1

mengapa aku hidup? apakah makna kelahiran dan kematian?
kafka kali ini menjadi jalan buntu dalam pikiranku. mungkin satu-satunya
jalan yang memberi penyesalan. orang-orang bahagia dengan hidup
yang berenang dalam kolam harta, tahta dan kuasa. mereka sampai
lupa mengingat kematian dengan cara tertawa.

Tapi apakah mereka benar-benar bahagia sepanjang masa?

Sejak alam semesta diciptakan selama enam hari
doa-doa baik berterbangan setiap detik dari lubuk hati:
berharap hidup kekal dan menghapus nama kematian
dari daftar buku kehidupan.

kini orang-orang pergi ke langit dan membangun rumah-rumah
keabadian di planet. mereka mulai memanen sayur menggarap lahan
untuk di tanami segala jenis biji-bijian. mereka kira kiamat hanyalah
bencana alam: tsunami di mana mana bersemayam, gempa bumi
setiap menit meruntuhkan hati dan perasaaan, gunung-gunung
sakit perut dan berkentut dengan meluapkan bauh kematian-
kecemasan bagi seluruh makhluk hidup.

mengapa kematian harus ditakuti. bukankah mati adalah
pasangan hidup yang abadi?



2

sepertinya sepi akan pulang kembali kepadaku. seiring air mata
menanti-nanti di ujung waktu. kata-kata maaf mulai menjeda kita
untuk selalu bersama. perasaan telah saling memahami curiga,
bimbang dan pisah. suara-suara kembali sunyi di udara dan
telinga malam-siang tersumbat tai gelisah, rindu pada cinta
yang sering kau ucapkan setiap ingin melipat waktu ke dalam
tidurmu yang resah.

sementara di sini kafka lebih duka
dari seorang perempuan yang dilukai kehormatannya
oleh buaya-buaya darat. bahkan lebih bingung dari anak kecil yang tersesat
mencari jalan pulang di tengah hutan rimbah kegelisahan.

kau mulai menepi pada gigir kepergiaan. sementara kafka
membujukku untuk mengejarmu dengan berbagai cara. lalu kupasang
perangkap kata-kata mutiara di perbukitan waktu sewaktu kau gelisah.
Siapa tahu kau luluh dan pulang ke pelukan rindu yang dahulu.

Namun kata-kataku robek dan mengabu pada saat telinga
dan lidahnya mengabaikan segala kebaikanku, kepedulianku
dan kasih-sayangku.

akhirnya kau dinding berbatu –
aku kapas randu yang terbang tak menentu. sebelum pisah dan pilu.



3

sudah dua hari kafka meninggalkan puisi. meninggalkan rencana yang  
cenderung basi. Tapi siang ini ia mulai lagi mengatur detak jantung perasaaan,
mengotak-atik hari lewat dan kenangan yang mulai padat di kelapa.
Kata-kata pun berkeliaran di sekitar kamar. Menebar
gairah untuk menulis, menyampaikan sesuatu yang tak bisa diucapkan.

Aku adalah juru tulis bagi kafka si penembak kata-kata.

Kafka adalah bayang-bayang pikiranku di bawah terik
duka waktu yang tak mampu disembuhkan dengan perbuatan.
mungkin hanya dengan menulis puisi hidupku akan diberkati.
Karena puisi adalah obat pereda sakit jiwaku, karena puisi
adalah penidur ketidakwarasanku menghadapi
hidup tanpa cinta-mati tanpa senyum.

karena hidup tanpa cinta adalah kutukan bagi manusia. di luar puisi
cinta tumbuh di taman-taman hati yang kotor, di semak-semak
pikiran yang berhama.

Akhirnya cinta berbunga peperangan antar-negara: orang-orang mencintai
negara tanpa kepala dan hati. orang-orang mencari kedamaian palsu di jalan
perang tanpa akhir. sungguh cinta begitu gelap di jalan-jalan keyakinan setiap
orang.  tuhan tertawa sambil terkencing-kencing di sana: melihat kelompok-
kelompak agamawan kecanduan menegak kebodohan saling caci-maki ajaran,
keyakinan dan tuhan.



4

orang-orang putih berfatwa di atas mobil pada sebuah jalan raya –
katanya cinta, damai dan  fisabillah demi agama dan negara.
Nyatanya sekadar jualan ayat-ayat nabi pada sebuah momen politik.
layaknya karnaval tukang obat yang pandai berlidah-berdalih jualan
nama tuhan, kitab suci dan caci-maki pada mereka yang tak sehati
dan sejalan.

Sungguh sering agama dan negara tak saling bersalaman,
karena orang-orangnya bersebrangan. ada kiri ada kanan
ada kekacuan yang saling merebut menang. Mungkin
negara tanpa agama akan lebih tenang.


5

kini aku memasuki malam-malam yang jauh darimu.
mengingatmu adalah neraka bagiku. sungguh kehilangan
demi kehilangan telah melukai surga kecilku. sementara air mata
mengubur hidupku hidup-hidup dalam timbunan hari-hari berdarah.

-tanpamu hidupku sekadar debu dalam genggaman angin sakal-

di dalam kamar ini. aku terbang bersama kafka ke luar angkasa,
mencoba mengembalakan pikiran-pikiran ke dalam semesta khayal.
liar. siapa tahu keinginan-keinginan yang keluar dari mulut kafka terkabulkan.

ingin aku kau kembali sekali lagi,
dan menjelma taman bunga yang wanginnya abadi sampai mati nanti.
di hatiku telah kusiapkan sekeranjang cinta dan sepucuk kesabaran
sebagai bekal mencari inti kebahagian paling kekal.

Tak perlu sedih dan cemas tinggal bersamaku. jalan bersamaku.
sebab aku punya kafka yang bisa jadi segalanya. bilapun panas
aku dinginkan dengan puisi-puisi teduhku. jika pun kering  
kubasahi hatimu dengan ciuman kata-kata cinta.

Kau adalah segalanya bagi segala-galanya hatiku untukmu semata



6

yang fana bukan waktu sapardi. tapi hatimu yang abadi di liang puisi.
pada minggu berkabung di sela-sela hidup dan mati. cintaku mencari
rempah-rempah doa untuk membujuk maut luput merenggut agar kau hidup
walau sedetik sekadar sempat menulis puisi liris paling manis. ternyata tuhan
tak gampang dibujuk dengan doa-doa manis. pada akhirnya kau sampai pada
batas paling nyeri –dimana hidup tak lagi menyertaimu untuk menulis puisi lagi.

Sebab mati adalah takdir paling abadi
yang dicemaskan oleh setiap hati

kini jasadmu boleh pergi: kembali ke asal-mula kenangan manusia berdiri:debu.
tapi masih tak kurelakan jiwamu pergi –kan abadi pada larik-larik puisi ini.
karena terlalu picik dunia ini, bila setiap yang mati hanya untuk dilupakan.
Tapi tidak dengan penyair – penyair mati meninggalkan hidup dalam puisi.
sementara bajingan meninggalkan tai – abadi pada masing-masing hati.

Maka maafkan aku tak bisa. hanya dari kamar kehilangan ini,
larik-larik puisiku berangkat melayat dengan membawa seikat doa
untuk sang pencipta –agar kau masih sempat mempuisikan duka surga.



7

pada larik-larik puisi –kusematkan sampan-sampan hidupku yang esok
atau lusa akan pergi berlayar. karena hanya dengan kata hidupku kan abadi.
setiap hari aku tidur di atas pikiran-pikiran yang terbakar kisah-kisah
api kepalsuan hidup ini. bahkan kini tak ada lagi rasa lembut pada bantal
guling yang terbuat dari kapas-kapas hati penguasa yang begitu keras
kepada sesama hati dan ras. sungguh hari-hariku berselimut darah
aktivis rakyat yang setiap kali berteriak di tuduh subversif dan akhirnya
dipukul kepalanya dan ditembaki  kakinya oleh anjing-anjing loreng milik negara.

Sementara kafka: kembaran imajinasiku itu
menjadi pelantara hidup atau mati-fana atau abadi.

Kafkalah yang setia mencari seikat ranting kata setiap menjelang resah
ke lembah malam, ke hutan pagi, ke ladang sore, ke bawah rimbun pohon
kenangan dan waktu.  karena kata adalah kuburan kenangan-kenanganku
yang kelak berada di setiap pekarangan puisi dan pikiran manusia.



8

sejak halaman waktu tumbuh rumput-rumput kesepian.
Malam jadi ngilu, pilu, kemudian mati di tengah tragedi kesunyian.
sementara aku duduk di dekat jendela serupa pengemis yang mengharap
rezeki pada tangan-tangan pelit. tak berdaya. pikiran lapar, perasaan haus
kering kerontang.

Sejak malam dan galau membacok seluruh hatiku yang
babak-belur ini. kafka hanya berputar-putar di sekitar jam-jam rawan dosa.
Lalu ia mulai gila dan mencari-cari cermin api dari sekeping kehangatan pada
sebuah ciuman-pelukan dan kenangan.

Ketika malam makin tua dan waktu menjauhkan diri dari kebisingan
mulut-mulut alam semesta. dunia menutup mulut. sunyi. di situlah
kebebasan dosa dan cinta sedang bermain-main gairah tanpa aturan.



9

bunga-bunga lepas dari pelukan. sebelum mekar dan abadi.  
Di hari baru, bunga segar datang kembali sebagai pelukan yang
lain. namun hanya sebentar. mungkin tak ingin kekal.

Aku makin tak mengerti, mengapa setiap yang
datang harus pergi. seperti hubungan yang cepat basi.
dan berganti-ganti.

Sebelum puluhan bunga pergi dan benar-benar mati dalam pelukan sepi.
Satu-satu alasan terbit setiap pagi dari lidah bunga-bunga berkepala picik.
Dan setiap jalan alasan terbentang kususuri pangkal dan ujungnya: ternyata
di sana tak ada kejujuran, mungkin hanya batu-batu dusta yang terselip dari
setiap kata alibi, benci dan rasa bosan.

Lalu dalam neraka sepi yang sunyi berkobar, aku mencoba
menggosok-gosokkan diri pada dinding perbuatan, siapa tahu ada
sampah dan tahi jatuh dari setiap ucapan, tindakan pada sebuah
hubungan ganjil yang kujalani selama ini. tapi suci-suci saja dan sah-sah saja.
Walau satu hal yang tak mungkin suci dalam diri; seperti hatiku
yang memanen cemburu, curiga dan patah kalbu.

Mungkin itulah sifat keburukan yang selalu dipahami mata
bunga-bunga adalah sebuah kejahatan paling keji sedunia.
namun setiap kali bunga merasa nyaman di waktu lain.
selalu di lain waktu kejahatan datang sebagai perasaaan atau
ucapan yang mengekang atau kebaikan-kebaikan yang belum
disucikan oleh setiap air pemahaman bunga-bunga. dan akhirnya
mereka berkata lain;

maaf aku pergi. sejenak aku ingin mencintai sepi,
aku ingin menyucikan dosa hati dalam puisi, mencari
bahagia dalam buku, atau ingin tertawa bersama youtube,
facebook  dan jalan-jalan, sekadar ingin mejauhkan
mata, telinga, hati, rasa, pikiran dan kenangan tentang
paku-paku masa lalu. 



10

aku mencintai puisi sebagaimana kemiskinan mencintaiku
sepenuh hati. maka pada setiap kesibukan perih hidup
pegal hati kualihbahasakan ke dalam puisi ke dalam diri abadi.

Sebab:

mencintai puisi bagai kafka yang berputar-putar
mencari keagungan ilahi robbi dalam seteguk
kemabukan cinta dan kerinduan.


Sumenep 2020



================

Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres dll. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (Sublimpustaka, 2019).  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here