Pagi masih pucat ketika Sarkum pamit pada Sitti. Ia harus bergegas sebelum matahari meninggi. Ia mesti berpacu dengan waktu agar pekerjaannya tak tergeser orang lain. Dengan sepeda kumbang peninggalan mendiang bapaknya, ia harus mengayuh sejauh lima kilometer untuk sampai di pelabuhan Tanjungpinggir.

Sesampainya di pelabuhan, ia cukup lega. Belum banyak orang-orang sepertinya di dermaga. Hingga tak lama kemudian sebuah kapal nelayan perlahan menepi dan bersandar ke dermaga.

Setelah seorang anak buah kapal melempar sauh, Sarkum bersama beberapa kawannya setengah berebut menaiki kapal. Mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan. Puluhan keranjang berisi ikan harus segera mereka turunkan. Menaruhnya di dekat si tauke pemilik kapal yang sudah menunggu di pelelangan, sebelum menjual semua ikan pada para pedangang.

Setengah jam kemudian pekerjaan Sarkum pun selesai. Peluh di tubuhnya masih mengucur ketika tauke mengulurkan selembar uang lima puluh ribu sebagai upah. Dengan segera Sarkum  memasukannya ke dalam kantong celana. Kali ini si tauke tengah bermurah hati. Sebab ikan yang diperoleh anak buahnya cukup berlimpah.

“Terima kasih juragan,” tukas Sarkum, mengulum senyum. Lalu bergegas kembali ke dermaga. Bersiap menaiki kapal lain yang baru saja bersandar.

Matahari hampir sepenggalah ketika Sarkum mengakhiri pekerjaannya. Sebelum pulang, ia mampir ke kedai Mak Jum.

“Ramai, Kum?” tanya Mak Jum sembari mengulurkan segelas kopi.

“Alhamdulillah. Lumayan Mak. Setidaknya hari ini aku tidur nyenyak,” jawab Sarkum, lalu menyorongkan bibirnya ke mulut gelas.

“Syukurlah. Berapapun hasilnya harus disyukuri.”

Sarkum mengangguk sembari mengambil sekerat singkong goreng. Tak lama berselang Sugi datang.

“Sudah lama, Kum?” sapa Sugi, lalu duduk tak jauh dari Sarkum.

“Barusan.” Sarkum merogoh saku baju, mengeluarkan rokok, lalu menyulutnya. “Bagaimana hasilmu hari ini, Gi?”

Sugi meraih handuk di pundaknya, lalu dibanting di atas meja, “Buntung, Kum.”

“Maksudmu?”

“Baru menurunkan tiga keranjang, kakiku sudah keseleo,” gerutu Sugi, menyodorkan kakinya yang mulai bengkak ke hadapan Sarkum.

“Wah, sial benar nasibmu, Gi.”

“Beruntung Haji Ali bermurah hati. Ia tetap memberiku upah, meski tak seberapa.”

“Syukurlah. Setidaknya jerih payahmu tak sia-sia. Sebaiknya kau lekas ke tukang pijat. Kakimu harus segera ditangani.”

Sugi mengangguk. Lalu memesan segelas kopi pada Mak Jum.

***

Azan zuhur baru saja purna ketika Sarkum memasuki rumah. Dilihatnya Sitti tengah sibuk di dapur sembari bersenandung. Dengan mengendap-endap, Sarkum menghampiri Sitti, lalu memeluknya dari belakang.

“Apa yang kau masak hari ini, istriku?”

Sitti terkesiap, “Ah, Akang. Bikin kaget saja. Hampir saja jantungku copot.”

“Ah, kau ini terlalu berlebihan.”

Sitti tersenyum, “Hari ini aku masak sayur kesukaanmu. Lodeh terong, tempe bacem, sambal terasi, dan tak lupa…” Sitti menunjuk ke dalam bara tungku.

“Petai bakar?”

Sitti mengangguk. Mata Sarkum langsung berbinar. Ia pun memeluk Sitti kembali. Tak lama berselang, Sitti sudah menyajikan semuanya di atas meja makan.

“Tumben Akang pulangnya siang?” tanya Sitti sembari menyendok nasi dan menumpahkannya di piring Sarkum.

“Tadi selepas bongkar ikan, aku mampir ke kedai Mak Jum. Di sana bertemu Sugi. Kami sempatkan ngobrol sebentar. Kasihan benar ia. Belum juga selesai bongkar ikan, kakinya sudah keseleo.” Sarkum mengambil lauk. “Tapi mungkin ia kena Karma.”

“Maksud, Akang?”

“Tempo hari ia serobot jatah Sukar di kapal Koh Ahong. Hampir saja mereka adu jotos kalau tak dilerai kawan-kawan.”

“Orang cari rezeki tak harus begitu,” ujar Sitti sembari menyendok nasi.

“O iya, tadi sepulang dari kedai Mak Jum, niat hati aku mau langsung pulang. Tapi baru sampai di depan Pasar Baru, Haji Salim memanggilku. Rupanya ia butuh bantuan menurunkan karung-karung beras dari truk yang baru datang. Jadilah aku ikut bongkar beras di sana.” Sarkum merogoh saku celananya. Lalu meletakkan segenggam uang di atas meja. “Kau bisa hitung jumlahnya. Aku tak sempat menghitungnya. Mudah-mudah lebih dari cukup untuk membeli beras dan bumbu dapur.”

“Alhamdulillah. Mudah-mudahan masih ada sisa untuk besok pagi. Syukur-syukur masih ada juga untuk ditabung.”

Sarkum mengangguk-angguk, “Eh, aku dengar tadi ketika memasak, kau seperti menyenandungkan sesuatu?”

“Iya, Kang. Aku tadi bersolawat. Aku kemarin baru dapat resep dari Nyai Nur. Jika ingin masakanku enak, maka aku disuruhnya bersolawat.”

“Dan kau percaya akan hal itu?”

“Kenapa tidak? Bukankah bersolawat itu baik? Kata Nyai Nur juga tak hanya soal masak saja. Hal lain pun demikian, jika ingin urusan lancar, maka banyak-banyaklah bersolawat.”

Sarkum tak begitu menanggapi perkataan Sitti sebab mulutnya sudah tersumpal nasi.

***

Musim angin barat datang. Para nelayan tak berani melaut. Mereka menyandarkan kapal-kapal di dermaga. Aktivitas jual-beli ikan di pelabuhan Tanjungpinggir sejenak sirna hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Setali tiga uang dengan para nelayan, Sarkum pun bernasib sama. Musim angin barat membuatnya sejenak kehilangan pekerjaan di pelabuhan. Ia pun bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Pagi hingga siang hari ia pergi ke Pasar Baru menjajakan tenaganya, sementara sore hingga tengah malam ia ke dermaga untuk memancing ikan.

Seminggu berlalu. Angin barat belum ada tanda-tanda akan purna. Selepas magrib, Sarkum sudah bersiap dengan peralatan memancingnya. Meski hujan belum reda, Sarkum tetap pergi. Hujan yang mengguyurnya tak menyurutkan niatnya untuk mencari rezeki.

Sesampainya di dermaga, Sarkum pun melempar kail ke tengah ombak yang bergejolak menghantam dermaga. Lalu duduk terpekur di bawah guyuran hujan dan hanya diterangi berkas cahaya lampu dari tempat pelelangan ikan di kejauhan. Meski dingin menyelimut, ia terus bertahan. Ia tak ingin pulang dengan tangan hampa.

Sejam berlalu, kail Sarkum belum ada tanda-tanda disambar ikan. Namun ia masih setia menunggu di bibir dermaga. Tiba-tiba ia teringat perkataan Sitti tentang solawat.

“Tak ada salahnya jika aku mencoba,” gumam Sarkum. Ia pun bersolawat.

Sungguh ajaib. Tak membutuhkan waktu lama, seekor ikan belanak menyambar kailnya.

“Jangan-jangan memang benar,” gumam Sarkum.

Ia pun kembali memasang umpan pada mata kail dan melemparkannya ke laut. Lalu kembali bersolawat. Dan benar dugaannya, seekor ikan belanak kembali didapat. Sarkum pun mengulang beberapa kali hingga tak terasa ikan tangkapannya hampir memenuhi ember. Setelah dirasa cukup, ia pun bergegas pulang.

***

Pagi menguar. Matahari tengah menggugurkan embun-embun di atas daun ketika Sarkum dan Sugi mengobrol di warung Mak Jum.

“Semalam aku mancing di dermaga, Gi.”

“Hasilnya?”

“Di luar dugaan. Satu ember penuh!”

Sugi tergelak, “Mana mungkin. Kau ini suka berkhayal. Angin barat saja belum usai. Tak mungkin ada ikan yang menepi.”

“Terserah kau mau percaya atau tidak,” Sarkum memasang muka serius. “Tapi itulah kenyataannya. Aku bisa buktikan kalau kau mau.”

“Baik. Nanti malam kita buktikan. Aku yakin kau hanya membual.”

“Siapa takut. Jangan lupa bawa peralatan memancing.”

Malam harinya Sarkum dan Sugi bertemu di dermaga. Setelah mengambil tempat, mereka segera melempar kail. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi Sarkum untuk mendapatkan ikan. Berulang kali ia menarik joran dan memasukkan ikan ke dalam ember. Apa yang dilakukan Sarkum membuat Sugi terhenyak. Ternyata omongan Sarkum benar adanya.

“Apa yang kau lakukan hingga ikan-ikan datang menghampirimu, Kum?” tanya Sugi terheran-heran.

Sarkum terkekeh, “Aku tak melakukan apapun. Aku hanya bersolawat?”

“Solawat?”

“Ya, aku mendapatkan resep ini dari istriku. Ia dapat resep dari Nyai Nur. Cobalah jika kau mau.”

Sugi pun kembali melemparkan kailnya ke laut seraya bersolawat. Dan benar adanya. Tak butuh waktu lama, Sugi pun mendapatkan ikan. Ia pun kembali melempar kail. Merasa telah menemukan cara memperoleh ikan dengan cepat, Sugi pun merasa ketagihan.

“Sebaiknya kita sudahi saja mancing malam ini, Gi,” ajak Sarkum.

“Kenapa? Emberku belum penuh, Kum.”

“Kita ambil secukupnya saja. Tak perlu berlebihan.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Besok malam masih ada waktu.”

Dengan sedikit kecewa, Sugi pun menuruti ajakan Sarkum.

Di tegah perjalanan, Sugi masih juga merasa aneh dengan peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Kau memang benar, Kum. Apa yang aku rasakan tadi seolah ikan-ikan mendatangiku setelah bersolawat. Besok malam aku akan bawa jala saja. Biar hasilnya lebih berlimpah.”

“Tapi itu berlebihan, Gi. Ambil saja secukupnya. Sekadar untuk kebutuhan hidup.”

“Lho, ini mumpung, Kum. Pokoknya besok malam aku mau bawa jala. Titik!”

Keesokan malamnya, Sarkum dan Sugi kembali ke dermaga. Sarkum tetap membawa joran dan sebuah ember, namun Sugi membawa jala dan dua ember. Dan sungguh diluar dugaan. Semua ember Sugi dapat terisi penuh. Kemudian pada malam-malam berikutnya, Sugi semakin banyak membawa wadah untuk hasil tangkapan.

Melihat tingkah laku Sugi, Sarkum berulang kali mengingatkan. Namun tak pernah diindahkan. Sugi beranggapan apa yang dilakukannya semata-mata untuk mencari nafkah. Hingga suatu malam, Sarkum benar-benar mencegah Sugi pergi.

“Malam ini kau jangan pergi. Lebih baik di rumah saja,” ujar Sarkum, di teras rumahnya.

“Maksudmu?”

“Sudah tiga malam aku bermimpi kau ditelan ikan paus.”

Sugi terkekeh, “Kau kira aku Nabi Yunus? Lagi pula mana ada ikan paus diperairan sekitar dermaga. Kau ini jangan mengada-ada. Sudahlah, kau tak perlu berpikir macam-macam.”

“Ya, mungkin itu hanya mimpi saja. Tapi malam ini aku tak hendak memancing. Firasatku sedang tak enak. O iya, ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu. Sebaiknya kau berhenti menggunakan solawat ketika mencari ikan.”

“Maksudmu?”

“Kulihat semakin hari kau tak dapat mengontrol diri. Kau gunakan solawat untuk memperkaya diri.”  

“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga menggunakan solawat ketika memancing?”

“Setidaknya aku tak memperkaya diri. Aku hanya mengambil secukupnya saja.”

“Alah, omong kosong. Itu sama saja. Aku pamit.”

Sugi pun pergi. Sementara Sarkum menatap kawannya dengan getir.

Sesampainya di dermaga, seperti hari-hari sebelumnya, Sugi pun bersolawat dengan tujuan memanggil ikan-ikan. Dan sungguh ajaib, tak lama berselang ikan-ikan mendekat, berkecipuk bersama ombak yang memukul-mukul dermaga. Dengan segera Sugi menebar jala. Lalu diangkatnya perlahan. Dalam keremangan cahaya dilihatnya ikan bergelantungan terjerat jala. Dengan segera ia masukkan ikan-ikan ke dalam ember. Setelah usai, ia kembali menebar jala. Diulanginya hingga tiga kali. Namun pada tebaran yang ketiga, ia kesulitan mengangkat jala. Ikan-ikan justru melawan dan berbalik menarik jala Sugi hingga kemudian ia tercebur ke laut. Dalam kegugupan yang luar biasa, Sugi seolah  mendengar ikan-ikan bersolawat. Lalu menyeretnya ke tengah  dan semakin ke tengah. Hingga ia tenggelam ditelan laut.

Kudus, Januari 2020

================

M Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here