MEDIA sosial dan platform digital membuka akses luar biasa bagi siapa pun untuk menulis dan menerbitkan. Namun, ironi muncul ketika kebebasan itu justru memunculkan jebakan baru: kapitalisme konten. Dalam lanskap digital hari ini, kualitas karya sering diukur dari jumlah klik, likes, dan viralitas—bukan dari kedalaman makna atau kekuatan estetika. Nilai-nilai kebudayaan dan spiritual dalam sastra perlahan terkikis oleh logika pasar algoritmik.
Pertanyaannya: apakah sastrawan masih memiliki ruang bermakna sebagai penjaga makna, atau kini terjebak menjadi produsen konten instan? Masih adakah cara untuk menulis dari batin yang jujur, bukan sekadar demi eksistensi maya?
Theodor W. Adorno dalam Culture Industry Reconsidered (1978) menyatakan bahwa budaya dalam masyarakat kapitalistik berubah menjadi komoditas—dirancang untuk konsumsi cepat dan memuaskan selera massa, bukan untuk menyentuh kedalaman refleksi manusia. Terry Eagleton dalam The Meaning of Life (2007) menegaskan bahwa sastra sejatinya adalah ruang eksistensial yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang makna hidup, bukan sekadar hiburan.
Dalam konteks kapitalisme konten hari ini, ide-ide Adorno dan Eagleton semakin relevan. Sastra kehilangan keintimannya. Ia didesak untuk menjadi cepat, menarik, dan “menjual,” bukan merenung, bertanya, dan membebaskan. Kapitalisme algoritmik menempatkan penulis sebagai “penyedia konten,” bukan penjaga kebudayaan.
Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir (1982), menyatakan bahwa “penulisan yang benar adalah bentuk dari keberanian.” Berani menulis adalah berani mengungkapkan nurani di tengah tekanan sosial, politik, dan kini: algoritma. Maka, menulis jujur dalam zaman konten instan adalah bentuk perlawanan spiritual.
Sastrawan yang sejati tidak membiarkan algoritma menentukan apa yang perlu ditulis. Mereka mendengarkan batin, menangkap isyarat semesta, dan mengolahnya dalam bahasa yang tidak hanya indah, tetapi bermakna. Identitas mereka dibangun dari kedalaman, bukan kepopuleran.
Memang benar bahwa kenyataan ekonomi tidak bisa diabaikan. Banyak sastrawan harus tetap bertahan hidup. Namun, bertahan tidak berarti menyerah kepada pasar. Ada banyak cara etis dan kreatif yang dapat ditempuh untuk menjaga kemurnian proses kreatif tanpa harus menjual idealisme.
Beberapa strategi konkret yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjadi editor, penerjemah, atau pengajar, sehingga tetap berada dalam ekosistem literasi.
- Mendirikan komunitas kreatif yang saling menopang dan menguatkan, bukan saling bersaing dalam arena viralitas.
- Melakukan kurasi yang ketat terhadap karya, tidak serta-merta menerbitkan semua hal hanya karena sedang tren.
- Menggunakan media sosial sebagai kanal distribusi, bukan sebagai tujuan utama.
Milan Kundera dalam The Curtain (2000) menegaskan pentingnya memiliki visi jangka panjang sebagai penulis: bahwa tulisan tidak ditulis untuk masa kini semata, tetapi untuk membangun peradaban yang berumur panjang.
Dalam perspektif Islam, menulis adalah bagian dari perintah ilahi. QS Al-‘Alaq ayat 1–5 menegaskan bahwa Iqra’—membaca dan menulis—adalah pintu awal wahyu. Menulis bukan semata kegiatan intelektual, tetapi juga spiritual. Ia adalah zikir budaya, laku sunyi yang sakral.
Nurcholish Madjid menyampaikan bahwa literasi dalam Islam bukan sekadar penguasaan ilmu, tetapi pembentukan akhlak (Islam, Doktrin dan Peradaban, 1992). Maka karya yang ditulis dengan niat yang bersih, dengan semangat keikhlasan, menjadi amal yang bernilai di sisi Tuhan.
Dalam suasana inilah, sastrawan menemukan makna terdalam dari pekerjaannya: bukan untuk dunia, tetapi sebagai persembahan kepada Yang Maha Tahu.
Sastrawan besar tidak dikenang karena viral, tetapi karena warisan karyanya yang utuh, terdokumentasi, dan penuh makna. Sapardi Djoko Damono, misalnya, membangun jembatan batin pembaca selama puluhan tahun karena konsistensinya dalam menulis puisi-puisi yang lembut namun tajam.
Pramoedya Ananta Toer, bahkan dalam pengasingan, menulis sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan sejarah. Mereka menata karya, menyusun warisan, dan memperlakukan tulis-menulis sebagai kerja kebudayaan yang panjang dan berlapis.
Para penulis muda hari ini pun perlu membangun arsip: buku, catatan, jurnal pribadi, blog sastra, atau dokumen digital yang terstruktur. Agar karya yang ditulis tidak hilang dalam pusaran algoritma, tapi menjadi jembatan nilai antargenerasi.
Kapitalisme konten memang menggoda. Ia menjanjikan ketenaran cepat dan pengakuan instan. Tapi sastrawan sejati bukan mereka yang terperangkap oleh sorak maya, melainkan yang memilih sunyi yang bermakna.
Menulis bukan soal popularitas, tapi tentang kesetiaan pada batin, pada makna, pada kemanusiaan. Di tengah riuh yang memekakkan, para sastrawan tetap berjalan dalam sunyi. Karena mereka tahu, sunyi itulah tempat Tuhan berbicara.
Dan ketika menulis menjadi jalan spiritual, maka kata-kata bukan lagi sekadar huruf—melainkan cahaya.***