Adam dan Hawa di Surga

apalah arti bedanya tanah api. jika hanya setipis malam dan sunyi
dalam api ada tangan-Ku yang panas. dalam panas ada tanah-Ku yang belas
lalu kenapa dalam sepercik saja. engkau padamkan api-Ku yang menyala
padahal lewat kun fayakun yang sunyi. sekepal tanah bisa lebih berapi

malaikat bercahaya tanpa nafsu. pohon bersujud pada-Ku pecah batu
surga menyala terang tapi pendiam. neraka berkobar tak menyulut dendam
seperti halnya buah dan pohon rindang. keduanya saling menjaga seimbang
maka kenapa engkau besar kepala. melipat tangan dan memalingkan mata

ada di surga melihat iblis pergi. meninggalkan diri dan terbakar api
dan malaikat di depannya bergeming. dalam sujud mereka semakin hening
tetes-tetes api menumbuhkan api. dari api yang tumbuh berapi lagi
tapi api tak pernah bisa membakar. bila di hati wangi kembang yang mekar

Gapura, 2019




Adam dan Hawa dari Surga

di ranting pohon khuldi berbuah khuldi. dalam buah khuldi ada bisik sunyi
dari bisik sunyi Adam makan luka. dari luka Hawa nelan biji luka
di luar pagar iblis bertepuk tangan. Adam dan Hawa melepaskan pelukan
seperti daun terlepas dari tangkai. keduanya melayang lemas terkulai

di sebuah bukit Adam sendirian. di sebuah padang Hawa kesepian
tapi kini rindu adalah ujian. cara untuk menyadari kesalahan
dari rindu ke rindu Adam dan Hawa. saling mencari hingga di ujung doa
keduanya bertemu dalam ampunan. Allah memberinya matahari bulan

Gapura, 2019




Ibrahim AS dan tuhan yang Batu

sebab tuhan di dadanya itu batu. ia mengasah tajam sebilah rindu
ia potong kepala-kepala tuhan. semua diam selain kesunyian
lalu ia kembali letakkan rindu. di tangan tuhan lain yang malu-malu
seolah tangan kakunya yang memenggal. bukan dirinya yang kini sudah tanggal

Namrut cemberut melihat kenyataan. kapaknya melekat di genggaman tangan
Ibrahim Tersenyum dan menutup mata. tuhan telah mati hilang kepalanya
meski akhirnya Namrut mengobar kayu. tubuh Ibrahim dilempar tanpa ragu
tapi rupanya api adalah kasur. di dalamnya Ibrahim nyenyak tertidur

Gapura, 2019


Ibrahim AS dan Tuhan yang Baru

sampailah ia di gua paling sunyi. lubang kecil di hatinya yang puisi
di antara bunyi gemericik air. batu-batu indah melantunkan zikir
rintihan daun-daun saat terlepas. jerit embun yang terpasung duri keras
desah tertahan tanah-tanah yang retak. rindu yang dipendam hujan kian bengkak

akhirnya di kedalaman paling sunyi. Tuhan benar-benar menampakkan diri
lebih cahaya dari bintang dan bulan. matahari pun tak sebatas kilauan
masih lebih dekat dari detak nadi. di tangan-Nya langit bumi hidup mati
Ibrahim bersujud meninggalkan resah. malaikat memutari dengan Allah

Gapura, 2019


Kepasrahan Ismail AS

kepasrahan Ismail adalah domba. kepatuhan Ibrahim pisau cahaya
keduanya bertemu di satu waktu. sunyi menjaga Ismail di Allahu
dari leher domba darah jadi haru. dari mata Ibrahim menetes nafsu
Ismail bagai kuda gurun sahara. ia berlari dari cinta ke cinta

kaki Ibrahim lumpuh tak ada daya. tubuh jiwanya menyandar pada doa
mata semakin lembab diguyur salah. tulang dada retak di runtuhi resah
tangan bergetar menyerahkan puisi. kepala tertunduk kembali ke bumi
Allah menerima persembahan kecil. malaikat mengembalikan Ismail

Ismail Ibrahim telah berpelukan. Siti Hajar melempar batu di tangan
ketiganya berjalan menuju rumah. dari luka ke luka melepas langkah
di bibir pintu Allah membuka tangan. malaikat menghampar sayap di depan
doa-doa menutup pintu di pagar. puisi menyalakan lampu di kamar

Gapura, 2019




=====================
Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan (Basabasi, Juni 2017) menjadi salah satu pemenang di Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival 2018 kategori Promising Writer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here