Sepasang Mata

Aku meyakini sepenuhnya bahwa suara ini adalah suara tuanku. Suara yang dilahirkan setelah memandang sesuatu yang membahagiakan hatinya. Suara ini tak jauh beda ketika di suatu waktu selepas memandang hijaunya gunung, tuanku berkata tentang betapa damainya jika setiap hari bisa melihat yang demikian. Kedamaian dilahirkan oleh apa yang dilihat dan dirasakan. Sehingga ketika apa yang dilihat sesuai dengan keinginannya, maka tentu kedamaian menyertainya.

Suara tuanku begitu keras kudengar ketika ia tak henti-henti memandangi awan yang saling berkejaran di langit. Suara kekaguman dan raut wajah yang begitu sedap dipandang. Langit begitu cerah karena ini musim kemarau. Seperti gerombolan domba, awan-awan berarak berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya tanpa tergesa. Langit memang tak ubahnya sabana, bedanya hanya pada warna. Jika sabana berwarna hijau atau cokelat dalam dua waktu yang berbeda, maka langit berwarna biru tanpa noda. Lalu, domba-domba saling bersisian tanpa saling mendahului. Menuju sabana lain yang tak pernah mampu dijangkau oleh tuanku. Tapi tentu semua itu tak jadi masalah selama apa yang dipandang tuanku masih menghibur hatinya.

Pernah di suatu waktu, tuanku sedang menyandarkan diri pada pagar balkon. Tangannya menyilang dan menumpu pada besi pembatas itu. Lulutnya disandarkan dan sedikit ditekuk untuk menahan beban tubuhnya. Sementara itu, badannya agak condong ke belakang menjauhi besi pengaman. Ia tak henti-henti memandang langit. Ia sibuk menghitung koloni domba dan sibuk menebak apa yang sedang domba-domba itu lakukan. Hal itu ia lakukan karena merasa ketika di langit, domba-domba sering bercanda dan melakukan hal-hal konyol. Misalnya saja ketika awan-awan membentuk tanda hati, itu artinya domba-domba itu sedang mengalami musim kawin. Ketika awan-awan membentuk monster, itu adalah tanda bahwa domba di langit sedang ada masalah. Lalu ketika awan-awan berubah gelap, itu artinya domba-domba sedang murung atau bersedih. Begitu yang kudengar dari perasaannya.

Akan tetapi, di sisi lain, suara tuanku begitu sendu. Dari dekat diriku, kurasakan ada sesuatu yang melintas begitu hangat. Kadang ada yang deras meluncur begitu saja, kadang ada yang tertahan, kadang ada pula yang menyakitkan untukku. Tuanku menyebutnya kesedihan. Salah satu kesedihan yang begitu kurasakan dan kuketahui secara langsung adalah ketika tuanku mengarahkanku untuk memandangi sepasang burung. Aku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Ia memaksaku memandangi sepasang burung itu meski sebenarnya aku sendiri tidak tahan. Mulai dari bentuknya, kicaunya, juga bulunya. Semua tentang burung itu.

Rasanya begitu perih ketika mengingat hal yang tidak kuinginkan itu. Tuanku sesekali berkedip. Ah, bukan sesekali, melainkan ia berusaha menutup kelopak yang melindungiku, tapi tak bisa. Rasa takut telanjur menyergap tubuhnya. Ia bergetar hebat. Diriku begitu perih merasakannya. Aku harus memandang dan meneruskan apa yang ada di depanku ke dalam kepala tuanku sehingga membuat dirinya mengalirkan air melalui sela-sela diriku.

“Hentikan! Hentikan!” kata tuanku meraung. Aku bisa merasakan suaranya. Ia mengatakan ketika pertama kali memasuki ruangan yang sebenarnya tidak asing bagiku. Aku sering masuk ruangan yang demikian adanya. Di ruangan itu, benda-benda juga tidak asing. Memang aku seringkali menjumpai benda-benda semacam ini. Seperti yang kulihat biasanya, tempat tidur berwarna putih susu dengan selimut beraneka warna, sebuah kursi berlapis sesuatu yang mengembang berwarna coklat, vas bunga dengan tiga helai daun, serta lukisan yang menghiasi dinding. Untuk yang terakhir yang kusebutkan, memang tidak sesering yang lainnya.

Penolakan tuanku begitu kurasakan, bahkan diriku hampir tak tahan mendengarnya. Suaranya nyaring tanpa kata-kata. Mulutnya bungkam. Tapi aku tahu bahwa dari dalam diriku memancarkan sesuatu yang tak mampu kutafsirkan sendiri. Tuanku yang lebih paham. Saat itu, seseorang dengan rambut cepak menggelandang tuanku. Memaksanya merebahkan badan di kasur yang seputih susu. Aku menatap mata yang lain. Begitu penuh amarah. Aku ketakutan. Tapi aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku hanya menuruti kehendak tuanku. Seorang lagi, yang jangkung dan bermata coklat hanya memandangi tanpa rasa bersalah dan tanpa belas kasih. Ia duduk di kursi dengan lapisan dan matanya menatap lekat tuanku. Matanya memandangku. Tapi dalam matanya menunjukkan hinaan.

“Kenapa harus seperti ini?” tanya tuanku. Ia mengarahkanku pada wajah kepala yang berambut cepak dan lekas mengalihkan ke arah lukisan di dinding. Ia seperti menolak. Akan tetapi, kepala tuanku dipaksa memandang ke arah semula.

Sesosok yang bertubuh jangkung menggerakkan kepalanya memberi perintah. Mulutnya bergerak tapi aku tak paham dengan suaranya. Memang, aku tak mampu mendengar suara orang lain selain dari matanya dan sepasang burung yang terus menatapku penuh iba. Ya, aku memahami rasa iba mereka. Tapi di sisi lain, aku ingin mereka mematukku sehingga aku tidak dapat lagi melihat dan mengantarkan kesedihan tuanku. Aku berharap sepasang burung yang sedang menatapku menyelamatkan dan menghindarkan kegetiran yang dirasakan tuanku.

Tak lama setelahnya, dua sosok itu mendekat ke tuanku. Tetapi aku merasakan ada yang aneh dengan dua burung yang ada di hadapanku. Mereka tak mengepakkan sayap. Mereka tak berkicau. Mereka tidur. Mereka terpengkur. Lalu setelahnya hening. Aku tak melihat apa pun.

Ah, kenapa kesedihan selalu saja diingat. Padahal hal itu menyakitkan. Kupikir memang sebaiknya dan haruslah aku berbahagia saat ini. Menemani tuanku. Memandang hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan hatinya. Tanpa menghadirkan lagi kesedihan. Sedikit pun.



Sepasang Burung

“Apa kau tak kasihan dengannya?”

“Tentu saja kasihan.”

“Bagaimana cara menyelamatkannya?”

“Jangan melakukan apa pun.”

“Maksudmu?”

“Pokoknya jangan melakukan apa pun seperti biasanya. Jika kau mengoceh, maka sama saja kau menyakitinya.”

“Bagaimana caranya agar kita tidak mengoceh? Pasti tuan kita akan memaksa kita mengoceh. Mereka telah merawat kita. Memberi hidup yang baik.”

“Tahan dirimu. Bayangkan, dirimu akan melukainya. Ia terus saja memandangi kita. Jujur, aku malu dan tidak tega jika harus menyakitinya.”

“Aku ingin mematuk matanya. Agar tidak menyaksikan kesedihan itu.”

“Lakukanlah jika hal itu memang bisa menyelamatkannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Pikir saja sendiri.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Kalau begitu, cukup jangan mengoceh. Jangan turuti kemauan tuanmu.”

“Ya, aku akan melakukannya. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak menyakitinya. Aku baru pertama kali menjumpai kesedihan semacam ini. Aku juga tidak ingin disalahkan atas keegoisan tuanku. Sudah cukup rasanya selalu dikorbankan dan dituduh sebagai sesuatu yang melatarbelakangi tindakan keparat itu.”

“Terpengkurlah. Mari kita tidur. Tidur untuk sementara waktu.”

“Sementara waktu? Kenapa tidak seterusnya saja?”

“Mengapa begitu?”

“Sepertinya aku tidak tega mengepakkan sayap lagi. Jika aku terus bertualang dan menghinggapi tempat baru lagi, aku akan mengingat ia seterusnya. Dan itu membuatku tidak tega untuk mengoceh lagi. Sebaiknya aku tidak melakukan apa pun lagi. Seterusnya.”

“Kau benar. Aku juga akan mengerami tempat ini dalam keadaan paling sunyi. Sesunyi mata itu.”



Sepotong Gambaran Masa Depan

Sejak peristiwa di kamar nomor 218 itu, aku menyaksikan Veronika begitu terpukul. Matanya sayu, pikirannya tak menentu. Apa yang ada di kepalanya tak lagi mampu kubaca. Kejadian itu begitu memukul dirinya. Mengingat kejadian itu, aku tak sanggup untuk mengatakan apapun. Aku mulai berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Kenyataan bahwa hidup hanya mengejar masa depan adalah kesalahan besar. Sebab, masa depan akan selalu dipenuhi intrik dan impian-impian yang tak ada habisnya.

Pengalaman telah menyadarkan Veronika tentang bagaimana rasanya membayangkan kebahagiaan di masa yang akan datang, tak lain sesungguhnya semu. Kebahagiaan, dulu Veronika berpikir, dapat dicapai dengan hidup di kota besar, hidup mewah, serta segala keinginan dapat lekas tersedia. Namun ternyata segala tentang masa depan tak ubahnya sengaja mengirim diri ke neraka.

Ternyata, anggapan tentang masa depan telah salah. Kebahagiaan adalah ketika bisa memandang tanah kelahiranmu tanpa kau berpikir tentang masa depan yang sebenarnya samar. Sebab di tanah kelahiranmu yang katanya selalu berkutat pada masa lalu itu, kita masih bisa memandang hijaunya gunung, memandang awan yang berkejaran dan membayangkan apa yang terjadi di atas sana, serta kau juga dapat mendengar ocehan burung yang saling bersahutan. Apalagi ketika musim kawin tiba, kicau burung itu akan terdengar sepanjang hari.

Lantas, masa depan semacam apa yang layak dipikirkan, diyakini, dan dipercayai? Apakah seperti yang kupikirkan sekarang atau mungkin yang sebelumnya? Atau tidak sama sekali? Kebahagiaan macam apa yang kau inginkan Veronika?






========================
EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017) & Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here