Menjelang Tidur Malam Ini

menjelang tidur malam ini
aku ingin meminta pada kenangan
tentang bibir yang gugur
mungkinkah dia bisa kembali
entah bagaimana cara dia bersenyawa
hidup di relung hati terdalam
menjelma puisi malam

menjelang tidur malam ini
aku ingin tidur di mimpimu
menikmati ribuan senja
berjuta kuntum taman
yang pernah kita gambar bersama
di mulut pantai
memikirkan kata-kata
pada suatu pagi

aku ingin menutup hari ini
dengan sepucuk puisi romantis
tentangmu bersama Tuhan
bagaimana rumahmu disana denganNya
aku menanti balasan suratmu
jika tidak kita bertemu saja dalam mimpi
bercerita, menjawab pertanyaan masing-masing
di rumahNya
siapa yang kini menghadiahimu bergenggam puisi

(Bau-Bau, Januari 2021)



Pemandangan di Matamu


aku melihat pemandangan paling jernih di matamu
mungkinkah aku yang terjerat tak sengaja di sana
syair-syair sunyi
daun-daun kemuning gugur
memilih musimnya sendiri
kau memintaku terpejam untuk sesaat saja
mengambil sejuta embun
yang tumbuh pasrah di mimpi kita
mana mungkin kulakukan itu
kenangan paling kuingin
tak dapat kumatikan secara abadi

pemandangan di matamu
terbilang jernih bagai langit tanpa kepakkan burung
sunyi suara petir
badai yang lembut
menyuarakan perasaan kita
aku tunduk menyerah
alam memiliki tuan
aku memilikimu
tuhan tak berpihak
kejernihan itu kekal di puisi

(Bau-Bau,  Januari 2021)




Paras Rasa

sebab bukan paras yang ajaib
melainkan pertemuan antara kata dan rasa
di hati sepasang kekasih tanpa kedalaman apapun
perhitungan dangkal mengeja kata-kata mutiara
dan itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang punya perasaan

“apakah aku tidak punya perasaan?”
pertanyaaan muncul dari bibir seorang wanita

kau punya
tapi perasaanmu tak sedalam perasaan mereka
yang mengatakan kata-kata itu

kau buru-buru menulisnya
aku melupakan dengan sengaja
diam-diam meminta udara mnegingatnya
percakapan itu jadi hiasan malam
tawa hangat
seperti teh yang diseduh bapak
kita mencari pembenaran
kau segera pergi
bertemu paras penuh rasa
ajaib bukan?
sungguh kau telah terjebak
dalam kata-kata

(Bau-Bau,  Januari 2021)




Kepada Puisi

kepada puisi
yang meraja di sekujur tubuhmu
merana sepanjang malam ini
kata-kata panjang yang pernah terucap
telah tamat dengan sendirinya
kini tinggal cerita tanpa tuan
dengan tanpa sengaja
kutulis dalam kitab pribadi
kelak bila kau baca suatu saat nanti
itu tanda bahwa kau memilikiku
segala kepunyaanku

semua mimpi-mimpi ini
kepada puisi rela merintih
menahan sakit
tulang remuk kembali semula
kau membaca mantra tak ada suara
aku percaya segala luka
payung penutup kabut
entah darimana asal semua sesal
harapan terlalu jauh
malam kembali menyerahkan puisi
akan terus kuulang
sampai kita ingat bagaimana rute rumah tuhan
dengan surga bayang-bayang

aku tidak seperti sedia kala
melepas sentuhan
daun gugur saksi diam
embun lunasi hasrat hari itu
kita benar-benar diambang perih
tiada perkataan
kau pulang
meleburkan diri dalam puisiku

(Bau-Bau,  Januari 2021)


Suara Siapa?

tidak menggema
hanya melayang-layang
mengeja dinding masjid
suara siapa itu?
memanggil ibadah
sujud sebentar
mengakui dosa
aku salah menafsir

menuju rumah itu
untuk memastikan
suara siapa itu?
yang kusebut tidak layak
tempat berdiri telah tiada
aku masih mencari
pulang dengan mata kosong

(Bau-Bau,  Januari 2021




Aku Ingin Membacanya

aku ingin membacanya lagi
seperti menghardik puisi
tangan-tangan hujan
suara daun pagi hari
siapa yang kan ikut
perempuan sendiri menatap jalan
keramaian yang sunyi
jiwa terpanggil
meledakkan kata-kata

aku ingin membacanya lagi
kata yang terpenjara
sekian tahun silam
bebas menggapai rumah
siapa bilang harus pamit sebelum pulang

kaulah atapku dimana-mana
kau membacaku kini
aku berserah
sampai titik akhir bulan

(Bau-Bau,  Januari 2021)




=======================
Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Pecinta Olahraga Taekwondo. Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here