@Muhary Wahyu Nurba

Di Kolam Mimpi

Di tepian kolam, kita jaring matahari
sudut mata ikan, menatap jalang
pikiran kita memang terlalu sempit
ikan menggelepar, menanti kematiannya
sebab ikan itu, tak pernah tau
jejak siang dan malam
maka, mati itu
adalah lebih terhormat, disantap dan dihidangkan
cerita panjang, berkali-kali dihangatkan
sambal ikan teri, berhari-hari menari di wajan panas

Pada pengkolan jalan,
sering kita menatap takdir
menghitung gelisah
antara baik dan buruk
itu hitungan matematika kita
sementara perut-perut lapar
berteriak merdeka, meski di luar
derita panjang juga ikut antri
kumuh dan kusam, potret lama
karena peninggalan garis silsilah
hanya sebuah batas
untuk dituangkan dalam riwayat
yang kadang terpajang hingga kutub

Hari esok,
mungkin harga lombok melambung
meski balon yang ditiupkan hanya sebatas
kaki langit dan kembali jatuh ke tanah
seperti cerita para sesepuh
kita tak pernah menjadi pintar
jika tak pernah merasakan pedasnya sambal

Esok, memang masih panjang
entah kapan berhenti
dan apakah kita mampu menghentikannya
selain para pendemo
yang tak henti-hentinya berteriak
turunkan harga
mungkin karena terlalu lama berdiam diri
di ruang sepi, dan ikan teri
sudah bosan berenang
di kolam-kolam mimpi

Malang – 2020




Dongeng Laut

Terpaksa aku menenggelamkan mimpiku
Bidukku begitu letih dan penat
Keringat di tubuhnya menjadi kristal garam
begitu asin, sangat asin
Jika boleh kusarankan padamu
tidak perlu engkau mengais garam di laut
akan kusobek-sobek tubuhku
untuk menggarami laut hatimu, yang tawar

Di selembar resah dan gelisah
badai menukik batinku
hingga harus kurumuskan waktu
di tarian duka, dan morfem lidahku beku
adalah waktu telah menyeduh lisan
di tubuh puisi, yang kuramu menjadi suguhan
semantik kata, yang ‘kau baca pada cerita novel
dan sepasang matahari bergegas
mengibaskan lembaran baru
ketika ombak tak lagi pasang

Masih adakah payau mengalir
di tepian muara, tempat kutambatkan rakit
setelah suara, tak lagi mengerti muasalnya
Pulang bermandikan garam, membawa pesan
bahwa resah itu telah menyatu duka
di perapian kompor
melebur luka, menyatukan aroma
pada wajan yang merindukan
kenikmatan membaca sajak-sajak
tentang kesetiaan, yang belum kita garami
di hidangan mimpi

Malang – 2020



Hopeless

peradaban yang kita baca adalah sinar yang masih tertinggal
di selintas morfem
melesakkan kata-kata yang telah terucapkan
di bibir angan-angan, yang karena kecintaan abadi
meninggalkan batas waktu
hingga angin mendera, berselimut mantera jalanan
lalu kita tidur nyenyak dengan segenap dusta,
yang mungkin esok akan terlahir kembali dan terbeli
dengan penggalan-penggalan morfem
yang menyatukan definisi-definisi pikiran terpenjara masa

kita bebaskan rindu, saat gelisah terlalu sesak
berhimpitan di jalanan yang penuh polusi
sandarkan lukisan yang membekap seluruh nalar
di ujung mata, hanya desis tersisa
memaku jalan, tak semudah menyenandungkan nyanyian rindu
karena cinta memang tercipta dari dua sisi yang tak pernah terurai

Malang – 2020



Hitam dan Putih

tidak lagi pelarian ini, adalah luka
menganga di setiap sudut mata
membekap resah, seperti nyanyian pesakitan
terantuk di tebing siksa
telatah angin jadi puting keraguan
kemana harus membenarkan diri

adalah seputih sinar, menyapa lembut
mengiris cahaya, hilangkan debu masa lalu
aku, kamu dan riuh angin
merekat dari impian yang salah
jauh berkelana, menyibak puisi diam
dan di kelokan jalan, menadah rindu dari gemerlap lampu jalanan

mari kita buang kelamnya mata
berabad-abad memenjarakan pikiran
menuangkan rindu di secawan kearifan
ketika barat tak akan pernah menyapa timur
hitam, yang tak akan pernah menjadi indah, saat putih berpaling
dan malam tak akan pernah redup, jika siang tak menyapa matahari
adalah dua sisi, tak akan pernah saling menyakiti
sepasang kebaikan lahir dari rahim kejahatan
meski sajak terus berlari dalam keangkuhan dan kebodohannya

tuan dan nyonya, adakah yang lebih berharga dari pikiran kita
selain memuisikan waktu
yang selalu membangun peradaban baru
ketika kemarin tak akan bisa tertulis dalam catatan esok

Malang – 2020










Menulis Daun
: untuk kawanku Agustina Thamrin

secangkir rasa ‘kau tuangkan
di gelas mimpi yang kita sudahi
tak ada pilihan selain pulang
jalan pun penuh kabut, melekat erat di tatapanku
terhuyung-huyung menuju museum baru

kita sering menjadi pecundang jalan
jarak yang terukur kata-kata
ringkas, tak serumit pikiran
penuh morfem dan sintaksis
karena itulah jiwa kata-kata kita
yang merepih sinar, terbaca lampu-lampu jalanan
penuh ingkar dalam ketidaktahuannya

di selembar musim
kita menanam bunga-bunga kenangan
menggaris jejak ketika kemarau dan hujan
saling melempar diri
engkau rimbun, aku terkulai layu
aku menguncupkan aroma bunga
tubuhmu menggigil, menguning diri
dan berpapasan di simpang jalan
entah itu menuju tanah-tanah duka
atau nyanyian alam semakin merdu
kita tetap saja sama

pertikaian daun, lahir dari rahim tanah dan langit
kita tuangkan di selembar zaman
penuh gelisah dan rindu
dua mata yang kita sisipkan pada warna daun

Malang – 2020




Ketakutan

aku ingin memapas ombak seperti riuh laut melantunkan dirinya
menerka bahasa-bahasa ikan, yang kudengar dari gemuruh air
siripnya begitu kokoh meliuk,
seakan mengajarkan bagaimana perahu harus berlayar
entah apa yang terbaring di dasar laut, keindahan rumput laut
tak pernah tidur,
batu dan tanah mengukir lukisan laut
mulutku terkatup, hanya napas yang bersentuhan angin,
mendera dalam sajak-sajak kecil, tak bermakna
cahaya pun memantul di bening air, di ujung ufuk menjaring puisiku
diam terkesima, ingin menjangkau langit yang tak pernah mampu kuhitung jaraknya

disini, di gelombang laut kucoba memulai hidup
meski hanya sepi yang menemaniku
tetapi kutahu, perahu telah mengajarkan agar aku mampu
membuang rasa bimbang
karena layar selalu menjadi napas bagi perahu
meski suatu saat akan karam

puisiku terhenyak membaca sepi
di dalamnya sepasang ilalang memendam rindu
aku tak pernah menyandarkan perahu, saat musim beranjak
tubuhku hanyut di larung ombak
seusai hujan garis-garis sajakku menggigil dalam duka panjang

Malang – 2020




Di Peradaban Cinta

masihkah getar ini mengalun di ingatanmu
ataukah harus kusimpan pada tungku api
agar terus membara,
melagukan nyanyian rindu

semerbak bulgari di sekujur tubuhmu
seperti sebuah epilog drama asmara
terus mengejar penciumanku
dan menikam pikiranku

adalah sepasang merpati
di kejauhan atap rumah
menatap kegelisahanku
dan berkelakar dengan bahasanya

kita tuangkan morfem, kata-kata yang mengikat
di selembar ingatan, pikiran tak mampu meramu
dan di bulir pembatasan, gerak kita hampa
tak ada semantik, puisi pun meninggalkan diksi
relung-relung jiwa, menatap dengan kesabarannya
sungguh, sangat melankolis
lisan mematikan gairah
tembok-tembok berdiri tegar, berbaris
mengharuskan kita menyayat asmara
di antara sabda cinta yang belum dilantunkan malaikat

ah, cinta itu sepasang noda
menyulam rindu dan gelisah
di pembaringan waktu
untuk mengajarkan kita
bahwa rindu adalah debu masa lalu
hanya seonggok kenangan duka
hanya sebait luka usang yang
mengingkari peradaban

Malang – 2020




===================
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here