Duyung

Telah diarungi sekian ribu gelombang hingga pada suatu hari, saat usia beranjak dewasa, mendapati sesosok ganjil nan jelita mendulang kecipuk dari ekor yang mengkopat-kapit, mendesirkan dada. Meski pergunjingan tentangnya sudah lazim didengar, sang pelaut muda tetap terbius. Padahal ancamannya jelas: sekali kau salah berucap, kematianlah taruhannya.

“Apakah Aleksander masih hidup?” tanya perempuan setengah ikan itu.

Ia telah memiliki jawaban. Tapi sebelum mendapatkannya, warga pesisir telah melewati sekian peristiwa mengerikan yang menimpa para lelaki saat melaut dan tak pernah kembali. Seseorang yang selamat dan kini setengah gila, Rudolf, menggambarkan ombak datang seketika seperti gurita raksasa yang ganas, dengan tentakel-tentakelnya mengempas, mengombang-ambing lautan bagai kocokan dadu, mengancah buritan, hancur menjadi puing. Sebelum itu, langit tiba-tiba gelap. Pusaran kecil di sebelah tubir kapal memunculkan makhluk aneh, setengah perempuan menyerupai ikan di sekujur pinggul sampai ekornya, berenang, melompat ke sana-sini menanyakan nama yang asing di telinga.

“Si pemabuk itu kabur dengan istri mudanya, lalu mati diracun oleh kekasih gelap istri mudanya itu, Nona haha…Masih ada aku di sini, sayang,” kelakar Jack si pemabuk. Jawaban yang salah.

Sang pelaut muda tak ingin mengulangi kesalahan semacam itu. Karena kesepian, ia menjadi rajin membaca. Karena membaca, ia menduga si putri duyung adalah jelmaan Thessalonike, adik Aleksander Sang Penakluk yang masyhur. Maka ia berkata:

“Ia masih ada. Dan akan berlipat ganda.” Dengan percaya diri, sedikit memodifikasi jawaban yang seharusnya.

Si putri duyung terdiam. Ia tak mengerti tamsil. Rona mukanya berubah.

“Hanya ada satu Aleksander di dunia, tanpa peniru-peniru lainnya!”

“Eh maksudku….”

Air pasang membubung di atas kepala. Si putri duyung menariknya tanpa jejak, melayang di kedalaman samudera tiada batas. Tak pernah ada jawaban yang tepat untuk menampik saat maut menjemput.

Namun sesungguhnya, nasib sang pelaut muda tidak miris-miris amat. Ia telah bosan dengan hidupnya yang hampa dan berkarat. Sudah sejak lama ia berkhayal menjadi ikan untuk meninggalkan daratan yang busuk ini.



Revolusi Vampir

Konon, semakin banyak darah yang diminum, seorang vampir akan semakin terlihat awet muda dan berumur lebih panjang. Tetapi zaman telah berubah.

Kini para wanita—sebagai sasaran empuk—lebih tertarik pada pria matang dengan warna bulu uban di sekujur badan. Sedikit keriput tak masalah. Perut membuncit malahan baik. Tentu dengan bonus kemapanan, agar romansa tidak membosankan. Maka Ray, sejak epidemi aneh menjangkitinya akibat gigitan dan karangan John Polidori jadi legenda, bertekad untuk bertaubat saat itu juga. Ia akan berhenti meminum darah dan menggantinya dengan air mata.

“Bagaimana bisa?”

“Setidaknya aku tak harus membunuh atau melukai manusia,” terangnya saat dikritik vampir satiris paling getol di dunia kegelapan.

“Kau pikir mengeluarkan air mata tidak menyakiti mereka?!” timpal si tukang kritik.

“Air mata kadang menyembuhkan luka.”

Tetapi menjadi pribadi yang bertaubat tidaklah mudah. Membedakan air mata kesedihan dan air mata buaya bukan sederhana. Ternyata Ray terlalu hijau untuk memilah-milah, mana air mata yang bergizi untuk kebugaran tubuhnya, mana yang justru melemahkan kekuatan. Ia pernah mencoba air mata korban pengkhianatan seorang kekasih, air mata kaum papa yang kelaparan, air mata pak tua yang kehilangan tanahnya, air mata keluarga korban peperangan, dan air mata seorang aktor saat berpentas. Semua air mata itu tidaklah sama rasa dan khasiatnya. Tubuhnya malah semakin tak karuan. Pegal linu sakit-sakitan.

Akhirnya ia menyerah; kembali menjadi vampir peminum darah. Namun tabiatnya mulai berubah. Saat bertemu vampir lain yang hendak bertaubat seperti dirinya dulu, ia berkata:

“Apakah mengisap darah manusia lebih kejam daripada pengisapan air mata para buruh murah, orang-orang lemah, dan kaum papa?” ujar Ray memuntahkan dalilnya dengan dramatis kala begadang menjelang pagi sembari menyeringai.

Hey, menjadi vampir tukang kritik pun adalah revolusi bagi seorang vampir yang naif, bukan?



Pencoleng

Dusun Gegerslalo heboh. Warga dilaporkan kerap mengalami kehilangan harta yang mereka simpan di dalam rumah. Uang yang disimpan di lemari yang terkunci atau sela-sela dipan selalu berkurang jumlahnya setiap hari. Gemerisik isu beterbangan. Seseorang pasti memelihara tuyul, pikir Pak RT. Dari mulut ke mulut, isu berkembang dengan liar, membuat orang saling curiga.

Pada suatu malam, entah perangkap apa yang dipakai, tersangka berkepala plontos dengan tubuh kerdil itu akhirnya tertangkap. Aparat menciduknya beserta barang bukti bergepok uang. Di dalam sel khusus, makhluk itu mencoba menyuap seorang penjaga bernama Oknum dengan iming-iming rupiah yang lebih besar dari hasil tangkapan.

“Aku punya banyak simpanan di Swiss. Lagipula, memang tuyul bisa didakwa?” bujuknya.

Maka terjadilah apa yang tak sepatutnya terjadi.

Jika suatu saat kau melihat ada Oknum yang suka menangkupkan punggung dengan kedua tangannya seperti posisi istirahat di tempat (tapi) sambil berjalan-jalan, bukan berarti ia memelihara, dengan cara menggendong makhluk tak kasat mata semacam tuyul. Bukan.

Ia hanya tak ingin memperlihatkan aib, yang berlindung di balik telapak tangannya yang pejal.



Penghuni Kastil

Apa yang lebih menyedihkan dari nasib menjadi anak tunggal adalah ketika tak ada seorang pun yang sudi menjadi temanmu bahkan untuk sekadar berkunjung. Meskipun kau adalah anak konglomerat, seperti Sovia tokoh kita, generasi keempat dari keluarga kaya pewaris tujuh perusahaan raksasa yang membentang dari Abu Dhabi hingga Taipei, tinggal di sebuah Chateau de Lafreoux yang setiap harinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama seorang pengasuh karena kedua orangtuanya sibuk. Terlalu sibuk sampai Sovia berumur sepuluh tahun, tumbuh menjadi anak kesepian yang berjarak dengan lingkungan sekitar. Terlalu sibuk hingga di usia remajanya, Sovia, si gadis bermata biru dan berambut pirang itu sering berkhayal memiliki teman hantu.

“Ya! Kalian semua, penghuni kastil. Tampakkanlah diri di hadapanku. Bermainlah denganku!” teriaknya sedikit putus asa.

Lama-kelamaan, si pengasuh memutuskan berhenti bekerja setelah beberapa kejadian ganjil kerap terjadi. Sovia semakin sering berbicara sendiri, seolah bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika ditanyakan, ia bilang itu Adorjan, tetangganya dari Budapest. Tabiatnya berubah. Ia semakin sering bersolek di depan cermin. Menggemari pakaian kuno ala era Victoria. Berdansa-dansi dengan posisi tangan menggantung, tanpa bahu siapa pun. Orangtua Sovia khawatir. Ia dibawa ke berbagai tempat pengobatan di seluruh negeri namun hasilnya sia-sia. Saat menjadi tuan rumah pesta, Sovia membuat kekacauan. Kedua orangtuanya malu.

Sejak itu, malangnya, untuk beberapa waktu dan seterusnya ia harus belajar, bermain, dan beraktivitas di satu sudut tersembunyi dalam kastil, yang tak akan disadari oleh para tamu. Kamarnya terkunci. Sovia dianggap aib bagi trah keluarga.

Waktu adalah pembunuh paling sunyi.  

Jika dulu Sovia sering berkhayal ingin memiliki teman sesosok hantu, kini di umurnya yang tak lagi beranjak, ia sangat rindu untuk sekadar berbincang dengan calon penghuni baru di kastilnya yang sunyi. Sebentar saja.



Cinta Mati Mantis

Setelah bertahun lamanya terpisah, akhirnya mereka bertemu di tempat ini.

“Kau tak merasa takut?” Suara lembut itu seolah menghipnotis.

“Apa yang harus aku risaukan?”

“Mitos, mungkin?”

“Apa masih ada yang tersisa untuk kenyataan dari lelucon kehidupan ini?”

“Kau makhluk tersinis yang pernah kutemui. Aku ingin tahu seberapa besar pengorbananmu.”

Sesungguhnya ini bukan saat yang tepat untuk bercakap-cakap. Tapi sang betina merasa perlu untuk mengingatkan sebelum sesal menyesap umur.

Tak menunggu lama lagi, kulit mereka beradu. Saling rengkuh, bersalipan. Mengenyah deru angin di atas batangan ilalang, di bawah atap musim gugur. Menunggangi punggung pegagan yang tumbuh liar di sela-sela bukit. Meronai senja yang melukis keluasan langit. Tak jelas sudah siapa tamu, siapa tuan rumah.

“Apa kau pernah merasakan cinta pertama?”

“Tentu saja pernah, tapi dunia ini terlalu sering menorehkan jeri”

“Jika hidup penuh sengsara, mengapa kau buat rahimmu terus berbiak?” tanya pejantan tersengal. Napasnya memburu.

“Sebuah kesempatan. Agar benih-benihmu kelak turut merasakan petualangan. Dan kepalamu akan menabur kesuburan,” bisiknya seolah memekik bunyi lonceng.

Liukan paha itu menggamit arah dengan cepat. Sekuat tenaga menahan tubuhnya dengan dua kepitan, mengunci kaki si pejantan hingga tak mampu untuk bergerak. Kedua tangannya yang lancip berusaha mencekik urat-urat leher. Pertempuran adalah milik mereka yang sigap mengambil keputusan. Si pejantan berusaha melawan, tapi gemulai tangan itu telah mampu mengoyak sebagian batang lehernya dengan dua kali sabetan. Mulutnya membeliak. Keroncong perut merancak. Rasa lapar menggila.

Sebuah benda tiba-tiba melayang mengempas keduanya. Memisahkan pergulatan. Sang betina terbang menjauhi pekarangan, menuju atap gubuk lalu menghilang.

“Belalang?” tanya seorang bocah pada lelaki pendiam yang kemungkinan besar ayahnya itu. Ia tak menjawab. Tangannya gegas meraih arit yang tergeletak.

“Lihat, ia kesakitan. Seperti sedang berdoa.” Bocah itu mengamati sedekap tangannya yang kaku.

Hanya denyut pelan yang terlihat di dada makhluk bersayap itu.


=====================

D. Hardi, lahir di Bandung, 26 Agustus. Banyak mengarang fiksi, menetap di Bandung. Cerpen pernah dimuat di: Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Solopos, Padang Ekspres, Rakyat Sultra, Detik.com, Satupena.id, Bacapetra.co, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here