Apakah kenangan sesungguhnya berbatas ruang dan waktu?

Aku tak memiliki kenangan masa kecil. Aku hanya mengingat perihal lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi. Itu adalah pertemuan kedua setelah dia—dengan maksud tertentu, menawarkanku setangkup roti dan teh panas sambil menikmati senja yang jatuh ke atap St. Andrei, jembatan, menara lonceng Ivan, dan Luzhniki sambil membicarakan sepakbola dan berkata, “Suatu saat kau harus berada di dalamnya. Merasakan dunia lelaki.”

Atau sekadar berjalan-jalan saja di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa dengan mitosnya; buat permohonan lalu berjalanlah melewatinya maka keinginanmu akan terkabul. Mitos yang konyol memang, tapi hei! Setidaknya kami masih bersama sampai saat ini.

Dia adalah lelaki pertama yang aku kenal. Lelaki yang pernah menumbuhkan bunga-bunga di pelupuk mataku saat kali pertama bertemu.

Jadi aku tak ingin mengingat apa yang tak ingin dan mesti kukenang. Ketika rekaman-rekaman itu selalu muncul di kepalaku. Rekaman yang berulang tiap larut, setiap dia pulang dengan bau mulut menyengat.

Bau yang menyertai muntahan kata-kata melaknat, pecahan gelas, ocehan ngawur, dan pukulan-pukulan yang semakin hari semakin lazim melayang tanpa alasan. Dia akan berteriak bagai kesurupan hanya karena menu sarapan seadanya. Atau kemeja kerja yang tak terlipat sempurna. Lantai yang kusam. Aku yang lambat menyahut saat dia memanggil, atau dia yang kelupaan letak kunci mobil. Dia akan hilang akal. Seperti ritual. Seperti malam dan pagi yang tak pernah benar-benar pergi. Setelah berlaku di luar batas dia akan mematung laiknya onggokan es di musim dingin. Dunia lelaki yang tak pernah didamba.

Apakah aku memang ditakdirkan untuk terus bungkam menahan semuanya?

Bel intercom berbunyi. Jam pulang. Dia memanggil. Seperti biasa, aku akan membuka seperangkat sistem pengamanan di ruang tamu.

Seperti biasa, dia akan menaruh mantelnya di pengait kayu samping jendela sebelum meneguk dua blob air mineral di depan televisi. Memerhatikan layar sebentar. Mengganti-ganti kanal. Sepasang kaus di kakinya masih terpasang. Perhitungan algoritma di kepalaku terbiasa menebak laku perangainya.

Dan seperti biasa, aku seolah tak di sana. Tidak di sampingnya. Mungkin juga tidak di benaknya.

Dunia kami seolah bersekat, dibatasi tembok yang berdiri kukuh. Akan seketika rubuh jika dia sudah mulai bosan. Atau mengantuk. Atau gairahnya tiba-tiba merasuk. Aku tak begitu paham dengan hubungan ini. Awalnya semua terasa begitu indah dan menyenangkan. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama sebelum tragedi itu datang.

Kenangan terkuat tak akan pernah lenyap. Ia akan seketika muncul menggantikan kenangan sebelumnya.

Sore itu begitu hangat saat kami menonton pembukaan Piala Dunia di Moskow. Ya, Nikolai, lelaki kutu buku berkacamata tebal itu mengajak kencan ke stadion Luzhniki menyaksikan pertandingan sepakbola. Sebuah dunia yang asing buatku. Tampaknya dia ingin memberi sebuah kejutan. Saat itu memang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Rautnya cerah menikmati suasana.

“Lihat, Presiden kita menyalami Pangeran. Saya yakin setelah ini mereka akan berbicara tentang bisnis rudal,” selorohnya menunjuk ke arah TV raksasa di tribune seberang. Suasana begitu gegap gempita. Mata kami sesekali bersitatap. Tetapi ada tanya yang mengendap.

Aku tak begitu yakin apakah tepat untuk mengatakannya di saat seperti ini. Aku hanya ingin dia mengetahuinya lebih dini.

“Aku mengandung, Nikolai.”

“Apa?”

Gemuruh seisi stadion menenggelamkan suaraku.

“Aku mengandung!”

Dia diam sesaat, lalu tersenyum. Membuat hatiku melega.

Tak ada angin tak ada badai, suratan itu datang tanpa pernah dipesan. Sepulangnya dari Luzhniki mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Hanya mukjizat yang bisa menyelamatkanku. Lelakiku kehilangan ujung kakinya. Aku, menurut lelakiku, telah kehilangan hampir sebagian daging pembungkus badan. Dan kami telah kehilangan Sophia—seperti namaku, nama yang pernah kami rancang bersama jika kelak ia terlahir ke dunia.

Sejak itu, aku merasa asing dengan tubuhku sendiri. Kemampuan motorikku masih berfungsi. Namun terasa sedikit janggal. Menurut lelakiku itu efek pasca trauma. Aku telah beberapa kali masuk meja operasi untuk pembedahan. Dia coba menenangkanku: teknologi bisa melampaui ketakutan. Tapi ada yang selalu tertinggal. Semacam kolase ingatan yang acak, membuat semuanya tak lagi sama.

Lolongan anjing menggema parau di luar. Sejak sedari coba menerka apa yang bakal terjadi malam ini, tubuhnya telah beringsut menggesekkan kulit di balik punggung. Bau itu lagi. Deru napasnya kini memburu tengkuk.

***

Setelah seharian membereskan puing-puing serangan udara dini hari tadi ia duduk sebentar di atas sebuah sofa lapuk. Membuka laptop. Mengklik program ‘InLove 4.0’. Tak berapa lama figur hologram 4D muncul di hadapannya. Sosok itu menanyakan beberapa hal. Ia lalu mengetik sesuatu: lokasi Khmeimim-barat laut Latakia, untuk Moskow, perempuan 28-35 tahun, Sophia.

Beberapa gambar muncul dari daftar pencarian. Tak ada yang ia kenal.

“Apakah ia pernah menikah?”

“Setahuku belum pernah.”

“Kapan terakhir kali bertemu?”

“Beberapa tahun lalu. Dari Hermitage kami berniat akan menikah setelah penugasan akhirku di Syria. Ternyata misi diperpanjang. Markas berpindah-pindah karena serangan pemberontak. Tak ada sinyal dari Moskow akan menarik pasukan pulang. Saya dan Sophia terputus kontak sekian tahun lamanya. Alat komunikasi rentan diretas. Kini sebagian besar wilayah sudah dikuasai Tentara Nasional. Namun aku tak mengetahui keberadaannya sampai sekarang. Aku selalu memikirkannya. Ia perempuan sebatang kara.”

“Kata kunci lain yang mungkin saja berguna?”

Ia berpikir sesaat, mengingat-ingat, “Hati perak raksasa.”

***

Di sudut ruangan ini, nyeri apa yang kau rasakan dengan mata tumpul itu Sophia? Kau memendam suara di balik juntai rambutmu yang kusut dengan sekuat tenaga. Masih menyisakan tempat untuk lelaki brengsek di hadapanmu yang kini tergeletak layu. Mungkin berkali-kali kau pernah berpikir untuk memberinya pelajaran. Bukan, bukan sekadar pelajaran. Botol itu kau hempaskan telak ke batok kepalanya. Atau beranjak ke dapur untuk sebuah pisau daging yang mantap. Kau hanya perempuan berhati pualam yang selama ini memiliki sekian cadangan maaf. Kita tahu lelakimu akan siuman lalu berlagak amnesia.

“Itu hanya sebuah kebodohan yang tak penting, Sophia. Alkohol. Tak melibatkan perasaan. Dia bukan apa-apa.”

Mulutnya membeberkan sendiri segala wasangka setelah semua yang kautemukan: pesan pendek yang terhapus di ponsel, email menggoda, reservasi kamar hotel, bekas gincu dan bau Chanel yang menempel di baju. Kau mengambil keuntungan dari sang profesor. Kau belajar. Beradaptasi. Menganalisa. Tapi tak ada yang mampu kau perbuat sampai sepucuk FN 9x19mm kau genggam dari lemari besi yang biasa lelakimu simpan.

“Seolah kau berharap aku akan baik-baik saja. Kau tak berbeda dengan rezim penuntut kepatuhan. Aku akui keyakinanmu. Tapi kau tak melihat batas orang lain. Apa yang kau cari dari perempuan itu?”

Lelakimu diam. Dia tak memiliki kerabat. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di Lab Tech militer sebagai ilmuwan. Kakeknya dulu menghilang, diburu kaum Bolshevik karena dianggap elit borjuis di era revolusi, sedangkan kedua orangtuanya tewas setelah dituduh mata-mata. Namun dia dibesarkan negara. Diberikan segalanya. Lalu merasa berhutang budi dan bersumpah setia pada rezim.

Lelaki yang kesepian. Mimik penyesalan terpapar di mukanya. Tapi semua ini cukuplah sudah tak tertanggungkan rasanya.

 “Sayang… Itu hanya sesaat.”

“Dan ini bayaran untuk kesetiaanku melayanimu selama ini?”

“Aku memang salah. Tolong, maafkan aku,” ujarnya mengiba.

Kau bisa saja menghabisinya dengan satu letusan. Tak akan ada yang mencurigai. Tak pernah ada tamu yang sesekali berkunjung. Hunianmu jauh dari perkotaan. Lelaki itu pun bukan tipe yang suka bercerita tentang keluarga.

“Aku bukan mesin, Nikolai. Selama ini kau menganggapku sesuatu yang bisa dimanipulasi. Menempatkanku satu derajat di bawah ketiak otoritasmu. Kau menetapkan aturan-aturan yang membuatku terpenjara. Dan entah kenapa, aku selalu patuh. Aku sempat percaya, bahwa keburukan lelaki akan memudar seiring waktu. Tapi aku salah.”

Dia hanya merunduk. Sesekali menggelengkan kepala. Hening menjeda hingga raut wajahnya kemudian berubah.

“Aku tak menyangka sensitifitasmu berkembang pesat di luar dugaan, Sophia. Seharusnya aku mengunci level emosimu di angka moderat. Aku memang bodoh.”

“Apa maksudmu? Kau pikir aku punya masalah mental?!”

“Menodongkan senjata ke seseorang terlebih ia pasanganmu jelas bermasalah. Kehendak bebas yang kebablasan.”

“Jangan mencobaku lagi, Nikolai. Kau tak merasakan luka yang kuterima selama ini!”

“Apa definisi luka bagimu? Kamu yakin kulitmu bisa terluka? Sayang…Apa kamu tak juga sadar? Kamu memang separuh mesin. Kamu hanya akan terancam oleh security password. Aku harus mengembalikanmu ke Lab…”

“Kaulah yang mesin, brengsek! Banting tulang larut malam demi bos besarmu yang maniak. Target-target yang muluk. Hukuman yang tak adil. Lalu semua tekanan itu kau timpakan ke rumah, kau lampiaskan padaku! Manusia macam apa yang tak mengetahui kemanusiaannya sendiri?!”

“Hati perak raksasa”

“Apa?!”

Seketika pandanganmu jadi kabur, seperti berkunang-kunang. Tubuhmu kaku.

“Hati perak raksasa.”

Kau mengerang hendak melawan. Lalu semuanya gelap.

***

Kau menatap sebuah cermin panjang. Matamu memerhatikan tiap lekuk yang tidak sama seperti tubuhmu sebelumnya. Wajah yang bukan wajahmu. Kakimu tegak di atas granit mulus yang berbeda dengan lantai yang pernah kau injak sebelumnya; lantai yang dikotori bercak merah pekat.

Kau menghirup udara sedalam-dalamnya seolah oksigen murni mengitari ruangan kaca yang berlatar pepohonan. Sebuah perasaan yang mengagumkan. Seperti pagi di Belukha. Tak ada kecemasan atau sesal yang berlarut-larut.

Kau menutup mata, sekelebat memori menyeruak. Ingatan yang tak akan pernah terhapus oleh  sistem operasi apapun di dunia ini; Jalanan moskow dan sebuah taman. Tempat dimana sang kekasih memuntal janji untuk kembali.

Suara yang lembut menyapamu, “Selamat pagi, Sophia.”

Lelaki itu menghampiri. Lelaki yang membuatmu merasakan bahagia. Lelaki yang tak sama seperti lelaki yang kau kenal sebelumnya.

 “Apa yang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa,” ujarmu pelan, “Igor, apakah kau bisa menerimaku apa adanya? Semua masa laluku?”

“Semua orang pasti punya masa lalu. Dan semua orang punya masa depan.”

“Bagaimana jika aku bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini?”

“Maksudmu?”

Kau takut ia akan mengingatnya. Tidak, ia tak mungkin mengingatnya. Nikolai telah lenyap sejak insiden nahas itu. Teknologi android yang dikembangkannya telah menciptakanmu. Merekayasa kenanganmu. Kecelakaan mobil itu sejatinya tak pernah ada.

Kini teknologi itu menciptakan Igor lewat tanganmu.

“Bagaimana jika aku adalah seorang pembunuh?”

Ia memelukmu erat lalu menatapmu lekat.

“Lalu hukuman apa yang layak untuk seorang robot cantik yang khilaf?” ujarnya berbalik tanya dengan sebuah senyum yang membuatmu melega. Senyuman serupa Igor, lelaki yang kau ingat di masa lampau.

Lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi lalu mengajakmu berjalan-jalan di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy; yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa.

Nikmati saja romansamu kini, Sophia.

Kami akan selalu mengawasi dari tempat yang luput dari ingatanmu. Tak ada tempat untuk ide-ide pemberontakan.

(Bojongsoang, Juli 2018)

Keterangan:
Cerpen ini versi asli (panjang) dengan sedikit revisi dari cerpen yang pernah tergabung dalam antologi cerpen ‘Cerita dari Koding’, terbitan Jejak Publisher, 2018.

====================

D. Hardi. Lahir di Bandung, 26 Agustus. Mengarang fiksi. Buku terbaru, Antologi puisi tunggal ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama ‘Masa Depan Negara Masa Depan’-Surya Pustaka Ilmu (2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here