Biola Maria Delena


BIOLA kepunyaan Maria Delena terus bersenandung di malam buta. Suaranya serupa tangisan pemiliknya yang pilu. Suara itu merayap keluar dari jendela kamar Maria yang selalu terkunci rapat setelah kematiannya. Mengendarai udara, menyebar menuju telinga siapapun yang berada di dekatnya. Membuat malam-malam penduduk sekitar rumah besar keluarga Delena itu mencekam sekaligus pilu. Setiap malam lagu yang dilantunkan selalu sama. Swan Lake ciptaan Tchaikovsky. Lagu yang sejatinya memang selalu dimainkan selama hidup Maria di hadapan kekasihnya, Fransisco Soledad.

Keluarga Delena pindah ke desa tempat Fransisco Soledad bertempat tinggal saat usia Maria masih belasan tahun. Fransisco Soledad adalah orang pertama yang Maria kenal di desa itu. Keduanya segera menjadi karib karena memiliki hobi yang sama, musik. Fransisco Soledad mahir bermain gitar dan tak disangka ternyata Maria mahir memainkan biola.

Asturias milik Isaac Albeniz, lagu kesukaan Fransisco Soledad untuk dimainkan di hadapan Maria saat mereka duduk di bawah pohon apel di tanah lapang, dekat peternakan alpaca milik peternak tua berjenggot tebal. Maria menatap jari-jari lentik Fransisco yang bergeser dari satu senar ke senar yang lain. Sambil menahan dagu dengan telapak tangannya, dia tersenyum manis kala melihat Fransisco begitu asik memainkan melodi.

Angin yang berhembus membelai rambutnya yang hitam dan sedikit bergelombang. Sejurus kemudian Fransisco juga menatap ke arah Maria. Melihat senyuman terukir di pipi dan matanya, serta rambut hitam sedikit bergelombang yang terbelai oleh angin, membuat Fransiso sadar, dia telah jatuh hati kepada perempuan bermata biru itu.

Di lain waktu di tempat yang sama, giliran Maria yang unjuk gigi. Swan Lake milik Tchaikovsky adalah lagu kesukaannya. Dan lagu itu pula yang dibawakan di hadapan Fransisco Soledad. Jari-jari lentik milik Maria tak kalah lincah dari jari-jari Fransisco. Gesekan senar biolanya mengeluarkan suara indah, lembut, dan menetramkan hati. Hal itu membuat hati Fransisco semakin yakin bahwa Maria sudah menawan hatinya.

Bersamaan dengan bunyi lonceng gereja di kejauhan, benih-benih cinta di hati Fransisco semakin tumbuh lebat dan memenuhi hatinya dengan aneka ragam bunga.

Pada pertemuan berikutnya, masih di tempat yang sama. Di bawah pohon apel di tanah lapang, dekat peternakan alpaca milik peternak tua berjenggot tebal. Bukan lagu yang dibawakan oleh Fransisco. Melainkan sebuah puisi ungkapan hati yang dia tulis sepanjang malam, ditemani bulan berwarna kuning yang berbentuk sabit di langit utara. Diksi dalam untaian bait dipilih secermat mungkin agar menjadi puisi terindah yang pernah Maria dengar.

Dengan petikan gitar perlahan nan lembut, Fransisco membacakan puisi itu di hadapan wanita yang telah memenuhi hati dan pikirannya. Fransisco berlagak layaknya pujangga Spanyol yang sedang merayu wanita pujaannya di atas balkon. Nampaknya, puisi itu berhasil menumbuhkan bunga-bunga di hati Maria yang sudah berbenih sejak pertama kali mendengar permainan gitar Fransisco.

Dengan sebuah anggukan kecil dan senyuman manis, Maria menerima cinta Fransisco. Wajah Fransisco langsung memerah. Dia kegirangan, tanpa sadar langsung memeluk tubuh Maria. Sebuah kecupan hangat lalu mendarat di dahi dan bibir Maria.

Keduanya pun semakin sering bertemu. Terkadang Fransisco membawakan setangkai bunga untuk Maria. Di lain waktu, Maria membawa kudapan lezat yang dia masak sendiri untuk dimakan bersama sang kekasih. Seiring intensitas pertemuan yang meningkat, cinta mereka juga semakin merekah dan tumbuh subur. Memenuhi hati masing-masing dengan kebahagiaan. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah utara selalu menemani mereka memadu kasih.

Namun, perjalanan mereka berdua sebagai sepasang kekasih tak berlangsung lama. Sebuah kewajiban moral mengharuskan raga mereka terpisah. Fransisco dikenakan wajib militer untuk membantu negaranya yang sedang terlibat perang besar. Perang yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Maria penuh ragu ketika Fransisco menyampaikan perihal kewajibannya itu. Ada sesuatu yang menganjal di hati kecilnya. Keraguan dan ketakutan jika saja tidak bisa bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Tetapi kewajiban dan keteguhan hati Fransisco sedikit meredakan badai kekhawatiran di dada Maria. Dengan sebuah kecupan hangat pada dahi Maria, Fransisco berjanji akan sering mengirim kabar melalui surat.

Selang sebulan setelah Fransisco Soledad pamit, surat demi surat datang kepada Maria bersama setangkai bunga yang telah layu. Terkadang mawar, tulip, dan bunga-bunga lainnya. Dalam surat-suratnya, Fransisco mengabarkan bagaimana malam-malamnya seringkali dilalui tanpa bisa terlelap. Rindu kepada Maria selalu membuatnya terjaga.

Selain itu desingan peluru, ledakan bom, dan teriakan kesakitan menjadi irama yang didengarnya sehari-hari, membuatnya semakin ingin segera pulang dan mendengarkan permainan biola Maria yang menentramkan. Di bawah pohon apel tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Tangannya juga rindu memetik gitar. Mempersembahkan lagu terindah untuk Maria. Melihat perempuan itu tersenyum dan rambutnya yang terbelai angin.

Ratusan surat telah diterima oleh Maria dan ratusan pula surat yang telah dia kirim untuk membalasnya. Pada surat terakhirnya, Fransisco Soledad mengabarkan bahwa dia sedang ada sedikit masalah dengan sang kolonel, setelah itu tidak ada surat lagi yang datang untuk Maria, kendati beberapa surat telah dikirimnya kepada Fransisco.

Perang tak kunjung usai. Menyisakan sepi di hati Maria yang telah lama menunggu. Pada tahun keenam setelah perpisahan mereka, pada sebuah musim gugur dengan udara menusuk tulang, saat pohon-pohon menggugurkan daunnya dan berserakan memenuhi tanah, dan saat hewan pengerat bersiap untuk hibernasi, Maria mendengar kabar bahwa Fransisco Soledad akan segara pulang. Hatinya berbunga-bunga seketika. Dibukanya almari lebar-lebar. Disibaknya satu-persatu pakaian yang tergantung. Dipilihnya salah satu gaun terbaik agar dia terlihat cantik saat menyambut kepulangan kekasihnya itu. Dia harus tampil sempurna di hari yang berbahagia.

Hari kepulangan Fransisco telah tiba. Maria bersiap menuju kediaman keluarga Soledad untuk menyambut kepulangannya. Mengenakan gaun indah yang telah dipilihnya secara cermat, serta minyak wangi terbaik dari Perancis, dia bergegas memasuki halaman rumah keluarga Soledad.

Namun, setibanya di kediaman keluarga Soledad, isak tangis sudah memenuhi ruang tamu. Sebuah peti mati terletak di tengah ruangan. Di dalamnya terbaring Fransisco Soledad dengan baju kebesaran militer. Terlihat bekas jeratan tambang di lehernya. Kabarnya, Fransisco Soledad dieksekusi karena dituduh telah berkhianat dan makar. Eksekusi diperintahkan langsung oleh sang kolonel yang bernama Armando Diaz. Ironi, Armando Diaz adalah sahabat karib Fransisco Soledad, dan orang yang pernah jatuh cinta kepada Maria, tapi bertepuk sebelah tangan.

Armando Diaz pernah menyatakan cintanya kepada Maria sebelum dikenai wajib militer bersama Fransisco Soledad. Namun, cinta Maria hanyalah untuk Fransisco Soledad. Penolakan itu sepertinya menyisakan bara api di dada Armando Diaz.

Tangis Maria langsung pecah melihat jasad kekasihnya terbujur kaku di dalam peti. Bayangan pertemuan bahagia di bawah pohon apel dekat peternakan alpaca, lagu yang akan mereka mainkan, dan sebuah ciuman hangat pun menguap. Tak mampu menahan duka, Maria pingsan saat itu juga.

***

Maria terbangun di kamarnya saat tengah malam. Bulan berbentuk sempurna dan memancarkan sinar biru yang lembut saat itu. Sinarnya merayap melalui jendela kaca di kamar Maria. Terdengar lolongan pilu anjing liar di kejauhan.

Kepala Maria seketika kembali pening. Perih kembali menjalar di hatinya. Teringat peristiwa siang tadi. Dari ekor matanya mengalir butiran-butiran air yang terus jatuh mambasahi pipi dan dagu. Lalu terjun bebas membasahi seprai putih dibawahnya.

Ditatapnya biola kesayangan yang tergelatak di sampingnya. Tangannya meraba biola itu. Diangkatnya kemudian sebuah lagu dimainkan. Swan Lake yang sering dia persembahkan untuk Fransisco. Tak seperti biasanya, Bunyi gesekan senar biolanya kali ini terdengar sangat pilu. Seakan meratapi nasib pemiliknya yang malang. Suara merayap keluar jendela, memenuhi udara.

Keesokan harinya Maria ditemukan terkapar di samping ranjangnya dengan nadi teriris dan mengeluarkan darah. Darah mengubah lantai marmer putih menjadi merah. Jasad Maria kemudian dimakamkan di dekat makam Fransico Soledad untuk menyatukan cinta mereka yang tak sempat bersatu di altar pernikahan.

Kendati jasad Maria sudah dimakamkan, Biolanya terus memainkan lagu kesukaannya dengan bunyi yang memilukan setiap malam. Merayap keluar dari jendela, mengendarai udara, dan  menghampiri telinga siapa saja yang masih terjaga. Meneriakan kepiluan yang mencekam.


Jember, 11 Maret 2023

Bagikan:

Penulis →

Sigit Candra Lesmana

Penulis kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas. Senang menulis artikel, cerpen, dan puisi. Beberapa cerpennya memenangkan lomba dan diterbitkan di beberapa media seperti Janang.id, Kedaulatan Rakyat, Suara NTB, Kurungbuka.com, Sastramedia.com, dan Langgampustaka.com. Aktif berkegiatan di Forum Lingkar Pena cabang Jember dan Prosa Tujuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *