“Seseorang mengatakan bahwa semuanya harus dibuang. Apa yang kau ingat adalah semua yang perlu diingat.”

“Bagaimana jika aku hanya mengingat rasa sakit? Lalu apakah hanya rasa sakit itu yang akan ada?”

Kalimat di atas adalah dialog antara Maria dan Rita, dua tokoh di antara sepuluh lainnya yang bernama Sofia, Pedro, Irene, Tatiana, Lydia, Enriques, Aurora, Hector, Eva, dan putri mereka (tanpa nama, digambarkan sebagai anak yang tak dapat berbicara). Semua nama tokoh itu mewakili warga Uruguay yang mengalami trauma akibat kekerasan politik di negaranya sehingga harus melarikan diri ke Norwegia.

Kisah sedih dan traumatis tersebut terangkum dalam sebuah naskah drama yang dibukukan dengan judul Waktu Tanpa Buku (WTB). WTB mengisahkan para eksil yang memanggil ingatan tentang tragedi berdarah saat demokrasi dirampas oleh para diktator.  Naskah asli berjudul Time Without Books (Oberon Books, London, 2019) ditulis oleh Lene Therese Teigen, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Faiza Mardzoeki, dan penggarapan pementasannya di Indonesia dilakukan oleh 5 kelompok teater dari 5 kota.

Pementasan itu sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Ungu dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020. Selain menyelenggarakan diskusi, kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM tersebut juga mementaskan  pertunjukan teater film secara daring 1-10 Desember 2020. Pentas teater WTB diproduseri oleh Faiza Mardzoeki, digarap oleh 5 sutradara perempuan; Shinta Febriany dari Kala Teater (Makassar), Heliana Sinaga dari Mainteater (Bandung), Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi (Aceh),  Ruth Marini dari Ruang Kala (Jakarta), dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

Mengalah Namun Mencari Celah

Sepertinya kalimat subjudul di atas tepat dijadikan ungkapan dalam situasi sekarang ini. Dunia dikepung pandemi, dan semua daftar rencana porak poranda dibuatnya. Tentu saja kita semua kali ini mesti mengalah untuk tidak ngotot menjalankan rencana dengan cara biasa. Dan sebagai manusia dengan kemampuan berpikir yang baik, kita harus mencari celah, bagaimana agar agenda bisa tetap terlaksana.

Begitu pula dengan WTB, sebuah rencana pementasan teater yang sejak awal akan digarap dan dipertunjukkan pada 2020 ini, harus melakukan adaptasi. Setelah nyaris semua acara selalu dilaksanakan daring, pentas ini pun mengikuti. 

Penamaan “Teater Film” itu tentu bukan tanpa alasan. Konsep pertunjukan teater di atas panggung tak mungkin dilakukan sebagaimana biasanya, harus dilakukan penyesuaian sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Pendekatan garapan film pun dilakukan. Teknik pengambilan gambar yang tidak terfokus ke satu titik di panggung seperti pentas biasa, membuat tim produksi memiliki kreativitas berbeda. Pilihan pertunjukan daring jadi solusi yang dianggap cukup tepat, sehingga tetap dapat memberikan suguhan yang ciamik pada penonton.

Masa Lalu yang Menghantui

Jadwal pertunjukan teater film selama 10 hari itu dibagi jadi dua hari untuk masing-masing kelompok teater. Masa tayangnya dimulai sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 keesokan harinya.

Kala Teater dari Makassar mengawali pertunjukannya pada 1-2 Desember 2020 dengan memunculkan 6 orang berbaju putih, berkacamata hitam, dengan kepala dibebat topeng wol berwarna merah. Para pemain memasuki  “panggung” sambil memutar-mutar badan masing-masing, kemudian kertas-kertas yang mereka pegang satu persatu berjatuhan. Adegan ini seolah simbol dari setiap bacaan para tokohnya yang kemudian terpaksa harus dibuang. Adegan demi adegan selanjutnya tetap terasa seperti menonton teater di atas panggung, dengan properti yang ditambahkan atau diambil sembari aktornya keluar masuk. Walaupun mestinya bisa dilakukan pengambilan gambar secara close up, Kala Teater masih teguh mempertahankan konsep pertunjukan teaternya dengan kuat. Tapi yang cukup menarik adalah sisi artistik yang dibangun dari warna-warni kontras di atas panggung, tubuh yang terjatuh dan bangun berulang, kursi yang dimainkan, hampir seluruhnya menyuguhkan tampilan estetik tanpa mengurasi emosi kesedihan yang mewarnai kisahnya. Terutama saat Pedro menceritakan bagaimana dia mengalami kengerian siksaan di penjara dengan detail.

Giliran kedua jatuh pada pertunjukan berdurasi 52 menit dari Yogyakarta. Agnes Christina membuat pementasannya di alam terbuka. Dengan pakaian para pemain berwarna putih, tampak kontras dengan rerumputan hijau di taman. Dan warna merah buah semangka menambah tegas impresi yang ingin disampaikan. Percakapan-percakapan anggota keluarga di tengah kegiatan piknik mereka membuka lembaran  trauma masa lalu. Kegembiraan piknik tak terlalu kentara dalam senyuman, yang ada hanyalah kepedihan kenangan. Dialog Pedro sempat terkalahkan suara air di latar belakang, tapi ekspresi para pemain mengirimkan rasa sunyi yang cukup memiliki daya renung.

Mainteater dari Bandung membuat pembabakan pentas seperti naskah aslinya, 23 bagian. Setiap judul babak dimunculkan sebagai permulaan menuju babak selanjutnya. Penyesuaian dilakukan dalam bagian interogasi. Ketakutan dan kebingungan aktor ditonjolkan untuk menghadirkan rasa mencekam. Durasi pementasan yang paling panjang di antara kelima kelompok teater jadi bukti bahwa Mainteater  menganggap setiap babak dalam kisah WTB penting untuk disampaikan pada penonton. Ruangan gelap dengan koran-koran dan tulisan berserakan, mesin ketik sebagai media menulis ulang peristiwa, boneka beruang, benang wol merah, jadi sarana para aktor mempresentasikan peristiwa penuh tragedi.

Kelompok Serikat Sapu Lidi mendapat giliran pentas pada 7-8 Desember 2020. Sepanjang 1 jam 19 menit, pengisahan trauma para tokoh dimulai dengan musik dan senandung penuturan hikayat khas Aceh. Para aktor perempuan berkerudung memainkan tokoh wanita, dan seorang laki-laki memerankan Pedro dan Hector sekaligus. Sebuah pohon di atas panggung menjadi artistik panggung berundak dengan kain dan kotak yang digantungkan di rantingnya. Kotak sebagai simbolisasi ingatan yang disimpan, rahasia masa lalu yang disembunyikan, namun tetap menjadi bagian dari diri para tokoh.

Ruang Kala sedikit berbeda, mereka memberi suguhan yang mendekati bentuk film pendek. Pengisahan dilakukan oleh setiap tokoh yang bermonolog. Teknik pengambilan gambar yang sinematik, dan pemilihan cast yang tepat dari lintas usia, membuat suguhan yang berdurasi 39 menit 24 detik itu bisa dinikmati dengan baik dan meninggalkan kesan dengan gema yang panjang di benak penonton. Tokoh anak diperankan oleh dua anak kecil, dan tokoh dewasa lainnya memiliki karakter kuat dalam setiap adegan. Pedro yang menceritakan kembali trauma akan siksaan, Lydia yang mengenang masa-masa penantian yang seolah tanpa ujung. Menanti suaminya dibebaskan atau mati, menanti suaminya pulang.  Rita yang gembira karena akan menikah tapi dibebani pertanyaan mengapa kedua orang tuanya, Sofia dan Pedro, menyembunyikan kisah masa lalunya dan tak mau menceritakan apa yang mereka alami. Kalimat Aurora, anak kecil yang manis itu, “Kalian tidak akan bisa melupakan aku,” jadi penutup yang bergaung. Tidak seperti kelompok teater lain yang menunjukkan bagaimana tari tango diakukan oleh Sofia dan Pedro jadi tarian yang indah sekaligus memilukan, Ruang Kala justru memberikan sajian gambar mengharukan ketika Lydia dan Enrique berpelukan setelah suaminya itu dibebaskan.

Penjara Ingatan

Lima kelompok teater tersebut telah menyajikan interpretasinya masing-masing pada naskah yang memiliki benang merah dengan peristiwa rezim politik di Indonesia. Uruguay mengalami periode kediktatoran dari 1973 sampai 1985. Pada tahun itu, sekira 20% penduduk Uruguay dipenjara, dalam waktu lama atau singkat, dan 10% diasingkan ke negeri lain. Mereka yang mengalami peristiwa tersebut tak pernah bisa betul-betul melupakan bagaimana rasanya hidup dalam teror dan ketidaktenangan. Kecemasan demi kecemasan mendera mereka dalam penjara ingatan.

Di Indonesia pun pernah terjadi pelanggaran HAM berat yang menorehkan luka sejarah. Ingatan yang menyakitkan tentang kekelaman bangsa Indonesia pun menghantui para pelaku sejarah dan orang-orang yang mengalami kekerasan di masa Orde Baru, yang dianggap sebagai rezim yang mengekang hak rakyat dalam banyak bidang, terutama hak untuk menjadi berbeda dalam pilihan politik dan idealismenya. Diberitakan banyak orang bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak setelah memprotes keras, atau dimasukkan sel prodeo setelah menyuarakan gugatannya. Orang-orang bisa tiba-tiba dicap melawan pemerintah, jika terlalu melawan arus di saat itu.

Pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku menggugah sisi kemanusiaan kita, menggedor kesadaran bahwa sejarah dan masa lalu itu bukan hanya cerita milik kita sendiri, tapi juga milik anak-anak kita,  berpengaruh terhadap kehidupannya kelak. Kebenaran yang ditutupi akan terbuka pula pada akhirnya, sebab kenangan dapat menjadi sesuatu yang utama. Kenangan baik ataupun kenangan buruk. Serangkaian kenangan baik akan terus melekat, menjadi rasa bahagia yang bisa diingat. Kenangan buruk membuat kita merasa ingat sekaligus tak ingin mengingat, kita mengingat rasa sedih tanpa merasa sedih, tapi trauma yang membekas mempengaruhi langkah dan keputusan kita, bahkan secara tidak sadar. Jadi, walaupun diingkari dan berusaha dilupakan, sejarah kelam yang pernah mewarnai perjalanan kehidupan sebuah bangsa tetap akan tinggal dalam ingatan.

Semoga tahun-tahun kelam Indonesia yang memiliki kemiripan kisah dengan sejarah Uruguay dalam naskah WTB ini tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Semoga semua bangsa di dunia tidak perlu lagi mengalami kegetiran hidup yang menyakitkan dalam ingatannya.


====================
Ratna Ayu Budhiarti, penulis dan penikmat seni. Karyanya telah dimuat di berbagai media cetak lokal dan nasional serta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Rusia, dan Korea. Menjadi peserta terpilih di beberapa acara sastra, di antaranya: Festival Puisi Internasional Indonesia (2012), Ubud Writers and Readers Festival (2012). Diundang oleh PENA Malaysia sebagai pembicara dan pembaca puisi (2016), serta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2018, 2019). Mengisi workshop dan menjadi juri pada beberapa lomba tingkat nasional. Buku puisi terbarunya, Sebelas Hari Istimewa (2019). Guru yoga ini baru saja menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya, Perempuan yang Berhenti Membaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here