Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here