Kisah umat manusia antara lain adalah kisah pergulatan sengit dengan wabah. Tidak heran tentu saja bila banyak suku maupun bangsa memiliki kata atau konsep lokal mengenai wabah. Di masa kanak nun dahulu di sebuah kampung di Tanah Bugis, sembari bermain atau bergelut dengan kawan sebaya, seringkali kami bertikai dan mengucapkan kata tanya nanreko sai? Kira-kira berarti “siapkah kau mati ditelan wabah?” Kata itu kami ucapkan setiap kali meragukan pernyataan atau bualan seorang kawan. Orang-orang tua biasanya memarahi kami setiap kali mendengar kami mengucapkan kata-kata itu.

Belakangan baru saya paham bahwa kata “sai” itu merujuk pada wabah, bukan hanya penyakit melainkan gering dalam skala penyebaran yang luas. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya akhirnya mengenali kata-kata serupa dalam aneka bahasa suku selain Bugis. Kata garring pua dalam Bahasa Makassar, kata pageblug dalam Bahasa Jawa, kata gerubug dalam Bahasa Sasak memiliki makna yang kurang lebih sama. Kata atau konsep lokal itu berhimpitan dengan kata atau konsep mengenai wabah yang saya peroleh dari bangku pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat seperti kata outbreak, epidemic maupun pandemic (wabah dalam skala dunia).

Wabah Covid-19 yang berskala besar bahkan mendunia (pandemi) yang kita alami saat ini tentu saja  bukanlah yang pertama yang melanda dunia dan juga Nusantara. Berabad-abad lampau wabah “kematian hitam” (black death) membuat dunia babak belur. Wabah pes yang mengerikan membuat banyak bangsa porak-poranda. Di masa yang lebih dekat, sekitar satu abad lalu, wabah akbar Flu Spanyol menerjang dunia, hampir bertepatan dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama. Amukan Flu Spanyol (1918-1920) menelan korban jutaan jiwa dan menjalar jauh hingga ke Hindia Belanda. Sejumlah literatur menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta orang tewas akibat Flu Spanyol di seluruh dunia, dan sekitar 1,5 juta jiwa di berbagai daerah di Hindia Belanda. Liputan surat kabat dan juga sejumlah karya akademik berupa buku dan artikel jurnal merekam dahsyat dan mencekamnya wabah Flu Spanyol di Nusantara.

Namun selain mencatat besaran dan kengerian wabah Flu Spanyol di Hindia Belanda, literatur-literatur tersebut juga merekam kelambanan daya tanggap pemerintah kolonial dan peran penting kaum cendekia dalam upaya menanggulangi wabah tersebut. Di antara kaum cendekia bumiputera kala itu, peran Doktor-dokter Abdul Rivai, sangat menonjol. Rivai, sosok luar biasa dan berjasa sangat besar namun tidak banyak dikenal bahkan di kalangan medis di masa kini, lantang mengkritik tindakan lambat pemerintah. Berkat suara lugas Rivai dan kawan-kawan di Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda) akhirnya Influenza Ordonantie—protokol resmi untuk menanggulangi epidemi influenza di masa depan—diresmikan pada Oktober 1920 setelah melalui debat sengit di parlemen dan pemerintahan (Ravando Lie, Seabad Flu Spanyol, Historia, 2018). Sebuah kemajuan penting meskipun jelas telat mengantisipasi wabah tersebut.

Wabah dan kaum cendekia memang memiliki hubungan unik. Di masa modern setelah penemuan mikroskop yang memungkinkan kaum cendekia seperti ilmuwan biomedis-kesehatan meneliti dan mengembangkan sains mengenai aneka kuman dan penyakit-penyakit infeksi, kalangan ini seringkali menjadi “penabuh kentongan” ketika ancaman wabah, penyakit dan kematian dalam skala besar datang. Ironisnya, sangat sering peringatan dari kaum tercerahkan ini diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Tentu tidak mengherankan bila Abdul Rivai menjadi sosok paling menonjol ketika wabah Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Abdul Rivai jelas seorang perintis dan yang pertama dalam banyak tonggak sejarah ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu kedokteran-kesehatan di Nusantara. Ahli sejarah kedokteran, Professor Hans Pols dari Universitas Sydney (Australia), dalam bukunya yang mengharukan “Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan para Dokter Indonesia” (Kompas, 2019) menempatkan sosok dokter Rivai di bagian awal. Professor Pols tidak memiliki pilihan lebih baik karena sosok Rivai seperti sebuah gerbang untuk memasuki lorong waktu demi mengenali sosok-sosok yang melahirkan nasionalisme Indonesia dan konteks zaman itu.  

Rivai memang merupakan lulusan pertama Dokter Djawa (nama STOVIA dari tahun 1851-1902) dan ia pula yang pertama menerima pendidikan medis lanjutan di Belanda dan lalu meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universitas Ghent, Belgia. Rivai adalah pemuda keras kepala, bercita-cita tinggi dan pekerja amat keras. Namun ia sangat kecewa bahwa kualifikasi medis yang diraihnya dari Sekolah Dokter Djawa di Batavia hanya mengantar dirnya dalam posisi rendah dan penuh diskriminasi dalam sistem kesehatan kolonial.

Karena itu pemuda Rivai ingin membuktikan pada sistem rasis-diskriminatif itu bahwa seorang berkulit cokelatpun mampu meraih gelar medis bahkan doktoral di “jantung ilmu pengetahuan dunia” yakni di universitas di Eropa. Ketika berada di Belanda saat itu, ia juga menjadi mentor kaum nasionalis dan pelajar lebih muda seperti Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir. Ia membuktikan diri sanggup menyelesaikan studi medis dan bahkan doktoralnya yang membuatnya secara hukum diakui setara orang kulit putih sekembalinya dari Eropa. Namun apa boleh buat, pengakuan hukum di atas kertas tidak dengan sendirinya membuat Rivai dapat sepenuhnya meraih perlakuan setara dari orang-orang kulit putih dalam kehidupan sehari-harinya  di Hindia Belanda ketika itu.

Diskriminasi dan rasa perih yang senantiasa ditorehkan oleh sistem kolonial membuat Rivai selalu tertarik pada bidang jurnalisme dan politik. Dua bidang yang bisa menjadi ajang pelampiasan rasa perih kaum bumiputera. Agak ironis sebenarnya menyadari bahwa tak banyak lagi yang mengingat sejarah betapa Rivai juga sebenarnya adalah perintis dunia jurnalisme dan kritik sosial di Nusantara. Ia merintis pendirian Bintang Hindia Belanda pada 1902, sebuah majalah bergambar untuk orang-orang bumiputera terpelajar. Dalam periode hidup selanjutnya  selain bekerja sebagai dokter ia kemudian masuk dalam bidang politik dan menjadi anggota Volksraad. Perannya sebagai ilmuwan, dokter, politikus sekaligus naluri sebagai wartawan yang membuatnya lantang “menabuh kentongan” mengingatkan pemerintah kolonial dan masyarakat kala itu mengenai ancaman wabah, “sai”, “garring pua”, “pageblug”, “gerubug” Flu Spanyol.

Abdul Rivai dan para sejawatnya yang telah memainkan peran “penabuh kentongan” terhadap bahaya Flu Spanyol tentu memiliki banyak kemiripan ketika sejak bulan Januari 2020 lalu sejumlah ilmuwan dan profesional kesehatan di Tanah Air juga mulai gencar mengingatkan pemerintah untuk  serius mewaspadai virus Corona baru yang waktu itu menerjang Wuhan di China tengah. Seperti dokter Rivai dan kawan-kawan, peringatan para ilmuwan dan tenaga kesehatan masa kini juga tidak segera ditanggapi pemerintah. Ada waktu dua bulan terbuang dan kini kita harus menebusnya dengan banyak korban jiwa, termasuk nyawa para profesional kesehatan, para dokter dan perawat serta tenaga kesehatan lainnya yang bekerja keras mengatasi Covid-19.

Doktor Rivai dan kawan-kawan segenerasinya di atas sana mungkin menangis melihat anak-anak cucu atau para pelanjut mereka menabuh kentongan mengingatkan bahaya wabah di depan mata namun jatuh di telinga yang tuli atau pura-pura tuli. Dokter Rivai dan kawan-kawan sejawatnya mungkin berurai air mata  melihat para tenaga kesehatan Indonesia yang harus berjuang mati-matian menghadapi Covid-19 tanpa alat pelindung diri memadai.

Rivai beserta para bapak dan ibu bangsa berduka melihat betapa kita belum benar-benar belajar dari sejarah.*



===================
Sudirman Nasir, peminat sejarah dan sastra, pengajar-peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here