Telah berkata seorang saleh dari masa kecilnya bahwa kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Namun jauh sebelumnya, binatang-binatang melata dari dasar bumi keluar dan angin yang lembut berhembus mengelus ubun-ubun, dan setiap yang beriman akan mangkat, meninggalkan bumi yang fana bagi orang-orang celaka, orang-orang ahli neraka belaka.

***

Pada hari ke-53 semenjak wabah merebak, seorang lelaki melihat dari balik kaca jendela kamarnya, binatang-binatang berwarna putih merangkak di halaman. Binatang-binatang itu berkaki empat, memiliki selaput tipis yang menghubungkan leher hingga paha kaki belakang serupa sayap kelelawar. Mereka bermoncong dan sesekali meringis memamerkan sepasang taring tajam. Lidah mereka terjulur seperti anjing.

Sepanjang hidup lelaki itu, 36 tahun, ia belum pernah melihat binatang-binatang semacam itu.

“Wabah yang datang bersama angin,” ia bergumam, “binatang-binatang aneh yang tiba-tiba keluar entah dari mana,” lanjutnya.

Lelaki itu mengusap wajahnya. Rambutnya acak-acakan. Ia beranjak ke kamar mandi. Mengguyur sekujur badan. Ia menggigil oleh air dingin.

“Tak diragukan lagi….”

***

Masih subuh. Lelaki itu baru saja menyelesaikan santap sahur ketika ia melongok ke luar jendela dan melihat binatang-binatang melata itu di bawah guyuran lampu halaman. Namun ia telah selesai mandi dan bersalin baju yang paling bagus, baju andalan yang ia beli ramadhan sebelumnya sebagai baju lebaran. Dengan baju itu, hampir setahun lalu, ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya dan memohon ampun atas segala kesalahan yang ia perbuat, sebagaimana lazimnya ritual lebaran yang ia kerjakan. Lebaran tahun ini, ia tahu ia tak akan pulang kampung seperti tahun-tahun sebelumnya. Semenjak wabah pecah dan pemerintah menerapkan peraturan bagi setiap warga untuk berdiam diri di rumah dalam rangka mencegah penularan, ia memang telah memutuskan untuk tidak mudik. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi dalam perjalanan mudik. Bisa saja ia tertular wabah dan kemudian menularkannya kepada orang tuanya di kampung. Ia tak ingin melihat orang tuanya yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun usianya, tercekik meregang nyawa karena kedatangannya. Dan seperti seorang warga negara yang baik, ia mematuhi peraturan. Sudah berhari-hari semenjak peraturan itu resmi dikeluarkan, ia mengurung diri dalam rumah. Lelaki itu telah mengosongkan tabungannya demi menimbun bahan makanan sebagai bekal karantina diri.

Subuh ini, dengan tangan gemetar, ia memutar kenop pintu rumah kontrakannya di Surabaya.

“Angin yang bertiup mengelus ubun-ubun orang-orang beriman,” gumamnya, seperti memberi kekuatan kepada dirinya sendiri. “Dan hanya orang-orang celaka yang tinggal di bumi yang fana dan tua ini.”

Rumahnya menghadap ke timur. Cahaya parak fajar yang hangat menyambutnya. Ia sedikit silau. Ia letakkan telapak tangan kananya di atas mata.

“Sebelum matahari terbit dari barat,” lafalnya, serupa mantra.

Di halaman, ia berjingkat menghindari binatang-binatang melata. Ia takut menginjak mereka. Siapa bisa memastikan bahwa binatang-binatang itu bukanlah makluk suci yang bertugas memberi peringatan kepada orang-orang beriman?

***

Jalanan lengang. Daun-daun kering yang diluruhkan angin berserakan di mana-mana. Plastik-plastik bekas teronggok di sembarang tempat. Seekor kucing liar menatap lelaki itu tajam, lantas melompat ke balik tempat sampah. Dua ekor tikus yang berat masing-masingnya tak kurang dari dua kilogram mengintipnya dari selokan. Adzan subuh sudah beberapa waktu menguap dari udara.

Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Udara terasa begitu segar. Ia melihat langit. Biru jernih. Beberapa gumpalan awan berarak. Awan-awan itu terlihat seperti kuda dan sapi. Angin bertiup lembut mengelus ubun-ubunnya.

“Beri aku mati yang damai, Tuhan,” gumamnya.

Lalu ia teringat orang tuanya di kampung, di lereng Welirang yang dingin. “Beri mereka mati yang damai, Tuhan,” tambahnya. Lalu kedua telapak tangannya bertangkup di wajahnya. Matanya basah oleh doa yang khusuk.

Lelaki itu terus berjalan.

***

Delapan ratus tiga puluh empat meter kemudian, lelaki itu teringat satu hal. Ia merogoh kantongnya. Kosong belaka. Ponselnya pasti ketinggalan di rumah. Ia ingin mengecek media sosial, memastikan apakah kawan-kawannya di dunia maya tahu apa yang ia ketahui. Ia mendengus kesal. Fakta bahwa ia telah menyaksikan binatang-binatang melata, dan kesadaran bahwa wabah yang tengah melanda saat ini bergerak bersama angin, telah membuatnya kehilangan ketenangan. Ia lupa membawa ponselnya. Ia lupa mengabarkan fakta penting ini ke seluruh dunia.

Namun, pikirnya kemudian, bukankah setiap orang seharusnya sudah menyadari apa yang sedang terjadi? Atau, kalau pun ada yang belum menyadarinya, pasti sudah ada orang lain yang lebih dulu sadar dan menyebarkan kesadarannya ke khalayak.

Memikirkan hal itu, ia jadi sentimental. “Saat ini,” gumamnya seraya menatap pucuk akasia peneduh trotoar, “kematian sedang membunyikan loncengnya di internet, di televisi, di koran dan majalah. Semua orang pasti sudah menyadarinya.”

***

Lelaki itu terus berjalan. Sesekali, satu dua pengendara melintas di jalanan yang sepi. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi.

“Sepertiku,” kata lelaki itu kepada dirinya sendiri, “mereka juga tengah memburu mati.”

Suara kenalpot yang meraung itu tiba-tiba berubah seperti madah dari surga. Madah yang hanya bisa didengar oleh orang-orang beriman, agar mereka buru-buru memburu mati. Sebab, seperti yang ia ketahui dari seorang saleh dari masa kecilnya, setiap orang yang masih memiliki keimanan, sekecil apa pun kadar keimanan itu, akan meninggal oleh angin lembut yang bertiup mengelus ubun-ubun sebelum matahari terbit dari barat dan bumi meletus dalam kiamat kubro.

Ia bayangkan orang-orang kini berada dalam kepanikan yang berbeda dari kepanikan ketika wabah pertama merebak. Bila awalnya mereka panik karena takut tertular wabah, kini mereka panik karena belum juga tertular wabah dan meninggal. Hanya orang-orang celaka yang tak akan meninggal karena hembusan angin lembut ini, gumamnya lagi, seperti menambah energi dan semangat dalam dirinya.

“Celakalah orang-orang yang masih memutuskan berdiam di rumah untuk menghindari wabah,” teriaknya. Angin Surabaya mengikis teriakannya.

“Ayo keluar dari rumah, jemputlah kematian kalian, kematian yang indah di bulan yang penuh berkah, sebelum kalian menyesal dan masuk ke dalam golongan orang-orang celaka yang akan menyaksikan dunia meletus!”

Kembali angin melenyapkan teriakannya.

***

Bahkan tak dijumpainya gelandangan atau orang gila selama ia berjalan. Apakah orang-orang yang sebelumnya ia anggap bernasib malang itu telah lebih dulu meninggal? Kalau memang mereka telah meninggal, alangkah beruntungnya mereka. Ah, pikirnya, nasib malang dan nasib baik, alangkah cepatnya bertukar tempat.

Ia mendengus. Ia kembali berjalan. Ia berharap angin yang membawa wabah segera mengelus ubun-ubunnya, mencekik tenggorokannya, menyesakkan dadanya, lantas menghancurkan paru-parunya, dan menghentikan detak jantungnya.

Ia ingin bertemu seseorang yang menyimpan wabah dalam napas dan air liurnya, lantas menularinya sesegera mungkin. Ia sampai di taman kota. Tangannya bergerak mengusap seluruh kursi logam yang ada di sana. Ia tahu, virus yang menjadi perantara wabah ini juga bisa berdiam di permukaan benda-benda. Setelah mengusap kursi-kursi logam itu, ia menciumi permukaan tangannya.

“Jangan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang celaka, Tuhan,” isaknya, lalu ia jatuh berlutut dan menangis dengan kedua tangan tertangkup di wajahnya. Pundaknya berguncang pelan.

***

Ia terus berjalan. Ia telah memutuskan tak akan kembali ke rumahnya. Ia hanya ingin sesegera mungkin menemui mati. Segala yang dilarang oleh pemerintah sebagai upaya penanggulangan wabah telah ia langgar. Ia tidak memakai masker, ia berkeliaran di jalanan, ia tidak mencuci tangan, ia memegang segala benda yang ia temui dan segera menciumi telapak tangannya. Namun maut yang ia nanti-nantikan dalam wabah itu tak kunjung menjemputnya.

Lalu ia teringat dongeng bapaknya yang sering didengarnya sebelum tidur. “Ada seorang kesatria yang mengembara mencari mati. Namanya Ramaparasu. Ia menenteng gendewa ke mana-mana dan menantang setiap kesatria yang ia temui. Namun, tak satu pun kesatria itu yang bisa membunuhnya. Dan ia terus berjalan. Ia terus mengembara. Ia terus mencari mati.”

Kalimat-kalimat dari bapaknya itu kini terngiang-ngiang di telinganya. Ia menoleh, mengira bapaknya tengah berbisik di telinganya. Namun tak ada siapa-siapa di sampingnya.

Ia kini merasa bahwa dirinya sendirilah Ramaparasu itu. Mengembara mencari mati, namun tak mati-mati. Ia sudah hampir putus asa. Dan segera ia teringat bahwa pada akhirnya, Ramaparasu bertemu Ramawijaya, dan di tangan titisan Wisnu itulah akhirnya Ramaparasu menemui ajalnya.

Semangatnya kembali menyala. Lelaki itu tahu, ia harus berusaha lebih keras. Seperti Ramaparasu. Ia berhenti sebentar, memikirkan di mana Ramawijaya berada. Sejauh ini, hanya satu dua orang yang melintas di jalanan mengendarai kendaraan. Ia belum berpapasan dengan sesama pejalan kaki, ia belum bersalaman atau bercakap dengan orang asing. Orang-orang barangkali terlalu pengecut. Atau mungkin, orang-orang itu memang termasuk golongan orang-orang celaka yang tak memiliki kadar keimanan secuil pun.

“Rumah sakit,” matanya tiba-tiba bercahaya. “Di mana lagi tempat yang menyimpan lebih banyak wabah hari ini ketimbang rumah sakit?”

***

Menjelang sore, ia telah berhasil menyelinap ke dalam tiga rumah sakit berbeda, berkeliaran dari satu lorong ke lorong lain, dari satu bangsal ke bangsal lain, bertemu dari satu orang ke orang lain, dan mereka semua menatapnya dengan  pandangan heran dan cemas. Beberapa di antaranya bertanya, “Kenapa kau tidak memakai masker?”

***

Lelaki itu masih berjalan. Perutnya menjerit. Otot-ototnya terasa linu. Ia telah menempuh banyak kilometer dengan berjalan kaki. Keringat membanjiri tubuhnya. Namun ia merasa dirinya masih sesegar alang-alang di musim hujan. Dan udara masih terasa begitu segar.

“Tuhan, kenapa aku belum juga mati?” rintihnya.

Malam perlahan-lahan datang. Ia lupa salat, ia bahkan meluputkan buka puasa. Namun lelaki itu melihat hari yang semakin panjang di depan sana. Ia bergidik. Dan ia terus berjalan, seperti Ramaparasu.

==================

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here