Di Ruang Asing

kalaupun warna-warna mencipta rupa
lewat bayang-bayang di ruang ini
engkau adalah bayangan paling asing
walau kedatanganmu lumaian sering

dari beberapa pecahan wajahmu
tak satupun dapat kuhafal
namun pada setiap kedipku
engkau mejelma pandangan baru
yang semakin lama dipejam
semakin pula menambah penasaran.

Engkau selalu datang padaku
terkadang berupa hening dan dingin
dan di antara keduanya
aku merasa semakin sempurna
berdiri sendirian
seakan tak perduli orang-orang

maka, pertemukanlah aku
dengan wajahku sendiri
agar yang hilang dapat kembali
memaknai kepergian lagi.

Lubtara,2020





Menjelang Tidur

sebagai lelaki malam
selalu kusediakan bulan dan bintang
dalam panjang mimpimu
supaya cahaya harapan
berguna sepanjang pagi

meski terkadang aku tertidur
dan pada mimpiku kau tampak kabur
aku tak pernah merasa sedih
sebab dengan penasaran ini
aku semakin perduli
bahkan lebih sedih dari bintang dan bulan
yang telah dari sore menunggu malam.

Lubtara,2020




Sebuah Buku di Meja Baca

sebuah buku di meja baca
tubuhnya dirayu angin
diam-diam menbuat hening
mengirim dingin
pada lembut kedipan mata
tak pernah bersuara
tak pernah disangka
dalam warna puisi
yang sedang kau baca ini.

Lubtara,2020




Perempuan Laut

ia telah sempurna merangkai rindu
dengan kering sebuah daun
menjelang langit mendung

perlahan angin membawa tubuhnya
melewati liuk-lekuk anak sungai
hingga mengenal warna lautan.

Barangkali di selat karang
ia belajar akan ketabahan
belajar menjadi manusia paling asing
lantaran harus larut
di tubuh ombak yang surut.

Tiba-tiba ia menemukan anak kilau
yang lahir dari sirip ikan
betapa tidak ia merasa luka
ketika tubuhnya ditinggal cahaya.

Lubtara,2020





Sesudah Kemarau

setelah kemarau merasa purba
di sepanjang tubuh sungai
dan berita kelukaanmu sedang hening
sejak saat itu aku berkunjung ke tubuhmu
menyaksikan sedih debu-debu
yang tak mampu berlabuh
di sepanjang rongga tanah.

Mungkin saja hujan sedang lupa
memberi lembut pijakan kaki
tak sudi melihat daun-daun hijau di matamu
ketika dalam kedipanku tersimpan kenakalan cuaca
yang tiba-tiba menggugurkan airmata.

Tinggal percik suara
saat puja-puji dianggap rayuan
seperti tenunan doa yang tak sampai
bahkan tak pernah selesai
di sepanjang kafan yang gersang

Lubtara,2020




Stanza

#1
dalam sajak ini, ada seberkas suaramu
yang hinggap di lembaran-lembaran daun
dengan berbagai sorak di tubuh sungai
menjelang kemarau datang.

Batu-batu yang dulu memelihara hijaunya lumut
tak terasa melewati sedih hari-hari dalam maut
sebagaimana aku,
begitu sempurna menyambut pagi dengan berlari
lantaran di tubuhku tersimpan beragam nyeri.

#2
dari pohon-pohon yang disentuh angin
dan kutemukan matamu berkedip hening
merayu jejak debu yang bersandar di bibirmu

sedang puisku telah lama kau lupakan
bahkan hampir menjadi bangkai anjing
baunya terasa asing dibawa angin
maka kulukis warna cinta kembali
laksana mentari dirindukan pagi.

#3
Sejak saat itu,
sering kutemukan para perempuan
berdansa dalam senyummu
menggunakan pakaian serba merah
mengejar bayangku dan membuka pintu sejarah
dan mengubahnya jadi rindu yang berayun-ayun
di taman minggu dengan kaki telanjang

di sanalah kutemukan dirimu melangkah tanpa jejak
seperti awal mula pertemuan kita jadi kerinduan
bahkan jadi kemarau yang terlalu panjang.

#4
ada yang tak mampu kutafsirkan untukmu
layaknya sebuah jam yang berdetak pelan
di antara hatimu dan kesepian mimpiku
masing-masing mempunyai perasangka
masing-masing saling berdoa
untuk menjumpai sebuah peta
yang paling jauh dalam harapan.

Lubtara,2020




Tembang Selawat

melebihi lagu di masalalu
melebihi teduh senyum-senyum
pada setiap detik liriknya

seperti menjejaki tanah basah
dingin merasuk ke seluruh tulang
seperti mengulang pertemuan
di taman depan halaman.

Aku lupa jalan pulang
aku lupa beragam kecantikan
sebab di tubuhku
dosa-dosa diam-diam disucikan

Lubtara,2020





Selepas

selepas tubuhmu menjelma suara air
sunyi turun dari langit
seruncing jatuhan hujan pertama
rindunya dikenang tujuh purnama

selepas rambutmu merindukan taman
genangan di tubuh kolam memuja keteduhanmu
tak mampu ditakwil indah bayang-bayangnya
sebab di wajahmu segala rindang berbicara
mengamini doa-doa awan yang sebentar lagi huja.

Selepas aku memasuki hatimu
segala puisiku menjadi tamu
yang paling jujur menyampaikan rasa
dengan tidak sengaja merangkai cinta

Lubtara,2020



=====================
J. Akid Lampacak
, lahir 03 Mei 2000. Mahasiswa IST Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura Jurusan Teknolagi Informasi, Sekarang Aktif Membina Komunitas Lesehan Sastra Ponpes Annuqayah. Ketua komunitas laskar pena Lubangsa Utara dan pengamat literasi di Sanggar Becak, Sumenep. Tulisan-tulisannya telah tersiar di berbagai media cetak seperti Republika, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Haluan, dan Sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here