Pembenci Kopi


HALAMAN rumahku adalah kopi. Di antara berbagai permainan masa kecil, salah satu kenangan favorit, ketika bermain di bawah rimbunnya pepohonan kopi. Kami sering melompat seperti monyet, dari pohon ke pohon, menghibur diri dengan permainan yang ala kadar. Walau hidup di negeri kopi, saya bukanlah peminum kopi, justru saya membenci kopi. Ceritanya panjang, saya bukan anak senja, pencinta kopi dan doyan menulis caption tentang kopi di media sosial.

Negeriku memang identik dengan kopi. Entah sejak kapan leluhurku mulai menanam kopi, yang pasti kami tak punya catatan resmi untuk mendokumentasikannya. Kami hanya diwarisi cerita leluhur bila mereka telah lama menggantungkan hidupnya pada kopi. Saban waktu isi percakapan dari penguni negeriku tak lari jauh dari kopi.

Saat orang menyebut nama negeriku, ingatan orang akan membawa mereka pada kopi. Dari keuletan seluruh rakyat di negeriku, kopi dari negeriku kerap menjuarai kompetisi kopi nasional. Walau kami sadar, kejuaraan itu tak berdampak signifikan bagi kesejahteraan rakyat. Lembaga statistik masih memberi stempel miskin ekstrem untuk negeriku. Konon kemiskinan masih menjarah kehidupan kami, walau seluruh rakyat di negeriku tak pernah kekurangan pangan. Di sini berbagai jenis umbi-umbian terus menyumbang karbohidrat bagi seluruh rakyat tanpa henti, kami mandiri secara pangan.

Walau saya memang membenci kopi, namun aroma kopi terlampau akrab denganku. Dua jenis kopi yang tumbuh di negeriku–kopi arabika dan robusta, dapat ditebak dengan tepat oleh indera penciumanku. Saya pun dapat menebak dari jauh jenis kopi yang tengah disangraioleh mama-mama di dapur.

Jenis kopi yang tumbuh di negeriku bukan sembarangan kopi. Dua jenis kopi ini pernah membuat para petualang dari negeri jauh terpesona. Aromanya berhasil mencuri perhatian mereka. Sebagai kenang-kenangan, mereka memberi hadiah berupa bendera dari salah satu negeri di Benua Biru. Sampai sekarang bendera tersebut masih tersimpan rapi di rumah Kepala Suku. Kebanggaan tentang bendera  tersebut dan kisah di baliknya terus dibagikan pada seluruh rakyat di negeriku. Hanya itu pencapaian berharga yang pernah diraih di masa lalu, pencapaian yang tidak berdampak bagi kami semua.

Aroma kopi dari negeriku barangkali memikat pencinta kopi, tidak untuk kami. Pelabelan sebagai miskin ekstrem tak meninggalkan luka yang menganga, ada luka lama yang saban detik menimbulkan kesedihan. Luka tersebut meninggalkan deretan kekelaman di balik pohon yang bernama kopi. Saat kami menyeduh kopi ke dalam cangkir terlintas cerita pilu, air mata turut turun mengingat setiap lara yang pernah terjadi. Kami mengenang rakyat yang menjadi korban dalam sebuah tragedi kemanusiaan, oleh aktivis kemanusiaan menamakannya sebagai tragedi Sabtu Kelabu. 

Tragedi itu berawal dari penangkapan rakyat yang tengah menggarap kebun kopi. Mereka ditangkap oleh pihak keamanan. Raja di negeri itu mengklaim kebun kopi yang tengah dikelola sebagai hutan lindung, sebagai salah satu kawasan penyanggah mata air. Padahal rakyat di negeriku telah mengelolanya secara turun temurun. Tanpa adanya putusan hukum tetap, mereka dilarang untuk beraktivitas di atas kebun kopi yang menurut raja bermasalah. Maka ditangkaplah rakyat yang tengah menggarap kebun kopi, jumlahnya ada lima orang. Mereka digiring menuju mobil tahanan, diborgol oleh pasukan keamanan bersenjata lengkap, dibawa ke kota untuk diproses secara hukum. Mereka diciduk seperti teroris, dikawal dengan ketat oleh pihak keamanan.

“Kalian menghambat kerja Raja, apa mau kalian?” tutur salah satu di antara mereka.

“Dasar kampungan, kerjanya hanya bikin repot petugas,” sambung yang lain.

Sontak saja kabar penangkapan itu mengegerkan warga di negeriku. Sore harinya situasi desa amat mencekam. Seluruh rakyat memilih untuk bersembunyi ke tengah hutan. Keesokan harinya perempuan dewasa dan anak-anak mengungsi ke sanak keluarga yang tinggal di negeri yang lain, hanya lelaki dewasa yang bertugas menjaga negeri. Kami seperti sedang diteror oleh penjahat yang tengah kerasukan setan dan menyerang rakyat secara membabi buta.

Tiga hari kemudian seluruh rakyat melakukan musyawarah serius. Musyawarahnya diadakan di rumah adat. Di negeriku bila ada persoalan serius diselesaikan di rumah adat. Kepala Suku yang memimpin musyawarah, seluruh rakyat berada di bawah kendalinya. Kami diwarisi budaya oleh leluhur untuk menyelesaikan permasalahan bersama lewat musyawarah.

“Bagaimanapun kelima rakyatku harus dibebaskan! Melarang rakyat untuk beraktivitas di atas kebunnya sama seperti menginjak harga diri kita sebagai petani kopi,” tutur Kepala Suku membuka percakapan.

“Kita harus berangkat ke kota, menjemput saudara kita yang sedang ditahan,” tanggap rakyat yang lain.

Pada akhirnya seluruh peserta musyawarah mengutuk aksi penangkapan tersebut. Hasil keputusan musyawarah bahwa seluruh rakyat di negeriku yang sedang ditahan harus dibebaskan, apapun taruhannya. Mereka rela meninggalkan kebun kopi untuk pergi ke kota, menjemput rakyat yang ditahan, dibawa pulang untuk kembali merawat kebun kopi sampai mati.

Hari yang telah disepakati tiba, mereka berangkat ke kota menumpang kendaraan umum. Saya masih kecil, tidak terlibat dalam perjuangan bersama rakyat yang lain. Seluruh lelaki dewasa terlibat, hanya perempuan dewasa dan anak-anak yang bertugas menjaga negeri. Kabar kedatangan rakyat di negeriku tersiar dengan cepat. Kehadiran mereka ditanggap miring oleh sang raja. Rakyat negeriku dituding sebagai warga yang anti pada program kerja sang raja.

“Tolong kondisikan anggota bapak untuk was-was,” tutur sang raja saat melakukan rapat terbatas dengan Kepala Keamanan di negeri tersebut.

Kecurigaan berlebihan dari sang raja berakibat fatal pada langkah yang diambil. Padahal kedatangan seluruh rakyat dari negeriku hanya bermaksud untuk melakukan aksi damai. Tuntutan mereka cuma satu, membebaskan rakyat yang tengah ditahan. Di balik kedatangan mereka ke kota tersebut tak ada satupun terbesit niat jahat, apalagi bermaksud mengagalkan program kerja dari sang raja.

Hari itu mentari ogah menjalankan tugasnya dengan sempurna, kabut menyelimuti seisi kota. Sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor keamanan, Kepala Suku meminta seluruh warga untuk turun dari kendaraan. Mereka diarahkan untuk membasuh wajah di air pancuran yang terletak di arah timur kota tersebut. Konon ritual itu dipercaya untuk membersihkan pikiran kotor, agar dapat melangkah dengan hati yang bersih.

Perjalanan mereka akhirnya tiba di kantor keamanan, rakyat dari negeriku masuk ke halaman kantor dengan tertib. Pihak keamanan yang telah was-was sedari pagi langsung membentuk barisan, berdiri tegap, dilengkapi dengan senjata di genggamannya. Raut wajah seluruh rakyat langsung berubah. Aksi damai itu berlangsung tegang. Pihak keamanan menatap penuh curiga seperti mau menerkam seluruh rakyat dari negeriku.

“Atas nama leluhur dan seluruh rakyat, sebagai Kepala Suku, saya memohon maaf,” tutur Kepala Suku dengan suara memelas.

“Kepala saya siap dipenggal bila rakyatku tetap mengambil apa yang menjadi milik tuan, asalkan rakyat kami dibebaskan,” lanjutnya.

“Bebaskan saudara kami! Bebaskan!” teriak seluruh rakyat dengan serempak.

“Kebun kopi itu warisan leluhur kami, bukan milik tuan,” sahut salah satu warga.

“Berhenti omong kosongmu itu, nanti Kepala Keamanan tak membebaskan saudara kita,” timpal yang lain.      

Hampir sejam aksi damai berjalan dengan tertib. Beberapa orator silih berganti menyampaikan aspirasi. Mereka terus mendesak agar dapat bertemu dengan Kepala Keamanan. Ruang dialog akhirnya terbuka setelah terus didesak oleh massa aksi. Kepala keamanan akhirnya luluh. Dengan dikawal ketat oleh anggotanya, ia menerima massa aksi dengan ekspresi wajah terpaksa.   

“Di depan hukum, setiap oknum yang melawan hukum, akan diproses secara hukum. Lima saudara kalian telah melanggar hukum. Mereka ialah penjahat yang harus dibina secara hukum,” tutur Kepala Keamanan.

Seketika rakyat dari negeriku murka, mereka marah-marah. Situasi mulai mencekam. Teriakan untuk menuntut warga desa yang ditahan terdengar keras. Sebagian massa aksi bahkan berusaha masuk ke dalam gedung kantor keamanan, bermaksud untuk menjemput warga kampung yang lagi ditahan. Kepala suku tak mampu menenangkan warganya, mereka menjadi beringas. 

Pihak keamanan menanggapinya dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Sayang, bunyi tembakan tak dihiraukan. Beberapa rakyat dari negeriku tetap berusaha masuk sampai ke depan pintu kantor. Pihak keamanan terpaksa mengeluarkan timah panas. Sejumlah peluru merambat tak beraturan, mengenai warga yang emosinya tengah memuncak. Malang tak dapat ditolak, lima orang warga kampung tewas di tempat, empat lainnya terkapar tak sadarkan diri, darah berceceran mengotori tanah, ayahku salah satunya. Rakyat yang lain melarikan diri, berhamburan dari halaman kantor, mencari tempat untuk mengamankan diri.

Alam sepertinya paham, seketika kota itu murung, wajahnya memelas, awan tiba-tiba menggelap, ia turut merasakan kesedihan. Lima anak manusia pulang menuju kampung keabadian. Mereka pulang dalam haru, pulang tanpa pamit dengan orang-orang terkasih. Diiringi isak tangis, korban tewas dibawa kembali ke negeriku. Sementara warga kampung yang belum sadar dibawa ke rumah sakit. Mereka dirawat intensif. Beruntung nasib mujur masih memihak pada mereka. Dokter menyarankan pada keluarga korban untuk diamputasi kaki dari keempat korban yang masih selamat, ayahku kaki kanannya buntung.

Peristiwa nahas itu membuat negeriku kembali mencekam. Kami merasakan kepedihan yang berkepanjangan. Selama sebulan Kepala Suku melarang adanya pesta pernikahan, kecuali upacara adat khusus bagi orang yang meninggal dunia. Rakyat di negeriku turut dilarang mengikuti pesta-pesta yang diadakan di luar negeri. Duka menyelimuti kami sampai detik ini. Semenjak kejadian itu seluruh rakyat selalu memandang kopi sebagai sebuah simbol kepedihan. Sekarang seluruh rakyat saat menyeruput kopi didahului dengan mengheningkan cipta, mengingat lima rakyat kecil yang tewas gara-gara kopi.

Konon Kepala keamanan yang seharusnya bertanggung jawab atas penembakan itu tak mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia hanya diproses sesuai aturan internal lembaganya, boleh dibilang hukumannya ringan. Beberapa tahun kemudian, ia kembali diberi jabatan sebagai Kepala Keamanan di negeri yang lain, sesuatu yang lazim terjadi di negeri itu.

Sekarang saya telah menjadi lelaki dewasa. Hari-hari saya memilih untuk menjadi petani cengkih, sementara rakyat yang lain tetap mengurus kopi. Saya tak pernah lagi berurusan dengan kopi. Saya tak ambil pusing dengan kopi di negeriku yang tengah mendunia. Gara-gara kopi langkah kaki sang ayah tergopoh-gopoh. Setiap saya lihat ayah, hasrat untuk membenci kopi semakin membara, apalagi sampai hari ini tak pernah ada permintaan maaf secara resmi dari pihak yang bertanggung jawab atas tragedi Sabtu Kelabu. Bagiku menyeruput kopi hanya akan mengungkit luka lama. Membenci kopi adalah jalan sunyi bagiku demi melupakan lara yang pernah terjadi dalam hidupku, juga untuk menghargai ayahku yang buntung.






Bagikan:

Penulis →

Erik Jumpar

Hari-hari bekerja sebagai Guru PNS di SDI Muku Jawa, Manggarai Timur, NTT. Bergiat di Komunitas Tabeite dan Komunitas Guru Matim Menulis. Tulisannya tersebar di berbagai media, baik di Tabeite.com, Floresa.co, Hipwee.com, Bacapetra.co dan Voxntt.com

One Response

  1. Dulu hanya sekali mendengar sabtu kelabu tnpa mencaritahu lebih dalam. Membaca tulisan ini mampu menguak air mata turut berduka. Saya menyukai kopi, akan tetapi setelah membaca ini, saya berjanji akan mengheningkan cipta sebelum menyeruput kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *