Kisah ini bermula ketika Qudamah, lelaki alim dari timur hendak mengembara ke negeri Syam. Ia terpikat oleh kisah-kisah dalam kitab tarikh yang menceritakan perjuangan Sang Rasul. Baginya, meyakini saja tak akan cukup. Rasa cintanya terhadap Sang Rasul membuatnya bertekad akan menziarahi tempat-tempat perjuangannya semasa hidup, meski harus menempuh jarak ratusan bahkan ribuan mil sekalipun.

Pada hari, minggu, bulan dan tahun yang diyakininya dapat memperlancar misinya, ia mulai mengembara. Dengan berbekal restu ibu dan secarik peta usang, ia berjalan menembus gurun tandus, mendaki pegunungan berlembah curam, serta menyeberangi puluhan sungai berarus deras. Ia juga kerap singgah di kota-kota tua bersejarah yang menyimpan banyak kisah.

Pada hari keseratus satu perjalanan panjangnya, Qudamah singgah di sebuah kota kecil di tengah gurun tandus. Ia berteduh di sebuah gubuk yang lama ditinggal pemiliknya. Sejenak ia melepas lelah. Panas yang teramat sangat membuatnya kehilangan banyak tenaga. Namun demikian, tak sedikitpun dalam benaknya akan mengakhiri perjalanan. Ia beranggapan apa yang dilakukannya belum seberapa jika dibanding dengan perjuangan Sang Rasul dalam bersyiar.

Menjelang sore, di tengah persiapannya hendak melanjutkan perjalanan, Qudamah dikejutkan oleh kedatangan seorang kakek bongkok berpakaian lusuh. Sejenak ia tertegun memandang sang kakek, sebelum kemudian mempersilakannya untuk duduk.

“Apa Kakek musafir?” tanya Qudamah membuka keran pembicaraan.

Kakek mengangguk, “Benar. Apa kau juga musafir?”

“Ya, Kek.”

“Dari mana asalmu?” 

“Nun jauh dari timur sana, Kek.”

“Hendak kemana?”

“Ke Syam?”

“Syam?”

“Benar.”

“Apa yang akan kau cari di sana?”

“Berziarah, Kek. Mengunjungi jejak-jejak Sang Rasul.”

“Muhammad maksudmu?”

“Tentu. Siapa lagi?”

Kakek tergelak, “Kau sedang bermimpi atau sedang mencari sensasi?”

“Maksud Kakek?” Qudamah heran dengan sikap kakek yang menertawakannya.

“Tadi kau bilang beziarah mencari jejak Rasul di negeri Syam?”

Ia mengangguk.

“Tak ada jejak apapun di sana. Yang ada hanyalah padang tandus dan gersang, pokok-pokok kurma layu, unta-unta kurus, dan mata orang-orang yang kehilangan semangat hidup. Syam hanyalah negeri tua dengan setumpuk kisah usang yang mulai hilang ditelan zaman. Percayalah, kau tak akan menemukan apapun di sana.”

Qudamah terdiam. Sejenak ia bergelut dengan batinnya. Mencerna setiap perkataan si kakek dengan sedikit keraguan. Kemudian ia teringat perkataan guru ngajinya bahwa ia akan menemukan berbagai macam rintangan. Tak hanya sulitnya medan dan jauhnya perjalanan. Ia juga akan bertemu dengan jin yang menjelma manusia dengan tujuan akan menggagalkan perjalanannya.

“Sebaiknya kau pikirkan lagi niatmu, anak muda. Perjalanan ke Syam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kau akan menemukan banyak rintangan. Jangan sampai niat baikmu hanya akan memperoleh kekecewaan.”

Qudamah mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau pernah ke Syam?”

Qudamah menggeleng.

Si kakek tertawa ringan, “Ya, kau memang masih sangat muda. Pengalamanmu masih terbilang hijau. Lain denganku. Aku sudah banyak makan asam garam di dunia pengembaraan. Apalagi Syam. Hampir seluk-beluk di sana aku sudah  sangat hafal.”

Sejenak Qudamah terdiam. Dipandanginya sang kakek dengan penuh kewaspadaan. Dan benar adanya, kewaspadaan Qudamah mulai menemukan titik terang ketika azan asar berkumandang. Sang kakek mendadak gelisah. Wajahnya pucat pasi. Tak lama berselang ia pamit untuk melanjutkan perjalanan. Dan, kewaspadaan Qudamah terbukti setelah keluar gubuk tak menemukan jejak apapun di atas tanah.

***

Senja baru saja purna ketika Qudamah menghentikan perjalanannya. Gelap malam membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Karena tak juga menemukan perkampungan, ia pun memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon rindang. Setelah menggelar kain untuk alas tidur, ia pun merebahkan tubuhnya. Dan tak membutuhkan waktu lama, Qudamah pun terlelap.

Malam semakin pekat. Suara angin gurun yang datang bergemuruh membuat Qudamah terlempar dari mimpinya. Meski  demikian, Qudamah masih terpejam dan meringkuk di balik selimut.

Setelah angin selesai bergemuruh, Qudamah kembali mencoba membenamkan dirinya ke dalam mimpi. Namun gagal. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

“Sepertinya kau kedatangan tamu wahai Sahabi.”

“Ya, seorang musafir. Sepertinya ia sangat kelelahan.”

“Syukurlah, kau tak akan kesepian malam ini.”

Mendengar ada yang bercakap-cakap, kantuk Qudamah mendadak sirna. Ia pun terjaga. Kedua matanya waspada. Kalau-kalau yang bercakap-cakap orang jahat yang hendak mencelakainya. Lalu perlahan tangan Qudamah merogoh ke balik pinggang untuk mengambil badik.

“Benar. Sudah cukup lama tak ada orang yang datang ke sini. Terakhir kali ketika sepasang lelaki yang hendak mencelakaiku. Bersyukur kau datang datang dan menggigit salah satu diantara mereka.”

Qudamah bangkit, lalu memasang kuda-kuda sembari menghunus badik. Kedua matanya menyapu keseluruh penjuru mata angin. Dahan-dahan pohon yang menaunginya pun tak luput dari tatapannya. Namun ia tak menemukan apapun kecuali seekor ular derik yang bergegas pergi ke balik batu.

Sejenak Qudamah terdiam. Jelas-jelas ia mendengar orang bercakap-cakap. Namun kini ia hanya menemukan kekosongan. Hanya angin gurun yang sesekali menampar-nampar wajahnya. Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Qudamah pun melanjutkan tidurnya.

***

Matahari telah sepenggalah ketika Qudamah terbangun. Meski demikian, ia masih meringkuk di balik selimut. Tak lama berselang seekor pungguk terbang rendah, lalu hinggap disalah satu dahan. Tepat di atas Qudamah.

“Kau kedatangan tamu rupanya wahai Sahabi?”

“Ya. Seorang musafir. Sejak semalam ia tidur di sini.”

Qudamah tersentak dalam batin. Suara percakapan yang ia dengar semalam kini terdengar lagi. Namun kini ia yakin tak ada siapapun selain dirinya, seekor pungguk, dan pohon yang dijadikannya tempat berteduh.

“Apakah ia telah mengenalmu?”

“Sepertinya belum. Buktinya semalam ia tebangun dan tampak bingung ketika aku berbincang dengan Derik. Bahkan ia menghunuskan badik. Dipikirnya ada orang jahat yang hendak mencelakainya.”

“Hahaha… rupanya ia tak tahu siapa dirimu. Semestinya ia sangat beruntung ada di sini. Di dekat pohon Sahabi yang menjadi saksi sejarah orang termulia. Orang yang sedang ia cari jejak-jejaknya.”

Qudamah kembali tersentak dalam batin.

“Maksudmu apa wahai Pungguk?”

“Ya, aku telah mengikuti musafir ini sejak dari Kota Aswad. Ia mengemban misi mencari jejak-jejak Sang Rasul.”

Mendengar percakapan yang tak biasa, Qudamah hanya terdiam. Ingatannya menghambur pada kitab-kitab tarikh yang menceritakan tentang pohon sahabi. Hingga pada akhirnya ia teringat. Lalu serta-merta bangun.

“Benarkah kau pohon sahabi yang terkenal itu?” tanya Qudamah penasaran. Matanya tajam menatap pohon sahabi. “Benarkah kau yang menjadi saksi sejarah atas pertemuan Rasul dengan Buhaira?”

Angin gurun berhembus lirih menerpa wajah Qudamah.

“Ayo jawablah pertanyaanku. Aku tahu kau pandai berbicara layaknya manusia.” Qudamah berjalan mendekati pungguk, namun pungguk dengan segera berpindah ke dahan lain. “Aku tahu kau tadi berbicara dengan pohon ini wahai pungguk. Tolong jawablah. Bantulah aku mengatasi keraguanku.” Pungguk masih juga terdiam. Matanya tampak tak berkedip menatap Qudamah.

“Baiklah jika kalian tak hendak bicara padaku. “Qudamah kembali ke bawah pohon sahabi. Benaknya kembali menyimpan tanya. Apakah kedua makhluk yang baru saja diajaknya bicara sebenar-benarnya makhluk kasat mata atau sama halnya dengan perwujudan makhluk serupa jelmaan kakek bongkok? Untuk menjawab keraguannya, Qudamah menunda perjalanannya. Ia masih berdiam diri di bawah pohon sahabi sembari menunggu pertanyaannya terjawab.

***

Matahari kian menerik ketika Qudamah tak lagi sabar menunggu jawaban. Ia merasa apa yang ditunggu hanyalah sebuah kesia-siaan. Ia bangkit dan menghadap pohon sahabi.

“Baiklah jika kau tak mau menjawab pertanyaanku. Akan kucari jawaban di tempat lain.”

Dengan sedikit dongkol, Qudamah pun mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan pohon sahabi. Namun baru duapuluh langkah, Qudamah terhenti ketika sekoloni awan tiba-tiba datang dan berhenti tepat di atas pohon sahabi.

“Apakah pemuda itu sedang mencari tahu jati dirimu wahai Sahabi?”

“Ya, benar sekali. Tapi aku memilih diam ketika ia bertanya.”

Merasa dipermainkan, Qudamah pun jengkel. Ia berbalik badan dan kembali menghampiri pohon sahabi dan awan.

“Beginikah cara kalian memperlakukanku? Wahai sahabi, sesungguhnya kau tengah menghinakan dirimu sendiri sebab sengaja tak bicara denganku. Kau tak lebih baik dari pohon-pohon tua yang lain! Dan kau awan, tak lebih baik dari musafir yang kehilangan arah dan tujuan.”

Sejenak suasana sunyi. Namun tak berapa lama, awan yang semula putih berubah menghitam seolah menyiratkan kemarahan. Lalu disusul suara gemuruh di langit dan angin kencang. Qudamah yang sedari tadi terdiam langsung menghambur ke bawah pohon sahabi untuk berlindung.

Menyadari apa yang diucapkannya menuai badai, Qudamah pun meminta maaf. Ia memohon agar awan tak lagi memanggil angin.

“Demi Tuhan. Demi Zat yang paling agung. Aku tak bermaksud meremehkan kalian.”

Mendengar Qudamah bersumpah, angin pun berangsur-angsur mereda.

“Baiklah jika kalian tak menghendaki kehadiranku di sini. Aku akan pergi.”

Qudamah pun meninggalkan pohon sahabi dan awan dengan harapan ia akan mendapatkan belas kasihan dari keduanya dengan memanggilnya untuk kembali. Namun semakin jauh ia berjalan, tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Akhirnya Qudamah menoleh ke belakang dan ia pun terkaget ketika tak mendapati apa pun di sana kecuali padang tandus dan gersang.




====================
M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Buku kumpulan cerpen terbarunya Anjing Bersayap Malaikat (2020). Sekarang menetap di Kudus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here