Digitalisasi sempat membuat beberapa pihak (dalam hal ini berarti penerbit dan penulis) ketar-ketir tentang nasib percetakan buku mereka. Mereka khawatir buku cetak tak lagi diminati sebab e-book lebih mudah dicari. Mereka takut buku cetak hanya akan menjadi kenangan karena e-book telanjur memberikan kenyamanan. Padahal; fakta yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Fakta telah membuktikan bahwa e-book tidak lebih diminati daripada buku cetak. Fakta yang pertama adalah penuturan General Manager Penerbit Republika (Syahruddin El-Fikri) yang menyebutkan bahwa tren penjualan buku cetak dari tahun ke tahun di era online atau digital masih terus mengalami peningkatan.  

Fakta yang kedua adalah hasil riset yang disampaikan oleh Muhammad Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional). Syarif menyampaikan bahwa dari 132 juta pengguna internet di Indonesia, hanya 2,5% pengguna yang mengakses ilmu pengetahuan (termasuk membaca buku). Hal ini menunjukkan bahwa akses kebutuhan ilmiah dan literasi masih cenderung memakai buku teks atau cetak daripada bentuk digital atau elektronik. Fakta yang ketiga adalah hasil riset yang telah dilakukan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2016 tentang penjualan buku di Indonesia. Wakil Ketua Bidang Humas, Riset, dan  Informasi IKAPI Pusat (Indra Laksana); menyatakan bahwa masyarakat pembaca Indonesia lebih memilih buku fisik (cetak) daripada buku digital (e-book). Fakta yang keempat sekaligus yang terakhir adalah survei dari Pew Research Center (pusat penelitian di Amerika Serikat yang merilis informasi tentang tren isu sosial, opini publik, dan demografi di Amerika Serikat dan dunia) tentang minat baca di kalangan warga Amerika. Hasil survei menunjukkan bahwa 65% warga Amerika lebih memilih membaca buku cetak dalam setahun belakangan ini daripada buku dalam bentuk digital.

Fakta-fakta yang telah disajikan di atas seharusnya sudah cukup untuk menghilangkan rasa ketar-ketir pihak penerbit maupun penulis tentang eksistensi buku cetak yang mereka terbitkan. Buku cetak akan tetap baik-baik saja, meskipun diterpa arus digitalisasi yang tiada hentinya. Terdapat beberapa faktor yang membuat buku cetak tetap diminati, diantaranya adalah sebab era digital justru membantu penjualan buku cetak melalui lapak online. Misalnya saja gramedia.com, togamas.com, berdikaribook, mojokstore, dan situs-situs jual-beli buku lainnya. Era digital mampu mempermudah pembaca dalam melengkapi koleksi bacaannya tanpa perlu ribet berdandan untuk pergi ke toko buku offline. Keberadaan teknologi digital yang dikhawatirkan menjadi ancaman, ternyata berbalik menjadi kesempatan.

Faktor lainnya yang membuat buku cetak lebih diminati adalah karena aspek kenyamanan yang diberikan adalah kenyamanan semu, sebab menikmati buku dengan format digital masih dipenuhi keterbatasan. Batasan yang dimaksud adalah pancaran sinar radiasi dari gawai yang membuat pembaca tidak bisa berlama-lama menatap layar telepon cerdas atau komputer. Faktor terakhir yang membuat buku cetak lebih diminati adalah fakta bahwa membaca buku cetak lebih menyehatkan daripada buku digital. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Harvard Medical School di dalam Proceedings of The National Academy of Sciences yang menyebutkan bahwa cahaya yang dihasilkan oleh e-book dapat menyebabkan kesulitan tidur bagi pembacanya. Sementara itu, tidur yang kurang berkualitas dapat meningkatkan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit metabolisme (seperti kanker, obesitas, dan diabetes).

Digitalisasi Membuat Para Penulis Merugi?

Berdasarkan pada uraian sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa digitalisasi tidak akan membuat para penulis merugi. Jika diamati lebih jauh, sebenarnya digitalisasi lebih memperlebar ruang gerak para penulis. Selain membukukan karya; di era digital, para penulis bisa menerbitkan serpihan-serpihan tulisannya (karya-karya tipis, seperti esai ringan, puisi yang hanya beberapa lembar, atau cerpen yang hanya beberapa halaman) di beberapa media online yang selalu mengupdate kontennya setiap hari. Tak hanya itu, beberapa media online juga menyediakan honorarium bagi penulis-penulis yang karyanya dimuat (seperti detik.com, mojok.co, kurungbuka.com, bacapetra.co, buruan.co, islami.co, alif.id, iqra.id, dan beberapa media online lainnya). Hal ini tentu saja menjadi pundi-pundi keuntungan bagi para penulis, sebab hobi menulis yang menjadi kebahagiaan mampu menjadi penopang kehidupan.

Benarkah Buku Digital Lebih Praktis dari Buku Cetak?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung pada satuan ukur yang digunakan, sebab satuan ukur yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Komparasi nilai praktis antara buku digital dan buku cetak ditentukan oleh karakter dan kebutuhan pembaca (inilah satuan ukurnya). Perbedaan karakter pembaca akan mempengaruhi nilai praktis dari buku digital maupun buku elektronik. Bagi seseorang dengan karakter teliti, fokus, dan mumpuni dalam literasi digital; buku digital tentu saja lebih praktis baginya. Namun bagi seseorang dengan karakter teledor, sulit fokus, dan tidak mumpuni dalam literasi digital; buku cetak tentu lebih praktis baginya.

E-book yang tersimpan di dalam smartphone atau flash disk rentan mengalami kendala teknis bagi seseorang dengan karakter teledor dan sulit fokus. Misalnya saja, flash disk yang hilang, tertinggal, atau bahkan jatuh ketika dalam perjalanan sebab saking teledornya. Tidak hanya itu masalah teknisnya, bisa saja file e-book di dalam smartphone terhapus karena kecerobohan me-restart atau smartphone kehabisan daya baterai ketika hendak dibaca pada saat yang genting (misalnya untuk kepentingan presentasi pembelajaran atau urusan pekerjaan). Selain itu, buku digital sering tersimpan di dalam benda-benda berharga mahal (smartphone, tablet, atau notebook), sehingga memiliki risiko kehilangan lebih tinggi daripada buku cetak. Sejauh pengamatan penulis, penulis belum pernah menjumpai maling buku. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa buku digital tidak selalu lebih praktis dari buku cetak.

Sebuah Simpulan

Akhir kata, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa buku cetak masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, sebab kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh buku elektronik. Digitalisasi merupakan bagian dari arus perkembangan zaman yang tidak akan bisa dihindari. Satu-satunya pilihan yang dimiliki adalah memanfaatkan ancaman yang dibawa oleh digitalisasi untuk diolah menjadi sebuah kesempatan.




=====================
Akhmad Idris, lahir 1 Februari 1994. Lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini menjadi seorang dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Karya solonya yang telah diterbitkan adalah buku kumpulan esai berjudul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020). Baru-baru ini ia lolos dalam seleksi terbuka peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) yang ke-3 yang diadakan oleh Balai Bahasa. Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media cetak seperti: Harian Surya, Kompas, Harian Fajar, Harian BMR Fox, Harian Sultra, New Malang Pos, dan beberapa platform digital. Selain menulis, Ia juga sering mengisi beberapa kepelatihan Jurnalistik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here