***
Seorang wanita menghampiriku yang sedang duduk di selasar rak buku utama starfield library. Dia wanita yang tidak terlalu tinggi, ramping, dengan rambut panjang diikat. Blouse terusan hingga betis yang dipakai membuat Ha Yoen terlihat sangat anggun. Hingga kami duduk di meja sebuah restoran COEX Mall, aku masih terus mencoba mencocokan wajah Ha Yoen dengan keempat anak perempuan yang aku taksir itu.
Sebagaimana di telepon, dia banyak bercerita tentang pekerjaannya. Dia seorang kurator seni dan rupanya baru kembali dari Paris menghadiri undangan sebuah pameran. Ha Yoen bahkan mengelola sebuah perusahaan asuransi untuk karya-karya seni.
Ha Yoen banyak bercerita tentang seniman Eropa abad pertengahan, pelaku seni kontemporer di Korea, hingga soal kebijakan seni. Sejujurnya, aku tidak paham. Tapi akui tertarik. Sebagai pemilik sebuah penerbitan buku-buku anak, cerita-cerita Ha Yoen mungkin berguna. Kini tumbuh kesadaran para orang tua di Korea untuk memperkenalkan seni pada anak sejak dini.
Ha Yoen akhirnya sampai pada cerita tentang kehidupannya yang lebih pribadi. Dia baru saja berpisah dengan suaminya. Sekitar dua bulan lalu. Namun Ha Yoen masih mendapat masalah. Mantan suaminya kerap datang ke apartemennya dan berbuat kasar padanya. Tak jarang dia menerima kekerasan fisik. Perlakuan tersebut menimbulkan ketakutan dan trauma padanya. Setiap malam, dia selalu diliputi kegelisahan. Hingga akhirnya malam tadi dia ingat suratku yang selalu dia simpan.
Secara terang-terangan dia ingin menjalin hubungan denganku. Menurutnya, aku pria yang baik sebagaimana dulu dia melihatku sebagai seorang anak yang baik di kelas.
“Perasaanku mengatakan kamu tidak berubah. Masih tetap orang baik,” katanya.
“Apakah kamu melakukan ini supaya mantan suamimu tidak mengganggumu lagi?”
Dia tidak menjawab. Wajahnya menunduk memperhatikan jari-jarinya yang terpaksa ia mainkan untuk membunuh kecanggungan. Terlihat bahwa dia tidak bisa mengelak dari tudingan yang tidak diduganya. Aku tak menyalahkannya. Wanita ini memang sedang dalam ketakutan dan butuh perlindungan dari mantan suaminya. Lagi pula, Ha Yeon memang cantik. Tak ada salahnya kuterima ajakan menjadi kekasihnya.
“Baiklah. Mungkin akhir pekan ini kita bisa bertemu. Aku akan ke rumahmu”.
Dia memandangku. Aku bukannya terlalu pede, namun sorot matanya jelas memperlihatkan kebahagiaan dan rasa terima kasih yang dalam padaku.
“Aku berencana pindah apartemen. Akan aku beri tahu ketika sudah dapat yang baru. Mungkin lebih baik aku yang ke rumahmu”
“Aku tinggal di Distrik Gwanak,” kataku.
Kami pun bertukar nomor Cacao Talk. Sejak hari itu, nyaris setiap hari, Ha Yoen selalu mengirimiku foto-foto aktivitasnya. Esok hari setelah pertemuan kami, dia mengirim foto di meja makannya yang lengkap dengan menu sarapan: kimbab, buah pir dan secangkir kopi. Sore hari dia mengirim foto selfie dengan latar beberapa lukisan. Dugaanku, Itu ruang kantornya. Hari berikutnya dia mengirim foto dirinya sedang latihan di gym. Lain waktu, Ha Yoen mengirim foto dirinya sedang berada di sebuah restoran dengan pemandangan bukit. Dia tampak menemukan kebahagiaan – atau pelarian – dalam diriku. Tapi aku tak keberatan. Siapa yang tak senang bisa kencan dengan wanita cantik. Dan sore ini, kami berjanji bertemu lagi di sebuah cafe dekat COEX Mall.
Satu-satunya yang mengganjal di pikiranku adalah ketidakmampuanku mengingat yang manakah Ha Yoen di masa kecil. Apakah anak yang selalu sendiri, ataukah anak perempuan dengan penjepit rambut, mungkinkah perempuan yang tampak lebih tua dari usianya, ataukah anak pemalu yang duduk di baris belakang. Meski tak terlalu penting sebenarnya, tapi aku masih penasaran.
Tiba-tiba aku ingat Hong Ji, salah seorang kawan sekelas saat SD. Dia satu-satunya teman kelas yang masih berkontak denganku dalam 25 tahun ini. Hong Ji bekerja di kantor pemerintah kota Changwon di divisi pendidikan. Dia beberapa kali bekerja sama dengan perusahaan penerbitan milikku.
Aku pun menghubungi Hong Ji dan berbicara cukup panjang melalui telepon. Obrolan kami akhirnya melebar pada rencana proyek lain buku-buku anak. Dia bahkan memintaku mencarikan buku-buku sastra Eropa klasik yang cocok untuk anak SD. Dengan berbangga hati aku ceritakan bahwa aku baru saja sukses membeli hak terjemahan dari sebuah penerbit legendaris yang berbasis di London. Dan kami pun sepakat akan bertemu sekitar bulan depan guna membahas lebih detil. Dia akan ke Seoul. Tapi aku menawarkan diri pergi ke Changwon. Tiba-tiba ada kerinduan pada kota kecil tempat dahulu aku tinggal itu. Mungkin aku bisa mengajak Ha Yoen ke sana juga.
Saat obrolan telepon dengan Hong Ji selesai, aku baru teringat sesuatu. Segera aku tulis pesan chat. “Apakah kamu ingat anak perempuan di kelas kita yang bernama Ha Yoen?”
Hong Ji tidak kunjung membalas. Aku melihat jam sudah pukul 16.30. Aku harus segera pergi. Ha Yoen pasti sudah di jalan menuju lokasi pertemuan kami.
Perjalanan dari kantor ke sana memakan waktu normal 40 menit. Aku tak mau Ha Yoen menunggu. Beruntung aku tahu banyak jalan-jalan tikus sehingga dalam waktu 20 menit sudah berada tepat di area parkir cafe tempat aku dan Ha Yoen akan bertemu.
Aku masih di dalam mobil ketika tiba-tiba ada chat masuk dari Hong Ji.
“Tidak ada anak bernama itu di kelas kita.”
Aku terdiam cukup lama.
” Bagaimana dengan keempat anak perempuan yang jadi primadona kelas waktu itu?”
“Siwon dan Soe Ai sudah berkeluarga dan punya anak. Hana setia menjanda. Min Ah menjadi guru. Keempatnya tinggal di Changwon, ” jelas Hong Ji.
“Bagaimana di kelas lain? atau, adakah anak bernama Ha Yoen yang pernah pindah ke sekolah lain?”
“Tidak ada yang bernama Ha Yoen. Dan tidak ada yang pindah sekolah. Kecuali kamu yang pindah ke Seoul justru di tingkat akhir.”
Ya. Saat itu aku pindah karena orang tuaku harus dipindah tugaskan kembali ke Seoul.
Apa kau yakin?” desakku lagi
“Jinhae kota kecil dan aku 37 tahun hidup di sini. Tak ada satu hal pun yang aku lupa atau lewatkan. Termasuk reuni terakhir SD kita bulan lalu. Kau pasti tak tahu kan?” ujarnya sembari tertawa. “Kenapa kau tanyakan itu? Siapa Ha Yoen?”
Hong Ji tidak menyadari betapa terkejutnya aku.
Sementara itu, sebuah mobil berhenti di depan cafe. Kulihat Ha Yoen keluar dari dalam mobil tersebut dan masuk ke cafe. HP-ku berdering, Ha Yoen menelepon. Kuabaikan panggilannya. Mesin mobil segera kunyalakan lagi, kutancapkan gas kemudian pergi. []