Lereng

MUHSIN melangkah pelan dan ragu di sepanjang lorong menuju kelas tempatnya mengajar. Ini jadi pengalaman pertamanya mengajar dan ia tak tahu mengapa ia mesti datang. Ia telah sepenuhnya berlama-lama, dengan caranya sendiri, menunda momen itu.

Ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan melemparkan diri dan membolak-balik badan di atas tempat tidur hingga pagi, memikirkan satu hal: alangkah sulit bagi seseorang berdiri di hadapan banyak orang, dan… untuk apa? Untuk mengajar mereka! Kau pikir kau siapa? tanyanya pada diri sendiri. Kau telah menghabiskan hidupmu yang sengsara itu tanpa seseorang mengajarimu hal-hal berguna. Apa kau pikir kau benar-benar memiliki sesuatu untuk diajarkan pada orang lain? Kau, dari sekian banyak orang, percaya bahwa sekolah adalah tempat terakhir bagi seseorang belajar tentang kehidupan? Dan sekarang kau akan menjadi guru sekolah?

Pagi-pagi ia menyeret dirinya ke ruang kepala sekolah di mana ia kemudian duduk dan mendengar guru-guru lain berceloteh banyak, namun hanya satu kalimat inti yang kemudian dapat ia tangkap, “Apa yang mesti kita perbuat di kelas saat anak-anak tidak memiliki buku?”

Jawaban kepala sekolah pendek saja, bahkan terkesan meremehkan, “Seorang guru yang mumpuni tahu bagaimana melaksanakan pembelajaran di kelas tanpa buku!” Kemudian, ia menambahkan dengan sembrono, “Minta saja salah satu anak untuk menjaga kelas jika Anda tidak bisa melakukannya sendiri.”

Muhsin berkata pada dirinya sendiri, “Tampaknya kepala sekolah ingin memberikan pelajaran kedisiplinan dan kepatuhan kepada para guru sedari awal. Ia sudah memegang gaji kami selama seminggu, dan sekarang ia ingin mengambil jiwa kami juga. Alamak.” Ia menenggak habis tehnya dan berdiri.

Lorong panjang yang dilaluinya penuh dengan suara teriakan dan keributan anak-anak. Baginya, disertai langkah kaki yang berat, ia merasa sedang melewati pusaran air yang bergolak yang membawanya menuju masa depan tak bermakna, sebuah masa depan melompong namun lebih riuh sekaligus hampa.

“Saya punya cerita bagus, Pak Guru!” Hal itu diteriakkan oleh seorang anak yang duduk lemas di salah satu kursi paling belakang, yang melihat kekacauan tersebut sebagai kesempatan untuk berbagi cerita. Dan bahkan sebelum Muhsin sempat mengajukan keberatan dengan usulan itu, si bocah telah beranjak dari kursinya dan sudah berada di hadapan kawan-kawannya. Bocah itu mengenakan celana pendek yang kelewat besar untuk ukuran tubuhnya serta kemeja yang terbuat dari kain perca, jenis yang dikenakan para wanita. Rambutnya yang tebal dan hitam menggantung hingga menutupi alis.

“Ayah saya adalah orang baik. Rambutnya telah memutih dan ia hanya memiliki satu mata. Satu matanya yang lain telah ia colok sendiri saat ia menjahit sol sepatu milik seorang pria bertubuh gempal. Ia telah berjuang keras memasukkan jarum ke kulit sepatu itu, tapi solnya sangat keras. Ia mendorong jarum itu dengan apa saja di sekitarnya, namun tidak berhasil. Ia mendorong lebih kuat dan jarum itu tetap tidak dapat menembus sol. Kemudian ia menaruh sepatu itu di dadanya dan mendorong sekuat tenaga. Tiba-tiba jarum menembus satu bagian dan ujungnya keluar dari bagian lain yang tepat mengenai matanya.

“Ayah saya adalah orang baik. Ia tidak memiliki jenggot panjang, tidak juga pendek. Ia pekerja keras dan sangat bagus di bidangnya. Ia selalu memiliki banyak sepatu untuk diperbaiki dan membuat sepatu-sepatu itu jadi seperti baru.

“Tapi ayah saya tidak memiliki toko reparasi dan tidak ada satupun yang membantunya dalam bekerja. Toko reparasinya tidak lebih dari boks kayu dan pelat logam dan kardus. Hampir tidak ada cukup ruang untuknya, untuk beberapa paku, beberapa sepatu, dan tatakan. Dan lagi, toko itu bahkan tidak menyisakan ruang untuk sekadar jadi tempat lalat hinggap. Jika seorang pelanggan menginginkan sepatunya diperbaiki, ia harus menunggu di luar toko.

“Toko kecil ayah berada di lereng bukit, dan di atas bukit ada istana megah kepunyaan orang kaya. Tidak ada seorang pun yang mencari toko itu dari balkon istana kepunyaan orang kaya tersebut, lagipula tidak akan ada yang bisa melihat keberadaannya, karena ada banyak tanaman tumbuh di sepanjang tanah perbukitan itu. Jadi, ayah saya tidak perlu takut kalau-kalau si pemilik istana menemukan tempat tersembunyi itu lalu mengusirnya. Orang kaya itu tidak pernah meninggalkan istananya. Para pelayan siap-sedia membawakan apa saja yang majikannya inginkan untuk dibawa ke istana. Mereka semua setuju, akan menjaga rahasia ayah saya dari majikan mereka dengan syarat: ayah saya bersedia memperbaiki sepatu mereka saat mereka kembali.

“Demikianlah ayah saya melanjutkan kerjanya dan tidak pernah khawatir. Orang-orang terlanjur tahu ia dapat memperbaiki sepatu dengan kecermatan tingkat tinggi hingga seolah-olah mereka memiliki sepatu baru. Kian hari kian banyak sepatu yang dibawa ke hadapannya. Ia bekerja tanpa henti sepanjang siang, kadang-kadang berlanjut pada malam hari. Kemudian ia berkata kepada ibu saya: ‘Besok anak-anak akan pergi sekolah.’ yang kemudian dijawab oleh Ibu: ’Maka sampean perlu istirahat sejenak dari pekerjaan ini.’”

Ketika bocah itu kembali ke tempat duduknya, kawan-kawannya diam membatu, hingga kemudian Muhsin bertanya: “Mengapa kalian tidak bertepuk tangan untuk kawan kalian? Tidakkah kalian suka cerita barusan?”

“Kami ingin dengar kelanjutannya…”

“Apakah ada lanjutan lagi untuk cerita tadi?”

“Satu bulan lalu, mungkin lebih, secara berangsur-angsur pekerjaan ayah saya menumpuk demikian banyak hingga ia bahkan tidak bisa lagi pulang ke rumah. Ibu mengatakan pada kami bahwa Ayah bekerja siang-malam dan tidak dapat meninggalkan tokonya. Ia tidak punya waktu untuk sekadar keluar. Sementara itu si orang kaya duduk-duduk di balkon sepanjang siang dan malam sambil mengunyah pisang, jeruk, kacang almon, dan kacang kenari, dan… melempar kulit buah dan kulit kacang itu sembarangan. Ia melempar sepah-sepah sisa makanan itu melewati pagar pembatas balkon hingga jauh ke lereng bukit. Suatu pagi lereng bukit itu tertutupi beraneka kulit buah dan kulit kacang, ya, para pelayan yang bekerja untuk si orang kaya bahkan tidak sanggup menemukan toko kecil ayah saya di tengah-tengah sampah itu. Ibu bilang bahwa Ayah tenggelam dalam pekerjaannya hingga bahkan tidak memerhatikan semua sepah yang dilempar ke atas toko kecilnya. Ayah bekerja sebagaimana mestinya. Mungkin ia masih duduk di dalam toko kecilnya, tekun memperbaiki semua sepatu, merampungkannya tepat waktu, lalu pulang ke rumah. Tapi, saya pikir kemudian, ia mati di sana.”

Murid-murid bertepuk tangan semua ketika si bocah kembali ke bangku dan duduk tenang. Enam puluh pasang mata mengawasi, satu kilatan, tapi Muhsin…

Muhsin membawa bocah itu ke ruang kepala sekolah, dan sebelum benar-benar tiba di sana ia sempat bertanya, “Apakah kamu benar-benar berpikir ayahmu meninggal?”

“Ayah saya tidak mati. Saya cuma bilang bahwa cerita itu harus ditutup. Jika tidak, cerita itu tidak akan ada habisnya. Musim panas akan tiba dalam beberapa bulan lagi, dan matahari akan mengeringkan tumpukan sepah kulit buah dan kulit kacang itu. Jadi sepah-sepah itu tidak akan berat dan ayah saya dapat membuang benda-benda itu dari atas toko kecilnya dan ia dapat pulang ke rumah.”

Ketika sampai di ruang yang dituju, Muhsin kemudian berkata kepada kepala sekolah, “Saya memiliki seorang jenius di kelas. Bocah ini menakjubkan. Anda bisa minta ia menuturkan cerita tentang ayahnya …”

“Cerita tentang ayahmu? Cerita apa?” tanya kepala sekolah.

“Toko ayah saya sangat kecil, dan ia sangat terampil. Suatu hari, ketenaran namanya sampai ke telinga orang kaya pemilik istana —istana itu menghadap ke toko kecil kepunyaan ayah saya. Orang kaya itu kemudian mengirimi Ayah semua sepatu bekas yang ia punya, menyuruh Ayah memperbaiki semuanya hingga tampak seperti baru lagi. Semua pelayan mulai bekerja membawa sepatu-sepatu itu ke toko kecil tersebut. Mereka bekerja dua hari penuh, dan ketika mereka selesai membawakan sepatu-sepatu itu, ayah saya sepenuhnya tercekik di bawah tumpukan besar hingga tidak ada cukup ruang bagi sepatu-sepatu itu untuk ditaruh di toko. . .”

Kepala sekolah memasukkan ibu jarinya ke dalam saku rompi, merenung sebentar, dan berkata, “Bocah ini tidak waras. Sebaiknya kita mengirimnya ke sekolah lain.”

Si bocah menyahut,”Tapi saya tidak gila. Anda pergi saja ke istana kepunyaan orang kaya itu dan lihat sepatu-sepatunya, Anda akan menemukan sekerat kecil daging ayah saya pada sepatu-sepatu itu. Anda bahkan mungkin akan menemukan dua mata dan hidungnya di salah satu sol sepatu. . . Ke sanalah. . .”

Kepala sekolah menyela, “Menurutku bocah ini gila.”

Muhsin kemudian menjawab, “Ia tidak gila. Saya sendiri pernah membawa sepatu saya ke ayahnya untuk diperbaiki. Beberapa waktu lalu saya ke sana, mereka bilang ia sudah meninggal.”

“Bagaimana ia meninggal?”

“Ia sedang menghantamkan palu ke sol sepatu tua. Suatu hari, ia memukulkan banyak sekali paku ke satu sol sepatu tua agar sepatu itu benar-benar kokoh. Ketika menyelesaikannya, ia mendapati jari-jarinya terimpit paku di antara sepatu dan meja tatakan. Bayangkan! Ia demikian kuat, ia mampu memukul paku sampai-sampai menembus meja tatakan. Tapi saat berusaha untuk bangun, ia tidak mampu. Ia terjebak di meja tatakan. Orang-orang yang melintas menolak untuk menolong dan ia tetap di sana hingga meninggal.”

Kepala sekolah memandang ke Muhsin yang berdiri di samping si bocah, berdampingan seolah-olah mereka adalah satu. Ia menggeleng beberapa kali tanpa mengatakan apapun. Kemudian ia berbalik dan duduk di kursi kulitnya yang empuk dan mulai membolak-balik kertas-kertasnya, sesekali melirik ke arah Muhsin dan si bocah melalui sudut matanya. []

Bagikan:

Penulis →

Ghassan Kanafani (1936 – 1972)

Penulis dan jurnalis berkebangsaan Palestina. Ia merupakan anggota utama Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Karya-karyanya berupa novel dan kumpulan cerita pendek telah diterjemahkan ke lebih dari 17 bahasa. Pada 8 Juli 1972, ia wafat dalam satu peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh agen Mossad. Cerpen di atas diterjemahkan oleh Hari Niskala dari cerita berjudul “The Slope”, terjemahan Barbara Harlow dari bahasa Arab, di mana terjemahan bahasa Inggrisnya terhimpun dalam kumpulan cerita “Palestine’s Children; Returning to Haifa and Other Stories”.

Hari Niskala dilahirkan di Kabupaten Tulungagung. Buku Cerpennya yang telah terbit berjudul Vita Brevis Suwung Longa (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *