Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here