Rumah ini bagaikan galeri. Dindingnya rapat tertutup lukisan. Lekuk punggung pegunungan, halaman lapang, rerumputan, dan pohon rimbun. Ada kami berempat saling bergandengan tangan. Aku, istriku, putra kami yang duduk di kelas 3 SD, dan si bungsu, sang pelukis ulung yang saat ini masih belajar di TK kelas nol besar.

Di sudut dinding yang lain tampak gambar deretan gedung tinggi dan tangan-tangan panjang alat berat yang sedang bekerja. Ada pula gambar-gambar abstrak. Mungkin ini yang paling banyak. Tarikan garis memanjang, meliuk-liuk, bahkan melingkar liar. Indah sekali. Beraneka warna. Betah berlama-lama memandangnya. Seperti lukisan purba di dinding gua. Dilihat berapa kalipun semuanya selalu terasa baru. Mengantarkan penikmatnya ke dunia dengan cerita-cerita luar biasa yang tak pernah ada habisnya.

Kami beruntung bisa menyaksikan lukisan-lukisan dahsyat ini. Sejumlah kerabat dan sahabat yang datang ke rumah juga ikut memuji. Kualitasnya memang baik, sesuai usianya.

Tak terhitung krayon dan spidol air yang sudah dihabiskan. Hampir setiap bulan  minta dibelikan lagi. Kami turuti. Apalagi, setelah dia mulai menggambar di atas kertas. Meski begitu, gambar-gambar di dinding tetap kami biarkan begitu saja. Gambar-gambar itu terlalu istimewa untuk sekadar digantikan dengan warna-warna monoton, mulus, dan bersih. Dinding rumah seperti itu terlalu membosankan. Setidaknya begitu perasaan kami sekarang.

Bulan lalu beberapa lukisannya di lembar-lembar kertas itu mulai kami pajang di sisi dinding atas. Masih banyak bagian kosong yang selama ini belum tersentuh karya goresan tangannya. Kami memang bukan ahli desain interior. Tapi, terus terang saja, kami puas. Tampilan rumah ini dari hari ke hari bertambah sempurna.

Objek gambarnya pun terus berkembang. Dia kini mulai membuat gambar pesawat, kapal perang, dan kereta api dengan gerbong yang superpanjang. Sampai lima helai kertas gambar harus dijejer dan disambung dengan isolasi. Keesokan hari tiba-tiba dia sudah bisa menyajikan pemandangan bawah air. Gambar yang ramai. Ikan-ikan bertubuh jumbo berenang kesana kemari dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berukuran besar yang mengapung menuju permukaan. Ada orang-orang di dalam gelembung itu. Terkadang satu, dua, bahkan empat.

’’Masak ada orang di dalam gelembung udara, ’’ celetukku, sambil tersenyum menggoda.

’’Lagi ngapain mereka di dalam gelembung napas ikan? ’’ potong istriku. Saat mengucapkan itu, dia sempat melirikku tajam. Dari tatapannya, aku tahu dia berusaha mengingatkan aku agar tidak merusak bangunan imajinasi buah hati kami yang masih polos itu.

’’Mereka teman-teman nabi Yunus, ’’ katanya, sambil terus menggoreskan krayon membuat degradasi warna ungu yang sendu.

’’Guru ngaji di masjid bilang, nabi Yunus diselamatkan ikan raksasa waktu tenggelam di laut. Semua orang di dalam gelembung udara ini juga diselamatkan ikan-ikan itu. Sekarang mereka dilepas agar mengapung dan terbang ke angkasa,’’ lanjutnya.

’’Bukannya ikan itu dikisahkan hanya menyelamatkan Nabi Yunus. Dan, hanya seekor ikan, bukan banyak ikan?’’ tanyaku lagi.

’’Awalnya iya. Tapi, ikannya bertelur dan bertambah banyak. Mereka terus menyelamatkan orang. Sampai sekarang,’’ tuturnya dengan mata berkedip.

Kami tertegun. Berusaha mencerna penjelasannya. Nabi Yunus. Orang-orang yang tenggelam. Segerombolan ikan raksasa keturunan Nun. Gelembung udara. Penyelamatan. Banyak kata kunci yang belum kami pahami. Tapi, kami tidak mau mendesaknya untuk terus bercerita. Biarlah dia menyempurnakan imajinasinya terlebih dulu. Sepuasnya. Toh, masih banyak ruang terbuka di dinding rumah ini yang bisa dipakai untuk memajang gambar-gambar itu.

***

Seharian kami sekeluarga pergi ke water park di dekat perumahan. Anak-anak bermain beragam wahana dengan gembira. Termasuk, walking ball. Sebenarnya aku khawatir saat mereka masuk ke dalam bola berukuran besar dan berlarian ke sana kemari di atas air seperti hamster. Tapi, manakala teringat kembali gelembung udara dengan manusia yang muncul dalam gambar putra kami itu, aku berharap imajinasinya tidak berkembang lebih aneh lagi. Teralihkan dengan serunya bermain walking ball. Entahlah, setiap melihat gambar itu aku merasa sangat tidak nyaman.

Tapi, harapanku jauh panggang dari api. Menjelang waktu makan malam, saat hendak menuju ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepada beberapa lukisan itu. Sekarang tampilannya seperti komik. Manusia-manusia dalam gelembung sudah memiliki identitas. Dengan cepat aku memanggilnya.

’’Ini tulisan adik?’’ tanyaku, pelan. Dia mengangguk. Tulisannya memang belum rapi, tapi sudah bisa dibaca.

’’Ada yang menyuruh atau adik mengarangnya sendiri?’’. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan pertanyaanku dan langsung berlari ke depan televisi. Kembali menonton film para ksatria dan monster raksasa dari Jepang yang sempat terganggu oleh panggilanku.

Aku hendah mengejarnya. Tapi, istriku yang tadi berada di dapur rupanya sudah datang menghampiri. Dia membawa sendok berisi kuah asam pedas kepala ikan sembilang dan memintaku untuk mencicipinya. Aku langsung memberi kode oke dengan jariku.

’’Tadi tanya apa sama adik?’’.

’’Gak apa-apa. Cuma mau ngajak ngobrol soal gambarnya. Coba lihat itu,’’ jawabku sambil menunjuk salah satu lukisannya. Lukisan gelembung udara yang keluar dari mulut ikan dengan tiga manusia di dalamnya. Istriku tampak mengernyit. Dia melangkah mendekat.

Di sekitar gelembung ada coretan kecil. Nama-nama. Setiap coretan sepertinya mewakili identitas dari tiga manusia di dalam gelembung udara itu. Masing-masing tertulis: Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

’’Ini nama-nama siapa?’’ ujar istriku. Ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang begitu besar.

’’Tadi aku juga tanya begitu sama adik. Tapi, dia lagi asyik sekali sama filmnya,’’ kataku. Kami pun sepakat untuk sejenak melupakan perbincangan soal nama-nama misterius itu dengan beranjak ke meja makan. Piring-piring beredar dengan cepat. Anak-anak makan dengan lahap. Suasana sangat menyenangkan.

Dalam kondisi perut yang kenyang, kami menuntaskan malam dalam kesibukan masing-masing. Tak terpikir lagi untuk membahas nama-nama dalam gambar. Kebetulan ada beberapa bagian dari laporan keuangan minimarket milikku yang harus aku periksa. Istriku sendiri kelihatannya sudah lelah dan memilih untuk rebahan di sofa sambil menonton kompetisi stand up comedy di televisi.

Keesokan pagi aku dan istriku kembali gempar. Dua manusia dalam gambar gelembung ikan yang lain juga ikut memiliki nama. Lukisan itu kami tempel persis di sebelah pintu kamar mandi. Dari bentuk huruf-hurufnya, kami yakin adik juga yang menuliskannya.

Posisi lukisan ini agak tinggi. Pastilah dia menyeret kursi untuk bisa menjangkaunya. Kami tak habis pikir, kapan adik melakukannya. Istriku sudah bangun sejak pagi buta untuk menyiapkan sarapan. Apa buah hati kami yang lucu membuat tulisan sebelum kami semua terjaga?

Hingga beberapa menit kemudian kami masih termangu. Berulang-ulang kami membaca kombinasi nama yang tertulis dengan pensil. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Nama-nama siapa lagi ini? Pikiran kami benar-benar buntu.

Secara spontan kami mengecek lagi tujuh gambar lain dengan tema serupa. Pemandangan bawah laut atau suasana dermaga dengan ikan-ikan berenang di bawahnya sambil mengeluarkan gelembung berisi manusia-manusia. Kecurigaan kami terbukti. Semua manusia dalam gelembung udara ikan sekarang sudah memiliki nama. Persisnya dua suku nama.

Saat masih asyik memperhatikan nama-nama itu, tiba-tiba adik sudah berdiri di belakang kami. Sembari menghabiskan susu di gelas yang tinggal setengah, dia meminta untuk segera diantar ke sekolah. Lokasi TK masih dalam komplek perumahan. Hanya berjarak sekitar 200 meter.

’’Siang nanti aku akan ajak adik ngobrol. Pelan-pelan,’’ ujar istriku. Aku mengangguk. Pikiranku agak kacau. Aku merasa khawatir. Tiba-tiba sangat khawatir. Entah terhadap apa.

***

Petugas berseragam hilir mudik keluar masuk satu kavling ruko tiga lantai di tepi jalan yang masih masuk dalam lingkungan perumahan kami. Puluhan awak media juga berkerumun. Ada yang memotret, ada pula yang sibuk merekam. Warga sekitar tak menyangka ruko itu menjadi klinik aborsi ilegal. Dari depan sekilas seperti agen travel merangkap toko obat tradisional biasa.

Sisi belakang klinik aborsi itu berada persis di depan TK. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi dua meter dan akses jalan perumahan selebar lima meter. Di balik pagar terdapat lubang septic tank. Petugas sudah membongkar dan menemukan banyak serpihan tulang belulang calon jabang bayi.

Dari berita yang kami ikuti, petugas mengamankan sejumlah orang. Dokter, asisten dokter, dan perawat. Termasuk, dua perempuan yang masih dirawat di klinik tersebut beserta pasangannya masing-masing.Yang membuat aku dan istriku terperanjat adalah kami seperti mengenal nama mereka.

Buru-buru kami memeriksa lagi lukisan pemandangan bawah laut dengan ikan yang mengeluarkan gelembung di sebelah pintu kamar mandi. Benar saja. Nama-namanya memang sama. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Ola dan Epi, dua gadis belia yang dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.

Ada lagi tiga perempuan lain yang juga sudah diketahui identitasnya dan langsung diamankan. Dari berkas catatan klinik, mereka diduga melakukan aborsi sekitar dua bulan  lalu. Bergidik kami sewaktu membaca nama-namanya. Sabi, Vida, dan Darum. Bukankah nama-nama ini pula yang muncul dalam gambar karya si bungsu? Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

Wajah istriku tampak sangat prihatin. Dia mulai curiga, bahkan meyakini bahwa puluhan nama lain dalam gambar si bungsu masih berkaitan dengan praktik aborsi yang terjadi entah dimana. ’’Anak-anak malang itu tidak sempat terlahir dan memiliki nama. Mereka membawa nama kedua orang tuanya,’’ ucapnya dengan suara bergetar. Ada kengerian yang bercampur dengan kegeraman.

’’Apa anak kita mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib atau mungkin ruh dari janin-janin penasaran?’’ lanjut istriku.

Aku hanya mengangkat bahuku. ’’Enggak tahu,’’ jawabku. Sebenarnya aku sekarang ikut khawatir. Berbagai kasus penemuan orok atau janin yang terbungkus dalam plastik kresek berseliweran di benakku. Pikiranku bertambah kacau.

Istriku mengajakku untuk segera mendekati si bungsu yang kembali sibuk dengan kegiatan melukisnya. Kali ini dia melukis sebuah kapal dengan pemandangan bawah lautnya yang khas. Seekor ikan berukuran raksasa tampak berenang sambil mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Seperti yang sudah-sudah, ada satu tubuh manusia di dalam gelembung yang dalam pandangan kami sekarang tampak sebagai tubuh janin atau orok. Lengkap dengan tulisan nama di sebelahnya.

Jantungku seperti mau copot. Telingaku berdenging. Keningku berdenyut. Aku hampir tak bisa lagi mengikuti perbincangan sederhana antara si bungsu dengan ibunya. Sesekali mereka tertawa cekikikan.

Berulang kali kulirik istriku. Semoga saja dia tidak menyadari betapa kalut diriku sekarang. Sebab, dua kombinasi nama yang tertulis dalam coretan gambar si bungsu adalah penggalan namaku dan pegawaiku di kantor. Seorang perempuan yang hampir sebulan terakhir mengambil cuti pasca menggugurkan kandungannya di klinik tersembunyi luar kota.(*)



=================
Priyo Handoko,
mantan jurnalis (2006-2018) yang suka menulis prosa. Cerpennya dipublikasikan di beberapa media, antara lain: Majalah Femina, Jawa Pos, Radar Banyuwangi, dan Ideide.Id. Kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here