Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita
I
Setelah hujan turun, bulan mengajak kita bicara. Dalam sepi abadi. Tak pernah bertemu matahari. Padahal, jiwaku sedang memar. Lebih pekat dari malam gelap. Kita di beranda, di sebuah hunian cinta yang diapit dua mahoni renta. Menyesap teh hitam dalam cangkir putih tua. Mendengarkan zikir dedaunan. Padaku dua pohon itu pun sering mengadu. Saling menyinta tanpa bisa memeluk satu sama lain.
II
Setelah hujan turun, masih kuingat percakapan angin, kapal, dan ombak mengantarmu pulang menuju rumah sunyi. Segaris wajahmu muncul di sela rekah bata merah. Samping meja tua di mana anak kita terbiasa menyusun kepingan senyummu di dinding. Kau sering mendongengkan padanya cerita tentang seekor capung yang telah melukai pusarnya. Ia hobi ngompol sejak lama.
III
Setelah hujan turun, anak laki-laki kita berlari keluar. Bermain genangan. Tubuhnya kuyup. Terendam dalam cerita-cerita. Tentang kunang-kunang yang takut kehujanan. Sebab nanti lampu di tubunya mati. Tentang belalang yang takut ikan. Sebab ia jarang mandi. Dan tentang seekor capung yang hinggap di epitaf namamu. Di atas pusaramu.
IV
Maka kubayangkan jika malam karam di peraduan. Wajahmu lampu-lampu. Sebab bayang-bayang. Masih saja mengajakku bercumbu.
Stasiun Gerimis
kususuri jejak senyummu
yang memeluk derit angin
merayap bisu
lewat lubang jendela kaca
bergelantungan di atap stasiun
bangku-bangku kosong
menempel di dada lebam tiang peron
lantai-lantai kemudian membeku
enggan mengabarkan
keberangkatan menuju kehilangan
takdir lalu lesap
tenggelam di kedalaman ingatan
menerka luka
mengingat Batari Kamaratih dan Batara Kamajaya
yang pernah memeluk kita
dalam kidung mesra Asmaradana
mengendus telinga
dengan mahkota daun nangka
di atas kepala
dengan wajah polos tanpa dosa
ingusmu lalu menjelma angka sebelas
meleleh dari hidung yang tersenyum gemas
belasan dasawarsa berlalu
kudengar Hyang Semar telah mencatat takdir
dalam mantra kembang kenikir
Pon tak cocok dengan Kliwon
gegas cinta beterbangan serupa laron
yang gesit menghitung weton
sementara
di teras Stasiun Gerimis
awan-awan abu berarak ke awang-awang
menuju empunya
pada dentang lima senja
di kolong langit
tubuhmu terpaku di bawahnya
senja lalu berubah jelaga
gerimis, telah jadi air mata
Pencuri Doa Pohon-Pohon
gerombolan pencuri doa pohon-pohon
telah menyamarkan langkah
bersama nyanyian selawat katak-katak
menghapus senandung doa-doa
belalang dan kunang-kunang
yang terus terdengar di belakang
bersama deru buldoser
dengung gergaji menyayat kulit malam
perlahan
menebang ingatan-ingatan
membungkam kegembiraan
ketika gemuruh longsor
terdengar kemudian