Memasuki tahun kedua, Re merasa orang-orang terdekat mulai keberatan dengan keadaan dirinya. Meski tidak disampaikan secara langsung, satu persatu dilihatnya telah menunjukkan ketidaksukaan terhadap kondisi, yang menurut mereka, sengaja ia buat berlarut-larut itu. Semisal Ibu yang pernah berkata, “Nanti jam 10 kamu ambil bajumu di laundry, ya.”

Ibu tidak marah setelah tahu pekerjaan yang bisa selesai hanya dengan berjalan tak lebih dari dua puluh meter dari rumah itu tidak dilaksanakan. Re juga tidak marah pada Ibunya. Hanya setelah itu, ia putuskan mencuci baju sendiri.

Laila-lah yang dirasanya paling sengit. Segala ketidaksanggupan Re dipandangnya sebagai kemanjaan belaka. Ia dengar, adik perempuannya itu menjuluki dirinya sebagai kucing persia.

Teman-teman juga tak berkunjung lagi. Puncaknya paska Re memergoki kebohongan Rizki. Sahabat karib itu membatalkan janji menyambangi. Alasannya ada tugas laporan yang harus dikerjakan. Ia tidak sakit hati kalau saja tak melihat instastory Adel yang mempertunjukan Rizki sedang nongkrong di café. Sejak itu, ia tak pernah meminta siapa pun untuk berkunjung ke rumah. Sejak itu pula ia menon-aktifkan seluruh akun sosial media. “Selamat tinggal perkawanan, nyatanya aku sendirian,” tegas Re kepada perasaan.

Hanya Ayah yang ia rasa belum berubah. Sosok penyabar itu tak pernah luput menafsirkan perasaan Re. Pernah Re curi dengar dari kamar, Ayah membelanya di hadapan Ibu dan Laila di ruang tengah.

“Luka Re itu bukan luka badan. Tidak berdarah, juga tak nampak meski dirontgen sekalipun. Seberapa dalamnya saja kita tidak bisa tahu, mana bisa kita menentukan kapan harus sembuhnya.”

“Tapi sudah setahun, Yah, masak mau begini terus?” kata Laila.

“Tidak ada yang ingin terus begini, termasuk kakakmu sendiri.”

“Sampai kapan lagi?”

“Kita tidak tahu. Tetapi yang pasti, tidak ada sakit yang selamanya. Dan semua yang hidup pasti menyembuhkan diri. Itu pasti. Kita hanya tidak tahu berapa lama kakakmu butuh waktu.”

Dari sebalik pintu, Re tahu Ibu juga berada di antara percakapan. Meski tak turut berpendapat, Re selalu menyimpulkan bahwa Ibu berada di pihak Laila. Ibu bukan tidak sayang kepadanya. Ia tak menyangkal itu. Hanya saja, Re selalu curiga bahwa Ibu telah terhasut oleh kewajaran, di mana perempuan sebaya Re yang rata-rata sudah memberi cucu. Ibu memang masih bisa menjaga perkataan, tetapi Re merasa, keluhan Laila sering Ibu biarkan mewakili pendapatnya. Begitu sangka Re, prasangka yang sebenarnya berangkat dari kecemasannya sendiri.

Percakapan keluarganya itu membuat Re urung keluar kamar untuk pipis. Re selalu merasa lebih baik jika orang lain mengira bahwa ia tidak tahu keresahan mereka. Ia tidak bermaksud bersembunyi di balik ketidaktahuan. Ia hanya ingin menghindari segala hal yang berujung pada pertanyaan, “akan sampai kapan?”

Karena ia sendiri tak tahu. “Bagaimana bisa aku menjawab? Pikiran bisa menerka apa, jika ketakutan masih menguasai separuh lebih jalannya berpikir? Jika begitu, bagaimana bisa aku menjanjikan diri? Bukankah jawaban hanya akan mengecewakan mereka lagi?”

***

Hampir dua tahun begini. Suara kendaraan dan aspal jalan tak sanggup Re jumpai. Keduanya  akan mendengingkan telinga dan melumat kesadaran hingga Re terlempar kembali kepada peristiwa kecelakaan yang menewaskan Rizal, kekasihnya.

Saat trauma kembali mengemuka. Kenangan buruk itu selalu berhasil terbabar jelas layaknya putaran film pendek yang keji. Dimulai dari motor yang mereka tunggangi terpeleset ceceran pasir di sebuah tikungan.

“Kenapa tidak kupejamkan mata saja kala itu?” sesal Re berulang kali, “toh pandanganku juga tidak bisa menyelematkannya dari kematian dan kini justru menyempurnakan ngerinya ingatan.”

Yang dimaksud Re ialah kesaksiannya pada tubuh Rizal tatkala terlempar masuk ke rongga truk yang sedang laju dari arah berlawanan. Dalam terkapar, semua disaksikan Re. Roda belakang truk sarat muatan itu melindas kekasihnya. Tubuh Rizal yang berada di lintasan roda, tak sanggup membuat jalan truk tertahan. Juga teriakan Re, tak berhasil membuat sopir menginjak rem untuk menghentikan laju kematian. Kendaraan itu hanya bergoyang sedikit tatkala melindas Rizal, seperti sedang melintasi polisi tidur saja. Lalu meninggalkan jejak tubuh yang luluh lantak, seperti sapi seusai berak. Teriakan Re kala itu justru berujung pada denging panjang di telinganya sendiri. Suara yang memekakkan kesadaran hingga ia jatuh pingsan. Di kemudian hari menjadi genta yang selalu menandai ketika trauma itu kembali mengguncang jagatnya.

Re selamat tapi cacat perasaan. Kehilangan kekasih dan keberanian untuk bersinggungan lagi dengan jalan raya. Aspal dan suara kendaraan selalu mendengingkan telinganya. Lagi, lagi, dan lagi. Sampai ia tak mau menjajal lagi. Memilih hidup sebagai orang yang tak sanggup menjumpai perjalanan. Hari-harinya habis di dalam rumah, persis seperti yang diolokkan Laila. Seperti kucing persia.

“Setidak-tidaknya kau telah menyadari sakitmu, itu satu tahapan menuju kesembuhan,” kata Rizal kepadanya.

Pada puncak sepi, selalu ia dapati kekasihnya kembali berbicara. Suara yang hanya ada di dalam kepala. Re enggan menyebut itu sebagai solilouki. Ia senang merasakannya sebagai percakapan. Meyakini suara itu bersumber dari serpihan Rizal yang tertinggal di jiwa. Ini memang sebuah kegilaan yang lain lagi. Tetapi ketakwarasaan ini selalu berhasil menentramkan dirinya.

“Aku ingin segera menyusulmu, Zal. Aku kesepian di sini.”

“Sabar, nanti akan ada waktunya, Re.”

Ketidakwarasan ini selalu berhasil mencegahnya bunuh diri.

“Kapan?”

“Nanti…”

Ujung percakapan itu selalu membuat Re kembali sanggup menunggu.

***

Rizal selalu berkata, nanti, belum waktunya, tunggulah, sabar… Tapi malam ini, ia berkata sebaliknya, “Sekarang Re, inilah saatnya, kemarilah sekarang, cepat ke sini.”

Rizal yang berkata itu dilihatnya sedang duduk memeluk lutut di tengah tikungan jalan. Tubuh lelaki itu menggigil, menanda kedinginan yang sangat. Re hendak berlari mendekat untuk mendekap. Tapi yang terjadi ialah Re tersentak dari tidur. Dalam terjaga, suara Rizal masih berulang, “Sekarang Re, inilah saatnya, kemarilah, cepat.”

“Kemana?”

“Kau tahu aku ada di mana.”

“Tidak mungkin aku ke sana!” protes Re.

“Kau harus menemuiku di sini.”

“Kenapa tidak kuakhiri hidup dari sini saja?”

“Ini bukan tentang kematian, Re, ini tentang…”

“Kau membohongiku! Kau bukan Rizal! Kau adalah suara kegilaanku sendiri! Kau hanyalah omong kosong!”

Re memukuli kepala sendiri. Tentu saja ia marah. Permintaan itu menyakiti perasaannya. Dirasanya sungguh kejam, karena memintanya menuju tempat di mana segala traumanya bermula. Ya, di sana Rizal memanggil dan minta dihampiri. Di tikungan jalan, tempat di mana hidup pernah memamerkan kekejamannya di hadapan Re.

Setelah marah reda Re kembali berkata, “Adakah cara lain, Zal? Kau tahu sendiri ‘kan? Aku tidak mungkin menempuh perjalanan. Apalagi ke tempat itu.”

Tidak ada jawaban.

“Zal?”

Hanya sepi. Sepi yang menekan perasaan.

“Maafkan kemarahanku tadi, Zal. Bicaralah lagi.”

Hanya kegelisahan yang menyerikan detak jantung.

“Zal, jawab Zal! Jawab!”

Re terus mengulang panggilan. Makin lama maka lantang dan ditegaskan dengan menempelengi kepala sendiri. Seperti menangani radio rusak, Re berharap suara Rizal kembali menyala. Re semakin menjadi-jadi, ia takut jika sampai kehilangan Rizal untuk kedua kalinya. Kegaduhan di kamar itu kini menjadi milik seluruh penghuni rumah. Ayah langsung mendekap Re ketika mendapati anaknya tengah menyakiti diri sendir. Ia dekap Re erat-erat, untuk menahan tingkah tangan Re. Ibu menyusul. Ronta tubuh Re telah dapat ditahan. Tetapi tidak tangisannya. Rengekan kemanusian dan wajah sengsara Re terus berlanjut dan menyayat perasaan siapa saja yang menyaksikannya. Pernyataan yang bukan bahasa itu menampar pengertian Laila. Menyaksikannya membuatnya paham, betapa getir kondisi yang sedang ditanggung kakaknya. Tangis Laila turut pecah, ia langsung berlari mendekap kaki Re. “Kak, maafkan Laila, Kak, maaf.” ujarnya di sela tangis penyesalannya.

Ibu membisiki, “Sabar Re, sabar, kami semua menyangimu.”

Kini Re tidak menangis sendirian. Kesedihan seakan meringan lantaran ditanggung bersama. Re berangsur tenang.

“Cerita Re, ada apa? Jangan ditanggung sendiri,” pinta Ayah

Re kemudian menceritakan semuanya. Dengan suara putus-putus yang menyaruk sisa-sisa sesenggukan, semuanya ia sampaikan. Tanpa kecuali, tanpa takut dianggap gila lagi. Ayah menatap Ibu, meminta persetujuan. Ibu mengangguk setuju. Laila berkata, “aku juga ikut.”

***

Tubuh Re bergetar seperti mesin mobil yang dinyalakan Ayah di depan gerbang. Ia genggam tangan Laila yang tengah menuntunnya. Meski cengkeraman Re membuatnya sakit, Laila membiarkan. Ia tahu kakaknya sedang berusaha menggenggam erat kesadaran.

Re telah berhasil dituntun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang bersama Laila. Mobil melaju membawa keluarga itu.

Jalan menuju daerah lereng Lawu itu sepi. Sebelum sampai tikungan yang dimaksudkan, Ayah telah meminggirkan mobil dan berhenti. Semua menengok kepada Re. Mereka khawatir, perjalanan yang telah berhasil ditempuh Re ini akan berujung pada kekecewaan lagi. Karena kenyataanya seperti yang sudah mereka duga, tak ada Rijal di tikungan itu. Ayah sengaja tetap menyalakan lampu untuk menunjukkan kenyataan di depan.

Re membuka pintu dan keluar. Tak nampak lagi tanda takut dalam gerakan tubuhnya. Ini menjadi satu tanda kesembuhan di mata keluarganya, kalau saja berikutnya Re tidak berteriak-teriak, “Rizal di mana kamu?”

Re terus mengulang panggilan sembari berjalan menuju tikungan. Ayah dan Laila segera menyusul. Ibu tetap tinggal di mobil. Ia tak sanggup menahan tangis. Dari balik kaca, ia saksikan, anaknya berteriak-teriak seperti orang gila di jalanan. Kesedihan Ibu beralih menjadi kekhawatiran. Ia lihat Re tiba-tiba berlari menuju satu penjuru. Ayah dan Laila mengekor dengan tergesa. Ibu bergegas menyusul.

Ternyata Re mendengar tangisan bayi. Bayi merah yang menjerit marah pada dinginnya malam. Seseorang nampaknya sengaja menggeletakkannya di sebalik terpal yang menyelimuti lapak buah di pinggir jalan. Re langsung memungut bayi itu tanpa Ragu. “Cup-cup-cup, kasihan,” ucap Re sembari menimang.

“Ini pasti dibuang Ibunya, ayo kita bawa ke kantor polisi,” kata Bapak.

“Ke rumah sakit dulu,” kata Ibu seraya membenarkan cara Re menggendong.

“Ih lucunya,” kata Laila.

Keluarga itu kemudian segera berangkat menuju rumah sakit. Meninggalkan tikungan jalan, dan segala sesuatu mengenai trauma Re, tak lagi menjadi perhatian mereka. Kini semuanya terpusat pada nasib bayi malang itu. Termasuk Re yang diam-diam sudah merasa memiliki dan menamai bayi laki-laki itu dengan Rizal. Itu mungkin sebuah kegilaan yang lain lagi. Tetapi yang jelas, karenanya, trauma di benak berhasil ia singkirkan. Sebab tempat itu harus diisi dengan sebuah hal baru, yakni tanggung jawab untuk merawat bayi yang ia temukan.

Sukoharjo, 21 Agustus 2020



=======================
Idnas Aral, penulis lakon di Teater Sandilara. Buku yang sudah diterbitkan: naskah lakon SRI (2017), Tentang Ketidakpastian (Kumpulan Cerpen dan Lakon Pendek, 2018), Catatan Guman (2020), dan Lelaki yang Tinggal di Selangkangan Kota (2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here