Selamat datang di Kurushimi Café. Selamat menikmati penderitaan.

         Seperti yang Anda lihat, di detik Anda membuka pintu, Anda dihadapkan pada sebuah ruang yang sangat lapang, dengan meja-meja bundar kecil terpisah dan berjarak satu sama lain, dengan kursi-kursi kurus terpasang padanya yang sekilas seakan tak mampu menahan berat tubuh Anda untuk waktu lama. Tapi tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Kursi-kursi kurus itu jauh lebih kuat dan jauh lebih tangguh dari yang kelihatannya; Anda bisa duduk di sana berlama-lama menunggu giliran, atau sekadar menghabiskan waktu sendirian. Alunan musik akan selalu menemani Anda, membuat Anda merasa Anda sedang berada di dalam diri Anda dan berhadap-hadapan dengan diri Anda yang lain, dengan kesedihan dan rasa sakit Anda, dengan penderitaan-penderitaan Anda. Anda cukup memesan sesuatu dari menu dan membayarnya. Setelahnya kami tak akan mengganggu Anda, dengan pertanyaan atau permintaan apa pun.

         Silakan memilih meja yang Anda sukai. Semua meja pada dasarnya sama, namun Anda mungkin memiliki kecenderungan tertentu terhadap sesuatu, seperti posisi, jarak, ruang kosong, intensitas cahaya, atau yang lainnya. Salah seorang dari kami akan segera menghampiri Anda begitu Anda menempati meja yang Anda sukai. Ia akan menawari Anda menu dan pastilah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait apa-apa yang tertera di menu itu, demi memastikan kenyamanan Anda. Ia manusia, bukan robot, jika ini perlu kami beritahukan. Ia memang tersenyum dan menyajikan kepada Anda sebuah pelayanan yang sempurna tetapi ia manusia, bukan robot, seperti yang mungkin Anda kehendaki. Anda tentu telah mengambil tiket antrean di ruangan sebelumnya. Pastikan Anda memegang tiket tersebut, dan ada baiknya Anda mengingat-ingat nomor antrean Anda dan nomor ruangan yang tertera di sana. Salah seorang lainnya dari kami akan menghampiri Anda ketika giliran Anda tiba, di mana ia akan menyebutkan nomor antrean Anda dan ruangan yang Anda tuju dan setelahnya meminta Anda menunjukkan tiket antrean yang Anda pegang itu. Barangkali, inilah satu-satunya gangguan dari kami, dan semoga Anda memaafkan kelaancangan kami ini. Seseorang dari kami itu kemudian akan memandu Anda ke ruangan yang dimaksud, di mana di sana seseorang yang lain lagi tengah menanti Anda dengan senyuman. Sampai saat itu tiba, silakan menikmati kesendirian Anda di meja yang Anda pilih itu.

         Di malam-malam tertentu, sayang sekali harus kami beritahukan, antrean bisa sangat panjang, dan itu berarti bertambah lamanya waktu-menunggu Anda. Tapi jangan khawatir. Untuk situasi seperti itu kami sudah menyiapkan diri seperti dengan menambah jumlah orang yang akan dengan senang hati melayani Anda, mendengarkan dan menyimak keluh-kesah Anda, penderitaan-penderitaan Anda—kami menyebutnya penyimak. Ruangan-ruangan tertentu yang pada malam-malam biasa dibiarkan kosong pun akan kami gunakan, tentunya setelah kami sedikit-banyak memolesnya terlebih dahulu. Anda mungkin terpaksa berada di meja yang Anda pilih itu lebih lama namun kami pastikan ketika giliran Anda itu tiba Anda akan berada di ruangan yang bukan saja membuat Anda nyaman namun juga memudahkan Anda untuk bercerita, untuk menuangkan penderitaan-penderitaan Anda, kepada kami. Tentu Anda sangat mungkin terpaksa memesan sesuatu lagi, sekadar untuk mengisi waktu. (Semoga Anda memaafkan kami atas keterpaksaan Anda ini.) Tetapi segera, di detik Anda berada di ruangan yang kami sediakan bagi Anda itu, perasaan Anda akan jauh lebih baik. Kami pastikan itu.

         Apabila Anda bosan hanya menunggu di meja yang Anda pilih itu, Anda bisa memanggil salah satu dari kami, memintanya menunjukkan kepada Anda menu yang lain. Menu yang satu ini bukan menu berisi makanan dan minuman, melainkan hal-hal yang mungkin bisa menghibur Anda selama masa tunggu tersebut, yang bisa Anda pilih sesuka hati Anda selama Anda mampu membayarnya. Sekumpulan lagu, sekumpulan gambar. Sekumpulan musik, sekumpulan cerita. Dan sekumpulan-sekumpulan lainnya. Beberapa di antaranya mungkin cukup mahal, tetapi itu sesuai dengan efek yang akan diberikannya kepada Anda—masa-tunggu Anda akan berakhir dengan sendirinya tanpa Anda menyadarinya. Semuanya, seperti yang mungkin telah Anda duga, berbahan baku penderitaan.

         Untuk pelanggan-pelanggan baru seperti Anda, kami menyediakan beberapa hal yang bisa Anda nikmati dengan cuma-cuma. Makanan dan minuman. Atau hal-hal di menu lainnya tadi. Ketentuannya berbeda-beda dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Jika Anda beruntung apa yang kami labeli “cuma-cuma” itu adalah kesukaan Anda dan Anda bisa memesannya berkali-kali sesuka hati Anda. Tapi pastikan Anda tidak melupakan tujuan utama Anda ke Kurushimi Café. Kami terbilang tegas soal waktu. Sekalinya Anda dijadwalkan memasuki ruangan yang tertera di tiket antrean Anda, kami akan meminta Anda menghentikan apa pun itu yang sedang Anda lakukan di meja Anda, dan beranjak meninggalkannya. Tidak ada waktu pengganti atau semacamnya. Apabila saat itu Anda tidak berada di meja Anda, dan seseorang dari kami yang ditugaskan mengamati Anda tidak memiliki informasi soal keberadaan Anda (apakah Anda sedang berada di toilet atau ruang merokok, misalnya), dan Anda tidak juga muncul dalam sepuluh menit setelahnya, terpaksa, dengan berat hati, kami akan menangguhkan kunjungan Anda, tidak untuk malam itu, namun untuk suatu malam lain—penempatannya kami sesuaikan dengan jadwal, perencanaan, dan situasi di Kurushimi Café. Tetapi Anda tak perlu cemas soal uang. Apabila kunjungan Anda itu kami tangguhkan, uang yang telah Anda bayarkan untuk kunjungan tersebut akan kami kembalikan separuhnya, dengan separuhnya lagi kami gunakan untuk memesan waktu di suatu malam lain tadi. Kami pastikan Anda memperoleh apa yang Anda inginkan dari kunjungan Anda ke Kurushimi Café, selama Anda menaati peraturan.

         Nanti ketika giliran Anda tiba, sekali lagi kami beritahukan, seseorang dari kami akan menghampiri Anda, memastikan bahwa Andalah memang yang semestinya ia jemput dan ia pandu. Anda tidak perlu memberinya tip, atau semacamnya. Kami berusaha sebaik mungkin melayani Anda dan itu kami lakukan secara profesional, dan kami sudah beroleh “kompensasi” atas apa-apa yang kami lakukan itu; karenanya Anda tidak perlu repot-repot. Jikapun Anda bersikeras ingin menunjukkan apresiasi kepada kami, Anda bisa menunjukkannya dengan cara tidak melakukan apa pun yang akan membuat pelanggan-pelanggan lain tidak nyaman, seperti bersuara keras-keras atau membuang puntung rokok di wastafel. Kami menghargai setiap kebersihan, kerapian, dan sikap yang baik. Kami percaya Anda tak akan melakukan apa yang tak seharusnya Anda lakukan. Sebagai buktinya, seperti yang Anda ketahui, Kurushimi Café tidak mempekerjakan seorang pun petugas keamanan.

         Dalam perjalanan Anda menuju ruangan yang nomornya tertera di tiket antrean Anda, sebagai gambaran, mata Anda akan dimanjakan oleh dinding-dinding penuh lukisan, dan ini cuma-cuma. Benar-benar cuma-cuma. Musik pun tentunya mengalun dan mengiringi langkah-langkah Anda, dan Anda lambat-laun akan merasakan kehangatan merambat masuk ke dalam diri Anda, menyirami penderitaan-penderitaan Anda. Anda benar, baik musik ataupun lukisan itu berbahan baku penderitaan, tetapi kami telah mengolahnya sedemikian rupa sehingga yang tersaji di hadapan Anda adalah sesuatu yang justru mampu mengatasi penderitaan Anda, sedikit-banyak. Kami juga membiarkan dinding-dinding di sepanjang lorong itu penuh dengan pergantian dan interaksi warna-warna, menjadikan perjalanan Anda ke ruangan yang Anda tuju itu seolah-olah perjalanan menempuh sebuah ruang-cerita, sesuatu yang kelak memberi Anda pemahaman atau perasaan tertentu, menumbuhkan dalam benak Anda sugesti tertentu, yang semoga baik bagi Anda. Ketika akhirnya Anda tiba di depan pintu ruangan yang Anda tuju, seseorang dari kami itu akan membiarkan Anda membukanya sendiri; ia bahkan sudah beranjak sebelum Anda memegang gagang pintu itu. Musik berbahan baku penderitaan itu masih akan mengalun menemani Anda, mendorong Anda untuk segera memutar gagang pintu itu dan mendorongnya. Seseorang lainnya di balik pintu itu tengah menunggu Anda. Ia tersenyum, dan ia menunggu Anda. Tentu saja ia di sana telah menyiapkan alat perekam juga alat pencatat, dan tentunya sebuah kursi yang sangat nyaman untuk Anda duduki. Pencahayaan di sana tidak begitu terang, yang mestinya memudahkan Anda menuangkan penderitaan-penderitaan Anda tanpa terbebani apa pun. Namun kalaupun itu ternyata sulit bagi Anda, jangan khawatir, karena seseorang itu akan membantu Anda. Ia seorang profesional dan ia teramat terlatih untuk itu.

___

Sampai kini setelah lebih dari tiga tahun berdiri, apa sebenarnya yang membuat Kurushimi Café berbeda dari kafe-kafe lain?

Jasa yang disediakan, tentunya. Setiap orang yang melakukan kunjungan ke Kurushimi Café akan dibawa ke sebuah situasi di mana di sana ia bisa menuangkan masalah-masalahnya, kesedihan-kesedihannya, penderitaan-penderitaannya, tanpa terbebani oleh apa pun. Ia akan bicara dan bicara dan bicara. Ia akan bercerita dan bercerita dan bercerita. Tak ada yang akan menghakiminya. Tak ada yang akan menasihatinya apalagi menilainya. Ia datang dan menuangkan penderitaan-penderitaannya itu dan setelahnya ia bisa pergi tanpa perlu mencemaskan apa pun, seperti bahwa apa-apa yang dikemukakannya itu akan diketahui oleh orang lain. Ia melakukan kunjungan ke Kurushimi Kafe, untuk menghibur dirinya sendiri, bahkan mengobati dirinya sendiri. Mungkin sejenis dengan kyabakura atau hostess club hanya saja ruangnya lebih privat, dan pelayanan yang disediakan sangat jauh dari erotisitas—bahkan seksualitas sekalipun. Secara prinsip mirip juga dengan ruang konsultasi, seperti ketika kita berhadap-hadapan dengan seorang psikolog. Hanya saja, di Kurushimi Café, yang kita hadapi bukanlah psikolog, melainkan penyimak—seseorang yang ditugaskan hanya untuk menyimak apa-apa yang kita katakan.

Konsep ini apakah sejak semula memang seperti itu, atau telah mengalami sejumlah perubahan?

Sejak semula seperti itu. Perubahan hampir-hampir tak ada. Satu-satunya perubahan selama lebih dari tiga tahun ini ada pada tampilan, yakni interior dan suasana kafe serta “seragam” yang digunakan para karyawan. Awalnya tak ada yang istimewa; sama saja dengan kafe-kafe lain yang aktif malam hari di kota ini. Kemudian, memasuki tahun kedua, kami hadirkan sentuhan baru; Kurushimi Café, ketika dialami dari dalam, jadi terlihat muram-suram namun di saat yang sama juga hangat. Kami menambahkan menu-menu baru, dan mensikronisasikan semuanya dengan penderitaan, yang adalah ruh kami. Pencahayaan dan dekorasi diatur sedemikian rupa supaya penderitaan itu tampak dan terasa, nyata, namun tidak sampai membuat siapa pun yang melihat dan merasakannya itu putus asa. Kami bertaruh dan mengambil risiko, sebenarnya. Akibat perubahan ini ada kemungkinan sebagian dari para pelanggan kami tak menyukainya, dan berhenti melakukan kunjungan.

Sejauh ini, apa yang berusaha diwujudkan Kurushimi Café? Apa yang berusaha dibangkitkannya—jika ada?

Ini agak sulit menjawabnya. Sebagai sebuah penyedia jasa berbayar tentu saja yang kami coba kejar adalah keuntungan materi. Itu tak bisa dimungkiri. Akan tetapi, di luar itu, memang ada beberapa hal yang coba kami capai, terkait idealisme kami. Misalnya, kami mencoba membuat orang-orang mau menerima penderitaan-penderitaannya; mereka tidak lagi menolaknya atau mengingkarinya, melainkan menerima bahwa penderitaan itu ada, nyata, dan mereka bagaimanapun akan menjalani sisa hidup bersamanya—penderitaan itu bersemayam di dalam diri mereka atau memproyeksikan diri di dekat mereka. Setiap orang menderita atau setiap orang akan menderita. Itulah yang kami yakini. Mengondisikan orang-orang itu untuk menuangkan sebagian penderitaan mereka kami anggap sebuah aktivitas yang baik, yang memiliki nilai guna. Kami sendiri tentu beroleh hal-hal baik dari apa yang kami lakukan ini. Contohnya: kami jadi semakin terbiasa berhadapan dengan penderitaan, dan itu semakin memudahkan kami untuk menerimanya tanpa perlu kami tercelup ke dalamnya.

Ada rumor bahwa keberadaan Kurushimi Café adalah juga sebentuk perlawanan terhadap androidisasi yang berlangsung satu dekade terakhir. Tanggapan Anda?

Ah, ya. Itu benar. Itu juga salah satu hal lain yang kami maksudkan tadi. Androidisasi telah merambah ruang-ruang yang tak semestinya ia rambah, membuat kehidupan berubah arah-geraknya menuju titik jenuh yang di mata kami sangat mengkhawatirkan. Pada awalnya, jika memang robot-robot serupa manusia itu dikonsentrasikan di ruang-ruang publik saja, sebagai alternatif siapa tahu orang-orang bosan atau kecewa dengan pelayanan publik dari manusia, itu oke. Di mata kami itu masih oke. Tetapi kemudian, mereka juga difungsikan untuk menjadi alternatif seperti itu di ruang-ruang pribadi, atau semi-pribadi, dan kami melihat ini sebuah masalah. Mungkin aneh mengatakannya di sini tetapi dulu beberapa dari kami terlibat dalam ruang-ruang tersebut seperti enjo-kousai, kyabakura, hostess club, bahkan prostitusi, dan ketika robot-robot serupa manusia itu mengisi ruang-ruang tersebut, kami mendapati, sesuatu yang esensial justru hilang dan terlupakan; para pengguna jasa itu—yang hampir semuanya laki-laki—menikmatinya sebagai sesuatu yang lain lagi, yang berbeda dari yang asalnya. Salah satunya, dan ini yang paling krusial, adalah komunikasi psikis antara si “pelayan” dan si “tuan”. Robot-robot itu konon memang diperlengkapi dengan common sense, yang membuat mereka mampu belajar dan kemudian tumbuh, tetapi sedari awal mereka telah juga diprogram untuk melakukan pelayanan itu dalam taraf tertingginya, yang berarti memberikan kepuasaan yang tak terkira kepada si pengguna jasa, si “tuan” itu. Ini akan menjadikan si robot itu pelayan yang “patuh”, setidaknya sampai batas waktu tertentu. Dan ketika interaksi antara dua sosok sudah sepenuhnya interaksi antara pelayan dan tuan, maka komunikasi psikis yang terjalin tidak akan pernah (lagi) dua arah; si pelayan akan menerima aliran psikis dari si tuan tetapi tidak yang sebaliknya. Kami membayangkan, dan memang terbukti benar, komunikasi psikis semacam ini akan menyeret orang-orang itu—para pengguna jasa itu—ke dalam pusaran penderitaan yang di sana mereka tak lagi bisa memperlakukan orang-orang di hadapan mereka, bahkan diri mereka sendiri sekalipun, sebagai manusia, sebagai sosok-sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Robot-robot itu tidak salah, tentu. Mereka adalah produk dan mereka dibuat seperti itu, sehingga kritik tentulah diarahkan kepada si pembuat produk, atau lebih jauh lagi, orang-orang di atasnya, mereka yang menganggap sebagian manusia sudah kehilangan tempat di dunia yang semakin maju ini. Di Kurushimi Café, sebisa mungkin, kami mencoba mengembalikan situasi menjadi seperti dulu. Para pelanggan kami, para pengguna jasa yang kami tawarkan, sedikit-sedikit kami arahkan untuk menjadi diri mereka yang dulu, diri mereka sebelum robot-robot serupa manusia itu ada.

Tetapi bukankah komunikasi yang berlangsung di Kurushimi Café pun bukan komunikasi dua arah—hanya si pelanggan yang berbicara sementara seseorang di hadapannya hanya menyimak saja? Bagaimana itu? Kemudian, soal ditempatkannya android-android tadi di ruang-ruang pribadi atau semi-pribadi, bukankah itu dimaksudkan untuk menekan—bahkan menghentikan—eksploitasi besar-besaran perempuan sebagai komoditas jasa? Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Soal komunikasi, memang hanya satu arah. Tetapi harus digarisbawahi, kedua sosok yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Dua-duanya manusia. Ini jelas-jelas berbeda. Meskipun si penyimak hanya mendengarkan dan sesekali saja berujar untuk memancing si pelanggan terus bicara, ia tetap sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Dalam posisi seperti itu pun, ia tetap membangun komunikasi psikis, dengan si pelanggan. Ia bisa melakukannya dengan tatapan mata, bahasa tubuh, ekspresi muka, dan yang lainnya. Ini yang tidak dilakukan robot-robot itu. Mereka merespons dengan sejumlah program atau algoritma yang terbatas, sehingga bagaimanapun komunikasi yang alamiah dan tepat itu tidak akan terjalin. Tidak jika komunikasi psikis termasuk di dalamnya. Apa yang ditawarkan Kurushimi Café … berbeda.

         Kemudian soal penempatan yang Anda bilang tadi itu, saya memahaminya. Kami memahaminya. Niatnya memang baik, bahkan luhur, dan sekilas ini memang menjanjikan, dalam arti kebijakan ini akan benar-benar menjadi solusi dari persoalan yang membelit negeri ini sejak tahun-tahun lampau. Perempuan-perempuan “melayani” laki-laki yang memiliki uang namun kesepian, dengan sebagian dari mereka bahkan masih anak SMA. Menjijikkan. Jelas. Tetapi menjadikan robot-robot itu pengganti mereka, sungguh bukan solusi yang tepat. Bahkan, bukan solusi sama sekali. Perempuan-perempuan itu memang tidak lagi diposisikan sebagai komoditas; yang diposisikan sebagai komoditas adalah robot-robot dengan wujud perempuan dan itu terkesan cocok—sebab mereka adalah produk, adalah barang. Tetapi coba lihat kenyataannya, perkembangannya. Perempuan-perempuan itu—sebagian—mencoba membangun ruang-ruang lain, yang di sana mereka bisa kembali melakukan apa yang biasanya mereka lakukan. Mereka masih melihat diri mereka sebagai komoditas. Dan orang-orang itu, lelaki-lelaki itu, masih saja tidak menolak ketika beroleh tawaran semacam itu. Kebijakan penempatan robot-robot itu terbukti melupakan satu hal, satu hal yang sangat krusial, yakni penanganan secara mental, secara manusiawi. Bagaimana membuat sebuah masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah, tidak baik baginya dan negara? Tentunya tidak dengan menyingkirkan mereka dan mengganti mereka dengan robot-robot, dengan tiruan-tiruan mereka, dengan geminoid-geminoid mereka. Mereka perlu didekati secara personal, dengan sabar, perlahan-lahan. Dan itulah yang selama ini kami coba lakukan, meski untuk topik yang lain, dan masih sebuah langkah awal. Paling tidak, kami melakukannya dengan cara-cara yang mengingatkan kami bahwa kami dan para pelanggan kami itu adalah manusia.

Bagaimana jika suatu saat pemerintah menawarkan kebijakan yang menempatkan android-android di Kurushimi Café, sebagai penyimak, misalnya? Tentunya, android-android ini sudah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju, yang saking majunya membuat para android ini hampir-hampir tak bisa lagi dibedakan dengan manusia, dengan para penyimak lain.

Ini lagi-lagi sulit. Tadinya saya mau menjawab mantap: “Akan kami tolak!” Tetapi setelah ditambahi keterangan tentang common sense yang jauh lebih maju itu, jawaban tersebut agaknya tidak sepenuhnya relevan lagi. Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan ini agaknya baru bisa diberikan nanti ketika hal itu terjadi. Tetapi begini. Saya ingin menekankan bahwa poin penting yang harus dipenuhi di sini adalah manusia dan manusiawi. Robot-robot serupa manusia itu, ketika mereka telah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju tersebut, ketika mereka telah hampir-hampir tak bisa dibedakan lagi dengan manusia, apakah mereka di ambang menjadi manusia, atau tidak? Ini yang menjadi pertanyaan saya. Katakanlah Darwin benar dan kita adalah hasil evolusi generasi kesekian dari hewan-hewan, maka hal serupa mungkin bisa terjadi juga pada robot-robot itu, meski saat ini membayangkannya masih sangat sulit. Anda ingin makan malam dengan robot, Anda ingin mengobrol dengan robot, Anda ingin berjalan-jalan dengan robot, Anda ingin bercinta dengan robot, itu mudah. Sekarang pun Anda sudah bisa melakukannya, dengan keterbatasan di beberapa hal. Tetapi kalau Anda ingin berinteraksi dengan robot seperti halnya Anda berinteraksi dengan manusia lain, atau diri Anda sendiri, dengan tingkat akurasi yang tinggi, itu masih sulit. Untuk sekadar dibayangkan saja masih sulit. Dan saya sejujurnya tidak tahu juga apakah itu sesuatu yang harus dikejar dan diwujudkan, atau sebaliknya.

Jadi, jika para android itu pada akhirnya, entah bagaimana, telah menjadi manusia, mereka diperbolehkan menjadi bagian dari Kurushimi Café? Begitu jawaban Anda?

Untuk saat ini, kira-kira begitu.(*)

Keterangan

  • Cerita ini ditulis berpuluh-puluh tahun dari sekarang, oleh seseorang yang namanya belum bisa diberitahukan saat ini.
  • Jika mengikuti aturan berbahasa Indonesia yang benar maka semestinya judul cerita ini adalah “Kafe Kurushimi”, namun si penerjemah sengaja menghadirkan versi bahasa Inggrisnya, dengan pertimbangan di bahasa aslinya judul tersebut—juga setiap kali dua kata ini muncul di tubuh cerita—dituliskan dalam katakana, bukan kanji atau hiragana. Semuanya katakanaクルシミ・カフェ. “Seperti ada penekanan bahwa urutannya harus begitu,” kata si penerjemah. Mengingat urutannya lebih condong ke bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, si penerjemah pun memilih kata “Café” alih-alih “kafe”.
  • Si penerjemah sendiri adalah seseorang di saat ini. Hanya saja, ia menolak namanya dipublikasikan—saat ini.
  • Cerita ini diperoleh seorang agen kami yang melakukan perjalanan waktu beberapa minggu yang lalu, dan di saat ini belum pernah ditayangkan di ruang-tayang mana pun.

====================

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor Kumpulan cerita pendek termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here