Tiga perampok masuk. Salah satu dari mereka menarik tangan perempuan yang duduk di samping pintu masuk gerbong, yang sedang menggendong anaknya. Mata perempuan itu terbelalak dan hendak mengumandangkan hardikan. Namun niatnya urung setelah matanya melihat senapan panjang semi otomatis menenteng di dada perampok itu.

“Jangan bergerak, bila tak ingin tertembak,” imbuh perampok lainnya dengan lantang. Mula-mula tak ada yang memedulikan ucapan perampok itu, hingga kemudian ia menembak ke arah lantai gerbong. Kepanikan membuncah. Dan suara tembakan terdengar lagi.

“Kami hanya perampok, ingat itu!”

“Sekarang masukkan semua barang-barang berharga kalian kepada perempuan ini,” sambar perampok yang lain. Dengan kecemasan dan senapan panjang semi otomatis mengarah kepadanya, ia langsung mengambil kantong yang mereka siapkan.

Demikian ia titipkan anaknya kepada perempuan sebangkunya. Perempuan yang menitipkan anaknya itu kemudian menyambangi satu per satu tempat duduk penumpang.
“Jangan ada yang berani menyembunyikan satu barang pun!” tegas perampok yang menembakkan ke arah lantai tadi. “Ponsel, cincin, kalung, jam tangan, anting-anting, apa pun yang berharga segera serahkan.”

“Hei, kau, apa yang kau tunggu?!” teriak salah satu dari mereka. Tetapi Rusdi tak tahu perampok itu berteriak pada siapa. Hingga ia dongakkan kepala, perampok yang sempat menembak tadi telah berada di sampingnya. Bahkan perempuan itu telah berdiri di baris duduknya. “Cepat serahkan semuanya!”

Tergopoh-gopoh Rusdi kemudian memasukkan ponsel, jam tangan, dan dompet ke kantong itu. Perampok itu merampas tas yang ia bopong di paha. “Simpan ini. Ingat, kami memang penjahat tapi tidak terhadap buku.”

Perampok itu berbalik sembari mematut-matut setelah ia hanya melihat buku trilogi Roads to Freedom dan sebuah pena. Sebelum langkahnya menjauh, ia berbalik lagi dan berteriak kepada semua orang untuk mempercepat proses pengutipan barang berharga kepada perempuan itu.

Entah mimpi apa Rusdi semalam. Bisa-bisanya ia terjebak perampokan di dalam kereta jurusan Perlanaan-Medan kelas ekonomi. Barangkali ini hanya mimpi. Seperti yang dikatakan orang-orang, cubit pipimu atau gigit lidahmu untuk membuktikan mimpi atau bukan. Ah, kejadian ini benar-benar nyata dan bukan mimpi. Ingin rasanya ia melangkah keluar dan membenamkan kepalanya ke dalam air di toilet kereta.

Lelaki di samping Rusdi berpeluh melebihinya. Padahal AC menyala. Beberapa waktu yang lalu, lelaki itu masih bertelepon. Sedangkan di depan Rusdi, seorang perempuan yang lain terlihat mengalami syok berat. Perempuan yang di depannya itu serupa dengan lelaki yang di sampingnya; pucat dan menatap kosong. Terbetik dalam pikiran Rusdi untuk pindah ke samping perempuan itu, menggenggam tangannya yang dingin atau barangkali menyuruhnya merebahkan kepalanya di pundak atau di paha. Tapi ia urungkan niatnya sebab cerita ini akan kehilangan sisi seramnya.

“Heh, bayimu menangis. Cepat tenangkan!” Sebuah perintah keluar dari salah seorang perampok itu. Ia menghampiri perempuan yang ada di depan Rusdi itu untuk menggantikan tugas perempuan yang tadi. Rusdi tidak tahu yang berbicara tadi apakah perampok yang sempat menembak ke arah lantai atau yang menodongkan arah senapan ke perempuan itu. Wajah mereka semua sama, tertutup topeng.

“Kau lihat apa?!”

Bajingan! Rusdi hanya bisa membatin. Ia langsung mengalihkan pandangan ke luar kereta. Terlihat jajaran pohon-pohon sawit yang kokoh dan beberapa yang tumbang. Beberapa rumah orang di kejauhan begitu sedih kondisinya, dan bila dipandang lebih jauh lagi akan terlihat juga pepohonan karet.

Sebelum cerita ini dilanjutkan, pasti pembaca mengira cerita ini hasil mengada-ngada. Perampokan di kereta, senapan panjang semi otomatis. Agaknya, ini seperti film-film laga saja. Lebih-lebih mana ada perampok profesional yang merampok di kereta kelas ekonomi. Kenapa bukan di bank-bank? Atau paling tidak, merampok di kereta namun kelas bisnis atau eksekutif? Tetapi, ya, memang benar, cerita ini terinspirasi dari film laga. Lagipula polisi pasti menyadari bahwa hanya perampok tolol yang mau merampok di kereta api. Kemungkinan melarikan diri begitu sulit jika mereka berniat turun di stasiun yang baru beberapa saat meninggalkan gerbong lantas diteriaki para penumpang yang dirampoknya. Atau jika hendak memberhentikan kereta api di tengah jalan pasti merepotkan sebab urusan memanggul senapan selaras panjang dan hasil jarahan sudah membuat mereka kepayahan. Adapun alasan kenapa mereka merampok di kelas ekonomi, itu mudah saja. Di negeri ini, bukankah kemiskinan adalah budaya? Lagi pula tampaknya kemiskinan harus dipertontonkan. Meskipun, sebenarnya, yang ada di kelas ekonomi ini tidak semuanya tergolong miskin sebab dari banyaknya barang sitaan itu tentu muskil dikatakan orang miskin bisa mempunyai barang-barang tersebut. Atau jika masih belum percaya, coba naik kereta kelas bisnis dan eksekutif, lihat, apakah penumpangnya membeludak?

Rusdi lihat perempuan itu masih berupaya menenangkan bayinya. Sedangkan perempuan yang menggantikannya itu telah menyelesaikan tugasnya.

“Jika dari kalian kedapatan menyembunyikan satu barang berharga, bersiap darah kalian akan meruap!” Salah seorang perampok kembali menebar ancaman sebelum ketiganya berbalik. Tiba-tiba seorang lelaki yang duduk di belakang perempuan yang menenangkan bayinya itu berdiri. Ia bergerak cepat ke arah tiga perampok itu. Langkah kakinya panjang, hanya butuh dua kali melangkah untuk mendekati ketiga perampok itu. Dengan tangan kanannya ia layangkan pukulan keras ke salah satu dari perampok itu sambil berteriak: pertahanan terbaik adalah melawan!

Kereta bergoyang kencang, tanda kereta baru memasuki rel yang terpasang di jembatan untuk melewati sungai. Bersebab itu, pukulan lelaki itu hanya mengenai angin. Lalu ujung belakang senapan menyasar ke dahinya, darah menyeruak. Ia tak menyerah, kali ini tangan kirinya ingin ia layangkan. Sayang, lelaki itu kurang cepat berdiri sehingga kaki perampok itu menendang kakinya. Tumpuannya goyang dan menghasilkan pukulan untuk angin.

Jeritan terdengar dari orang banyak di gerbong ini. Perampok lainnya maju sambil berseru kepada para penumpang untuk diam. Setelah itu disusul peluru merajam ke lantai. Lelaki tadi hendak bangkit, namun lutut salah satu perampok itu terpahat ke wajahnya, dan darah menyeruak kembali dari batang hidung.

“Masih mau melawan?” kata si perampok.

Lelaki itu sungguh tangguh. Untuk kedua kalinya ia hendak bangkit. Ia tak menyadari perampok yang sempat melangkahinya tadi, menembak ke lantai dan menyuruh penumpang lainnya untuk diam, telah memberikan hantaman keras menggunakan ekor senapan, hantaman itu mengarah ke belakang lehernya.

Lelaki itu tersungkur. Pingsan.

“Ada lagi yang ingin mencoba?” kata perampok yang menumbangkan lelaki itu.

Hening membungkus gerbong ini. Lantas suara tembakan terdengar lagi.

Tiga perampok itu pergi. Dan lelaki yang sempat melawan itu diseret. Pintu tertutup. Satu perampok berjaga di depan pintu. Tubuh perampok yang lain hilang di balik baris-baris bangku.

Rusdi berpindah ke tempat perempuan yang di depannya itu. Ia ambil pena juga buku yang tadi diperiksa.

“Hentikan!” lirih wanita di itu.

“Apakah kau yang berbicara?” sambil Rusdi pandangi perempuan itu. Ia hanya diam dengan tatapannya yang kosong. Lantas Rusdi lanjutkan menulis di balik lembaran kosong.

“Bahaya,” lirih perempuan itu lagi. Namun, kali ini Rusdi abaikan. Ia terus melanjutkan tulisannya. Tepatnya membuat bagan mengenai kejadian ini yang sempat terhenti tadi. Ia mencatat hal-hal penting yang dilihatnya.

Saat Rusdi larut dalam tulisannya, bisik-bisik mulai tersiar. Makin membesar. Kata-kata “Ya, Allah” tak habis-habisnya terdengar. Karena kegaduhan itu, beberapa kali Rusdi menuliskan “Ya, Allah”. Dan tak lama ia coret dua kata itu sambil memaki dirinya sendiri. Orang-orang sekitar mulai mempertanyakan hidup mereka dan menggerutu kepada Tuhan, kenapa kesialan direbahkan pada diri mereka.

Rusdi memutar prasangka. Menyusun bagian-bagian penting cerita, kecuali di awal-awal, ia menulis sebab sedari tadi kepalanya seperti pohon pada musim panen. Mungkin saat ini kalian mengatakannya gila sebab masih sempat menulis cerita. Namun dengan apa ia harus cemas? Bila akhir perampokan ini akan merenggut ruhnya, ia sudah mengaku diri telah menuliskan sebuah cerita yang superior meski ia tidak tahu bagaimana mesti mengirimkannya ke media, seperti yang dulu sering ia lakukan. Atau bila ia selamat, bukankah cerita ini menjadi hal yang bagus untuk disebarkan? Terlebih belakangan ini ia tidak pernah menulis lagi.

Layak seorang yang kesurupan, Rusdi hampir merampungkan konsep ceritanya. Perempuan yang di depanya berkata: Bahaya! Rusdi meliriknya dengan senyuman melebar di pipinya. Rusdi merasakan ada kejanggalan. Lantas Rusdi mengedarkan pandang. Sambil mendongak, Rusdi lihat di kejauhan dua orang perampok menuju ke arah mereka. Meskipun bayangan tubuh dua perampok itu samar-samar, secara jelas gerbong demi gerbong terlewati. Perampok itu terlihat berlari kecil.

Dengan berang Rusdi menghantam wanita itu sekuat tenaga sehingga ia meringkuk di lantai. “Bajingan jalang!”

Namun, kecemasan tak berhenti di sana. Rusdi menatap lelaki yang ada di sampingnya. Wajah lelaki itu semakin mengerikan. Rusdi gelagapan. Keringatnya mengucur deras. Adegan demi adegan yang hendak disusunnya meriap tak bersisa di kepala.

Saat kecemasan Rusdi semakin meninggi, pelantang suara berbunyi. Pelantang suara yang biasa digunakan untuk mengabarkan bahwa kereta telah sampai di sebuah stasiun. Kali ini pelantang menyebutkan stasiun Medan. Saya terperanjat, sehingga ponsel saya terjatuh. Orang yang duduk di seberang saya merapatkan alisnya. Tetapi saya tak hiraukan dan malah mengutip ponsel itu dan mengantonginya. Saya keluar gerbong, mencari di mana gerangan pintu keluar sebab begitu sulit melihat ke arah jauh tanpa memakai kacamata. Saya belum juga bisa menemukan petunjuk arah pintu keluar tersebut sehingga saya memutuskan mengikuti orang-orang yang keluar dari gorbong kereta. Sambil mengekori banyaknya orang itu, saya ambil ponsel. Di layar masih terlihat aplikasi word, saya tutup dan ganti menekan aplikasi ojek online sambil menggerutu karena saldo uang elektronik saya habis, “Ah, sialan!”

Cerita ini nanti akan saya teruskan jika sudah sampai di rumah.

Perlanaan-Medan, 2020




===================
Radja Sinaga, alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara 2019. Berhimpun di Komunitas Lantai Dua (Koldu). Tulisannya terpercik di surat kabar, media digital, majalah,  antologi bersama, dan diadaptasi menjadi naskah teater.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here