Requiem Buruh Pabrik Dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul
“Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day”

Andaikan aku terlelap di tilam Carrickfergus
dan meneguk kelam malam Ballygran.
Kata-kataku mengarungi lautan terdalam, membusuk
dalam tanah liatmu.
Tetapi laut itu luas. Dan aku,
tak mampu berenang. Tangan dan betisku terbujur kaku
oleh deras nafas London. Kepalaku terbenam di lumpur  
kubang orang Katolik terpanjat ke langit 
yang mencibir. Dan senandung batuk laparmu,
O Irlandia yang mabuk. 
Aku, tak punya sayap ‘tuk terbang. 
Sebab di langit itu para malaikat mati 
berguguran dengan rambut dicukur
dan tersedak hitam abu arang. 

Langit, temukanlah aku dengan pelaut tampan
untuk menuntunku mengarungi lautan, mati di dekapan cintaku,
Carrickfergus yang berambut hitam. Aku ingat betul
bahwa rambut hitamnya menenun jerat dan berkisah tentang dukanya:
“biarlah duka itu menjadi daun yang gugur,” tuturnya mengantar tidur. 

Kawananku meleleh seperti salju ketika bunga bakung tersingkap.
Hari-hari yang siuman itu berkelana tiada henti,
bermimpi rerumputan dan daun shamrock melapisi
ranjang bebatuanku,
dan lumpur dan abu mendekap awan-awan angkuh
London yang mengantuk.
Lumpur tuak, lumpur mengutuk dunia, lumpur mayat-mayat,
lumpur neraka, lumpur ciuman dan lumpur yang bersenandung
tentang suara dan bebatuan. Suara abu, suara sungai kelabu,
suara batu-bata, suara roda menggilis waktu, suara kilang
yang tertawa menyiksa, suara piston menindas khotbah para pendeta.

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya
masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu mengayuh roda
hingga menjadi bulu. Puisi rindu yang ia hadiahkan
kini rusak dirayap. Ia tak ingat bunga anting-anting lembayung
seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 
“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya adalah roda-roda,
yang lama-kelama menggilis bibirnya. Ia hantu yang terjebak
di dinding pabrik,
jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus
terbenam terbit.
Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,
telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.
Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,
haus beterbangan sampai kiamat nanti. 
Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.
Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.
Aku terjaga mata malam. 
Kau mencariku di dekat tungku api dan berharap rusukku hangus,
meliarkan rasa lapar dan tawa bengismu. 
Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal
berambut hitam, merajut doa yang porak-poranda,
menjerit: mereka memberontak pada makam-makam
yang berkisah tumpukan abu yang rindu
pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 
Bibir daun, kaki daun, telapak daun, rambut daun,
mata daun yang tertinggal
di cermin buram meriasi kerut ibuku. 

Ia sedih rahimnya sudah tak bisa ditanam lagi. Lalu ia mencangkul
dan menanam bunga pada kuburannya sendiri. Sedang ayah berendam
mabuk di jelai hitam, menghardik pada kentang-kentang yang mengerang nyeri. 
“Kerandamu sudah siap,” ucap ibu pada ayah yang lidahnya
bernyanyi pada tukak di lambungnya, meleleh-leleh karena kosong.

Dalam hening kusimak nyawa berguguran seperti daun kering
ketika fajar merebakkan lukanya.
Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,
surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020




Kościół Mariacki

O apa arti keagungan – lihatlah! Bayangan kita ini,
jika seluruh kerajaan di bumi, di mana kita bersemayam,
disuguhi nafas, lahir dan mati seperti tanah,
tidak lain hanyalah dekorasi belaka mimpi-mimpi kita
bak vas dari tangan pengrajin di kubah-kubah Perancis?
Tetapi kubah! Dengan busur dan lengkung berani, melipat
langit-langit tak terhingga yang meledakkan warna
dan kanopi megahnya berderau dengan deretan suci
biru azur dan merah lembayung para malaikat dan rasul-rasul.
Bahwa bumi, dan surga penuh nyali ini hanya dibangun dari
gelimangan mimpi manusia-manusia terdahulu?

Tak ada cacat. Kepala dan tangan kita menciptakan pilar-pilar tinggi,
udara wangi berbau doa, horizon orang-orang
berdecak kagum dan putus asa.

Di bawah kristal Tubuh yang terpasak berdarah itu
berkobarlah api emas orang-orang Krakow.

*Ditulis tahun 2013 lalu, lalu disunting kembali ketika mengunjungi Basilika St. Mary di alun-alun utama kota tua Krakow, Maret 2017




Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu
bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,
jelaga dari tangis lilin, dan harum sakramen yang terbakar?
Mengapa kau rela bercoreng debu peradaban lusuh kami,
mengenakan jubah bunga lili yang membingkaimu
dengan emas, doa-doa lelah, memberimu naungan
dan kilau sajak-sajak yang tak berasal dari dunia?

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu
dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu
menghapus bekas goresan luka pedang Hussite
di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu tetap termenung di sana, memberi candu
dan penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.
Ketika Hussite datang merajah kau rela dilukai
seakan bersabda “tusuklah aku.
Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017





Bergamo

Bukit-bukit menjulang tinggi di atas, dililiti benteng batu
yang merangkul Italia tua yang membeku.
Terbujur jalan berbatu denga noda lumpur, lorong bata kapur,
bau wangi kemenyan dan bau masam anggur
dari katedral dan gereja tak berkaca yang termenung sunyi.
“Bergamo sudah lama mati, sebidang tanah dililit dinding batu ini
adalah kuburannya yang cantik.”

Masih banyak orang Jerman membekur seperti burung dara
di kios oleh-oleh dan mengais pastri roti
tetapi dinding itu berkoar tentang duka dan anak-anak
mereka yang menghilang, ketika pasukan Mussolini
mencabuli gereja-gereja.

Di kaki bukit-bukit itu berdiri angkuh gedung-gedung baru
dan tanah yang selama ini dipijak oleh para Don di atas bukit
kini hidup dan bersuka ria, acuh pada kepalanya yang tua.
Mereka menyebutnya “Italia baru” dan jalan itu menuju
ke etalase toko dan galeri mode Milan.

Di samping stasiun funicolare tua di Bergamo, Maret 2018





Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./
Lonceng gereja putih itu menyetubuhi angin subuh,
kumandang landai sholat membelit langit
Düren terbengkalai. 
Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 
Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.
Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bis merah.
Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.
Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba
dan lengang gedung besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.
Mayat-mayatnya mengantuk diselimuti bunga-bunga
anyelir dan dilintasi para pelari.
Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.
Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.
Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik
mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat
hantu perawan remaja tersedu duduk di nisannya
menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./
Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?
Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,
orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,
halte bis berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis bis.
Coba maniskan hari-hari mudamu dengan video kucing,
harajuku atau dengan bau pesing Pilsner
di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.
Tuang air panas saja ke kota ini, lalu aduk perlahan : jadilah!
Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,
ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu
dan pacar cantikmu, setengah telanjang berbikini,
mabuk berlinangan oleh tragedi. 
Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,
seperti dinding yang disemprot pelangi itu.
Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung
jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.
Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.
Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan
kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 
Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.
Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 
Runtuhnya dinding itu mengkhianati darah pasirnya.
“Aku terlahir sebagai orang Berlin! aku tumbuh di jalan
orang-orang asing yang dikurung dinding”.

*Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.

===================
Diang Kameluh, penulis bernama lengkap Sarita Rahel Diang Kameluh ini lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April 1997. Kini menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di universitas ilmu terapan FH Aachen, Jülich, Jerman. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here