Setajam Apa Pisau Kesetiaan

Bandara Soeta-Stasiun Gambir,
Bekelebat Cahaya

ada cahaya berkelebat sepanjang jalan aspal; cahaya wajahmu;
perempuan embun, tak ada kesah dari segala kisah— seberapa
mahal harga sebuah pertemuan?

setelah berhari-hari tualangku dibadai lelah, aku lahirkan bayi
dari rahimku; sajak-sajak sembilu mengiris-iris kesetiaanmu,
benarkah menyinta itu dosa? di bangku ruang tunggu stasiun
nyaris kehilangan berita bisnismu lancar, dan tubuh bregas,
waras, trengginas

suara gaduh langkah-langkah kedatangan dan keberangkatan,
sejauh apa memperhitungkan kerinduan, setajam apa pisau
kesetiaan terasah ruang dan waktu

lagu dan musik keroncong mengalun di lantai dua stasiun,
orang-orang sibuk dengan diri, tak hirau
: “sesekali aku mau kausuapkan apel sepenuh jiwa-raga!”
engkau hanya tersenyum
stasiun bergetar, kereta eksekutif bima segera membawaku
ke purwokerto: salam takzim

pulang sering serupa kepak merpati, indah dan bijaksana
menerjemahkan musim.

Jakarta, 11 Februari 2026

.

Bukit-bukit Tandus Antara Mekah-Jedah

kabut tipis, jalanan luas lempang, di kanan-kiri jajaran bukit tandus;
pagi berpendar sempurna; iyya kanabudu waiyya kanasta’in…

rasa-rasanya aku masih berdesakkan ribuan orang di dekat ka’bah,
bau keringat, bergerak memelihara kesabaran, au, tak ada kekuatan
sejati selain Allah, kadang kupejamkan mata: inilah ritual hakiki,
sepasrah-pasrahnya!

antara mekah-jedah; kanan-kiri rumah-rumah kubus, jajaran gersang
pohon dan perdu, bentangan kawat listrik, dan kendaraan saling salip
: apakah hidup selalu berburu atau bertarung?

aku akan terus berburu dan bertarung, au– mengenangmu Kekasih
dengan sajak sederhana.

Mekah-Jedah, 9 Februari 2026

.

Thawaf Wada Penyair Fakir

setelah khusu’ tujuh putaran mengelilingi ka’bah pada thawaf wada—
aku sujud; ampunilah aku ya Allah, bangkit kedua tangan tengadah;
panggil aku lagi ya Allah, aku si penyair fakir

aku tatap ka’bah, langit biru bersih, air mata retak, sungguh aku
hamba-Mu paling lemah, ya Allah; beri aku kekuatan meniti hidup
di jalan lurus

angin semilir, jiwa berdesir-desir
lalu langkah tinggalkan ka’bah: berulang aku menoleh, dada berdebar,
subhanallah…

jiwa berdesir-desir
ada bisik halus, amat dingin lembut: “… yang paling utama bukan
seberapa dekat tubuh dengan ka’bah, melainkan seberapa dekat
hati kita kepada Allah.”

cahaya berlesatan dalam dada tipisku, au!
ini langkah balutan rindu kasih-Mu.

Mekah, 9 Februari 2026

.

Usia Mawar

Tak ada yang disangsikan; mawar tumbuh. Duri-duri kian kuat
dan tajam. Ranting-ranting melahirkan daun. Ujung ranting
kuncup-kuncup. Empat hari mekar. Lima hari, lalu pudar.
Gugur. Menyatu tanah. Tak ada lagi pesona dan aroma.
Serupa apa degup hatimu?

Usia mawar; matamu mengerjap. Ada bening cahaya. Ribuan
cinta. Pertemuan. Karena engkau puisi tak butuh puja-puji.
Hanya imaji liar. Sesetia apa pada cinta? Terkadang hanya ilusi
Hanya perasaan curiga. Usia mawar; usia cinta?

Usia dan matahari dan rembulan berpeluk hangat sunyi.
: “Izinkan, duri mawar berbagi perih dengan seduka rindu!”

Jaspinka, 31 Agustus 2024

Bunga Liar

Sepanjang perjalanan setelah lewat bunga-bunga liar. Petak-
petak sawah. Jalan kecil berkelok. Naik turun bukit. Di sisi
kanan-kiri hutan pinus. Semilir angin. Engkau berbisik
: “Waduk Penjalin, makan betutu dengan panorama indah!”

Serupa danau dengan air biru. Di kejauhan gugusan bukit
menjulang. Apa itu Gunung Slamet? Sorot mata berbinar.
Jukung dan biduk tertambat diam di ceruk. Matahari
bergetar ke Barat. : “Kita naik jukung. Kita sisir danau
buatan ini. Menulis puisi tentang garis hidup yang retak.
Tetapi sarat imaji dan harum mawar!”

Jukung bergerak kencang diterpa angin…

Sejarah tercabik sembilu dua mata. Kenangan jingga.
Setiap pertemuan bisa berakhir pahit perpisahan. Tetapi
tidaklah ada sisa gugur mawar. Walau kelopak tak lagi
semerbak? Kita mengatur jarak dan waktu. : “Ulurkan
tanganmu untuk sebuah kebaikan; mengayuh jukung
ke ceruk paling purba. Cinta!”

Jaspinka, 22 Juli 2024

.

Stasiun Masih Menyimpan Gema Kereta

Sepekat apa rahasia dendam kausimpan?
stasiun masih menyimpan gema kereta
sebelum kemudian langkah menjauh
menebar serbuk edelweis hingga ke bilik jantung
paling sunyi dan perih: “pertemuan membujurkan
kenangan, bukit dan lembah menyimpan jingga sejarah!”
hingga bertahun-tahun gema kereta melantun-lantun
di atas bantalan rel
menyeruak di bilik hati sunyi nyeri.

Jaspinka, 2024

.

Dan Ia pun Menata Hatinya yang Gemuruh

dan ia pun menata hatinya yang gemuruh
bibirnya bergetar; ingin mengatakan sesuatu, sorot matanya
berbinar-binar: “aku ingin memelukmu sekali saja, wahai
penyair, setelah itu pergilah ke bukit pinus, merenda luka
dengan baris-baris puisi, tanpa rasa sakit dan dendam!”
matahari jatuh menembus daun-daun pinus
: “rasa sakit apa lagi yang harus aku rasakan? tak ada lagi
yang disesalkan, pertemuan dan perpisahan adalah takdir, o
ini air mata telah kering, jangan lagi kauusik hari-hariku!”
ia ingin sendiri tanpa sosok penyair membayangi.

Jaspinka, 02 Juli 2024

.

Ingin Menjelma Mercusuar

Setelah berbulan-bulan airmata itu berguguran, ia tumbuh
menjelma menjadi perempuan yang dingin. Acuh tak acuh.
Terkadang ia ingin menjelma ombak. Melumat perahu dan
sampan. Merobek sejarah jingga. Au, ia ingin menjelma
mercusuar– tegak berdiri dalam segala cuaca.
Au, lihatlah, hati-jiwanya tetaplah mawar. Harum. Rapuh.

Jaspinka, 07 Juni 2024

Bagikan:

Penulis →

Eddy Pranata PNP

Penyair Minangkabau kelahiran kota Padang Panjang, 31 Agustus 1963.
Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).
Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Raykat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.
Tahun 2025 bulan September mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta dan ia adalah penerima apresiasi/penghargaan dari pemerintah (Badan Bahasa) tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *