Di akhir abad XX, kita teringat bahwa memiliki sepeda sama artinya dengan orang-orang yang tidak memiliki uang. Dahulu sepeda juga tak memiliki hak prerogatif di jalan seperti sekarang, dengan adanya jalur khusus sepeda. Sebab, jalan saja masih berlubang, bagaimana bisa memberikan hak bagi pesepeda. Iwan Fals mencoba mendendangkan realitas pada lagu Guru Oemar Bakri (1981). Kita simak, “Oemar Bakrie/ Profesor, guru, insinyur pun jadi/ Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie/ Seperti dikebiri?// Laju sepeda kumbang di jalan berlubang/ Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang//.

Kita mengerti bahwa Oemar Bakrie hanya sanggup membeli sepeda kumbang dari gaji minimnya. Ia tak sanggup beli motor bebek, atau mobil Avanza meskipun secara mengangsur. Namun, walau hanya dengan sepeda, Oemar Bakrie tetap bisa menghantarkan ilmu pada murid-murid. Meski harus mengayuh sambil cermat memperhatikan lubang agar sepeda tak ringsek masuk lubang. Itu tetap dilakukannya demi murid. Iwan Fals coba merajut cerita sedih lewat guru, gaji minim, dan sepeda. Ingat sepeda, ingat sedih.

Kini, pesepeda sudah tak akrab dengan kesedihan: jalan berlubang dan penghasilan minim. Di situasi kiwari, pesepeda Jakarta akrab dengan Jalanan M.H Thamrin – Jendral Sudirman yang beraspal mulus dan begitu bercahaya. Sorot cahaya lampu dan bangunan mungkin bermaksud agar pesepeda terhindar dari lubang di jalanan. Situasi bermaksud agar pesepeda terhindar dari kisah sepeda Oemar Bakrie yang selalu menjumpai lubang-lubang di jalan.

Ketidakberadaan lubang di jalan yang dijumpai pesepeda saat ini. Membuat mereka bisa menikmati bersepeda sekaligus mendengarkan lagu. Lagu didengarkan di telinga melalui gawai pesepeda. Lagu garapan Iga Massardi yang berjudul Krisis Hiburan (2020) pernah didapuk oleh para pesepeda sebagai kawan ketika mengayuh pedal. Lagu memang tak berkisah mengenai pesepeda seperti Guru Oemar Bakri yang didendangkan Iwan Fals. Tapi ia tetap dinikmati oleh banyak pesepeda saat berkendara. Penikmat tidak hanya teman-teman musisi seperti Jimi Multhazam dan Vincent Rompis. Atau jurnalis musik: Soleh Solihun. Berbagai kalangan pun menikmatinya.

Seharusmya, lagu sepeda perlu melaju meninggalkan Oemar Bakrie dengan sepeda kumbangnya. Kita perlu diingatkan kalau sepeda tidak lagi mengenai kisah-kisah kesedihan. Sepeda sudah moncer bersanding di jalan dengan motor-motor atau bahkan mobil. Sepertinya kita bisa membujuk Sir Dandy untuk mengubah lagunya Jakarta Motor City (2011), menjadi Jakarta Bicycle City. Ia bisa berkisah para pesepeda Jakarta dengan budaya barunya: eksistensi, harga diri, nominal, foto, dan lain-lain.

Kita coba simak lagu Sir Dandy yang berjudul Jakarta Motor City (2011). “Tak ada lagi yang berjalan kaki/ Naik bajaj atau metromini/ Semua orang punya motor satu/ Dari majikan sampai Pembantu// Woi/ Jakarta motor city/ Semua ngebut tak terkendali//. Rasanya tak perlu meminta Sir Dandy agar merubah isi lirik lagunya. Itu sudah apik. Dan permintaan terasa terlalu banyak. Malah akan membebankan Sir Dandy.

Mungkin kalian bisa hanya mengubah kata “motor” jadi “sepeda” di lagu Jakarta Motor City. Agar terasa bahwa kota Jakarta sudah mulai dikerubuti pesepeda yang hinggap di setiap jalan. Kini, Jakarta tak hanya terhinggapi sepeda saat hari Minggu—CarFreeDay—saja. Tiap pagi, siang malam yang tak kenal hari akan terjamahi para pesepeda.

Lagu sepeda memang tak melaju melewati motor atau mobil. Tapi, bukan berarti ia tak bisa digunakan untuk balapan. Di Jakarta, pesepeda sedang menyalip pemotor dan pemobil secara budaya. Kita juga bisa mengingat adegan balapan sepeda di film 3 Idiots (2009). Virus Sahastributi yang diperankan Boman Irani tak ingin dibalap pesepeda lain. Ia mencoba melewati pesepeda yang menyalipnya. Meski si penyalip tak bermaksud mengadu kecepatan dengan sepeda. Bersepeda jadi termaknai saingan. Virus mungkin hanya bersaing dengan kecepatan. Namun tidak dengan pesepeda Jakarta. Mereka tak hanya bersaing dengan kecepatan. Sebab jika kecepatan yang dijadikan ajang, kita bisa bersepeda dengan ikut lomba-lomba balap sepeda, seperti Tour de France. Atau buat saja acara bernama Tour de Jakarta.

Bersepeda itu balapan gengsi, merek, juga citra diri. Ia bukan sekadar alat untuk mengefisiensikan jarak tempuh, kepedulian lingkungan, atau kesehatan jasmani. Sepeda tak hanya bermakna sebagai hal-hal baik. Ia juga termaknai banyak hal dan kepentingan lain. Seperti kepentingan mengunggah di medis sosial, kepentingan tak ingin ditinggal budaya, kepentingan bederma pada rakyat, juga kepentingan-kepentingan lain.

Kepentingan-kepentingan itu belum muncul di film-film Indonesia. Di film Indonesia, kepentingan sepeda banyak teringat sebatas alat pemersatu cinta kasih muda-mudi. Situasi Oemar Bakrie dengan sepeda Kumbangnya belum direstui menjadi film. Kita coba tunggu, apakah Garin Nugroho, Mouly Surya, Gina S. Noer, atau Joko Anwar akan membuat film yang tak hanya menjadikan sepeda sebatas kendaraan romantis.

Kita tentu tidak menginginkan film berlatar balapan sepeda. Kisah yang mungkin akan mengingatkan kembali pesepeda dengan kesedihan. Seperti ketika pengemudi mobil yang diingatkan dengan kesedihan-kesedihan melalui film Ford vs Ferarri (2019) yang diperankan Christian Bale dan Matt Damon. Christian Bale yang berperan sebagai Ken Mills mati tanpa diingat sebagai orang Amerika Serikat pertama yang menjuarai Gran Prix F1 di Le Mans, Prancis tahun 1966. Sebab ditipu demi foto untuk promosi penjualan mobil ford kala itu. Ia hanya menjadi juara dua, sebab menunggu teman satu tim agar bisa terjepret bersamaan dengan apik di garis finis. Dengan kesedihan itu, ia terkubur.

Ada baiknya jika memang tak ada film bertema sepeda. Apalagi memadukannya dengan kesedihan. Jika ada, para pesepeda mungkin akan mundur kembali dan minder dalam balapannya dengan motor dan mobil di jalan, Instagram, Twitter, juga Youtube. Mereka tak jadi mengisi keriuhan yang ada. Hanya bisa menonton pengendara motor dan mobil di jalur daring dan luring saja. Begitu naas.

Tapi, film Iran yang berjudul Children of Heaven (1997) pernah memaknai sepeda sebagai sumber kesedihan. Ali dan ayahnya jatuh karena sepeda yang digunakan rusak di bagian pengereman. Mereka jatuh di jalanan menurun selepas bekerja. Mereka tidak jadi membelikan Zahra—adik Ali—sepatu. Sebab uang hasil kerja harus dialihkan untuk mengobati ayah. Di film, kita melihat bahwa sepeda jadi masalah kesedihan bocah. Bocah kalah ketika balapan dengan keadaan. Layaknya Oemar Bakrie, Ali pun bersedih dengan sepedanya. Ada baiknya film ini tak tercium endusan pesepeda Jakarta. Agar mereka tetap berani balapan.

Kita memang sudah semestinya meninggalkan kesedihan Oemar Bakrie dan Ali dengan sepedanya. Tidak perlu rasanya membangkitkan kesedihan pesepeda Jakarta melalui lagu-lagu ataupun film-film. Kisah-kisah sedih memang tak patut untuk diperlihatkan. Apalagi diumbar-umbar secara terang-terangan. Biarkan sepeda terus balapan dengan mengumbar citra yang dibalut malam, sorot cahaya, jalanan mulus, dan bentangan nama merek.





========================
Nu’man Nafis Ridho, esais, pernah menulis di Jalastoria.id, Remedial.id, dan Solopos (Mimbar Mahasiswa). Dan masih aktif menjadi buruh organisasi kampus Universitas Negeri Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here