MIMPI BURUK membangunkan Naya pada pukul tiga dini hari. Ia menyadari ketidakhadiran suaminya di sampingnya, tentu saja seperti biasanya. Mereka selalu tidur di kamar yang berbeda. Ini hanya satu dari sekian perjanjian tak tertulis dalam upaya memberikan masing-masing jarak yang cukup.
Kedua mata Naya menolak untuk kembali tidur. Maka segelas teh panas terdengar seperti pilihan yang menenangkan. Keberadaan Andra di dapur membuatnya sungguh kaget dan ia hampir berbalik lalu kembali ke kamar. Tetapi saat Andra memeregokinya, ia merasa tak sopan bila buru-buru kembali tanpa mengatakan apa-apa. Lalu ada beberapa saat mata keduanya bertatapan sambil mematung. Jelas sekali Andra juga sama kagetnya.
Ia menggumamkan “hai” yang datar dan kaku. Suaminya membalas dengan senyuman yang hangat. Baiklah, senyum itu adalah pemandangan yang…baru. Mereka tak biasanya memiliki atmosfer yang akrab seperti itu. Entahlah, mungkin Andra sedang baik suasana hatinya atau ia hanya aktor yang pintar bermain peran.
“Sini,” Andra mempersilakan Naya untuk duduk di sebelahnya. Ia tak menolak. Ia mengucapkan terima kasih lalu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan suaminya.
Pria itu kemudian bangkit untuk membuat kopi kesukaannya, sedangkan Naya hanya melihat dari belakang. Ia tak pernah tahu bahwa suaminya memiliki bahu dan punggung lebar dan kokoh. Meracik kopi di bawah lampu kekuningan membuat suaminya itu terlihat cukup kuat untuk jadi sandaran.
Tak ada satu pun dari mereka yang berani memulai percakapan. Saat itu yang ada hanya keheningan. Namun, mereka sudah terbiasa dengan hening itu dan anehnya mereka tak merasa terganggu dengan kehadiran masing-masing. Tidak juga bisa disebut nyaman, tapi barang kali cukup mendekati.
“Ini,” Andra memberikan secangkir kopi pada Naya. Naya segera mencicipi kopinya, lalu tercengang dengan rasanya yang terlampau lezat.
“Apa-apaan ini? Kenapa kopimu enak begini?” Naya menyeruput kopinya lagi, tak peduli suhunya masih tinggi.
“Iya?” Andra yang duduk di depan perempuan itu, merasa puas dengan reaksi yang ia dapatkan. Untuk pertama kalinya ia melihat Naya bereaksi demikian.
“Hm, iya, enak.”
Naya begitu sibuk meminum kopi, sementara suaminya sibuk menonton dirinya. Kopi Andra semakin dingin, tapi memperhatikan istrinya minum saja sudah sangat mengenyangkan. Untuk beberapa menit ke depan, yang terdengar hanya suara Naya meminum kopinya sampai akhirnya di luar turun hujan.
“Apa ini pertama kalinya kamu lihat orang minum kopi?” Maksud Naya, berhenti menatap!
“Bukan begitu. Hanya saja, pipi kamu terlihat sedikit lebih bulat dibandingkan dengan empat tahun lalu saat kita menikah.” Andra mengatakannya begitu saja tanpa berpikir panjang.
“Apa?” Naya tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut laki-laki itu.
“Maksudnya, kamu terlihat lebih sehat. Itu perubahan yang baik.” Andra bermaksud untuk mengatakan, kamu terlihat lebih cantik. Naya benar-benar terlihat lebih cantik dan imut, terutama dengan rambut panjang yang ditariknya ke atas menjadi kuncir kuda yang sedikit acak-acakan. Sebelumnya Naya selalu memotong pendek rambutnya, meskipun dengan rambut pendek juga ia tetap cantik dan berkelas. Baiklah, dia memang secara umum terlihat cantik.
Andra benar, pernikahan mereka sudah berjalan empat tahun. Naya tak berhitung, karena ia anggap itu tak ada artinya. Ia tak sengaja terbawa ingatan ke sekian tahun ke belakang. Ia hampir tak punya kenangan apa-apa dalam pernikahan aneh ini. Ia tak tahu, mungkinkah ada pasangan lain di dunia ini yang menjalani pernikahan seperti mereka?
“Berantakan betul,” gumam Naya yang menatap cincin di jari manis suaminya. Ia juga mempunyai cincin yang sama, yang tak pernah ia pakai. Mungkin ia tak menyukai cincinnya atau ia tak punya alasan untuk mengenakannya.
“Apanya?”
“Pernikahan ini. Kita,” suara Naya pelan seperti bisikan. Lalu hening.
Rumah mereka cukup luas dan nyaman, tapi di dalamnya tak ada kehangatan ataupun kebahagiaan. Mereka memang seharusnya tak pernah menikah. Sejak awal ini sudah salah. Tak seharusnya mereka menuruti orang tua mereka yang ngotot dengan perjodohan berlandaskan bisnis ini.
Naya menyesali perbuatannya yang tak segera meminta cerai dari Andra. Mungkin Andra pun pernah berbaik sangka bahwa hubungan mereka berdua akan membaik seiring berjalannya waktu. Mungkin mereka mengira, mereka bisa memperbaiki pernikahan ini dan menciptakan keluarga yang bahagia. Atau mungkin hanya Andra yang berpikir demikian.
“Kenapa kamu membohongiku?” Naya memecah keheningan.
“Bohong tentang apa?”
“Mencintaiku.”
Mereka tak pernah membicarakan ini. “Cinta” adalah kata yang aneh dan tak punya tempat di rumah ini. Naya sepertinya mencoba membawa pembicaraan ke arah yang serius. Maka Andra juga menjawab dengan sungguh-sungguh.
“Itu bukan bohong.”
“Oh.”
Naya gugup sendiri setelah mendengar jawaban Andra. Ia ingat malam pertama mereka yang membawa kekacauan sampai hari ini. Naya sama sekali tak bersikap ramah. Ungkapan cinta dari Andra justru ia balas dengan mengusir suaminya dengan kasar. Sejak malam itu, mereka tak pernah menghabiskan malam di kamar yang sama. Ada empat kamar di rumah ini, Andra bisa tidur di mana saja kecuali di kamar Naya.
“Jadi dulu kamu betul-betul mencintaiku.” Ia mengatakannya dengan canggung.
“Sekarang juga masih.” Andra berdeham, disambut kediaman istrinya dalam beberapa detik yang panjang.
“Oh?”
Andra tertawa melihat wajah istrinya memerah.
“Apa?” Naya bertanya dengan nada agak tinggi, karena gugup.
“Bukannya di situasi seperti ini harusnya kamu balas katakan kalau kamu juga mencintaiku?” Andra akhirnya meminum kopinya.
“Hmm, masalahnya aku tidak merasakan hal yang sama,” tegas Naya.
“Iya, iya, tahu. Kelihatan,” Andra tersenyum, “apa ini sebabnya kamu berkencan dengan pria lain?”
Andra menunggu sambil memainkan cincin di jarinya. Kadang ia lepaskan cincinnya lalu dipakainya lagi.
“Oh, kamu tahu. Aku bosan main nikah-nikahan begini,” kata Naya yang memang tak pernah berusaha menyembunyikan hubungan terlarangnya.
“Kalau boleh tahu, sejauh mana hubungan kalian? Kalian sudah tidur bersama?” Andra bertanya dengan hati-hati.
“Pertanyaan apa ini? Apa aku harus menjawabnya?” Naya menghabiskan sisa kopinya dengan terburu-buru, mulai merasa kesal.
“Jawab saja. Ini penting,” kata Andra dengan wajah penuh kesungguhan.
“Tentu saja jawabannya tidak. Senang?”
“Oh, syukurlah,” ketegangan itu terangkat dari tubuh Andra. “Aku tak suka ketika orang lain menyentuh apa yang sebenarnya milikku.”
“Aku? Milikmu?”
“Memangnya bukan?”
“Entahlah. Apa kamu milikku?”
“Memangnya bukan?”
“Entahlah. Ini membingungkan,” berhenti sebentar, “sebenarnya kita ini apa?”
“Pasangan suami istri,” jelas Andra, seakan itu hal yang paling jelas tanpa perlu ditanyakan.
“Tanpa cinta?”
“Sudah kukatakan, aku cinta dan sayang sama kamu.” Andra menatap Naya jauh ke dalam jiwanya.
Naya benar-benar menunjukkan sisi paling menyebalkan dari dirinya. Ia terus berpura-pura tak mengerti apa-apa. Meski ia tak buta. Ia bisa melihat cara Andra menatapnya, ada cinta di sana, tapi tak terbalas.
“Tapi aku tidak,” kata Naya penuh rasa bersalah.
“Aku bisa menunggu,” balas Andra.
“Jangan!”
“Ya sudah, tak usah dibalas,” senyum Andra pahit.
Sekali lagi Andra terus berpegang pada tali rapuh yang hampir putus. Ia hanya berharap, ia bukan satu-satunya yang ingin memperbaiki pernikahan ini.
“Menyedihkan betul kita ini,” tawa Naya menunjukkan gingsul di giginya.
“Jangan lakukan itu!” Andra tampak tersinggung, membuat Naya berhenti seketika.
“Lakukan apa?”
“Tertawa,” sahut Andra.
“Kenapa?”
“Kamu kelihatan lucu, hampir mendekati cantik. Apa kamu makan bunga?” Andra tak bermaksud menggoda. Ia betul-betul ingin bertanya.
“Oh?” Naya kehilangan kata-kata, tapi ia kepanasan. “Gombalan murahan begitu tak mempan padaku,” sementara pipinya sedang kemerahan.
“Itu bukan gombal,” Andra juga memerah.
“Terserah deh. Ini hampir pagi. Aku harus tidur.” Naya berdiri untuk kembali ke kamarnya, kecuali ada tangan yang meraih sikutnya dari belakang. Ia kaget bukan main. Mereka tak pernah melakukan kontak fisik. Ini rekor paling jauh. Naya sudah siap untuk meneriaki Andra atau mungkin menampar wajahnya. Hanya saja ia tak punya tenaga untuk menyakiti lelaki itu lagi.
“Tunggu. Ini bukan hal buruk. Haruskah kita ngobrol lagi besok atau lusa?”
Andra menunggu Naya mengatakan sesuatu. Perempuan itu terlihat berpikir sebentar. Namun ia tak berbalik, tak juga menolak. Ia berlalu begitu saja seperti biasanya. Lagi-lagi ia menggantungkan Andra pada sesuatu yang tidak jelas, entah iya, entah tidak, entah sesuatu di antara iya dan tidak. Andra terduduk melihat punggung istrinya menghilang di balik pintu.
***