Goa Anta Sina

1/

Kaul gajah putih terkabul setelah tiga belas tahun
Mendu singgah di goa hitam
Mengembus isim-isim ke kepala gajah
Buang belalai ke langit-langit
Sejuk sekujur masuk dan merasuk dalam-dalam
Puh! Putri Lela Ratna Kumala memanggil rupa manusianya

2/
Sumpah Raksa Malik lekas menjadi
kasihnya ditampik, sebab hanya berahi berbuah bencana
wanita yang ia kasih, wanita yang ia siksa
Lela Ratna Kumala gajah putih yang redup kuncup
Kesulitan mendekap lututnya sendiri

Lalu ke mana pergi ayahmu, Tuan Putri?
Seorang raja yang malu menitah sayembara
Barangkali ia mengharapmu segera wafat
Dan tak ada sangka gajah putih adalah kau
Wanita tak soal, dayang-dayang masih ada
Membuat anak kembali

3/
Tepat di tengah padang mata
Dengan rela Lela Ratna Kumala memberi upah
“Moh, kuupah kau masuk ke nyawa dan badanku”

2020


Nujum untuk Baginda

Pak nujum melihat sebelanga air
Ia tenung sesekali menatap jeling rupa baginda
Seorang wanita mengapung di padang air
benih senyum wajahnya penuh melingkar
pemilik lengkung pipi yang ia kenal dalam negeri
taksir berikut jelas, takar kurang hitung tidak
sosok yang cocok

layar gelombang yang sedang mereka tonton
sorotnya kepada gundik istana
ia akan melahirkan seorang anak titipan dewa

baginda dalam suka dan duka
Idamnya segera tiba. Seorang anak lanjutan takhta
Tapi bukan dari lubang rahim permaisuri
Yang tak kunjung berisi tujuh tahun sampai kini

Lapuk mata permaisuri menjatuhkan alir
Baginda raja Kerama Raja memakai gundikgundik segera ia larang
Termasuk berburu tanpa kawalan dayangdayang
Janji tak kurang dengan terikat langgar
Kokoh hati baginda mengatakan sumpah

Berburu di tengah hutan
Ia letih sasar malam yang gelap
Terpisah dari hulubalang dan menteri
Ia susur malam gelap
Mencari peraduan sebarang satu dua malam
Di negeri yang tak ia kira adalah petaka

Siti Mangerna Lela Cahaya putri Purba Indra
Mengintai mata yang baru berbasuh muka dalam serahi
berahi buncah terlalu pagi
langsung ia minta nikah paling dini
tanpa mufakat dari Siti Mangerna Lela Cahaya
tanpa peduli permaisuri sedang menanti di ujung negeri
hajat raja besar siapa yang dapat menampik?
Bahkan berahinya adalah perintah

Sudah hari sungsung sebulan duduk di negeri
Siti Mangerna mengandung entah dari malam yang mana
Dengan sungguh puas napas lelakinya, baginda pulang
Memantau permaisuri di sana
Hajat raja besar siapa yang dapat menampik?
Bahkan istri yang memberi anak hanya seolah gundik

2020


Pesta Perang

Pesta empat puluh hari malam berjamu sulang
Pada tentara rakyat negeri menguji bahagia
Dengan bermain-main dan bunyi riuh
Dayang-dayang berantar jemput gelas dan nampan
Sekali-kali diajaknya ibing

Sebelum pedang menetas di padang
Seperti siap menghadapi mati esok hari
Adat dan syarat menikmati perang dan amunisi batin

hitungan malam berpesta habis
serang dari negeri seberang tiada nampak di ujung gerbang
tiada halangan lagi pelamin terpasang
tinggal langkah meniti ke puncak takhta

Raksa Malik menyetel pakaian setegap mungkin
Sengih mulutnya tunjang kepala yang mendongak
Perayaan akan segera dimulai dengan berahi
Juadah terpampang meminta disuap
Dayang-dayang sibuk menghias orang kebesaran
Mengemas diri sendiri urusan belakang

Sengihnya masih bertunjang
Sebelum menjemput tuan putri di peraduan
Tinggal hanya tilam dan bumbu amarah yang merah

Tuan putri menumpang dalam cembul

Entah di malam ke berapa ia dibawa
Oleh seseorang yang sebenar ia cinta

2020


Hari/malam

Ada yang cukup diselipkan saja. serba sekilas berujar terbatas. Dialog mana
yang terpenjara dalam batok kelapa?

Malam ke malam pada jam yang sama semakin memangkas kebahagiaan
nelayan dan pekebun. Sementara hiburan ituitu saja.

Takbisa lagi kita bermain empat puluh hari/malam. Menampilkan seluruh episode.
Lima belas hari/malam, tujuh hari/malam, tiga hari/malam, satu hari/malam,
satu jam. Mengalah dari tuntutan

“Jika tidak begitu, kami telah membunuh dawai dan pulai,”

Sisa episode lain membungkus diri dalam daun kelapa yang ujungnya ditusuk lidi.
Salai di atas parapara, menjadi pais santapan angin

Penggal cerita terpenggal lagi, teksteks berkirai terembus waktu.

2020


Topeng

Sedang yang lain dengan wajahnya, biar aku bertudung topeng
Halau roh rasuk dalam irup napasku. Pada malam lakon itu, aku lepas
Pergi ke sudut batas garis panggung, menyerami penonton malam-malam
Sebenarnya menutup malu dari anakku.

Aku akan rajin kelakar. Di tengah sedih dan tegang, urat penonton
kendur ke kiri-kanan hulu darahnya.

Di antara yang lain, kakiku paling telanjang. Semua teras di telapak mesti
berebut butir. Darinya akan terbawa percik ria.

Benar selesai tabuh, penonton pulang menyiapkan tubuh
Aku di belakang panggung menghadap gelap
melepas topeng, melepas laku.

2020



Manuskrip Usang Halaman Delapan

Hikayat Dewa Mandu III W 157

Cokelat dan usang. Terkelupas dan lunglai
Kaukecup bibir yang sangkut mengurut bahasa
Huruf-huruf yang bermain petak umpet
Setelah sepuluh, jauh kususur di tiang rumah, lemari, kelapa,
Pot bunga, batu, sampai dalam pusar kepala
tapi kau lebih pandai berunding dengan waktu
bersila panggung huruf cembung dan cekung
sementara aku masih menerjemah sembunyi menjadi bunyi


halaman sembilan yang bunting dan terbaring
Aku melihat kau melahirkan bayi huruf
Lalu kau menyuruhku menimang dan mengagah, “Panggil dia Dewa Mandu”

Dewa Mandu membebat barut, peram tubuhnya
Sampai masak disantap perang dan cinta
kau kembang tikar di halaman sepuluh dan ia patuh

dan aku menuju halaman belakang rumah manuskripmu
mencari udara menafsirkan segala.

2020


=================
Destriyadi Imam Nuryaddin lahir di Serasan-Natuna, 17 Desember 1997. Saat ini berdomisili di Natuna. Bergiat di komunitas Natunasastra. Beberapa karyanya sudah terbit di pelbagai media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here