Sebuah Surat untuk Kaubaca


Bunga yang bermekaran di depan tokomu

Bolehkah kubawa pulang untuk mengisi
ceritaku?

di tempat terasing kau kirimkan
setangkai bunga layu bersama secarik surat

kau tahu, aku bisa membaca kata
kau tahu, bagiku layu sama dengan tak bermakna

tanamlah aku, di tanah kau berpijak kini
bukan mustahil aku akan tumbuh subur
(atau mati terkubur)

Kau menatap cermin dan bertanya padanya:
Bukankah selalu ada kemungkinan?
Baik buruk, kita—selalu abu-abu

mekarku perlu diperjuangkan

Kau kembali menatap cermin
Mengambil kuas
Melukis raut wajah bahagia
Makin berwarna pantulanmu di kaca
menjadi semakin gelap, makin gelap
Kau berhenti
Kau benar-benar berhenti

keputusanmu? akankah membela keputusasaanmu?

Kau taklagi menatap cermin,
kau semai bibit bunga layu.
Lagi. Seperti dulu. Seperti…
Seperti kali pertama kau kayuh sepeda diiring bapak.
Jatuh, bangkit. Jatuh, bangkit.
Kau tanam bungamu sendiri—kini.
Menanti ia mekar, menanti kau mekar—suatu hari.

jadi, sudah kau putuskan rantai keputusasaan, bukan?

Cerminmu tersenyum.
Kau, juga.

Pontianak, 2020




Adalah Suatu Tempat

 
1/
Dalam pengadilan kautunggu putusan demi putusan dengan kebosanan. rutinitas, katamu. Dalam tunggu, kaubujuk kami mengadu kata. Mengisi kekosongan waktu. Maka kita bicara lewat tersambung, temali tak kasat mata. menanti gilir tiba ke arah diri. Sebentar kautinggal, ketika hakim ingin buat putusan. Dia tak punya selera humor, katamu. Maka kaupindahkan leluconmu pada kami. Kami terima dengan senyum, kirimanmu yang semula manyun.

2/
Dalam rumah tumpukan piring kotor menanti untuk dicuci, tapi aku juga belum mandi. Belum pegang sapu, belum sarapan, semua serba belum. Tergoda hati memilih diksi sampaikan maksud menggoda dosa keluar sepagi ini. Dan waktu berlalu, kulakukan dengan sambi. Sebentar kutinggal menanak nasi. Sebentar kutinggal hidupkan mesin cuci. Sebentar kutinggal sarapan pagi. Rutinitas, kataku. Dalam rentetan tugas rumah yang tiada henti, aku menertawakan diri. siapa lagi?

3/
Dalam kos musik mengalun pelan, sisa percobaan tidur semalam yang gagal. Matahari sudah meninggi dan ia belum tidur lagi. Mata sembab yang tak dipertanggungjawabkan air mata, tak pula bisa dijawab dengan sebab. Maka ia biarkan tertanggung. Rutinitas, katanya. Ia mengganti lagu-lagu, bersenandung sesekali. Coba mencoret-coret kertas seraya berimajinasi. Andai luka adalah kata-kata yang semudah itu bisa dicoret dan hilang begitu saja. Kebetulan betadine datang dengan cara berbeda, tanpa jumpa. menghentikan sementara, Sambil keping darahnya melakukan tugas yang seharusnya. Akan sembuh, tunggu saja.

Pontianak, 2020




Menulis Awan

Seorang gadis kecil memeluk kedua lututnya
Ada yang terluka
Terbata-bata ia berkata
Mengurai luka-luka jadi potongan-potongan cerita

Seorang yang lain melihatnya dari atas sana
Mengirimkan pena
Meminta ia menulis
Sebelum menangis

Seorang gadis dewasa menatap ke langit sekian lama
yang bentuknya takberbentuk
yang geraknya taktertebak
yang bergerak
yang terus bergerak

Ia gerakkan pena dari seorang yang lain itu
menulis apa yang ia lihat
apa yang ingin ia lihat
yang membawa angannya terlihat
yang dilihatnya tengah bersama angin

Ia menulis: Awan

Pontianak, 2020




Tentang Apa yang Kita Tulis

:Saffanah Min Janub

pada dua cangkir teh rempah
kita seduh kisah
bahwa cerita tak semata-mata tentang kata
yang ditulis, dipilah, dipisah
dan air mata tak hanya soal sedih saja
yang dibiasakan datang bersama hujan
lalu pergi ditandai pelangi

pada buku catatan
kita rahasiakan perasaan
membalutnya dalam tulisan-tulisan
kadang samar tersurat dalam coretan
kita rangkai kata kerja jadi kata benda
kita ramu dan hilangkan kata sifat sementara

tanpa senyum kautulis Cingulomania
atau bisa-bisa dari Medusa
sedang aku mengambil potretmu
lalu menulis tentang itu
tanpa adanya kata hubung
atau negasi dalam tiap kalimat
kutulis tentang apa yang kita tulis

Pontianak, 2020




Niskala

diceritakannya
air yang mengaliri batu
bening memancing hening
dalam pertapaan
dalam ratapan

dan imaji
mengartikulasi resah
jadi gerak dan arah
dalam pola
tanpa pola

diceritakannya
napas yang terengah-engah
lafal yang patah-patah
dalam ratapan
dalam pertapaan

dan imaji
bersenandung dalam kabung
memecah utuh
separuh-separuh
sama rata
tak sama rata

disimpannya
larik dalam jarik seorang renta
yang tak mampu lagi berkata-kata

Pontianak, 2019




Mungkin Kita Hanya dalam Perjalanan

kita bertemu dalam kereta malam
menuju ke puncak pada kekosongan yang guram

kau dan aku
dua bocah kesasar yang lahir tahun kemarin
aku—belum cukup bulan

di jendela yang ada hanyalah gelap
di dalam senyap
di pikiran ada imaji mengendap
tentang malaikat-malaikat bersayap
yang mengusap hujan bahagia di bola mata

kita berpegangan pada pagar yang rangup
dengan legup-legup

kau tidur dalam perjalanan
melupakan pengar yang sibuk merayakan kehilangan
sedang aku terjaga
merapal doa-doa

Pontianak, 2020





==================
Gea Pertiwi, lahir di Pontianak, Juli 1994. Puisi-puisinya dalam antologi bersama: Suara (2018) dan Sepasang Mata (2020). Beberapa puisinya juga dimuat dalam Majalah Mata Puisi edisi Juni 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here