@Muhary Wahyu Nurba

BESOK, si botak Marcello, yang bertemu di kedai kopi bergaya kabin kayu, di pinggiran kota, seminggu yang lalu, akan menikah. Sore ini, Sean mati-matian memaksaku untuk ikut menemaninya ke pesta sahabat karibnya itu, dan aku juga berusaha menolaknya mentah-mentah, walau menyampaikannya secara halus. Sampai detik ini, saat kopi di hadapan kami masing-masing telah tandas tak bersisa, belum juga ada kata yang bisa menyatukan keinginan kami berdua. Perbincangan ini berjalan alot. Tarik ulur yang tak kunjung menemui titik kesepakatan.

“Ello sendiri yang mengundangmu, masa kamu tega mengecewakannya.”

“Bukan itu masalahnya…” nada suaraku mulai meninggi.

“Anjani…, itu cuma pesta pernikahan biasa. Ada ratusan orang yang akan hadir di sana, dan tidak akan ada yang peduli dengan kedatangan kita berdua.”

“Ya…, dan ada puluhan temanmu yang juga akan hadir dan bertanya-tanya dengan siapa kamu datang ke pesta itu!”

“Jangan terlalu cemas begitu, dong,” bujuk Sean lagi. “Cuma Ello yang tahu hubungan kita berdua! Kalau ada yang bertanya, jawab saja kita hanya berteman.”

“Teman…? Apa kita terlihat seperti dua orang sahabat?” tanyaku dengan nada penuh penekanan, memastikan ucapan Sean.

Pemilik mata sewarna kopi itu langsung menatapku tajam. Dipicingkan kedua matanya dengan kening berkerut. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

“Penampilanmu memang terlihat dewasa, apalagi dengan blazer hitam yang sering kau kenakan. Tapi wajah imut dan melankolismu itu tak kalah cantik dan terlihat seumuran dengan model-model di majalah remaja itu,” tunjuk Sean pada sebuah majalah yang tergeletak tepat di sisi  dua cangkir kopi yang telah tandas, ditemani sepiring kecil opera cake yang belum  tersentuh sama sekali.

“Aku serius, Sean!” Kutunjukkan ekspresi tak suka dengan jelas agar dia mengerti.

Sean malah menarik kepalanya condong ke depan, agar dapat menatap wajahku lebih dekat. Menyisakan jarak beberapa senti bagi  kami untuk saling bertatapan, kemudian, dengan tiba-tiba, ditariknya kacamata yang bertengger di hidungku, tanpa permisi.

“Sean!” Aku berteriak. Terkesiap. Tak siap, dengan tindakannya yang tak kuprediksi. Lelaki di hadapanku ini memang sering melakukan sesuatu yang tidak diduga-duga. Adakalanya aku menyukai spontanitasnya itu, tapi terkadang aku menjadi kesal dibuatnya. Seperti saat ini, tanpa kacamata penglihatanku.menjadi sedikit terganggu.

“Apalagi jika sesekali kau mengganti kacamata minusmu ini dengan lensa kontak, dan rambut hitammu yang selalu menguar aroma wewangian bunga itu dibiarkan tergerai bebas,” lanjutnya tanpa memperdulikan protesku.

“Aku tidak butuh gombalanmu, Sean,” ucapku. Berusaha merebut kembali kacamataku dari tangannya.

“Aku berkata jujur,”  ucapnya sambil berkelit. Disembunyikan tangannya yang memegang kacamataku di bawah meja.

“Apa kamu pikir aku gadis belia yang hatinya gampang meleleh oleh rayuan?!”

“Sejak kapan aku pintar merayu?” tanyanya lagi.  Kali ini sambil menahan tanganku yang masih berusaha meraih kacamataku, dengan cara mencengkeramnya lembut. “Itu bukan gayaku, Anjani!”

“Ya…, tapi penilaianmu padaku terlalu naif!”

Sean menggeleng. “Kamu yang terlalu paranoid, Anjani.”

“Aku bukan paranoid! Kenapa sih, kamu tidak juga bisa mengerti.”

“Lalu apa  masalahnya?”

Aku menatapnya kesal. “Kalau kita datang berdua itu sama saja kita go public,” ada penekanan dalam kalimat terakhirku. “Dan aku belum siap melakukan itu.”

Sean terdiam. Ada jeda panjang di antara kami. Dibawanya kembali kacamataku yang dirampasnya beberapa detik yang lalu, mendekati wajahku. Sesaat Sean menatapku lekat-lekat. Kemudian dengan perlahan diletakkan kembali kacamata itu di atas hidungku, membatasi pandangan mataku dan matanya. Dilepasnya cengkeraman tangannya di lenganku. Secara bersamaan kami menarik tubuh kembali, bersandar di kursi masing-masing.

“Siapa yang bisa menjamin kalau di sana tidak ada orang yang mengenaliku, atau justru aku akan bertemu dengan teman-temannya Celina. Apa kamu bisa memastikan itu?” lanjutku lagi. “Sean…, kota ini tidak luas. Ada begitu banyak kesempatan untuk mempertemukan orang-orang yang dikenal secara tidak sengaja.”

“Kamu ini, kadang terlalu takut yang berlebihan. Kenapa sih tidak bisa santai sedikit saja?”

“Kamu benar-benar tidak mengerti! Tidak akan pernah mengerti!” Aku menggeleng lemah. “Bagaimana aku bisa tenang kalau siang tadi aku baru mendengar mahasiswa-mahasiswa di kampus mulai memperbincangkan kedekatan kita. Itu yang sempat kuketahui.  Bagaimana dengan banyak lagi gosip-gosip yang beredar di luar sana yang tidak kuketahui.”

“Kamu mulai tersiksa, Anjani…?” Sean menatapku lurus-lurus.

“Bukan itu maksudku!”

Wajahku tertunduk layu. Menatap cangkir kosong di atas meja dengan pandangan nanar. Ini sulit dijelaskan.Tapi Sean harus tahu kalau hatiku mulai gelisah. Dan aku harus menyuntikan logika ini ke kepalanya agar lelaki kritis dan selalu berada di garda terdepan dalam demo-demo mahasiswa, menuntut keadilan pada pemerintahan yang sedang berkuasa, ini mengerti.

Pelan kuangkat wajah. Memastikan kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tidak peduli Sean senang atau tidak mendengarnya. Dia harus tahu kegelisahanku!

“Sean…” panggilku pelan. Menatapnya lebih dalam.

Sean balas menatap dengan ekspresi yang masih bertahan sama.

“Aku punya Celina. Tidak seperti kamu yang bebas,” ucapku tertelan.

“Dari awal aku tahu itu dan tidak pernah mempermasalahkannya!”

“Bukan kamu! Tapi orang-orang di luar sana!” jelasku.

“Apa urusan mereka dengan hidup kita? Tidak ada yang salah dengan hubungan ini, Anjani!” tegasnya.

“Ya…mereka memang tidak  peduli dengan apa yang kurasakan. Tapi aku punya kehidupan sosial yang harus dipertanggungjawabkan.  Moralitas! Norma sosial! Kita hidup di dalamnya, Sean. Mau tidak mau aku harus peduli dengan semua itu.”

Rahang Sean langsung mengeras.  

“Lalu… bagaimana dengan aku? Apa yang salah di sini, Anjani…? Salahkah rasa ini? Salahkah aku yang mencintaimu mati-matian? Begitu amoralkah perasaan ini?”

Aku tidak tahan lagi. Mataku mulai memanas. Aku mendapati diriku berada dalam dilema. Ini benar-benar menyakitkan. Aku baru menyadari kalau akar permasalahan ini begitu rumit. Harusnya aku memikirkan hal ini dari awal saat Sean menyatakan perasaannya padaku, di antara lembaran-lembaran skripsinya, di ruang kerjaku, di awal musim kemarau, enam bulan yang lalu. Di saat daun-daun acacia berguguran di balik jendela.

Entah apa yang merasuki pikiranku saat itu, hingga mengiyakan pernyataan lelaki paling cuek dan terkenal sebagai mahasiswa kritis dan idealis di kampus. Aku hanya melihat ada kejujuran dan kebebasan yang ditawarkan pemilik mata kelam itu. Seperti kupu-kupu yang selama ini hidup dalam kepompong keteraturan, Sean mampu memberi warna pada hidupku yang monokrom setelah aku kehilangan lelaki yang paling kucintai beberapa tahun yang lalu.

Aku yang selama ini hanya berkutat dengan jurnal-jurnal ilmiah dan menyibukkan diri dengan rutinitas di kampus, untuk pertama kali mengenal Imagine Dragons, dan Greta Van Fleet, jenis musik yang selama ini tak pernah kulirik, karena lelaki bermata kopi itu.

Sean telah berhasil mengubah rute perjalanan harianku dari rumah ke kampus, hingga seminggu sekali mengunjungi pemukiman kumuh padat penduduk di bantaran kali, dengan aliran sungai keruh dan dipenuhi sampah limbah rumah tangga dan pabrik. Bercengkerama dengan bocah-bocah polos  yang jarang mengenakan alas kaki. Tempat yang ternyata sudah beberapa tahun diakrabinya. Mengajari anak-anak yang tak mampu mengenyam pendidikan formal itu,mengenal huruf, berhitung, dan sesekali memainkan alat musik.

Karena Sean juga akhirnya aku bisa membedakan kopi arabica, robusta, liberika dan ekselsa, hanya dengan mencium aromanya, di kedai kopi yang didirikannya bersama Ello sahabatnya, yang menjadi penyebab kuliahnya sempat terbengkalai beberapa saat.

Keberadaan Sean di sisiku, tanpa kusadari, telah membuat jiwaku menjelma baru. Perspektif hidup yang selama ini kulihat dengan sudut pandang sempit dari balik kaca mata minusku mendadak menjadi begitu luas dan berwarna, dengan cara-cara sederhana. Dan entah kenapa, aku sangat menikmatinya.

“Mawar itu telah berubah menjadi dandelion.” Sean selalu menggodaku, setiap melihatku sesekali mengubah penampilan di hadapannya dengan bergaya lebih casual.

“Karena aku berteman dengan rumput liar,” balasku.

“Jadi kau berubah karena aku?”

“Tidak juga!” Aku berbohong. Padahal semua kulakukan karenanya. Sesekali aku ingin memantaskan diri bersisian dengannya, yang lebih senang mengenakan kaos oblong dan jaket denim daripada berkemeja. Walau aku juga telah berhasil mempengaruhinya untuk memangkas rambutnya yang dulu gondrong, hingga kini terlihat lebih rapi. Tapi kesan urak-an  entah kenapa masih sulit lepas dari dirinya. Mungkin karena cara bicara, dan karakter dirinya yang apa adanya.

“ Bagus…! Aku menyukai perempuan yang memiliki prinsip hidup,” ujarnya.

“Bagaimana mungkin aku mengubah diriku karena orang lain,” belaku lagi. Walau sejujurnya metamorfosa diriku ini terjadi, sejak kehadirannya, walau tak kentara. Tapi aku tak akan pernah mengakuinya di hadapan orang lain, apalagi di hadapan Sean. Rasa gengsiku terlalu besar untuk melakukan hal itu.

“Ya…penampilanmu memang terlihat lebih sederhana, tapi aku tidak ingin melihatmu rapuh dan mudah diterbangkan angin seperti setangkai dandelion. Aku ingin kau masih tetap memperlihatkan sifat-sifat mawarmu, indah tapi tak gampang goyah. Biarkan prinsip hidup yang selama ini kau pegang teguh  menjadi duri-duri yang melindungimu.”

“Karena itukah kamu menyukaiku?”

Ya,” jawabnya tegas. Tanpa ragu sedikitpun.

Aku tersenyum.

“Tapi kamu lebih nyaman menjadi mawar atau dandelion?” tanyanya lagi.

Di titik itu aku selalu terdiam. Sean juga tak mencecarku untuk mendapatkan jawabannya. Karena sampai detik ini, pertanyaan itu masih berupa kabut, di hatiku. Tidak seperti Sean yang berani dengan tegas dan jujur menyatakan apa yang dirasakannya.

“Anjani…” Sean menyentuh jemariku.

Aku terkesiap. Pikiranku yang beberapa detik sempat melayang, mengenang percakapanku dan Sean beberapa bulan yang  lalu, kembali menjejak. Tatapanku kembali berpijak di mata kelam Sean  yang senja ini, entah kenapa, mendadak terlihat redup.

“Apa tidak menyakitkan kita berdua jika menempatkan diri dalam posisi seperti itu? Tidak bisakah kita lupakan saja pikiran orang-orang tentang kita dan berjalan mengikuti kata hati,” suara Sean melunak.

“Cobalah berpikir realistis, posisi kita berdua memang sulit.”

“Kamu yang membuatnya terlihat rumit.”

“Pikirkan perasaan Celina yang terluka jika dia mengetahui hal ini.”

Sean menghela nafas, kemudian tertunduk dalam.

“Aku belum siap jika Celina membenciku. Cobalah mengerti posisiku, Sean!”

“Ya… ironisnya, aku harus selalu berusaha untuk mengerti, tanpa bisa memutuskan apapun. Padahal kamu tahu, itu bukan sifatku yang kamu kenal selama ini.”

“Kita hanya butuh waktu?”

“Sampai kapan?” tanyanya pelan penuh penekanan.

Inilah pertanyaan paling sulit yang pernah kutemui dalam hidup. Bahkan lebih sulit dari semua pertanyaan para penguji di sidang disertasi-ku, beberapa tahun yang lalu.

Kutatap mata Sean nanar, kemudian menggeleng pelan.

“Sampai kamu memiliki keberanian untuk berterus-terang kepada Celina, anakmu, kalau kakak kelasnya di kampus, lelaki yang disukainya, mencintai dosen yang juga ibu kandungnya!” jawab Sean akhirnya, menjawab sendiri pertanyaannya.

Mataku langsung terpejam. Ya… Sean benar. Aku tidak perlu mencari jawaban atas pertanyaannya, hanya butuh keberanian, yang entah kapan akan datang.

Sekian detik tertelan dalam keheningan yang tak beranjak. Ditemani desahan-desahan nafas berat yang menyayat. Mengambangkan rasa.

“Mungkin, memang lebih baik kamu tidak perlu datang ke pesta itu,” lirih Sean kemudian. Nadanya tawar.

“Ya… mungkin lebih baik begitu,” suaraku tertelan.

Serbuan angin kencang tiba-tiba menyusup masuk lewat jendela. Mempermainkan tirai putih tipis yang menutupinya. Senja yang biasa menyebar jingga, terlihat muram, diluar jendela.

Sean bangkit.  Berjalan menuju ke tepi  jendela yang terbuka lebar. Dia berdiri dalam diam di sana. Menantang angin senja yang menyerbu Tubuhnya. Dia bergeming. Tubuh tinggi itu kokoh dalam kerapuhan.

Airmataku menitik jatuh.***




===================
Triana Rahayu,
lahir di Langsa dan kini berdomisili di Bogor. Alumnus Institut Pertanian Bogor. Beberapa Cerita Pendek dan Cerita Bersambungnya pernah dimuat di Majalah Femina, Majalah Kartini, Tabloid Nova, Gogirl, Cendana News, Apajake.id, Koran Media Indonesia, Koran Serambi Indonesia dan Koran Minggu Pagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here