Judul Buku   : Siapa yang Memasak Untuk Adam Smith?
Penulis      : Katrine Marçal
Penejemah    : Ninus D. Andarnuswari
Penerbit     : Marjin Kiri
Cetakan      : Pertama, Mei 2020
Halaman      : viii + 226 halaman
ISBN         : 978-979-1260-99-2

Penulis menegaskan feminisme selalu berkisar tentang ekonomi. Virginia Woolf berpendapat, ia memerlukan ruang untuk dirinya sendiri. Dan dalam pengadaan ruang tersebut, dibutuhkan uang sebagai penyambung kehidupannya. Maka, tercetuslah anggapan umum, “Pada tahun 1960-an kaum perempuan pergi bekerja.” Sayangnya, ada hal yang luput: Kaum perempuan sudah selalu bekerja. Yang terjadi selama berdekade-dekade belakangan ini adalah bahwa perempuan berganti pekerjaan (hlm. 6). Hilangnya atau dilupakannya fakta perempuan selalu bekerja inilah yang menjadi pemantik isi buku ini. Katrine Marçal, penulis asal Swedia ini pun memberi judul “Siapa yang Memasak Makan Adam Smith?”  sebagai sebuah upaya pengingat akan kedudukan perempuan yang acap absen dalam persoalan ekonomi.

Penulis mengawali diskusi dengan ihwal Adam Smith yang pada tahun 1776 menuliskan kata-kata yang membentuk pemahaman modern kita tentang ilmu ekonomi: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.” Di sini pertanyaan, “Siapa yang menyiapkan makan malam kita?” menjadi pertanyaan fundamental dalam ilmu ekonomi. Banyak pihak yang dilibatkan. Dan di balik itu semua, adalah kepentingan-dirilah yang melandasi orang-orang tersebut dalam memproduksi produk mereka.

Atas kepentingan-diri tersebut, para ekonom berpendapat bahwa uang bukanlah satu-satunya hal penting, dan bukan hakikat ilmu ekonomi sesungguhnya. Sebab ilmu ekonomi adalah sejarah tentang cara kita berperilaku guna mendapat untung dari suatu situasi apa pun (hlm. 12). Hal ini pun seiring berjalannya waktu, menjadi titik awal dari adanya teori-teori ekonomi. Apabila kita membicarakan “cara berpikir ekonomi”, itu artinya kita membicarakan keuntungan. Nilai ini tertiup dalam napas para ekonom yang memandang dunia dengan realistis, atau bagaimana dunia senyatanya berjalan. Dan sebab diamini dan sebagai cara kita bergerak sepanjang hidup, ada banyak aspek dari hidup kita tersangga karenanya. Inilah yang oleh Adam Smith disebut sebagai “Tangan tak terlihat”.

Dikatakan, “tangan tak terlihat” menjamah segala sesuatu, memutuskan segala sesuatu, ada dalam segala sesuatu, memutuskan segala sesuatu—tapi Anda tidak bisa melihat atau merasakannya (hlm. 12). Tangan ini menjadi semacam sistem di dalam sistem, dengan pasarlah yang menjadi ladang dari sistem tersebut. Dan bila kita membicarakan tentang pasar, maka kita berbicara tentang manusia, sebab pasar hidup dalam sifat manusia.

Di samping adanya “tangan tak terlihat”, buku ini pula membeberkan kalau dalam perjalanan hidupnya, Adam Smith bersentuhan dengan istilah “hati tak terlihat”. Istilah ini mewujud dalam hadirnya sosok ibu—Margaret Douglas—yang menghidangkan makan malam untuknya. Oleh karena itu, bisa dibilang, Adam Smith hanya menjawab separuh dari pertanyaan fundamental ilmu ekonomi itu. Sebab bukan saja makan malamnya terhidang karena para pedagang memenuhi kepentingan diri mereka sendiri melalui perdagangan, melainkan karena ibunyalah yang tiap malam memastikan makanannya terhidang dengan baik.

Hal itu pun menjadikan ilmu ekonomi tak memandang penting aktivitas seperti yang dilakukan ibu Adam Smith. Aktivitas menghidangkan makan malam, tak masuk dalam statistik ekonomi. Dalam kalkulasi PDB (Pendapatan Domestik Bruto), yang mengukur total aktivitas ekonomi suatu negara, ia tidak dihitung (hlm. 18). Hal ini pun sejalan dengan apa yang dikatakan oleh feminis Prancis, Simone de Beauvonir  yang menggambarkan perempuan sebagai “jenis kelamin kedua”. Dan sebagaimana ada “jenis kelamin kedua”, ada pula “perekonomian kedua”, sehingga kerja yang dihitung adalah kerja yang dilakukan oleh laki-laki. Kerja inilah yang merumuskan pandangan kita atas dunia ekonomi.

Tak berhenti sampai di situ, terkait ekonomi lainnya, juga hal memiliki relasi dengan pemetaan dikotomi gender adalah menyoal manusia ekonomi atau Homo economicus. Pandangan umum ekonomi mengatakans, cetak biru paling sempurna atas mewujudnya “manusia ekonomi” ada pada diri tokoh novel Daniel Defoe. Novel yang terbit tahun 1719 itu mengisahkan tokoh Robinson Crusoe yang terdampar di satu pulau selama 26 tahun. Di pulau tersebut, Crusoe-lah yang memegang kendali penuh atas kepentingan-dirinya, sebab tidak adanya hukum atau aturan sosial di sana. Di pulau Crusoe, kepentingan-diri yang menggerakkan perekonomian terpisah dari pertimbangan-pertimbangan lain, sehingga cerita itu pun menjadi semacam alat pembelajaran untuk para ekonom (hlm. 21).  

Sayangnya, lagi-lagi, manusia ekonomi bukan seorang perempuan. Ini bukan berdasar atas replika tokoh novel di atas, melainkan dari pandangan ekonom, terutama yang hidup di kisaran 1800-an. Mereka beranggapan, kerja rumah tangga yang dilakukan perempuan bersifat siklus. Perempuan selalu melakukan kerja yang berlandaskan kasih sayang, dan itu bukan sesuatu yang perlu secara khusus dikuantifikasi. Kerja itu berasal dari suatu logika yang berbeda dengan logika ekonomi (hlm 33).

Atas pandangan itulah, penulis melayangkan kritiknya lewat buku ini. Memang, memasukkan pendekatan feminisme ke ranah ekonomi yang penuh nilai-nilai patriarki adalah tindakan yang tak langsung jadi, tepat sasaran, dan langsung kentara buahnya. Terlebih, yang dibicarakan adalah perekonomian global dengan pemantik permasalahan lingkungan hidup, kepailitan Lehman Brothers tahun 2008, dan juga pembahasan bahwa ekonomi merambah lini yang semestinya tak ia jajaki.

Dan betapa pentingnya peran keperawatan ibu Adam Smith, tetapi hal tersebut tak terendus dalam etos pemikirannya. Perempuan itu seolah terhapuskan dalam perhitungan yang semestinya ada. Namun, bukan soal marah kepada Adam Smith yang kemudian ditekankan oleh penulis. Lebih jauh lagi, godaan manusia ekonomilah yang agaknya mesti diperhatikan. Dalam pembahasan yang panjang, godaan tersebut merasuk ke beragam lini kehidupan yang berdenyut dalam tubuh kita dan terepresentasi dalam kapitalisme yang tak memedulikan masyarakat dan alam, serta neoliberal yang menguntungkan segelintir orang dan menjauhkan jarak si miskin dan si kaya. Sampai akhirnya, kita tidak dapat menentang manusia ekonomi tanpa feminisme dan kita tidak bisa mengubah apa pun yang penting dewasa ini tanpa menantang manusia ekonomi (hlm. 196).

Atas hal tersebut, buku ini setidaknya menjadi oase segar dalam memandang perekonomian dari perspektif yang berbeda. Perspektif feminim yang acap luput dalam perhatian kita. Dan dalam upayanya, feminisme jauh lebih besar dari sekadar “hak perempuan”. Sejauh ini baru separuh dari revolusi feminis yang telah berlangsung. Langkah berikutnya adalah menyadari betapa pergeseran yang telah terjadi ini, lalu secara aktual mengubah masyarakat, ekonomi, dan politik kita agar sesuai dengan dunia baru yang telah kita ciptakan (hlm. 202). Pada akhirnya, ini semua tentang arti menjadi menusia. Dan feminisme membersamai usaha kita.




Tentang Penulis

Wahid Kurniawan, penikmat buku. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here