Judul Buku   : Manusia Belang
Penulis      : Alfian Dippahatang
Penerbit     : Basabasi
Cetakan      : Pertama, Maret 2020
Halaman      : viii + 160 halaman; 14x20 cm
ISBN         : 978-623-7290-77-3

Maret 2019, kumpulan cerpen Alfian Dippahatang terbit dengan judul Bertarung dalam Sarung dan Kisah-kisah Lainnya. Rentetan cerpen bertema tradisi dan lokalitas Alfian dalam buku termaksud diawali cerpen berjudul “Ustaz To Balo”. To balo adalah “manusia belang” penghuni kawasan Pegunungan Bulu Pao, yang meliputi Kabupaten Barru dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Tubuh to balo sama seperti tubuh manusia pada umumnya, kecuali kulit mereka yang dipenuhi bercak-bercak putih.

“Ustaz To Balo” mengisahkan seorang to balo yang minggat untuk menghindari kematian, entah kematiannya atau kematian anggota keluarganya. Ia diterima dengan baik oleh seorang tokoh agama Islam, yang bukan saja mengajarinya ilmu agama, tetapi juga menyerahkan anak perempuannya untuk diperistri to balo tadi. Pernikahan mereka diarungi dengan baik untuk beberapa waktu, tidak ada masalah-masalah yang menimpa mereka kecuali satu: apakah nanti anak mereka akan to balo juga? Istri to balo tentu tidak mengharapkan jawaban “iya”.

“Dewata memberi tanda balo pada kulit mereka, agar mereka bisa merenungi kesalahan masa lalu. Leluhur mereka yang diutus-Nya, memercayai roh yang Ia ciptakan sebagai tipuan. Hal itu sengaja Ia lakukan untuk menguji mental dan kesetiaan mereka. Dewata kecewa, sebab Ia menghendaki terciptanya semesta, agar mereka menggunakan akal dan tak berpaling. Dewata juga menghendaki mereka beranak pinak agar semakin banyak golongan mereka menyembah kepada-Nya,” tulis Alfian dalam sinopsis—dan rupanya juga sekaligus epilog—novel Manusia Belang (2020).

Lain dari cerpen “Ustaz To Balo” yang sudah disinggungkan dengan Islam, dalam novel Manusia Belang, Alfian lebih mengeksplorasi keyakinan dan semesta to balo itu sendiri. Alfian mengawali novelnya dengan prolog sangat singkat: “Jadilah!” pungkas Dewata. Kata “jadilah” sarat ihwal ketuhanan dan penciptaan. Alfian telah memberi isyarat bahwa novel ini mencapai hal-hal yang tidak tergapai indra, alih-alih melihat to balo sekadar sebagai fenomena. Alfian, dalam novel ini, mengisahkan to balo secara kosmologis.

Manusia Belang terdiri dari sepuluh bab, yang masing-masing bab berlatar ruang dan waktu—bahkan tokoh!—berbeda-beda. Bab pertama mengisahkan to balo semasa gerilya Kahar Muzakkar, tepatnya pada September 1954. To balo bernama Mappi tewas terbunuh pasukan gurilla. Menghadapi mayat Mappi, Monri, salah satu personel gurilla, mengalami gejolak batin, antara rasa bersalah membunuh sesama manusia dan prestasi membela agama Allah.

“Ia merasa bersalah, sebab ini adalah dosa. Ia kembali mengingat pelajaran agama Islam yang pernah ditempuhnya dan didengarnya dari penjelasan ayahnya sendiri, bahwa tak ada alasan, membunuh sesama manusia adalah dosa besar… Monri membunuh orang yang tak tahu apa-apa persoalan Negara Islam. Monri menutup kebahagiaan Mappi untuk menikah dengan gadis tiga puluh dua tahun asal Bonto Payung.”

Mappi terbunuh menjelang hari pernikahan dengan Manni, pujaan hatinya. Monri, tokoh di pihak antagonis, mengalami pergulatan batin. Saya lantas penasaran apa yang terjadi dengan Monri, juga Manni, kelak. Apakah plot cerita Alfian akan mengarahkan keduanya untuk bertemu, mengalami relasi ganjil dan pelik? Ternyata tidak. Begitu bab pertama selesai, bab kedua, ketiga, dan seterusnya, mengisahkan tokoh-tokoh lain, pada waktu yang juga lain. Dari bab pertama ke bab kedua, misalnya, terjadi lompatan waktu yang sangat jauh, dari 1954 ke 1996.

Bab-bab dalam Manusia Belang masing-masing terasa utuh sebagai cerita, tanpa mempunyai ketergantungan pada bab sebelum maupun setelahnya. Misalkan saya iseng membaca novel ini dari bab ketiga, lalu bab kesembilan, dilanjutkan ke bab kelima, dan seterusnya secara acak, pokok-pokok novel ini tetap dapat dicerna sempurna. Pembaca, dengan demikian, mungkin bertanya-tanya apakah Manusia Belang benar-benar novel atau lebih tepat disebut kumpulan cerpen?

Saya ingat dua buku yang mengalami dilema serupa: 9 dari Nadira (2009)—edisi termutakhirkan berjudul Nadira (2015)—oleh Leila S. Chudori dan Serayu Malam dan Kisah-kisah Lainnya (2018) oleh Muhamad Wahyudi, keduanya sama-sama diterbitkan dengan label kumpulan cerpen. 9 dari Nadira bertokoh Nadira dan keluarga, cerpen-cerpennya menyerupai bab-bab novel yang disusun nonlinier. Namun, Leila menyebut 9 dari Nadira sebagai kumpulan cerpen, bukan novel.

Serayu Malam dan Kisah-kisah Lainnya memang kumpulan cerpen. Bedanya dari kumpulan cerpen lain, cerpen-cerpen Wahyudi punya cara sendiri untuk terhubung satu sama lain. Artinya, Wahyudi tidak mengumpulkan cerpen-cerpennya yang berserakan di berbagai media massa. Wahyudi menulis cerpen-cerpennya dengan kesadaran masing-masing cerpen mesti berkaitan. Perjalanan pulang kampung naik kereta Serayu Malam menjadi benang merahnya. Seandainya Wahyudi mau, sungguh, Serayu Malam sudah layak disebut novel. Toh, Serayu Malam tetap terbit sebagai kumpulan cerpen.

Lantas, apa yang menjadikan Manusia Belang sah disebut sebagai novel? Padahal, Alfian menggunakan tokoh-tokoh yang berbeda dalam tiap bab, dan masing-masing bab dapat berdiri sendiri. Apakah hanya karena Manusia Belang telanjur dinobatkan sebagai juara #3 Sayembara Novel Basabasi 2019? Tentu saja, itu bukan jawaban valid.

Misalkan satu alasan saja cukup untuk menyebut Manusia Belang sebagai novel, sudah jelas karena semua bab dalam buku ini mengisahkan to balo. Masing-masing bab seperti sedang menceritakan aspek-aspek dalam semesta to balo. Alfian mungkin tidak ingin merasa terbatas, sehingga memilih tokoh-tokoh yang berbeda—pada zaman yang berbeda pula—tanpa merasa perlu harus saling berkaitan, demi tersampaikannya seluruh aspek kehidupan to balo dalam buku ini.

“Jika anggota keluarga genap, pasti ada keturunan yang meninggal,” tulis Alfian. Keyakinan bahwa jumlah anggota keluarga to balo harus ganjil itulah yang kerap Alfian jadikan premis cerita dalam bab-bab Manusia Belang. Setiap kali ada kelahiran, yang menjadikan jumlah anggota keluarga to balo genap, senantiasa disambut kematian. Bab-bab dalam novel menunjukkan berbagai kemungkinan kematian to balo, baik kematian yang dikehendaki atau yang tidak diinginkan, yang disengaja maupun “sudah kehendak Dewata”.

Saya ingat kicauan yang disematkan akun Twitter Ryu Hasan, “Kematian adalah risiko terbesar bagi organisme hidup, karena tidak akan pernah ada risiko lagi setelah organisme itu mati.” Kematian adalah “nasib” terakhir manusia, dan sebelum itu, tiap-tiap manusia menjalani nasib yang berbeda satu sama lain. Itulah yang dialami para to balo dalam Manusia Belang: bergulat dengan nasibnya masing-masing hingga Dewata memungkasi, “Jadilah!” []





=======================
Udji Kayang. Editor buku menyambi penulis lepas. Penulis buku Keping-keping Kota (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here