© Ahsan Burhany



Yunus AS di Perut Ikan

Yunus tak tahu masih berapa lama. ikan di perutnya menelan dirinya
tak ada laut yang lebih laut lagi. selain laut di dadanya sendiri
ombak-ombak terus melukai luka. dosa muasal berdebur di dalamnya
sepi melekat ke permukaan kulit. meresap ke tulang sumsum makin sakit

subhanak inni kuntu minadzdzalimin. berputar-putar di hatinya yang dingin
di tengah samudra biru bergelombang. ikan berhenti di dada mulai tenang
lewat mata bulat ikan yang terbuka. dari langit bulan mengecup bibirnya
ikan menganga menyebut nama Allah. satu hentakan napas laut terbelah

dari perut ikan Yunus pun terlempar. di atas pasih ia bagai tembikar
angin laut memungutnya dalam dingin. pada dingin ia menyalakan ingin
dari ingin rindu kembali menjalar. dosa masa lalu tumbuh bunga mawar
air mata gugur seperti gerimis. bunyi debar dada begitu puitis

(fra: 2020)




Tongkat Musa AS

yang menjalar di luar adalah ular. yang melingkar di dalam adalah sinar
ular tercipta dari sebatang tongkat. tongkat tercipta dari cahaya kilat
di tanganmu ia jinak tak mendesis. ke mereka ia bagai pamor keris
ular panjang yang keluar dari sinar. di matamu tak lebih angin berdesir

saat malam ular jadi tongkat lugu. menuntunmu dari jalan-jalan buntu
menuju langit tenang ke puncak cinta. tempat bulan matahari bercahaya
bila haus cukuplah memukul batu. dingin rindu akan mengalir padamu
dan bila ingin tidur tongkat di tanah. butir pasir berubah tikar yang ramah

yang menjalar di luar adalah ular. Yang melingkar di dalam adalah sinar
ular di luar hatimu jadi doa. Sinar di dalam hatimu jadi bunga
ular dan sinar menyatu di dirimu. Doa dan bunga selamanya tak layu
Harun berkedip padamu depan pintu. Fir’un terbakar marah di belakangmu

(fra: 2020)




Perahu Nuh

adakah yang lebih berdebur di sini. selain luka yang berombak di hati
saat papan-papan Nabi Nuh rakit. menjadi sebuah perahu di bukit
orang-orang mencipratkan kotorannya. hingga baunya sampai ke dalam doa
bulan sama-samar berdarah di mata. tetes-tetesnya jadi hujan petaka

panjang kemarau yang mengeras di bahu. cukup hujan sehari sederas rindu
sungai menguap berlari dari cinta. pohon, batu, menyambutnya dalam luka
pemuda Ka’an enggan naik perahu. sebab di dadanya ada gunung batu
tapi air kian saja bergelombang. di atas perahu bulan kian tenang

(fra: 2019)




Di Atas Banjir

berhari-hari Nabi di atas banjir. bermalam-malam Nabi diayun zikir
dari perih ke nyeri sabar berlayar. dari doa ke doa bibir bergetar
sampai perahu tiba lagi di bukit. di dadanya masih ada sisa sakit
dari langit Allah meletakkan bunga. kelopaknya bermekaran dalam luka

di bumi, Nabi Nuh turun perahu. matahari di matanya tak kelabu
ia menanam biji cinta yang baru. ranting-ranting menjalar selebat rindu
burung surga bertekukur dalam diri. meloncat-loncat dari sunyi ke sunyi
andai begini tak perlu ada banjir. sebab di luka cukup sungai mengalir

(fra: 2020)




Setelah Banjir

di bibir pintu Nabi memejam mata. di luar pintu bulan penuh cahaya
seketika jatuh lagi air mata. melihat putranya tenggelam di duka
tubuh gagah itu tak mampu berenang. hatinya yang angkuh dilumat gelombang
dan tangan Nabi hanya sebatas doa. Uluran panjangnya sebatas usaha

Nabi lihat merah senja dekat mata. perlahan-lahan menuruni dadanya
tapi di bumi cinta lebat berdaun. di hatinya sudah tak terlihat gurun
lalu di atas kesunyian perahu. Nabi terpejam di pelukan Allahu
tinggal kenangan sendirian berlayar. di atas waktu yang semakin berputar

(fra: 2020)




========================
Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan (Basabasi, Juni 2017) menjadi salah satu pemenang di Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival 2018 kategori Promising Writer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here