Di Gubuk Ibunda

Aku cari Kau
Di tempat megah
Di tempat sunyi-sepi
Di orang-orang suci
Di rumah-rumahMu
Tapi tak kujumpai!!

Kutemukan
Kau bersemayam bahagia
Di gubuk kecil milik ibunda
Awal mula semesta tercipta
Dan sifat utama alam raya tumbuh dari sana.

2020




Memorabilia Masa Kecil

Dalam kesibukan dewasa ini
sering kubayangkan gambar gunung
di sampingnya tumbuh satu pohon besar
rindang dan sehelai daun gugur
terombang-ambing sebelum menyentuh tanah.

di puncaknya ada segerombolan burung
terbang melintasi awan yang berjejer
dan satu di antaranya adalah tempat
matahari menyembunyikan diri.

jalanan menuju kaki gunung
semakin jauh semakin melebar
dua tiang listrik ramah menyambut
setiap kendaraan yang lalu-lalang.

di sisi-sisinya ada dua petak sawah
rumah para padi menundukkan kepala
dan batu-batu kerikil saling tumpuk
bercerita tentang permainan anak kecil.

dan sungai panjang
airnya mengalir tenang
mengajak kelana
ingatanku ikut hanyut sampai muara.

2020




Suara Alam

Cemara tumbang di tepi jurang
gugur daun beruntun-runtun
diterjemahkannya hawa dingin
kericik air di puncak gunung.

Tubuhnya rekah menyerpi
dalam kediaman purna alam.

Kapak-kapak panjang bergoyang
menyaksikan laju angin laut.
Ditandainya titik nol
layam ia di jantung bumi.

Kucur pengorbanan tak boleh henti
agar jernih seluruh pekat kabut.

2017




Kerabat ke Barat

kuantarkan dirimu lagi ke barat; tempat kantil-kantil tumbuh segar
karena melodi punk rock. kau putar di setiap pagi yang gusar
dan gundah karena ketabahan alam pikirmu. di balik berkas mendung
itu ada nyanyian pelangi, nadanya terus naik ke puncak agung.

kubayangkan dirimu lagi saat mandi hujan awal mei lalu
sebab juni ini tidak ada hujan, ada puisi menggaung dari surau-
surau di kampung. selepas itu bibirku terkunci
apalagi bibirmu, senyap. tertimbun seorang diri.

2020




Ke Jakarta
Untuk Nurul Mauladah

riuh kota kecil pinggir Pantura
ramai klakson kendaraan saling sapa
seperti reuni teman lama
dan pulang dengan tangan hampa.


di stasiun tuanya, kita berdiri
di loket tiket, cemas mengambil lembar kertas pengakuan.
kemudian duduk di lantai dingin, seakan tak ingin ditinggalkan
bersama orang-orang lain yang membawa risalahnya sendiri.

kemudian kereta datang dari bayang malam
di gerbong ke delapan pinggir jendela, kunang-kunang
menggelar tarian sambutan di atas padi-padi
yang kekurangan berkah kekasihnya.
membungkuk seperti lenguh.

kulihat terompah menyeret jarak pada ufuk
yang memikul ratapan penumpang dari berbagai kota.
banyak kardus mie instan dengan simpul tali
barang tentu berisi doa orang tua yang tak sempat terucap.

wajahmu terlukis di kaca berembun
walau amarah petugas pasti tak karuan
seperti nasib, apek, kehilangan arah.
tiba-tiba dingin menjalar sekujur tubuh
kerna angin saling merangkul dan awan lindap
menerobos gerbong kereta.

kita lihat semuanya begitu absurd
dunia beroncet-roncet menjadi gila
telanjang, tanpa malu meludahi hari esok

detik-detik berloncatan dari rumahnya
serta ruang-ruang mengucapkan salam perpisahan
sementara kita kembali jadi petualang rintang.

2017-2020




Bangkitlah Tubuhku!

bangunlah mataku
lihat keadaan sekitar
yang sudah lama disekap eufimisme.

senyum mereka hanya manipulasi
kau bisa tebak dari raut-rautnya
seperti kemarin menyaksikan
matahari tenggelam di seberang laut.

siaplah telingaku
dengar bisik orang-orang
yang menggali lubang di dadanya.

jangan kau pilah-pilih
surga atau neraka
tempat pelacuran atau kebun anggur.
tampung semua layaknya wine
lalu saring satu per satu
dan nikmati rasa mabuknya.

terbukalah mulutku
lepaskan kata-kata yang terjebak
kecamuk sehari-hari tanpa henti.

seumpama ia menyusuri dunia pandir
dan dihujani sebotol air keras
kau harus berontak sebagai kawan
berulang kali dan barangkali harus bersikukuh;
sampai cakrawala runtuh.

sadarlah hatiku
bakar nyali yang dulu padam kotor
dan hampir seabad putus asa
dengan api biru.
jangan tikam menikam
meskipun dendam belum redam.

bersatulah tangan dan kakiku
angkat obor tinggi-tinggi
dan berjalanlah bagai ksatira
menjemput puteri di tengah rawa.

2020




Dengarkan Kesaksianku!

Dan langit
tiba-tiba muntahkan warna
berceceran di beranda bapak
yang kosong nan hampa.
Burung-burung mendekat
menyerbu lapang dada
seperti anak panah.

Oh sungguh, segudang emosi
menggoda hasrat
dan kesakitan tak terbatas memberkatiku.
Aku tertimbun seperti jarum
di tumpukan padi, sendiri
sekalipun debu-debu mengharu-biru.

Apa yang kukatakan sebelumnya?
Semacam apologi para filsuf
yang menari di benak orang-orang.

Dan langit
adalah wadah mentari
tapi mengapa selalu gelap.
Kemudian tanah
adalah tempat pijak manusia
tapi mengapa tubuhku merasa terasing
mungkin karena bau mesiu
tapi bukankah dia terbentuk darinya?

Satu hal yang bisa digenggam hanya peristiwa
karena setiap peristiwa adalah dunia
yang lama mengendap di kepala.
Membisikkan masa lampau
menyumbang air mata
melucuti gelak tawa
berkali-kali.

Apa yang kukatakan sebelumnya?
Semacam kredo para penyair
tentang pandang kerinduan
pada hakikat makna kata.

Oh, dengarkan kesaksianku
sebagai yang membatu;
tak ada deus ex machina hari itu!
Ia gemetar ketika jemariku membelai pundaknya
sedemikian lembut satu hari sebelum tiada.

2020



==================
Dian Rijal Asyrof lahir tahun 1999 di Brebes, Jawa Tengah. Penulis pemula yang masih belajar. Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media. Buku solo antologi puisinya berjudul Kepada Tawa (2020) dan Suara dari Tanah (2020) dengan nama pena Semi Pudar. Suka kopi tapi bukan anak indie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here