Hikayat Pala

kisahku sampai juga di benua-benua ini
ditiup angin selatan dan angin barat, didendangkan nelayan
memburu marulaga pada bulan  alo kasuang
hinggap ditelinga nahkoda kaparo bersama serombongan kelasi berkudis
menyanding sebotol minuman keras dan peta yang kumal
berteriak-teriak parau, meracau nyaris putus asa
–“ad loca aromatum!”
perjalanan edan untuk persembahan maharaja yang lapar

ini si tua, hidangan rahasia penghuni sorga
mendekam dalam ceruk ceruk lembah
dilindungi mantram-mantram dan dentam tifa
pulau-pulau bukit menjulang, gunung api,
pasir-pasir perak serta laut warna kecubung
gumpalan-gumpalan padat sejarah yang mendadak telanjang

aku si tua, berhasil membuat para jagoan mengidap insomnia
mata caling beling terkesiap menatapku lalu dentam sepatu
anyir angin bersiutan, wangi amunisi, leher meriam yang dibelai
seringai badai api menggasak pantai-pantai
batang-batang lenganku terkayuh jauh
meninggalkan celah lembah, pasir perak dan laut warna kecubung
mengembara dan terbantai seperti nabi disalib di tengah bandar

ini si tua, korban sekaligus pahlawan
jadi penumpang sial dipaksa berlayar ke ujung-ujung jagat
tak kuasa mengutuk apalagi menolak

ini aku si tua, kini tak lagi digdaya
seperti dulu saat sebiji merah coklatku ditukar maharaja
dengan pulau di ujung dunia yang lain lagi





Lungkan*)


Pohon keramat tempat dewa-dewa menaburkan azimat
di pucuk-pucukku orang suci menaiki tangga langit
daun-daun bersayap seerti sajak-sajak rindu
mencari tambatan sauh untuk berlabuh

Dalam lemir daunku kugelar sebuah peta
amsal perjalanan yang diterjemahkan cahaya purnama
warna putih yang melumuri serabut-serabut hijauku
seperti kelokan sungai sejarah asa usul air susu ibu

Simpanlah rindumu pada helai daun-daunku
menyimpan rahasia cahaya sepanjang masa
bersembunyi dalam gericik sungai rerimbun belukar
selubung mantram-mantram paling rahasia
tempat di mana kau bisa menafsir waktu
yang begitu angkuh dalam dekapan
timbunan misteri paling musykil
dalam ingatan-ingatan yang mengerdil
tapak-tapak jejak makin samar dilacak

Dalam gembuk daunku
kusimpan cahaya meski kau tak pernah tahu
karena kini kau begitu asing pada purnama
juga makin asing dengan wajah sendiri
yang makin samar dirajam waktu

*)Pohon yang dianggap keramat di desa Banada, Talaud Sulawesi Utara.

Pohon ini ketika bulan purnama daunnya yang hijau berubah menjadi putih.





Kelor

di ringkih pucuk-pucuk daunku kuwartakan jam-jam keberangkatanmu
persis seperti Bisma yang memilih jam ajalnya sendiri
kutabuh denting-denting rahasia yang selama ini kau simpan di jakunmu
serupa bidadari menari  menodongkan lancip belati
sembari mengulurkan mawar cintanya

anggaplah ini  perjalanan pulang tamasya
dan anak-anak di pelataran rumah menanti gelisah
menunggu sepotong cerita tentang romantika
petualangan putri + pangeran beserta kuda putihnya
sebelum akhirnya menyerah pada mantram penyihir tua





Dua Jerit Bambu Dalam Nasib Yang Beda

~tabuh dara muluk

orang-orang larut dalam selimut
meski gaung bertalu-talu memanggil maut
kuterjemahkan dalam nyaring bunyi di dasar sunyi
bersama jagat yang bungkuk dalam hujan
dan rindu bersujud bersama sepukau nyeri
sebelum esok api membakar diri
menjelma abu larut dalam pedhut
beku dikungkum waktu

~tabuh titir

akhirnya sampai juga pada beringas ini
pada tabuh yang runtun dituntun malam
membara serupa gurun kerontang yang kejam
syahwat pemburu memburu anyir darah
hanya bumi yang ihlas menampung pusat panasnya





Membaca Urat-Urat Daun

bacalah dengan keluguan bocah mengeja aksara
meski dengan lidah cedal dan gemetar
bacalah dengan ketekunan pertapa
bersamadi menerka arah silir angin
menjumpa lumut-lumut yang perlahan
mengerak di punggung-punggung batu

membaca urat-uratku dapat kau temukan jarum kompas yang patah
bersama sejarah yang luka dan kampung-kampung kita yang dulu terbakar
di petilasannya bersama-sama dapat kita tanam kembali kebun-kebun bunga
dan akan bisa kembali kau hikmati kisah-kisah cinta bapa angkasa ibu bumi
yang membesarkan benihnya dengan kesabaran ruh petani.





Pisang Bakar Dan Sebiji Trembesi Serupa Khuldi

seseorang di dalam kamar
merajuk dalam mimpinya:
“aku ingin pisang
yang tumbuh di bilik sorga,
ditanam para malaikat,
dibakar dalam rahasia api!”

seseorang entah siapa
menjawab dalam mimpinya,
“tak ada pisang yang ditanam
dan bisa dibakar,  
di ceruk ini cuma ada
sebiji trembesi sebesar khuldi!”

seseorang terjaga dari mimpi,
di mejanya sepiring pisang bakar
telah jadi dingin dan basi
langsung ke luar kamar
pergi ke angkringan
memesan sebiji pisang
minta dibakar di perapian

pisang separo terbakar
mendadak ditinggal pergi
sebelum sempurna matang
karena pandang  matanya
terbentur hitam warna arang



===================
Tjahjono Widijanto. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpula Esai Budaya (2017) Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009)

Diundang dalam berbagai acara sastra, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival (2009). Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here