Sejak menyadari ada janin di dalam perutnya, mulai pula Ping memikirkan soal hukuman.
Jika aba-aba pelatih untuk melompati lingkaran api itu tidak ia patuhi, hukuman apa yang akan ia terima? Posisi jatuh yang tidak tepat akan membuat permukaan air terasa sekeras lantai tepi kolam. Tentu bisa berbahaya bagi keselamatan janinnya. Itulah sampai ia mencoba cara berbeda, berharap janin di dalam perutnya akan baik-baik saja seraya tetap menjalankan perintah pelatih.

Ketika memasuki lingkaran api, ia sedikit memuntir tubuh, sehingga saat jatuh bukan perutnya yang beradu dengan permukaan air, tapi bagian samping tubuhnya. Gerak yang tidak seperti biasanya itu ternyata berbuah tepuk riuh penonton. Alih-alih marah, pelatih yang berdiri di tepi kolam tersenyum lebar seraya mengacung dua jempol. Ping berharap, Pak Bos yang selalu ada di dalam bilik kaca di atas tribune penonton, juga sesenang pelatih dan penonton.

Ping pikir, mereka pasti menganggap gaya tadi semacam improvisasi. Padahal, hanya ia yang tahu, itu adalah upaya maksimalnya melindungi janin di dalam perutnya.

***

Seiring bertambahnya ukuran lingkar perutnya, janin yang meringkuk di baliknya tentu bertambah besar pula dan makin berisiko setiap ia melakukan gerak melompat. Pada pertunjukan siang ini, pelatih memberi aba-aba agar ia dan Pong melompat naik dan duduk di tepi kolam. Sebenarnya gerakan itu mudah saja, sudah berpuluh-puluh kali ia dan Pong lakukan. Namun, kali ini ia khawatir empas tubuhnya saat mendarat di permukaan tembok akan memberi efek guncangan berlebih sehingga mengancam keselamatan janinnya.

Harusnya ia dan Pong melakukannya dengan formasi berbarengan, tapi hanya Pong yang mendarat di tepi kolam. Ping sendiri memutuskan tetap di dalam air, sedikit merapat ke sisi kolam. Penolakannya itu membuat paras pelatih berubah aneh, mungkin marah, bahkan segera ke tepi kolam menunduk memelototinya. Sebelum berbalik menjauh, Ping melihat kepala Pong di depan pelatih mendongak dengan gerak-gerak kocak. Ping menduga itu upaya Pong menghibur gusar hati pelatih atas pembangkangannya.

Penonton tidak memberi aplaus, tapi bereaksi macam-macam: ada yang ketawa, ada yang mengomel, sebagian besar malah berteriak-teriak. Pada aba-aba perintah pertama yang tidak Ping lakukan, penonton sempat menduga bakal ada lagi gerakan atraksi improvisasi yang lebih memikat dari kejadian melompati lingkaran api tempo hari. Namun, setelah tiga kali aba-aba perintah melompat naik ke tepi kolam tidak juga Ping lakukan, penonton sontak melaung: “Huuu!”

Tingkah Ping di siang yang beringsang itu, membuat pertunjukan usai dengan menyisakan karut-keruh di wajah pelatih.

***

Kursi-kursi tribune belum terisi. Jeda jelang waktu pertunjukan itu digunakan pelatih mengetes apakah Ping masih dapat memahami aba-aba perintah. Sudah berulang-ulang, tapi Ping tetap saja berdiam di tengah kolam.

Ping dilamun kecele. Pelatih yang ia dan Pong hormati itu, ternyata tidak mau tahu risiko yang bisa mengancam janin di dalam perutnya. Menurutnya pelatih itu bekerja atas apa maunya Pak Bos semata. Hanya bagaimana supaya Pak Bos puas! Akhirnya ia merajuk, agar pelatih lebih perhatian dan mau memahami keadaannya. Setelah hampir tiga bulan mengetahui keberadaan janin itu, sekitar sembilan bulan ke depan ia akan melahirkan bayinya, dan ia tidak ingin proses itu gagal. Ia ingin sekali punya bayi.

Pelatih pun kehabisan akal. Saat itulah Pak Bos muncul, bersungut-sungut ke arah pelatih itu, “Kalau Ping terus bermalas-malas begitu, beri hukuman, supaya ia tahu kesalahannya!”

“Mungkin ia sakit….”

“Tidak mungkin!” Pak Bos menghardik, menyisihkan pembelaan pelatih. “Tampilannya cerah begitu. Kamu bilang makannya malah makin rakus. Heh, kalau jumlah penonton terus merosot, usaha kita ini bakal bangkrut. Karyawan kita lalu mau makan apa!” Suaranya melantang sebelum membalik punggung, kembali ke istananya di ruang kaca yang ada di atas.

Cukup lama waktu terlewati, Ping tetap tidak ingin beranjak dari tengah kolam. Ulahnya itu kembali memunculkan Pak Bos. Nampak Pak Bos murka melihat Ping ogah beratraksi justru pas saat bangku-bangku penonton di tribune mulai terisi. Pak Bos datang tergopoh-gopoh dan membawa parang.

“Potong-potong saja Ping itu!” sergahnya. “Biar karyawan memakan saja dagingnya….” Lalu tanpa membuka pakaian, Pak Bos meloncat ke dalam air. Di atas sana, beberapa orang penonton yang sudah duduk bertepuk riuh.

Penonton pasti mengira ini bagian dari pertunjukan. Padahal betapa mengkeret hati Ping mendengar ancaman Pak Bos tadi. Memang, bisa jadi hanya mengancam, tapi caranya berenang dengan tergesa-gesa ke arahnya, membuat Ping serta-merta mengambil ancang-ancang.

Ping tidak ingin pasrah, ia bertekad akan melawan. Ia mengancang: bila Pak Bos sudah dekat, ia akan membela diri dengan mencaplok saja kepala Pak Bos, tapi ia segera sadar lebar mulutnya tidak akan sanggup melakukan itu. Menggigit lengan Pak Bos, ia juga ragu, nanti gigitannya belum berhasil memutuskan lengan itu, parang Pak Bos sudah lebih dulu membelah tubuhnya.

Sejenak ia sedih, mengira cinta Pong ternyata takluk melayu oleh kilat parang di tangan Pak Bos. Ketika Pak Bos meloncat ke dalam air tadi, Pong hanya merapat ke dinding kolam dari sisi Pak Bos mencebur. Betapa tega Pong membiarkan parang Pak Bos membelah-belah tubuhnya, yang juga berarti memunahkan janin hasil buah cinta mereka. Namun, ternyata galau Ping itu keliru. Begitu tersisa dua atau tiga kali kayuh lengan Pak Bos berenang untuk mencapai posisinya, Pong meluncur dengan gerak cepat, lalu melompat ke atas punggung Pak Bos, langsung pula menekan sampai tubuh dan kepala Pak Bos tenggelam ke dalam air kolam.

Sempat ada gerak melawan, bahkan tangan Pak Bos berhasil meraih tubuh Pong, hendak membalikkan, atau menjadikan pegangan agar tubuh dan kepalanya bisa terangkat kembali dari dalam air, sedang tangan yang satunya lagi menyabetkan parangnya. Sabetan parang itu menyamping, geraknya cukup cepat ke kiri lalu ke kanan, sehingga kilat tajam mata parang itu mengancam tubuh Pong. Dalam situasi kritis begitu, sontak Ping menyadari apa yang harus ia lakukan: ia lekas meluncur merapat, lalu mencaplok lengan Pak Bos dengan gigi-giginya. Setarikan napas berikutnya, teriak kesakitan Pak Bos lenyap ke dalam air, menyusul tubuh dan kepalanya, menyisakan cipratan air hasil kecipak tubuh Ping dan Pong yang menindihnya.

Dari kedip kode mata Pong, Ping langsung paham. Segera ia rapatkan tubuh ke Pong, lalu bersama-sama menekan tubuh Pak Bos hingga ke dasar kolam. Keduanya menekan sekuat tenaga. Daya perlawanan Pak Bos tidak berlangsung lama, geliat gerak tubuhnya terus melemah sampai kemudian bergeming.

Saat muncul kembali ke permukaan air, Ping dan Pong masih saling berdempet. Keduanya lalu saling menyentuhkan moncong, diseling cicit suara-suara khas sebagai luap kemenangan. Seraya berenang pelan mengelilingi kolam, pipi mereka terus saling-lengket, terus pula bercicit. Dari atas tribune, bukan cuma tepuk tangan, bahkan suara kursi-kursi yang diguncang kegembiraan penonton sambung-menyambung, menyangka yang barusan terjadi adalah aksi atraksi model baru.

Di tepi kolam, pelatih berdiri gemetar. Ping dan Pong merasa kasihan. Keduanya tetap menyayangi pelatih itu. Pelatih itu yang memberi mereka makan, bahkan dengan penuh kasih menyuapkan ikan-ikan kecil setiap keduanya berhasil menjalankan aba-aba perintahnya.

Pada sesi pertunjukan kali ini, entah kenapa Ping dan Pong ingin sekali berkasih-kasih. Bahasa tubuh antarmereka saling mengirim sinyal. Dengan terus berdempet, keduanya memilih menyelam, membiarkan penonton penasaran. Biarlah penonton menduga-duga saja apa yang dilakukan kedua lumba-lumba itu sampai menyelam cukup lama, toh penonton yang sedang riuh bergembira itu sebentar lagi akan berhamburan keluar begitu tubuh kaku Pak Bos mengapung.



======================
Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here