Judul Buku   : Wabah, Sains, dan Politik
Penulis      : Yuval Noah Harari, dkk.
Penerbit     : Antinomi
Cetakan      : Pertama, Juni 2020
Halaman      : 107 halaman
ISBN         : 978-602-51908-5-8

Pada medio Maret lalu, Yuval Noah Harari menyempatkan menulis esai panjang bertajuk “Dunia setelah Virus Corona”. Tayang pertama kalinya dalam edisi bahasa Inggris “The World After Corona Viruses” di Financial Times. Esai futuristis menyuguhkan sebuah cara pandang Harari mencerna realitas mutakhir usai pandemi.

Sebagai seorang sejarawan merangkap filsuf yang hidup di abad modern dengan karya-karyanya melulu orientasi perkiraan masa depan manusia, ia begitu getol mencerna setiap isu narasi yang terjadi pada umat manusia saat ini dalam menghadapi pandemi Covid-19. Manifestasi praksis bidang keilmuannya atas pengamatan pada krisis itu dapat dilihat dari esai-esainya yang terbit belakangan.

Ia menulis beberapa esai panjang nan kritis. 20 Maret 2020, secara bersamaan dua esainya terbit di Financial Times dan Time. “Dalam Perang Melawan Virus Corona, Manusia Kehilangan Pemimpin” dan “Dunia Setelah Virus Corona” adalah dua esai tersebut. Keduanya tidak sedikit pun berpaling dari isu masa depan manusia. Argumentasi analitisnya begitu menggairahkan dan meyakinkan pencinta buku bertema Manusia.

Relevansi spesialis bidang penulis buku-buku Manusia memantik wawasan ke dalam kemungkinan berekspresi ihwal krisis. Ia ditemani beberapa penulis lainnya yang membahas hal serupa dalam perspektif analitis bidang yang berbeda. Di Wabah, Sains, dan Politik merupakan sekelumit esai translasi dari para ahli yang tertungkus lumus sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Harari dalam buku tampak begitu dominan dengan tiga buah esainya. Ringkas narasi historis  wabah pun tercatat apik lengkap detail jumlah korban. Dirinya mulai menarasikan bermacam wabah jauh sebelum globalisasi tiba. Saat sebelum globalisasi, sekira abad ke-14, wabah mengerikan Maut Hitam (Black-Death) mulai menerungku umat manusia.

Saat itu, kata Harari, belum ada transportasi lintas negara di suatu benua yang sama.  Tetapi wabah menyebar sebegitu cepatnya. Suasana pun tetiba mencekam. Sekitar 75 juta sampai 200 juta orang terbunuh. Atau seperempat lebih dari populasi Eurasia. Tidak ada sains modern sebagai instrumen pencegahan di abad 14.

Masyarakat terinfeksi di titimangsa pra-modern itu, memercayai Black Death sebagai wujud kemarahan dewa, iblis jahat atau udara buruk. Nirgagasan pada kecurigaan ihwal pertanda eksistensi virus dan bakteri. Mereka hanya percaya pada malaikat dan orang-orang pintar. Lalu,  otoritas publik setempat mengumpulkan masyarakat untuk melakukan ritus sembari memohon agar wabah segera berakhir, sekurang-kurangnya bisa meminimalisir terjadinya penyebaran. Alih-alih berdoa pada Tuhan kepercayaan masing-masing, justru menggalakkan upaya perkumpulan masyakat semacam ini akan memicu merebaknya penularan, kata Harari.

Begitulah cara kerja kebanyakan masyarakat modern. Kelumpuhan sains kembali meringkih ketika fanatisme beragama kembali menemukan momentumnya. Di saat para penceramah agama dengan cepat memaknai wabah sebagai bentuk hukuman Tuhan untuk orang-orang gay misal, masyarakat modern justru mengabaikan pandangan semacam itu dan meletakkannya pada sisi yang fanatik. Dan akhir-akhir ini kata Harari, secara umum kita melihat penyebaran epidemi lainnya yang terjadi sebagai bentuk kegagalan organisasional (hal-37).

Mengapa demikian? para pemimpin dunia saat awal wabah merebak hingga data positif terinfeksi kian melonjak signifikan, terlalu lambat-dan bahkan tidak saling memercayai satu sama lain-untuk menggalang solidaritas global antar sesama pemimpin. Negara-negara saling tuding satu sama lain. Para politisi dunia saling lempar tanggung jawab. Lihatlah mereka yang seakan berkampanye-berkerumun demi mendapat perolehan suara terbanyak di pemilu mendatang tanpa sedikit pun berbenak dalam berbenah di wilayah terinfeksi.   

Adalah Santiago Zabala dengan menakik representasi realitas pemimpin populis yang justru abai dalam pencegahan wabah.  Profesionalisme seorang ilmuwan ditentang. Mereka di pihak oposisi menampik wacana media dan kinerja ilmuwan yang mewartakan  protokol kesehatan. Dalam hal ini, ia menyebut Jair Bolsonaro –presiden Brasil –yang juga secara bertubi-tubi mempersoalkan saran dari para ilmuwan dan WHO. Tak hanya itu, Bolsonaro pun sinis ketika meratapi wabah ini sebagai “fantasi”, “pilek kecil”. Sehingga seseorang tidak akan merasakan  dampak apapun.

Dirinya bahkan dituntut oleh 25 dari 27 gubernur Brasil untuk melakukan upaya preventif anti-wabah. Namun, usaha para gubernur itu terbangai sia-sia. Dia menuduh mereka sebagai “perampas pekerjaan” yang ingin menyabotase pemillihan kembali dirinya yang akan berlangsung dalam dua setengah tahun mendatang. Atas sinisme inilah ia juga menghasut publik untuk melawan otoritas lokal dan menyalahkan terjadinya krisis ekonomi untuk menutupi kesalahan dirinya dalam menangani situasi akut ini (hal-62).

Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada diri pemimpin Brasil itu. Donald Trump, dan Victor Orban (Perdana Menteri di Hungaria) juga membuat kasus serupa. Yaitu kesalahan dalam upaya preventif anti-wabah. Keduanya menutupi kesalahan dalam menangani wabah dengan janji-janji palsu, menghasut publik, melawan media, dan tidak mentaati imbauan WHO. Dan terbukti pada 6 Juli 2020, PBB secara resmi mengumumkan Amerika keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia itu.

Secara garis besar, narasi turunnya pandemi yang menimbulkan terungku nestapa dan bikin diri bergidik sebenarnya merupakan cambuk bagi dunia sains modern dan uji kompetensi bagi pemimpin dunia. Di pandemi, urusan sains dan solidaritas global benar-benar tersorot. Melalui sains virus terdeteksi, ia juga dapat mengukur temperatur tubuh dengan baik,dan melakukan pemodelan riset  termutakhir yang nanti akan memberi informasi membantu pada tenaga medis, juru rawat, dan para dokter.

Ini dapat dicapai ketika sebuah penelitian didasari oleh rasa ingin tahu (Curiosity-driven),  kata Ethan Siegel. Riset yang telah dibangun di atas fondasi rasa ingin tahu dari para ahli virologi evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika, dan para ilmuwan inilah yang nantinya akan berkabar informasi di seputar dunia medis pada setiap bagian penelitian termutakhir yang berada di perbatasan saat ini. Dan setiap penyelidikan atas aspek realitas itu bagi Siegel seringkali memiliki aplikasi turunannya masing-masing.

Aplikasi turunan yang akan menjadi investasi jangka panjang hingga 50 tahun atau bahkan 100 tahun mendatang. Covid-19 menjadi waktu yang tepat untuk menggandakan usaha dunia saintifik semacam itu. Setidaknya apa yang diungkap Ethan Siegel dengan manifestasi memajukan peradaban merupakan langkah sains agar terus bisa mereproduksi teknologi yang relevan. Butuh jalinan solidaritas global yang begitu sublim dibanding konspirasi tak berdasar untuk mencapai taraf ini.

Kita diajak beranjangsana ke wabah Maut Hitam (Black death) di abad ke -14 oleh Harari. Saat itu belum ada sains modern sebagai instrumen vital pencegahan. Keberhasilan dalam mencegah Maut Hitam teramat sukar. Namun ada pelajaran esensial dari tragedi Maut Hitam itu. Para otoritas dunia saat itu dengan segera membangun solidaritas global. Dan alhasil, Maut Hitam perlahan lenyap dari dunia abad ke- 14.

Solidaritas global mesti teraktualisasi di setiap praksis berikhtiar memberantas wabah. Di bidang medis misal, negara-negara kaya dengan kasus positif terinfeksi sedikit perlu mendistribusikan secara gratis obat-obatan pada negara miskin yang jumlah terinfeksinya jauh lebih banyak. Selain itu perjalanan internasional bagi para jurnalis, ilmuwan, dokter, politisi, dan orang penting perlu adanya kesepakatan global dengan melakukan penyaringan terlebih dahulu saat awal keberangkatan dari asal negara mereka.

Di ranah global, pihak yang terkait urusan kesehatan juga seharusnya memantau setiap warga negaranya yang acuh pada protokol kesehatan. Negara harus tegas dengan memberi hukuman bagi siapa saja yang ditemukakan melanggar. Ini dilakukan agar ada semacam efek jera bagi mereka. Semua butuh ikatan solidaritas yang amat massif antar sesama pemimpin negara-negara untuk mencapai ini.

Akhirnya, piramida solidaritas global dan kinerja dunia saintifik perlu beriringan juga dengan penyatuan rasa saling percaya. Rasa percaya berkait kelindan dengan elan vital mengedukasi warga negara di mana pun. Untuk itu dalam memantik tumbuhnya rasa saling percaya, Harari mengungkit kembali sebuah persoalan pelik yang harus diselesaikan.

Di mana para warga negara hendaknya kembali memercayai kinerja ilmuwan, percaya media, dan otoritas publik. Kulminasi dari penyatuan rasa saling percaya itu akan berakhir pada terbaginya informasi, vaksinasi, dan ragam penanggulangan lainnya. Sebuah ikhtiar memberantas wabah hari ini dan masa depan menemukan momentumnya.

===================
Muhammad Ghufron, anggota komunitas Bilik Huma Aksara, Pare, Kediri. Alumnus Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here