Bulir keringat menetes di dahi Anwar Saleh ketika terbangun dari mimpi yang sudah empat kali dia alami dalam sepekan ini. Anwar Saleh tak tahu menahu mimpi itu membawa pertanda apa baginya, yang dia tahu hanya berdoa semoga itu hanyalah bunga tidur, bukan hal yang akan terjadi dalam kenyataan hidupnya.

Ketukan pintu terdengar, membuyarkan lamunan Anwar Saleh. Dia beringsut dari alas tidur di kamar kontrakannya yang berukuran dua kali dua setengah meter.

“War. War. Buruan nape, dah ditunggu yang laen!” teriak suara dari luar petak kontrakan.

Anwar Saleh hafal kalau jam sebelas siang begini Tono Wakuncar menghampirinya, mengajaknya berangkat ngedangdor. Hasil dari dangdut dorong itu memang tak seberapa, namun Anwar Saleh begitu menyukai pekerjaan itu karena dia menyukai dangdut. Lebih-lebih yang membuat Anwar Saleh senang karena Roheti atau Eti Ncus—nama panggung wanita itu, sesekali turut sebagai penyanyi dangdor di waktu senggangnya.

“Buset. Masih ileran aje, Lu!” hardik Tono Wakuncar ketika Anwar Saleh membuka pintu kontrakannya.

“Biasanya nggak buru-buru,” sahut Anwar Saleh.

Tono Wakuncar menjelaskan kalau kali ini ada tanggapan mendadak dari seseorang untuk perayaan buka toko baru. Mendengar itu Anwar Saleh langsung bergegas masuk lagi dan bersiap.

“Nggak usah mandi, War! Basuh muka aje.”

Anwar Saleh bergegas mengenakan kaos hijau yang menjadi semacam kaos kebanggaannya saat ada tanggapan dan dandan seadanya. Jarang sekali ada tanggapan akhir-akhir ini, Anwar Saleh tak mau melewatkan kesempatan emas itu. Baginya, lumayan karena dari satu tanggapan dia pasti mendapat gocap seperti sebelum-sebelumnya.

“Wah, ditanggap, War?” tanya seseorang saat berpapasan dengan Anwar Saleh dan Tono Wakuncar di pengkolan. Anwar Saleh mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Telah lupa ia pada mimpinya tadi, yang ada di pikirannya kini hanya uang tanggapan.

“Cik ah,” ucap Anwar Saleh pada Tono Wakuncar saat kawannya menyulut rokok di tengah perjalanan.

“Beli sendiri.” Tono Wakuncar langsung kembali memasukkan rokoknya ke kantong celana.

“Medit, Lu.”

“Nih. Atu aje dan kudu lu ganti.”

Anwar Saleh tak menjawab. Dia cepat mengambil dan menyulut rokok itu. Mereka mempercepat langkah kaki untuk segera tiba di tujuan.

Keakraban antara Anwar Saleh dan Tono Wakuncar memang sudah lama terjalin meski satu sama lain selalu ketus ketika bicara. Pertama kali Anwar Saleh bertemu Tono Wakuncar di kawasan Pasar Senen, saat masing-masing masih ngasong. Saat itu julukan Wakuncar belum melekat pada nama Tono. Nama itu baru benar-benar dia pakai saat mereka merintis dangdor dan Tono berseloroh kalau ingin terkenal harus pakai nama panggung. Dipilihlah wakuncar karena lagu dangdut itu disukai Tono. Anwar Saleh tak memakai nama panggung, meski Tono memaksanya saat itu. Hingga sekarang nama itu tetap digunakannya. Keakraban mereka semakin lekat karena setiap hari selalu bertemu dan bekerja bersama-sama, kerja yang mereka abadikan bukan untuk hal lain, kecuali hidup mereka masing-masing.

Setiba Anwar Saleh dan Tono Wakuncar di tujuan, empat kawan lain, termasuk Eti Ncus sudah menunggu. Anwar Saleh menyalami masing-masing dan yang terakhir dia mengulurkan tangan pada Eti Ncus.

“Libur, Ti?” tanya Anwar Saleh dengan muka tampak malu-malu.

“Duit dulu woy, pacaran belakangan,” seloroh Tono Wakuncar sebelum pertanyaan Anwar Saleh dijawab Eti Ncus. Rombongan dangdor berangkat menuju lokasi tanggapan. Anwar Saleh menyalakan orgennya. Memainkan musik sekenanya saja, berpikir barangkali dengan itu ada orang yang memberi seribu-dua ribu.

Eti Ncus meminta Anwar Saleh memainkan Dua Kursi, yang dimintai langsung memainkan lagu Rita Sugiarto itu. Masing-masing dari rombongan sudah fasih di luar kepala tentang tugasnya. Dua orang terus mendorong gerobak, satu orang menghampiri orang-orang yang berjalan kaki atau duduk-duduk saja di pinggir jalan sembari mengulurkan kaleng bekas biskuit, Tono Wakuncar tampak menikmati bermain kecrekan, Anwar Saleh sambil berjalan serupa kepiting menjaga fokus dengan permainan orgennya, dan Eti Ncus terus bernyanyi sambil sesekali mengeluarkan goyangan jarum suntik yang menjadi andalannya.

“Manteb ye, War,” ucap Tono Wakuncar pada Anwar Saleh. Dia tahu apa yang dimaksud kawannya tentulah Eti Ncus, namun Anwar Saleh tampak tak benar-benar hirau, meski sesekali melirik wajah Eti Ncus. Rambut model pendek sebahu, wajah dengan bedak tabur secukupnya, bibir beroles lipen warna merah bata, juga aroma parfum sachet yang menguar milik Eti Ncus melekat dalam benak Anwar Saleh.

“Udeh langsung lamar aje, War kalo demen. Jadiin bini tuh, lumayan gue kagak repot-repot lagi bangunin lu.”

“Maen kecrekan yang bener,” sahut Anwar Saleh menanggapi omongan kawannya itu.

Beberapa orang tampak menyawer, bahkan ada yang meminta mereka berhenti untuk ditanggap. Namun hal itu ditolak Tono Wakuncar karena kadung ditanggap sebelumnya. Mereka telah ditunggu oleh si pemilik toko yang menyewa mereka. Tanpa banyak basa-basi orang itu langsung menyodorkan secarik kertas pada Tono Wakuncar begitu rombongan dangdor tiba. Dua belas judul lagu tertera di sana, Tono Wakuncar menunjukkan itu pada Anwar Saleh dan Eti Ncus. Mereka hampir mengangguk bebarengan, tanda hafal dan semua lagu di kertas itu bisa dimainkan. Anwar Saleh memainkan orgennya, musik pembuka mengalun. Eti Ncus mengambil minum dan mulai bersiap. Tono Wakuncar memegang mic, menghaturkan salam.

“Nyak, babe, mpok, bang, cang-cing, semuanya. Artis yang kite tunggu, mantan penyanyi duteng, sekarang naek derajat ngikut dangdor, terkenal ame goyang jarum suntiknya. Kite sambut Etiiii Ncussss!”

Lagu Mawar Putih langsung dibawakan. Tono Wakuncar bergoyang sesekali menyahut menyebut nama pemilik toko. Anwar Saleh memainkan orgennya, badannya bergoyang tipis-tipis, matanya sesekali melirik Eti Ncus. Ada yang berdesir dalam hatinya ketika melihat itu, seperti seorang tukang ketipung menyentakkan pukulan membuat keinginan bergoyang para pendengarnya semakin menggelora.

Beberapa orang yang lewat di jalan depan ruko berhenti, ada yang sekadar melihat, namun lebih banyak yang akhirnya ikut terbuai suara dan goyangan Eti Ncus dan akhirnya turut bergoyang. Panen penghasilan hari itu didapat rombongan dangdor. Banyak orang yang bergoyang, beriring dengan saweran yang rombongan dapat. Semua wajah tampak puas di sana, seakan beban hidup yang membelenggu telah lepas sempurna.

Satu per satu lagu telah dibawakan, meski sesekali berhenti karena Eti Ncus haus. Saat seperti itu Tono Wakuncar akan memberikan pelantang pada penganggap untuk nyanyi. Dua azan terlewati dan pentas dangdor hari itu ditutup dengan lagu Pria Idaman.

Sifatmu yang peramah dan pendiam
Membuat aku rindu siang malam

Dada Anwar Saleh kembali berdegup, lebih keras dari sebelumnya. Dalam benaknya  teringat awal pertemuan dengan Eti Ncus dan betapa dia memang kasmaran pada wanita itu, meski tak ada keberaniannya untuk mengutarakan besar rasa cintanya. Anwar Saleh gusar dan merasa tak percaya hati bila cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, pertanyaan-pertanyaan tentang rasa cintanya seperti baru saja dijawab Eti Ncus saat meliriknya—manis, sembari membawakan lagu itu.

***

Bulan pucat yang tak sempurna serupa koin yang separuhnya dimasukkan mulut celengan, menggantung di langit malam itu. Derit roda kereta bertumbuk dengan besi rel terdengar. Beberapa kendaraan roda dua melintas masuk-keluar gang. Rombongan dangdor masih ngaso di sebelah warung minuman dingin yang dijaga lelaki paruh baya. Jalan ke rumah masih lumayan jauh. Dua orang yang bertugas mendorong gerobak merasa kelelahan usai mengangkat gerobak saat harus melintasi rel di sekitaran stasiun Pasar Senen. Setelah dari tanggapan tadi, Tono Wakuncar memilih lanjut ngedangdor ke daerah Taman Menteng meski pendapatan hari ini sudah terhitung lumayan. Usulan itu mulanya ditolak Anwar Saleh, namun keras hatinya luluh begitu melihat Eti Ncus tampak setuju saja dengan usulan pimpinan dangdor itu.

Beberapa lelaki berbadan tambun menghampiri rombongan dangdor. Mulanya mereka memegang tape dan orgen yang ada di gerobak. Lantas meminta lagu untuk dimainkan.

“Maaf nih abang-abang. Satu lagu goceng, ye,” ucap Tono Wakuncar pada salah seorang di antara lelaki itu.

“Gampang!” bentak orang itu. Aroma arak murahan menguar kuat dari mulutnya.

“Bayarnye kudu di depan, Bang.”

“Lu nggak percaye!”

Anwar Saleh yang sedari tadi melihat itu lantas berdiri. Berbisik pada Tono Wakuncar untuk menuruti apa keinginan mereka. Semua bersiap dan lagu Duda Araban mulai dinyanyikan Eti Ncus. Di balik orgennya, Anwar Saleh gamang, sambil sesekali melirik Eti Ncus yang nyanyi dan terus digoda rombongan lelaki itu, dia teringat akan mimpi yang menyerangnya empat hari belakangan.

Ngomonge temenan janji kawinan
Nyatane sampean cuma bohongan

Beberapa lelaki itu meminta rombongan dangdor memainkan lagu Mawar Hitam milik Meggi Z. Mendengar itu Anwar Saleh menggigil di balik orgennya, hal itu seperti yang dialaminya dalam mimpi, tentang beberapa lelaki yang ngamuk di tengah lagu, merusak gerobak dangdor sewaan, dan Eti Ncus ditusuk botol pecah. Tono Wakuncar mengiyakan permintaan itu dengan terpaksa, Eti Ncus melirik Anwar Saleh yang belum juga memainkan musiknya.

Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here