Seorang laki-laki meloncat dari balkon lantai 18 sebuah apartemen tua di pinggir kota, tempat di mana Tokoh Kita tinggal sendirian selama hampir lima tahun belakangan. Kepala laki-laki malang itu menghantam tembok lapangan bermain anak-anak, yang pada pagi dan sore hari biasanya menjadi tempat berkumpul ibu-ibu dan para pengasuh. Untung saja, saat laki-laki itu terjun bebas dari balkon apartemennya selepas azan Magrib, lapangan itu sedang sepi. Namun, bunyi berdebam dari benturan keras antara kepala dan tembok semen jelas telah menarik banyak mata untuk menoleh. Beberapa penghuni yang kebetulan duduk atau tengah lewat di sekitar situ langsung menghambur ke titik tempat laki-laki itu kini telah menjadi mayat. Dan, tak butuh waktu lama hingga kemudian orang-orang datang mengerubungi. Bukan untuk menolong, tentu saja, tapi untuk mengambil foto atau merekam video lalu membagikannya di media sosial masing-masing.

Kehebohan sempat berlangsung selama beberapa menit. Mungkin orang-orang di sana ingin memastikan bahwa yang bunuh diri itu bukan keluarga, kenalan, kekasih, ataupun simpanan mereka. Namun, begitu mereka yakin bahwa laki-laki itu bukanlah orang yang mereka kenal, satu per satu segera mundur, lalu kembali asyik-masyuk dengan gawai di tangan. Komentar teman-teman di dunia maya tentu lebih penting ketimbang berusaha sedikit saja menutupi jenazah korban dengan koran atau apa saja.

Dan, seperti biasa, seperti yang mungkin juga sudah Anda duga, petugas datang hampir setengah jam kemudian. Tentu saja bukan karena mereka tidak tahu tentang kejadian naas itu, melainkan karena demikianlah prosedur yang harus mereka patuhi.

Tokoh Kita hanya bisa bergidik menyaksikan pemandangan tak mengenakkan itu. Ia sebenarnya tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana, dan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, ia bergegas menuju lift untuk naik ke unit kontrakannya. Tapi, mulut para penghuni yang tak henti membicarakan tentang kemalangan laki-laki pelaku bunuh diri itu tetap saja sampai ke telinganya, dan bahkan, dari percakapan-percakapan mereka, ia bisa mendapatkan gambaran yang sangat rinci mengenai kondisi terakhir laki-laki itu: pinggangnya yang terpelintir patah; kedua bola matanya yang mendelik; hingga benaknya yang berceceran.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di kota ini. Berita tentang orang bunuh diri terdengar hampir terjadi setiap hari, dengan motif yang beragam. Media pun seolah berlomba-lomba memburu berita tentang fenomena bunuh diri ini, menceritakan setiap detail peristiwa, sebab-musabab, hingga mewawancarai orang-orang terdekat pelaku. Meski sempat dilarang pemerintah karena alasan tertentu, orang-orang media sepertinya punya taring yang lebih kuat. Bahwa memberitakan peristiwa bunuh diri adalah cara terbaik untuk mencegah korban berikutnya, demikian mereka berargumen.

Bagaimanapun, kejadian orang mengakhiri nyawanya secara paksa tetap tak bisa dihentikan. Bahkan, belakangan, media pun tak lagi bisa mengulik motif para pelaku bunuh diri, yang beberapa di antaranya sengaja meninggalkan pesan singkat bahwa mereka bunuh diri hanya karena begitulah mereka ingin mengakhiri hidup, bukan karena himpitan masalah, depresi, ataupun sebab-sebab lainnya yang biasa dijadikan alasan oleh para pelaku.

Orang-orang mengarahkan telunjuk pada pemerintah, menyalahkan lambannya upaya pencegahan yang dilakukan selama ini. Pemerintah pun dinilai tidak tegas dalam menghentikan media mengabarkan berita terkait bunuh diri, yang oleh kelompok tertentu dianggap menjadi pembenaran bagi calon pelaku untuk melancarkan niatnya. Mereka pun menuduh pemerintah kongkalikong dengan media, dan pada beberapa kesempatan, isu ini dimanfaatkan oleh opisisi sebagai amunisi untuk menyerang pemerintah.   

Tokoh Kita, bagaimanapun, tak ingin melibatkan diri dengan semua itu. Sudah sejak lama ia tak lagi peduli dengan segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pun dengan berbagai protes dan kritik yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap pemerintah. Hidup sudah terlalu rumit, dan ia tak ingin menambah pusing kepalanya dengan semua itu.

Begitulah, ketika akhirnya ia masuk ke apartemennya, Tokoh Kita akan segera memulai ritual malamnya: mengunci pintu dan jendela, menyalakan AC (yang suhunya selalu ia set pada 23 derajat), mengguyur badannya selama beberapa menit, lalu dengan telanjang bulat, ia akan masuk ke dalam sungkupan selimut. Biasanya ia akan tertidur pada menit ketujuh setelah kepalanya menyentuh bantal, atau jika matanya susah terpejam, ia akan memutar lagu-lagu kesukaannya, yang biasanya ampuh mengantarnya ke alam mimpi.

Alarm akan membangunkannya pada pukul lima lewat dua puluh menit. Lima menit akan ia habiskan dengan menatap langit-langit kamarnya, mengumpulkan kesadaran dari kelana malam. Bangkit, ia akan menuju lemari pendingin, mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lima menit berikutnya, ia akan menuntaskan segala hajat di kamar mandi, membasuh diri sesegera mungkin, dan segera bersiap ke tempat kerja. Memulai rutinitas sebagai mesin pekerja, demikian ia mengistilahkan kesehariannya sebagai seorang karyawan di sekolah bahasa tempat ia bekerja.

Awalnya, bermodal ijazah yang ia peroleh dengan susah payah selama hampir lima tahun, Tokoh Kita melamar ke sekolah itu sebagai tenaga pengajar, seperti yang selalu ia cita-citakan sejak lama. Pendidikan adalah intervensi paling beradab untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik, begitu prinsip yang ia pegang. Ia ingin menuliskan jalan kebaikan di kepala anak-anak yang masih putih bersih, menuntun mereka secara perlahan menjadi manusia yang tidak hanya bisa menambah kerusakan di dunia yang sudah sakit ini.

Namun, liukan takdir membawanya ke jalan yang sedikit berbeda: ia tidak diterima sebagai tenaga pengajar di sana, tapi karena kebetulan mereka sedang mencari seorang tenaga administrasi untuk menggantikan petugas lama yang baru mengundurkan diri, ia pun ditawari posisi tersebut. Saya bersedia, jawabnya waktu itu, penuh keyakinan. Ia berpikir, meski tak bisa terjun langsung mengajar anak-anak, dengan menjadi petugas administrasi di sekolah, ia tentu masih bisa mempelajari perkembangan mereka, yang semoga suatu hari kelak bisa ia pergunakan untuk hal-hal lain seperti menulis buku, menjadi pembicara, dan – seperti yang terus ia usahakan – jika ia menjadi pengajar nantinya.

Tentu saja waktu itu Tokoh Kita tak pernah membayangkan bahwa kerja yang menunggunya adalah tumpukan kebosanan yang tak pernah berujung. Lembar-lembar kertas, dokumen dan surat-surat, buku-buku, semua menunggunya setiap pagi, menyita lebih dari delapan jam yang harus ia berikan untuk sekolah itu, di luar panggilan-panggilan telepon serta tugas-tugas lain yang tidak disebutkan secara rinci di kontrak kerja.

Meski sempat mencoba peruntungan dengan mengajukan surat lamaran ke tempat kerja lain, Tokoh Kita akhirnya belajar satu hal: ia tak seistimewa yang ia pikir. Dan, pekerjaan yang kini ia tekuni adalah hal yang sepatutnya ia syukuri, mengingat jutaan orang di luar sana masih terus terombang-ambing dalam gelombang pengangguran. Bukankah pekerjaan inilah yang mampu membawanya keluar dari kamar kontarakan kumuh di pusat kota dan mampu menyewa apartemen – terlepas dari kondisinya yang ternyata juga memperihatinkan – yang lebih layak?

Demikianlah, hingga tahun-tahun berlalu, hingga ia tak lagi bisa membedakan antara dirinya dengan mesin yang sudah disetel oleh teknisi untuk bekerja sesuai instruksi yang sistem yang ada. Bahkan, pada hari-hari yang sangat membosankan, ia merasa telah menjadi bagian dari lembaran-lembaran kertas dan dokumen-dokumen sekolah yang selalu menumpuk di meja kerjanya.

***

Tokoh kita pernah jatuh cinta, tentu saja. Seorang guru bahasa Prancis yang sedang magang di sekolah itu berhasil mencuri hatinya. Senyum rekah gadis itu adalah api yang menghangatkan hari-hari Tokoh Kita yang dingin, yang membuatnya bangun dengan lebih bersemangat dan melupakan kebosanan hidup yang memaksanya berputar pada siklus yang sama hampir setiap waktu. Kehadiran gadis berkacamata itu mampu mengubah warna langit menjadi lebih biru dan bunga-bunga apa saja yang tumbuh di halaman sekolah terlihat lebih indah. Lidahnya pun terasa lebih sensitif, bisa mencecap rasa yang lebih dalam, menikmati sensasi yang belum pernah hadir sebelumnya. Ia makan lebih banyak, memuji dan menandaskan makanan yang sebelumnya bahkan tak pernah sanggup ia habiskan.

Sebagai guru magang yang membutuhkan ini-itu terkait administrasi dan dokumentasi, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan gadis itu. Namun, Tokoh Kita yang sopan tak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk membicarakan hal-hal lain di luar topik yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh gadis itu. Bahkan, untuk sekadar menanyakan apakah gadis itu bersedia makan bersamanya di kantin sekolah pada saat jam istirahat saja – sesuatu yang rasanya sangat wajar dilakukan oleh seorang lelaki kepada gadis yang dipujanya – ia sungguh tak mampu. Akan datang masanya, begitu ia berulang-ulang mengatakan pada dirinya sendiri setiap kali godaan untuk melontarkan pertanyaan itu muncul. Akan datang waktu yang tepat untuk memulai semuanya dengan cara baik-baik, pikirnya. Diam-diam, Tokoh Kita mulai belajar beberapa frasa dan kalimat dalam bahasa Prancis yang rencananya akan ia ucapkan saat mereka bisa mengobrol santai suatu hari nanti.

Namun, genap tiga bulan gadis itu bekerja di sana, saat masa percobaan mengajarnya selesai, Tokoh Kita yang masih menunggu waktu yang tepat itu, akhirnya mengerti konsekuensi dari kepengecutannya. Pada hari saat ia tak lagi menyandang status guru magang, gadis itu datang ke mejanya bersama Eric, rekannya sesama guru bahasa Prancis yang blasteran. Setelah mengambil beberapa dokumen terkait pengangkatannya, gadis itu mengajak Tokoh Kita untuk bergabung bersama mereka di kantin sekolah siang itu. Tokoh Kita tentu paham bahwa ajakan itu tak lebih hanyalah basa-basi yang tak perlu ia tanggapi dengan serius. Ia hanya mengatakan, “Terima kasih banyak, tapi saya masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan….” lalu buru-buru mengangkat setumpuk besar dokumen ke meja kerjanya dan berpura-pura tak melihat genggaman tangan keduanya yang sedari tadi melekat seolah tak ingin dipisahkan barang sedekit pun.

Begitulah, hingga perlahan Tokoh Kita kembali menjalani kesehariannya dengan ritme yang sama: bangun pukul lima lewat dua puluh menit, menghabiskan waktu beberapa menit berikutnya untuk menatap langit-langit kamar, masuk ke kamar mandi untuk membuang hajat dan membersihkan diri, untuk kemudian segera bersiap berangkat ke tempat kerja. Di meja kerjanya, tumpukan laporan, surat, dan dokumen sudah menunggu untuk ia pilah, pelajari, salin, dan memasukkan semuanya ke dalam tabel-tabel atau grafik yang bisa dibaca dengan cepat oleh bagian manajemen. Begitu jam kerja usai, ia akan bergegas menuju halte, menunggu bus ke arah apartemen tua tempat ia tinggal.

Selama bertahun-tahun, semua akan berjalan persis seperti itu setiap hari, kecuali terjadi gangguan-gangguan kecil seperti kasus laki-laki yang meloncat dari lantai 18 itu. Dan, entah kapan Tokoh Kita akan menyadari bahwa laki-laki itu tak lain adalah dirinya sendiri. ***

Bekasi, 30 Desember 2019





======================
Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here