Aku Mencintaimu,
Seperti Rumput-Rumput di Halaman Masjid

sebab, rumput-rumput itu selalu kucabut
namun ia kembali subur meskipun musim berkali berganti
beranak pinak, singgah di halaman paling suci
mencintai tanpa takut mati
kembali dengan tubuh semakin hijau dan berseri.

akupun demikian,
setelah menekuni segala kejadian
yang mungkin diajarkan rumput-rumput itu
mencintai tanpa memedulikan dibenci.

Hingga kita saling mengakrabi
memangkas semi-semi benci yang menjulur
membiarkan cinta tumbuh di halaman masjid semakin subur.

Jombang, Januari 2021




Kita Pernah Semeja: Alif- Ba-Ta

di serambi, pagar bambu bercat kapur
lampu redup kuning emas sedikit kabur
angin selatan hadir, menyusup bada magrib
ketika meja kayu mahoni penuh kitab dan teman karib.

Kita pernah semeja
mengeja alif ba ta
di suatu lampau, sebelum kita saling merantau

berebut wudhu, mensucikan segala rindu
dan berebut waktu, mengejar tashih para guru.

Apakah engkau masih ingat?
Ketika malam-malam
semakin panjang
dan kita habiskan di serambi itu.

Kini, tempat itu sepi
alif- ba- ta semakin sunyi
dan meja-meja semakin mengucilkan diri.

Jombang, Januari 2021




Mungkin Kita Waktu yang Berbeda
:Aku Arunika dan Engkau Swastamita

kita sama-sama diciptakan
untuk dicintai dan dinikmati.

Sama-sama diabadikan
dalam doa dan puisi-puisi.
dalam lukisan, foto, video,  
dan ingatan-ingatan.

Aku lahir dari seberkas cahaya pagi
yang diserbukkan mentari,
pada langit: gemawan, angin,
dan segala embun yang bermukim
sebelum doa-doa subuh ditengadahkan

sedangkan engkau dilahirkan:
ketika lesap mentari menjumpai dasar cakrawala
memancarkan emas dan segala tanda
bahwa malam segera tiba
dan alif-ba-ta diserukan
di serambi-serambi dikhatamkan.

Mungkin kita waktu yang berbeda
: aku arunika dan engkau swastamita
tak pernah jumpa di alam nyata
namun abadi: dalam buku-buku puisi

Jombang, Januari 2021




Aku Melewati Sungai-Sungai

Aku melewati tepi-tepi sungai
menggiring ikan-ikan serupa larik puisi
menyibak rimbun rumput-rumput
memungut diksi-diksi yang larut
dalam sunyi dan kesendirian yang kalut

barangkali aku menemukanmu lagi
sebaris cerita yang pernah kita semai
kemudian sekarat sebelum tumbuh bersemi

aku memilih mencarimu di tepi sungai
sebab, di sinilah muasal puisi-puisi
engkau alirkan air matamu sendiri

Jombang,  2020




Langit Kalimaya Telah Berdoa untuk Kita
:Kinan

tahukah engkau kinan
bahwa langit kalimaya telah berdoa
teruntuk kita yang sedang sekarat
setelah menenggak biji-biji sedih
sisa-sisa pertengkaran.

Air mata kita telah disadap
menggumpal awan legam
kemudian, dialirkannya hujan
menyiram tandus gersang
pohon-pohon randu, yang rindu
menanak kapuk yang empuk
sebagai bantal mimpimu.

Dan malam ini kinan
tak usah kau mencariku
sebab rembulan sudah menyilaukan
matamu yang layu cemburu.

Selamat malam kinan
aku masih menyimpan air matamu
yang aku kemas dalam botol madu
bercampur air hujan yang beku.

Jombang, Januari 2021



Langit Swastamita dan Siluet Camar

tentu kau merasa bahagia, kinan
memandangi langit swastamita
mengangankan angsa berdansa
dan siluwet camar beriring-iringan

tentunya kau akan lebih bahagia, kinan
jika mentari mulai menjeburkan
separuh tubuhnya
menyorot perahu kekasihmu
yang singgah dalam matamu

namun kinan, swastamita hanyalah
tempat berhayal paling setia
yang dapat kita pungut sebagian cahayanya
sisa-sisa para penyair yang pernah memotongnya

Jombang 2021




====================
Miftachur Rozak, lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang. Kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya tersiar di berbagai media, antara lain seperti: UB Sabah Malaysia, Solo Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Riau Pos, Magrib.id, Ideide.id, Biem.co, dll. Salah satu puisinya Masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here