BILA
Bila semua keindahan
dan kebaikan itu bersumber dari Allah,
Al-Kamaliyah,
maka wujudnya ialah Al-Qur’an
taman cahaya yang tak habis berbunga,
huruf-hurufnya berputar
seperti daun yang menari
di napas angin rahmat-Nya.
Bila Al-Qur’an itu bernafas
dan hidup pada manusia,
maka wujudnya ialah Rasulullah,
yang menuntun langkah,
menyalakan cahaya
dalam setiap jiwa.
Bila cahaya kekasih itu
menyentuh darah manusia,
maka wujudnya ialah bapak ibu,
dua wajah cinta
yang menangis dan tertawa
demi sepotong surga
di pelukan anaknya.
Bila kasih itu bergetar
seperti seruling bambu yang rindu hutan,
maka wujudnya ialah jiwa yang bersujud,
mencium debu kaki waktu,
mendengar Tuhan bersenandung
dalam setiap hembusan napas.
Bila rindu itu terus menyalakan nyala,
maka wujudnya ialah insan yang mencari,
yang menempuh jalan pulang
di antara gelap dan cahaya,
hingga seluruh semesta
berzikir bersama namanya.
2025
.
.
SEPASANG SENDAL
DI BERANDA PESANTREN
Sendal itu menunggu
tanpa suara
di antara dinding yang memeluk udara.
Jejaknya tak pernah kembali
karena kaki yang memakainya
telah menjadi doa
di atas sajadah ilmu dan sabar.
Angin datang membawa bau kertas usang,
mengibaskan debu pada kitab yang setia.
Dan sendal itu
masih berdiri di ambang
seperti saksi
atas perjalanan diam santri
yang tak pernah pulang
kecuali dalam ingatan.
Satu per satu
malam melipatnya menjadi sunyi,
pagi membuka lipatan itu
dengan salam.
Tak ada yang tahu
apakah sendal itu kehilangan pemiliknya,
atau pemiliknya telah menjelma
langkah-langkah
menuju cahaya.
Aku duduk memandangnya,
seperti menunggu
diriku sendiri
yang mungkin suatu hari
akan pergi
dan ditinggalkan
oleh sendalku
di beranda yang sama.
Yogyakarta, 2025
.
.
SAAT KITA DUDUK BERDUA DALAM DIAM
Kita duduk berdua
seperti dua puisi
yang belum selesai ditulis.
Matamu menatap ke luar jendela,
seakan kata-kataku
hanya musim
yang telah lewat.
Ada cinta
yang tak sanggup kita ucapkan,
karena ia terlalu telanjang
untuk dibicarakan dalam cahaya.
Tanganmu gemetar
saat menyentuh cangkir,
dan aku tahu:
kau sedang menyentuh hatiku
Kita diam,
tapi seluruh ruangan
penuh dengan jerit yang tak bersuara—
jerit rindu
yang malu
mengenakan pakaian harapan.
Dan aku berkata dalam hatiku:
andai diam ini bisa menjadi rumah,
aku akan tinggal di sana
bersamamu,
selamanya—
tanpa kata,
tanpa jeda,
hanya kita,
dan luka yang saling mencintai.
Yogyakarta, 2025
.
.
OBROLAN YANG TAK SELESAI
HINGGA HARI TUA
Kita duduk di bawah pohon,
seperti dua bayangan yang saling mengintip
di malam yang tak pernah sepenuhnya gelap.
Kau bercerita tentang luka,
tentang hidup yang terus mengoyak,
dan aku hanya mendengar
dengan hati yang tak lagi punya suara,
tapi penuh dengan rahasia yang tak terucap.
Kata-katamu mengalir seperti air,
mencari jalan keluar dari mulut yang letih.
Sedang aku hanya terdiam,
melihat dirimu yang semakin lelah
tergerus waktu yang kita tolak bersama.
Setiap obrolan kita adalah puisi yang patah,
sebuah larik yang tak lagi mampu
menahan beban makna
di antara ruang-ruang kosong
yang kita tinggalkan.
Kau bicara tentang masa depan
yang tak pernah benar-benar datang,
dan masa lalu
yang telah mati sebelum waktunya.
Namun, meski semua itu telah hilang,
kita tetap ada—
seperti dua bayangan
yang tak bisa saling menyentuh,
terpisah oleh jarak yang tidak kita buat
tapi tetap kita jalani,
di bawah langit
yang penuh dengan cahaya
yang enggan menyentuh kita.
Yogyakarta, 2025
.
.
OH, MASJID SULTAN
Oh, Masjid Sultan,
kubah emasmu memantulkan matahari
berkilau bagai mahkota raja tua
yang berdiri di tengah arus dunia.
Aku datang padamu
tahun 2016, membawa tasbih
dari tanah seberang.
Seusai shalat aku duduk bersila,
baru sebiji istighfar melayang,
penjaga datang, berwajah bayang hitam:
“Bangun, jangan tidur di sini!”
Aku diusir,
seperti daun jatuh dari mihrab.
Oh, Masjid Sultan,
dari doa Sultan Husain Syah engkau lahir,
batu-batumu dipanggul rakyat,
menjadi jantung kesultanan,
tempat darah Melayu beredar
ke gang-gang dan pasar-pasar,
ke istana dan rumah pedagang.
Oh, Masjid Sultan,
rumah leluhur yang megah,
namun dijaga seketat museum,
di mana wirid dianggap tidur,
dan munajat terseret keluar pintu.
Lantai sembilan hotel jadi mihrabku.
Aku sujud di sana,
wirid dalam sunyi,
sementara mataku menatap kubahmu
yang berkilat dari jendela malam.
Azan berlari ke mataku,
doa menetes di kaca,
rohku dipeluk cahaya
yang menyeberang dari kejauhan.
Oh, Masjid Sultan,
tahun 2025 aku kembali padamu,
Singapura gemerlap bagai cermin raksasa.
Aku tak masuk lagi,
hanya memandang dari balik tirai hotel.
Kubacakan al-Fatihah
kepada Sultan Abdurrahman,
kepada tukang batu yang memanggul doa,
kepada ruh-ruh yang masih berjaga
di dindingmu yang dingin.
Oh, Masjid Sultan,
indah, terawat, dijaga ketat,
namun kini engkau bagai tubuh
dengan nadi yang pelan berdenyut.
Jantungmu tidak lagi memompa
ke gang-gang dan rumah-rumah Melayu,
kau lebih mirip cermin nostalgia
yang dipajang di tengah badai peradaban.
Oh, Masjid Sultan,
di hadapanmu aku hanyalah bayang seorang musafir,
namun bayang ini menyatu
dengan arwah tukang batu,
dengan doa Sultan Abdurrahman,
dengan semua darah yang menyalakan kubahmu.
Dan ketika aku menutup mata,
aku melihat engkau bangkit
sebagai kuda putih berlari
menembus malam Singapura,
membawa Melayu
ke takhta cahaya.
Singapura, 2025